Pemilu Maladewa
Asia

Demokrasi Maladewa Diuji dengan Pemilu Berisiko Tinggi

Berita Internasional >> Demokrasi Maladewa Diuji dengan Pemilu Berisiko Tinggi

Para pemilih bersiap mengikuti pemilihan umum untuk memutuskan apakah Presiden Abdulla Yameen akan memenangkan masa jabatan kedua di tengah tindakan kerasnya terhadap perbedaan pendapat. Yameen akan bersaing dengan Ibrahim Mohamed Solih. Pemilihan umum ini dianggap sebagai pemilihan yang berisiko.

Baca Juga: Warga Irak Berpartisipasi dalam Pemilu, yang Pertama Sejak ISIS Ditumbangkan

Oleh: Zaheena Rasheed dan Isha Afeef (Al Jazeera)

Tempat-tempat pemungutan suara telah dibuka di Maladewa untuk pemilihan presiden yang menegangkan yang dianggap sebagai ujian bagi demokrasi di destinasi bulan madu yang populer di Samudra India. Pemungutan suara pada hari Minggu (23/9) merupakan ajang pemilihan presiden antara kandidat petahana Presiden Abdulla Yameen, yang telah memimpin tindakan keras terhadap perbedaan pendapat, terhadap tokoh oposisi dan anggota parlemen lama, Ibrahim Mohamed Solih.

Ratusan pemilih telah antre semalaman di pulau-pulau di seluruh negeri untuk memberikan suara mereka sebelum tempat pemungutan suara dibuka pukul 8 pagi waktu setempat.

Lebih dari seperempat juta orang, dari populasi hampir 350 ribu, memenuhi syarat untuk memilih di negara kepulauan itu, yang telah bergolak sejak pemimpin pertamanya yang terpilih secara demokratis, Mohamed Nasheed, digulingkan paksa pada tahun 2012.

Azka Adil, seorang atlet berusia 20 tahun yang memberikan suara untuk pertama kalinya di ibukota Maladewa, Male, mengatakan dia “bersemangat, gugup, dan takut karena pemungutan suara bisa jadi dicurangi.”

“Tapi saya benar-benar akan memilih,” katanya.

Pemilihan hari ini dianggap sebagai ujian bagi demokrasi di negara kepulauan (Foto: Sharif Ali/Al Jazeera)

Ahmed Ibrahim, seorang pegawai pemerintah berusia 28 tahun yang memberikan suara untuk Yameen, mengatakan dia memilih “kebijakan ekonomi yang kuat.”

“Saya prihatin dengan pemungutan suara hari ini,” katanya. “Kampanye telah dipenuhi dengan banyak pembunuhan karakter, jadi saya tidak berpikir keputusan berdasarkan informasi akan dibuat hari ini.”

Baca Juga: Pemilu Malaysia Diwarnai Serangan Bot, Kematian Menyedihkan dan Serangkaian Insiden Lainnya

Yameen dan Solih memberikan suara mereka segera setelah tempat pemungutan suara dibuka.

Pilihan yang Sulit

Yameen, yang mengambil alih kekuasaan pada tahun 2013 setelah pemilihan yang disengketakan, telah memenjarakan atau memaksa mengasingkan hampir semua saingan politiknya, melarang protes, membekukan parlemen, dan menyatakan dua keadaan darurat hanya dalam waktu lima tahun.

Dihadapkan dengan kritik internasional yang luas, ia menarik Maladewa keluar dari Negara-negara Persemakmuran pada tahun 2016 dan memupuk hubungan yang lebih dekat dengan China dan Arab Saudi, yang telah mendanai meledaknya pembangunan infrastruktur negara tersebut.

Membela iman dan kedaulatan Islam Maladewa serta meningkatkan ekonomi negara adalah tonggak kampanye pemilihan Yameen. Pada kampanye terakhir di Male, Yameen mengatakan pilihan pada hari Minggu ialah antara Islam dan “kekafiran.”

