Denuklirisasi Korut
Global

Denuklirisasi Korut Tersendat, Amerika-Korsel Kembali Batalkan Latihan Perang

Menteri Pertahanan AS James Mattis (kiri) berjabat tangan dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Song Young-moo, sebelum pertemuan mereka di Seoul pada 28 Juni. (Foto: via Foreign Policy)
Berita Internasional >> Denuklirisasi Korut Tersendat, Amerika-Korsel Kembali Batalkan Latihan Perang

Seiring denuklirisasi Korut tersendat, Amerika Serikat dan Korea Selatan kembali membatalkan latihan perangnya. Walau pembatalan latihan perang dapat membuat kesiapan militer merosot, namun melanjutkan latihan perang dianggap akan menyulitkan dalam mencapai terobosan diplomatik dengan Korea Utara.

Baca juga: Korea Utara Tolak Denuklirisasi

Oleh: Lara Seligman, Robbie Gramer (Foreign Policy)

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan memutuskan untuk membatalkan latihan militer bersama di Semenanjung Korea tahun ini, meskipun ada sedikit kemajuan dalam negosiasi dengan Korea Utara mengenai denuklirisasi.

Menteri Pertahanan AS James Mattis dan Menteri Pertahanan Nasional Korea Selatan Jeong Kyeong-doo memutuskan untuk menunda latihan perang, Exercise Vigilant Ace, untuk “memberikan setiap kesempatan untuk melanjutkan proses diplomatik (ke tingkat selanjutnya),” kata kepala juru bicara Pentagon Dana White dalam sebuah pernyataan pada Jumat (19/10).

Para pemimpin membuka kesempatan untuk membatalkan latihan perang tambahan seiring kemajuan pembicaraan.

“Kedua menteri berkomitmen untuk memodifikasi latihan untuk memastikan kesiapan pasukan kami,” kata White. “Mereka berjanji untuk menjaga koordinasi dan mengevaluasi latihan di masa depan.”

Konsesi terbaru muncul karena kemajuan tampaknya terhenti pada tujuan utama pemerintah AS: denuklirisasi Korut dan seluruh Semenanjung. Menyusul perjalanan terakhir Menteri Luar Negeri Mike Pompeo ke Korea Utara, perwakilan khusus untuk Pyongyang Stephen Biegun mengatakan kepada para wartawan bahwa ia mengharapkan untuk memulai pembicaraan tingkat kerja mengenai denuklirisasi dengan rekannya dari Korea Utara, Wakil Menteri Luar Negeri Choe Son Hui.

Tetapi beberapa mantan pejabat AS dan diplomat asing mengatakan bahwa Korea Utara belum menanggapi permintaan untuk pembicaraan lanjutan dengan Biegun—tanda bahwa Pyongyang menahan langkahnya dalam negosiasi.

Langkah untuk membatalkan Vigilant Ace disambut oleh beberapa orang di pemerintah Korea Selatan. “Ini akan memberikan suasana yang baik untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat,” kata seorang diplomat Korea Selatan, yang tidak berwenang untuk berbicara dalam hal itu.

Jonathan Pollack dari Brookings Institution menekankan bahwa situasinya lebih kompleks daripada apa yang hanya terjadi dalam perundingan AS-Korea Utara. Pollack mengatakan bahwa dua variabel politik lain sedang bermain: Kepercayaan Presiden AS Donald Trump bahwa latihan itu hanya membuang-buang waktu dan uang, dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mempercepat upaya rekonsiliasi dengan Korea Utara.

Seoul dilaporkan baru-baru ini membuat rencana untuk menandatangani perjanjian militer dengan Pyongyang pada KTT Korea Selatan-Korea Utara ketiga pada bulan September lalu. Kedua negara tersebut sepakat untuk membentuk zona larangan terbang, di antara hal-hal lainnya.

“Mattis maka dari itu mengakomodasi realitas politik ini,” kata Pollack. “Selama presiden beraliran kiri-tengah di Seoul bertekad untuk maju terus dengan Korea Utara, dia akan menekan AS untuk membatasi tingkat dan visibilitas kegiatan militer AS di Semenanjung (Korea).”

Tetapi para ahli lainnya mengkritik keputusan itu sebagai konsesi lain untuk Korea Utara tanpa mendapatkan imbalan apa pun. “Mereka secara bertahap mendapatkan konsesi tanpa mengambil langkah nyata menuju denuklirisasi,” kata Bruce Klingner, mantan Wakil Kepala Divisi CIA untuk Korea, yang sekarang bekerja untuk Heritage Foundation.

