Derita Rohingya, Derita Bangladesh: Bagaimana Krisis Kemanusiaan Lumpuhkan Negara Penolong yang Miskin
Asia

Derita Rohingya, Derita Bangladesh: Bagaimana Krisis Lumpuhkan Negara Penolong yang Miskin

Karena kekerasan yang dilaporkan telah dilakukan oleh militer Myanmar, hampir satu juta pengungsi Rohingya telah melarikan diri dari kampanye kekerasan pembersihan etnis Myanmar. Hampir secara universal, mereka telah pindah ke pemukiman pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. Negara itu adalah negara yang kecil, berlokasi di dataran rendah, kekurangan sumber daya, dan sangat penuh sesak, sehingga ‘serbuan’ pengungsi Rohingya menjadi krisis baginya.

Oleh: Mayesha Alam (The Washington Post)

Pada Februari 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa hampir satu juta pengungsi Rohingya telah melarikan diri dari kampanye kekerasan pembersihan etnis Myanmar. Hampir secara universal, mereka telah pindah ke pemukiman pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Hal ini menimbulkan krisis di Bangladesh—yang telah menampung sejumlah besar pengungsi hanya dalam waktu enam bulan—dan menyebabkan krisis yang sangat sulit di kamp-kamp tersebut. Bangladesh adalah negara yang kecil, berlokasi di dataran rendah, kekurangan sumber daya, dan sangat penuh sesak. Dan para pemimpin dan warganya semakin tidak sabar dengan pengusiran terhadap Rohingya oleh Myanmar ini. Berikut lima hal yang membuat besarnya jumlah pengungsi ini dapat menimbulkan krisis di Bangladesh.

Pandangan dari kamp pengungsi Balukhali dekat Cox's Bazar, Bangladesh 16 Desember 2017

Pandangan dari kamp pengungsi Balukhali dekat Cox’s Bazar, Bangladesh 16 Desember 2017. (Foto: Reuters/Alkis Konstantinidis)

Dampak Politik

Ketika militer Myanmar melancarkan kampanye kekerasan massal pada akhir Agustus 2017, Bangladesh pada awalnya enggan untuk membuka perbatasannya terhadap pengungsi Rohingya. Di bawah tekanan internasional, Perdana Menteri Sheikh Hasina dengan cepat menyerah. Sejak saat itu, Bangladesh tidak dapat mengatur dukungan diplomatik internasional yang diperlukan untuk mengakhiri krisis ini secara pasti.

Dengan China dan India yang berdiri di belakang Myanmar, dan sebuah pemilihan umum yang dijadwalkan pada akhir tahun ini, pemerintah Hasina baru-baru ini mencapai “pengaturan” bilateral yang kontroversial dengan pihak berwenang di Naypyidaw, ibu kota Myanmar, untuk memulangkan para pengungsi. Dhaka pada awalnya bersikeras agar pemulangan dilakukan dalam waktu dua tahun—namun persyaratan kesepakatan tersebut ambigu dan tidak praktis. Baik organisasi internasional maupun pengungsi tidak diajak berkonsultasi dalam merancang rencana tersebut. Banyak masyarakat Rohingya yang khawatir dengan pemulangan paksa yang tergesa-gesa, dan pertentangan terhadap rencana tersebut berkembang di dalam dan di luar kamp.

Tantangan Keamanan

Kelompok militan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA)—yang melakukan serangan terhadap pos keamanan Myanmar pada tahun lalu, dan memicu operasi “pembersihan” tanpa pandang bulu oleh tentara—telah berjanji untuk melanjutkan kampanye pemberontakannya mengenai apa yang mereka sebut “terorisme yang disponsori oleh pemerintah Myanmar.” Badan keamanan Bangladesh khawatir bahwa ARSA akan mencoba melakukan perekrutan di dalam kamp, dan akan menggunakan kamp tersebut sebagai basis pertempuran lintas batas.