“Saya melayani bangsa. Saya ingin menyelamatkan Maladewa,” ujarnya kepada ribuan pendukung yang menyambutnya di Male.

Kandidat oposisi Ibrahim Mohamed Solih mencoblos segera setelah tempat pemungutan suara dibuka. (Foto: Al Jazeera/Sharif Ali)

Solih, kandidat oposisi, telah berjanji untuk memulihkan demokrasi dan membebaskan para pembangkang, termasuk saudara tiri Yameen, Maumoon Abdul Gayoom. Pemungutan suara kali ini merupakan “kesempatan terakhir” untuk demokrasi, katanya kepada kerumunan pendukung berpakaian kuning.

Tanpa pemungutan suara yang kredibel, tidak jelas siapa yang akan menang dan para pengamat mengatakan mereka tidak menduga suara yang diberikan akan bebas atau adil. Pemerintah telah menolak masuknya pemantau pemilu asing dan jurnalis.

‘Tegang dan Tidak Pasti’

Mariyam Shiuna, direktur eksekutif Transparency Maladewa, sebuah kelompok pemantau pemilu, mengatakan “suasananya tegang dan tidak pasti” di negara itu terutama setelah polisi menyerbu markas oposisi pada malam pemilihan. Petugas mengklaim mereka mencari bukti pembelian suara, sebuah langkah yang dikatakan oposisi bertujuan untuk mengganggu pemilihan.

Baca Juga: 7 Hal yang Terungkap dari Hasil Pemilu Pakistan

Meskipun terapat ketakutan akan adanya kecurangan, Shiuna mengatakan jumlah besar pada kampanye pesaing di Male pada hari terakhir kampanye menunjukkan “orang-orang tertarik untuk memberikan suara mereka dan menunjukkan pilihan mereka.”

“Namun, terdapat kekhawatiran untuk pemilihan ini karena segala sesuatu mungkin terjadi dan terdapat perasaan umum bahwa tidak ada pihak yang akan menerima hasil jika mereka kalah, yang akan menyebabkan kekacauan lebih lanjut,” katanya, mendesak masyarakat internasional untuk memantau peristiwa di Maladewa secara dekat.

Presiden Abdulla Yameen memberikan suaranya di tempat pemilihan (Foto: Eranga Jayawardena/AP)

Ahmed Nihan, pemimpin Partai Progresif yang berkuasa di Maladewa, mengatakan dia “yakin” akan kemenangan bagi Yameen, setelah “kampanye panjang dan tak kenal lelah.”

Baca Juga: Awal Pilkada yang Damai Jadi Ujian Pendahuluan bagi Pilpres 2019

Eva Abulla, seorang politisi oposisi, mendesak para pemilih untuk menggunakan hak pilih mereka. “Waspadalah, pilihlah lebih awal dan bersiap-siap untuk melindungi suara itu,” katanya.

Lebih dari 2.000 pemantau lokal diharapkan untuk mengamati pemilu, sementara Uni Eropa mengatakan tidak mengirim pengamat karena negara itu gagal memenuhi persyaratan dasar untuk pemantauan pemilu. AS telah mengancam akan mengambil tindakan terhadap para pejabat jika pemungutan suara terjadi secara tidak bebas dan adil, dan Uni Eropa mengatakan siap untuk menjatuhkan sanksi, termasuk larangan perjalanan dan pembekuan aset, jika situasinya tidak membaik. Hasil pemilu diharapkan akan keluar pada tengah malam hari Minggu.

Isha Afeef melaporkan dari Male. Zaheena Rasheed melaporkan dan menulis dari Colombo, Sri Lanka. 

Keterangan foto utama: Tempat Pemungutan Suara telah dibuka di Maladewa untuk proses pemilihan presiden yang menegangkan (Foto: Al Jazeera/Sharif Ali)

Demokrasi Maladewa Diuji dengan Pemilu Berisiko Tinggi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top