Mike Pompeo

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo bertemu dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Istana Presiden Korea Selatan Blue House di Seoul pada Minggu (7/10) setelah perjalanan keempat ke Korea Utara. (Foto: Pool/Kim Hong-Ji)

Dalam perjalanan ke Korea Utara awal bulan ini, Pompeo disebut-sebut mencapai “kemajuan signifikan” dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, termasuk rincian tentang pertemuan kedua antara Kim dan Trump.

Korea Utara telah mengembalikan jasad para anggota militer AS yang tewas dalam Perang Korea, membebaskan tiga orang Amerika yang ditahan, dan membongkar bagian dari dua fasilitas dalam program nuklirnya: sebuah pabrik mesin rudal dan tempat uji coba nuklir.

Tetapi Klingner mengatakan bahwa beberapa konsesi Korea Utara sangatlah dangkal. “Dua fasilitas yang mereka tutup itu, mereka tidak lagi membutuhkan program nuklir mereka,” katanya. “Mereka secara bertahap mendapatkan konsesi tanpa mengambil langkah nyata menuju denuklirisasi.”

Vigilant Ace, walau tidak pada skala yang sama dengan Ulchi Freedom Guardian—latihan gabungan Mattis yang dibatalkan pada bulan Juni setelah pertemuan pertama Trump dengan Kim—namun masih merupakan acara militer besar.

Tahun lalu, latihan perang Vigilant Ace melibatkan lebih dari 12.000 anggota militer dan 230 pesawat. (Sebagai perbandingan, Freedom Guardian tahun lalu melibatkan 50.000 pasukan Korea Selatan bersama 17.500 pasukan AS).

Namun sementara Freedom Guardian adalah latihan command-and-control terkomputerisasi yang dirancang untuk mensimulasikan serangan terhadap Korea Selatan, Vigilant Ace dimaksudkan untuk meningkatkan keakraban dan interoperabilitas antara angkatan udara AS dan Korea Selatan, menurut Pollack.

Selama Vigilant Ace, sekutu menguji berbagai prosedur yang mungkin akan digunakan dalam masa perang, tambahnya.

“Mengapa latihan perang dihentikan? Dan apa pengaruhnya terhadap kemampuan penangkalan sekutu?” Kata Klingner. “Militer perlu berlatih, dan jika mereka tidak berlatih, pertanyaannya bisa timbul: Mengapa mereka berada di semenanjung sejak awal?”

Baca juga: Benarkah Campur Tangan Moon untuk Denuklirisasi Korea Utara Berlebihan?

Jenderal Angkatan Darat Robert Abrams—calon pemimpin Pasukan AS di Korea yang dicalonkan Trump—baru-baru ini mengakui bahwa penangguhan latihan musim panas ini menyebabkan “sedikit degradasi” dalam kesiapan Amerika. Dia menekankan, bagaimanapun, bahwa keputusan itu adalah konsesi diplomatik yang diperhitungkan yang tidak akan mengarah pada kerusakan jangka panjang.

“Penangguhan latihan militer… adalah risiko yang bijaksana jika kami bersedia melakukan upaya untuk mengubah hubungan itu,” kata Abrams. “Saya pikir pasti ada degradasi dalam hal kesiapan pasukan. (Latihan perang) itu adalah latihan utama untuk menjaga kesinambungan dan terus mempraktikkan interoperabilitas kami, sehingga terjadi sedikit degradasi.”

Pollack percaya Amerika Serikat dan Korea Selatan menyimpulkan bahwa, terlepas dari kekhawatiran atas kesiapan yang merosot, namun mereka bersikeras bahwa mematuhi jadwal pelatihan yang normal akan menyulitkan mengejar terobosan diplomatik dengan Korea Utara, “bahkan jika kemungkinan terakhir tampaknya jelas rapuh.”

Michael O’Hanlon, seorang analis dari Brookings Institution, mengajukan teori yang berbeda: Penangguhan ini dimaksudkan sebagai insentif bagi Korea Utara untuk melanjutkan moratorium uji coba rudal nuklirnya.

“Bisa dibilang kita telah mengalami situasi freeze-for-freeze,” katanya

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang “berkomitmen untuk koordinasi erat pada respons terpadu kami untuk Korea Utara.”

“Kami tidak akan mengomentari rincian negosiasi kami,” kata juru bicara itu.

Lara Seligman adalah koresponden Pentagon untuk Foreign Policy.

Robbie Gramer adalah seorang reporter diplomasi dan keamanan nasional di Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Menteri Pertahanan AS James Mattis (kiri) berjabat tangan dengan Menteri Pertahanan Korea Selatan Song Young-moo, sebelum pertemuan mereka di Seoul pada 28 Juni. (Foto: via Foreign Policy)

Denuklirisasi Korut Tersendat, Amerika-Korsel Kembali Batalkan Latihan Perang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top