    Baca juga: Laporan Khusus Investigasi Reuters: Kejadian Sesungguhnya Pembantaian Rohingya di Myanmar

Apakah ARSA terkait dengan organisasi teroris regional atau internasional lainnya? Sejauh ini, itu tidak jelas. Sesaat sebelum tahun baru, al-Qaeda di wilayah tersebut mengeluarkan sebuah deklarasi yang mendesak Muslim Bangladesh untuk melakukan pemberontakan bersenjata guna mendukung Rohingya. Sulit untuk mengetahui apakah itu berasal dari hubungan antara kedua kelompok ini. Tapi jaringan ekstremis di Bangladesh dan Myanmar—baik yang dipimpin oleh penceramah Islam garis keras atau biksu radikal—mendapatkan pengaruh.

Seorang petugas pemberi bantuan memberikan selimut untuk para pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong di Bangladesh, pada tanggal 4 Desember.

Seorang petugas pemberi bantuan memberikan selimut untuk para pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong di Bangladesh, pada tanggal 4 Desember. (Foto: AFP/Getty Images/Ed Jones)

Dampak Ekonomi

PDB per kapita Bangladesh adalah $1.400. Namun, pada tahun 2016, ekonomi nasional tumbuh sebesar 7,1 persen, dan negara ini telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam Tujuan Pembangunan Milenium (SDGs). Walau bantuan kemanusiaan internasional yang meluas telah dikucurkan untuk mendukung para pengungsi, namun bantuan itu tidak menutupi seluruh biaya ekonomi pemerintah atau warga negara Bangladesh di wilayah perbatasan. Dampak kelonjakan pengungsi ini mungkin tidak terlihat selama beberapa waktu.

Kota pesisir dan pantai-pantai Cox’s Bazar dulunya adalah tujuan wisata utama Bangladesh; Kini daerah itu dibanjiri dengan para petugas pemberi bantuan asing. Pelaku bisnis di daerah itu semakin makmur, dan banyak orang Bangladesh yang telah menemukan pekerjaan dengan bergabung bersama organisasi kemanusiaan. Tapi buruh-buruh harian dan penduduk miskin mengeluhkan kenaikan harga barang-barang dasar, dan mereka kehilangan pekerjaan karena pengungsi yang bersedia menerima upah yang jauh lebih rendah.

Ketegangan Sosial

Para pengungsi telah mengubah demografi daerah Ukhia dan Teknaf di Bangladesh, di mana Rohingya sekarang melebihi jumlah penduduk lokal 2 banding 1. Dari sekitar 900 ribu pengungsi Rohingya, 73 persennya tinggal di pemukiman dadakan yang baru, 13 persen di pemukiman darurat, 9 persen di antara masyarakat Bangladesh, dan 5 persen di kamp pengungsian resmi. Kamp Kutupalong merupakan pemukiman pengungsi terbesar dan terpadat di dunia.

Pihak berwenang ingin mencegah Rohingya berasimilasi dengan penduduk lokal. Kamp-kamp tersebut mendidik masyarakat Rohingya dalam bahasa Inggris dan bahasa Myanmar, tapi tidak dalam bahasa Bengali. Para pengungsi baru dilarang mendapatkan kewarganegaraan Bangladesh melalui kelahiran atau pernikahan.

    Baca juga: Sergap Militer Myanmar, Pemberontak Rohingya: ‘Tidak Ada Pilihan Selain Melawan’

Angka kelahiran di kalangan masyarakat Rohingya juga jauh lebih tinggi daripada masyarakat Bangladesh; Pada tahun 2018 saja, para ahli memperkirakan pengungsi akan melahirkan 48 ribu bayi—yang akan menghadapi risiko kekurangan gizi, penyakit, dan kematian yang parah. Setelah wabah difteri pecah pada bulan Desember, pihak berwenang meluncurkan kampanye vaksinasi massal. Meskipun imunisasi telah lama tersedia untuk masyarakat Bangladesh—termasuk di daerah pedesaan—namun pejabat kesehatan masyarakat khawatir bahwa penyakit yang menular melalui air dan penyakit menular lainnya, dapat menyebar hingga ke luar kamp.

