Demo di Prancis
Eropa

Demo Bahan Bakar di Prancis, 1 Tewas dan Ratusan Terluka

Berita Internasional >> Demo Bahan Bakar di Prancis, 1 Tewas dan Ratusan Terluka

Lebih dari seperempat juta orang turun ke jalan-jalan Prancis. Mereka menyuarakan protes atas harga bahan bakar. Demo di Prancis ini menewaskan satu demonstran dan membuat 200 orang terluka.

Baca juga: Ejek Trump, Tentara Prancis Pamer Foto Latihan di Bawah Hujan

Oleh: BBC

Seorang pengunjuk rasa tewas dan lebih dari 200 orang terluka ketika lebih dari seperempat juta orang turun ke jalan-jalan di Prancis untuk mengungkapkan kemarahan karena kenaikan harga bahan bakar. Para pengunjuk rasa perempuan yang tewas terpukul setelah seorang pengendara mobil yang dikelilingi oleh demonstran mengalami kepanikan dan meningkatkan kecepatan.

Gerakan “Rompi Kuning,” yang merujuk pada rompi berwarna kuning mencolok yang harus dibawa di mobil mereka, memblokir jalan raya dan bundaran. Mereka menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengabaikan “orang-orang kecil.” Macron sejauh ini belum mengomentari protes, dengan beberapa orang di antara para demonstran telah menyerukan Macron untuk mengundurkan diri.

Namun Macron mengakui pada awal pekan bahwa dia “belum benar-benar berhasil mendamaikan orang-orang Prancis dengan para pemimpin mereka.” Meskipun demikian, ia menuduh lawan-lawan politiknya membajak gerakan Rompi Kuning untuk menghentikan program reformasinya.

Apa yang telah terjadi sejauh ini?

Sekitar 280 ribu orang mengambil bagian dalam demo di Prancis, menurut pernyataan Kementerian Dalam Negeri Prancis dalam pembaruan terbaru. Diberitakan terdapat 227 orang yang terluka pada siang hari, tujuh orang di antaranya mengalami luka serius, dengan 52 orang lain telah ditangkap.

Sebagian besar protes telah terjadi tanpa insiden, meskipun beberapa orang mengalami cedera ketika para pengendara mencoba memaksa lewat di tengah kerumunan para demonstran.

Chantal Mazet, 63 tahun, tewas di wilayah Savoy tenggara ketika seorang pengendara yang membawa putrinya ke rumah sakit panik karena dihalangi oleh sekitar 50 orang demonstran, yang menyerang atap kendaraannya, dan menyetir ke arah mereka. Pengendara tersebut telah dibawa ke tahanan polisi dalam keadaan syok.

Di Paris, para pengunjuk rasa yang mendekati Istana Élysée, kediaman resmi presiden, dihadang dengan gas air mata.

Kenapa terjadi aksi protes?

Harga solar, bahan bakar yang paling umum digunakan di mobil Prancis, telah meningkat sekitar 23 persen selama 12 bulan terakhir menjadi rata-rata 1,51 Euro (1,32 Poundsterling atau 1,71 Dolar AS) per liter, sehingga menjadi titik tertinggi sejak awal tahun 2000-an, dilansir dari laporan kantor berita AFP.

Harga minyak dunia memang telah mengalami kenaikan sebelum jatuh kembali, tetapi pemerintah Macron menaikkan pajak hidrokarbonnya tahun 2018 sebesar 7,6 sen per liter untuk solar dan 3,9 sen untuk bensin, sebagai bagian dari kampanye untuk bahan bakar dan mobil yang lebih bersih.

Gas air mata digunakan untuk membubarkan para pengunjuk rasa di Paris. (Foto: EPA)

Keputusan untuk memaksakan peningkatan lebih lanjut sebanyak 6,5 sen untuk solar dan 2,9 sen untuk bensin pada tanggal 1 Januari 2019 dianggap sebagai pukulan terakhir.