Para pengungsi juga berisiko melakukan perdagangan manusia, termasuk untuk bisnis seks, narkoba, dan persalinan. Abul Kashem, kepala Help Cox’s Bazar—sebuah organisasi non-pemerintah lokal yang bekerja untuk mencegah perdagangan manusia dan meningkatkan kesadaran di kalangan kaum muda—memperingatkan bahwa jaringan kejahatan yang terorganisir sangat ingin mengeksploitasi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena krisis ini.

Para pengungsi Rohingya berjalan di kamp pengungsian Kutupalong Hindu di dekat Cox’s Bazar, Bangladesh, pada tanggal 17 Desember 2017.

Para pengungsi Rohingya berjalan di kamp pengungsian Kutupalong Hindu di dekat Cox’s Bazar, Bangladesh, pada tanggal 17 Desember 2017. (Foto: Reuters/Marko Djurica)

Kerusakan Lingkungan

Dampak lingkungan dari 1 juta pengungsi ini sulit untuk dilebih-lebihkan. Program Pembangunan PBB (UNDP) baru-baru ini merilis sebuah penilaian lingkungan, yang mengidentifikasi 28 faktor risiko yang mengancam keanekaragaman hayati dan keamanan manusia. Pada puncak kekerasan, setiap minggunya sekitar 100 ribu masyarakat Rohingya—terutama wanita dan anak-anak—menyeberang ke Bangladesh. Tempat di mana mereka menetap, ribuan hektar hutan nasional dibersihkan. Daerah yang sebelumnya dihuni oleh gajah liar sekarang tandus. Pemandangan yang subur, hijau, dan berbukit, dengan cepat berubah menjadi hamparan tanah merah yang rata, yang tertutup tenda-tenda terpal sejauh mata memandang.

Bangladesh sangat rentan terhadap perubahan iklim. Selama bertahun-tahun, negara ini bergulat dengan erosi tanah, naiknya permukaan air laut, dan seringnya terjadi bencana alam, seperti angin topan dan banjir. Tanah longsor sangat mungkin terjadi; Banyak yang khawatir dengan apa yang akan terjadi pada pemukiman pengungsi saat musim hujan tiba bulan depan. Sumber air tanah cepat habis, dan aliran air tawar terkontaminasi. Polusi udara di Ukhia dan Tekfnaf meningkat, karena asap dari kayu bakar yang dibakar oleh pengungsi, dan knalpot dari ribuan truk, jip, dan mobil yang membawa orang dan barang ke dalam kamp-kamp tersebut.

Konsekuensi lingkungan yang dramatis dari migrasi besar-besaran ini yang akan berlangsung bertahun-tahun, mempengaruhi orang-orang yang tinggal di pedalaman Bangladesh dan sekitarnya.

Seiring dunia terus bergulat dengan pergerakan populasi berskala besar yang melintasi perbatasan—entah karena konflik atau masalah lingkungan—penelitian yang lebih dalam, dan konteks mengenai dampak politik, ekonomi, sosial, keamanan, dan lingkungan sangat penting untuk membantu negara-negara tetangga dalam mengelola krisis yang berkepanjangan ini, dengan cara yang manusiawi dan berkelanjutan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pengungsi tidak menjadi kambing hitam di negara yang menampungnya seperti Bangladesh, di mana keputusasaan antara elit penguasa dan penduduk lokal dapat mengakibatkan pemulangan paksa atau dislokasi lebih lanjut terhadap pengungsi Rohingya yang terus menerus diusir.

Mayesha Alam baru saja kembali dari melakukan penelitian lapangan di pemukiman pengungsi Rohingya di Bangladesh. Dia adalah pengamat Soros New American Fellow yang mengejar gelar PhD-nya dalam ilmu politik di Yale University dan penulis “Women and Transitional Justice” (Palgrave Macmillan, 2014).

 Keterangan foto utama: Seorang anak Rohingya di kamp pengungsi Kutupalong di Bangladesh pada tanggal 25 Januari. (Foto: AFP / Getty Images/Munir Uz Zaman)

Derita Rohingya, Derita Bangladesh: Bagaimana Krisis Lumpuhkan Negara Penolong yang Miskin
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top