Berbicara pada hari Rabu (14/11), Presiden Macron menyalahkan harga minyak dunia selama tiga kuartal terakhir yang dianggapnya telah menyebabkan kenaikan harga. Macron juga mengatakan lebih banyak pajak pada bahan bakar fosil diperlukan untuk mendanai investasi energi terbarukan.

Seberapa besar gerakan Rompi Kuning?

Gerakan Rompi Kuning memiliki dukungan luas. Hampir tiga perempat responden untuk jajak pendapat oleh lembaga Elabe mendukung Rompi Kuning dan 70 persen menginginkan pemerintah untuk membalikkan kenaikan pajak bahan bakar. Lebih dari separuh orang Prancis yang memilih Macron mendukung unjuk rasa, kata Vincent Thibault dari Elabe kepada AFP.

Polisi mengawal para pengunjuk rasa yang memblokir jalan raya di Antibes. (Foto: Reuters)

“Harapan dan ketidakpuasan atas daya beli cukup luas, sehingga aksi protes itu bukan hanya sesuatu yang menyangkut pedesaan atau kelas bawah Prancis,” katanya.

Lucy Williamson dari BBC di Paris mengatakan gerakan tersebut telah berkembang melalui media sosial hingga menjadi kritik publik secara luas terhadap kebijakan ekonomi Macron.

Apakah politisi oposisi terlibat?

Para politisi oposisi tampaknya pasti mencoba memanfaatkan aksi protes kenaikan harga BBM. Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen, yang dikalahkan oleh Macron pada putaran kedua pemilihan presiden Prancis 2017, telah mendorong gerakan Rompi Kuning di Twitter.

Dia berkata: “Pemerintah seharusnya tidak takut pada orang Prancis yang datang untuk mengekspresikan revolusi mereka dan melakukannya dengan cara damai.”

Laurent Wauquiez, pemimpin Partai Republikan berhaluan kanan-tengah, menyerukan kepada pemerintah Macron untuk membatalkan rencana peningkatan pajak karbon berikutnya pada bahan bakar fosil di bulan Januari 2019 untuk mengimbangi kenaikan harga bahan bakar kendaraan.

Baca juga: Trump Berselisih dengan Macron Segera Setelah Mendarat di Prancis

Castaner menggambarkan peristiwa hari Sabtu (17/11) sebagai “protes politik dengan Republikan berada di baliknya.”

Olivier Faure, pemimpin Partai Sosialis berhaluan kiri mengatakan gerakan itu, yang tidak memiliki pemimpin tunggal dan tidak terkait dengan serikat pekerja manapun, “lahir di luar partai-partai politik.”

“Orang-orang ingin politisi mendengarkan dan menanggapi mereka. Permintaan mereka adalah keadilan keuangan dan untuk memiliki daya beli,” katanya.

Apakah ada peluang untuk kompromi?

Pada hari Rabu (14/11), pemerintah Prancis mengumumkan tindakan untuk membantu keluarga miskin membayar tagihan energi dan transportasi mereka. Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengumumkan bahwa 5,6 juta rumah tangga akan menerima subsidi energi.

Saat ini 3,6 juta keluarga telah menerimanya. Sebuah bonus yang dibiayai negara untuk menukar kendaraan berpolusi juga akan digandakan untuk keluarga termiskin di Prancis, katanya, dan kredit pajak bahan bakar akan diberikan untuk orang-orang yang bergantung pada mobil mereka untuk bekerja.

Para pengunjuk rasa telah mengejek presiden tanpa henti dengan julukan “Micron” atau “Macaron” (Macaroon) atau hanya Manu, bentuk pendek dari nama depannya, Emmanuel, yang dalam satu kesempatan terkenal telah memaki seorang pelajar karena memanggilnya Manu.

Keterangan foto utama: Seorang pengemudi memaksa mengendarai mobilnya melalui sekelompok pengunjuk rasa di Donges, Prancis barat. (Foto: Reuters)

Demo Bahan Bakar di Prancis, 1 Tewas dan Ratusan Terluka

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top