agama di china
Asia

Di China, Gereja Ditutup, Pastor Dipenjara, dan Ayat-Ayat Ditulis Ulang

Berita Internasional >> Di China, Gereja Ditutup, Pastor Dipenjara, dan Ayat-Ayat Ditulis Ulang

Partai Komunis China mengintensifkan persekusi terhadap agama, seiring kepopuleran agama Kristen meningkat. Terjemahan Injil baru keluaran negara akan menetapkan “pemahaman yang benar” terhadap kitab suci tersebut. Seiring jumlah pemeluk agama meningkat, Partai Komunis China berusaha mengendalikan hati dan pikiran warganya.

Baca Juga: Giliran Agama Kristen: Pemerintah China Hancurkan Salib dan Membakar Injil

Oleh: Lily Kuo (The Guardian)

Pada akhir bulan Oktober, pastor dari salah satu gereja bahwa tanah paling terkenal di China menanyakan hal ini kepada jamaahnya: apakah mereka telah secara berhasil menyebarkan ayat-ayat ke seluruh penjuru kota? “Jika besok pagi Gereja Early Rain tiba-tiba hilang dari kota Chengdu, jika kita semua menghilang begitu saja, akankah ada perubahan terjadi di kota ini? Apakah akan ada yang merindukan kita?” ujar Wang Yi, bersandar pada mimbarnya dan berhenti untuk memberikan waktu pada hadirin untuk menyerap pertanyaannya. “Saya tidak tahu.”

Hampir tiga bulan kemudian, skenario hipotesis Wang diuji. Geraja di barat daya China itu telah ditutup dan Wang serta istrinya, Jiang Rong, telah ditahan setelah polisi menangkap lebih dari 100 jamahaan Gereja Early Rain pada bulan Desember.

Para jamaah yang tidak ditahan banyak yang bersembunyi. Yang lainnya diusir dari Chengdu dan dilarang kembali. Beberapa, termasuk ibu Wang dan putranya yang masih kecil, diawasi secara ketat.

Wang dan istrinya dijatuhi dakwaan untuk “memicu pemberontakan”, tindak kriminal yang bisa membuat pelakunya dijatuhi hukuman sampai 15 tahun penjara.

Sekarang, aula tempat Wang berkotbah telah kosong, mimbar dan salib yang sebelumnya tergantung di belakangnya telah hilang.

Bantal-bantal untuk berdoa telah digantikan dengan meja ping pong dan lapisan debu. Penyewa baru, satu perusahaan konstruksi dan asosiasi bisnis, menempati gedung tiga lantai yang sebelumnya disewa oleh gereja. Polisi berpakaian bebas berdiri di luar, mengusir siapa saja yang mencari gereja.

Salah satu petugas polisi mengatakan pada Observer: “Saya harus menyuruh Anda pergi dan mengawasi sampai Anda masuk mobil dan pergi.”

Wang Yi, pastor di Gereja Early Rain, telah ditangkap dan ditahan tiga bulan lalu, bersama istrinya. (Foto: Facebook/Early Rain)

Early Rain adalah korban terbaru dari apa yang disebut oleh para umat Kristen China dan aktivis HAM sebagai penggerebekan terburuk terhadap agama di negara itu sejak Revolusi Budaya, ketika pemerintahan Mao Zedong bersumpah untuk membinasakan agama.

Para peneliti mengatakan dorongan saat ini—dimotori oleh ketidaknyamanan pemerintah terhadap jumlah penganut Kristen yang terus meningkat dan potensi hubungan mereka dengan Barat—bertujuan bukan untuk menghancurkan Kekristenan, tapi untuk menundukkannya.

“Pemerintah telah merancang satu kampanye untuk ‘mencinafikasi’ Kristen, untuk mengubah Kristen menjadi agama yang terdomestikasi secara penuh dan akan melakukan mandat-mandat partai,” ujar Lian Xi, seorang profesor di Duke University di Carolina Utara, AS, yang fokus pada Kekristenan di China modern.

Pada tahun lalu, pemerintah lokal telah menutup sejumlah kongregasi tidak resmi atau “rumah-rumah gereja” yang beroperasi di luar jaringan gereja yang disetujui pemerintah, termasuk Early Rain. Pernyataan yang ditandatangani oleh 500 pemimpin rumah gereja pada bulan November mengatakan, pihak berwenang telah mengambil salib-salib dari gedung-gedung, memaksa gereja untuk menggantung bendera China dan menyanyikan lagu-lagu patriotis, dan melarang anak-anak menghadiri gereja.

Jamaah gereja mengatakan, situasinya akan memburuk seiring kampanye ini meluas. Gereja lain di Chengdu diselidiki minggu lalu. Kurang dari satu minggu setelah penangkapan anggota-anggota Early Rain, polisi menggerebek sekolah Minggu anak-anak di satu gereja di Guangzhou.

Baca Juga: Kesunyian Dunia yang Mengherankan Atas Penindasan Muslim China

Pihak berwenang juga telah menutup gereja Zion di Beijing yang beranggotan 1.500 orang setelah pastornya menolak untuk memasang CCTV.

Pada bulan November di Gereja Reformasi Injil di Guangzhou ditutup untuk kedua kalinya. “Partai Komunis China ingin menjadi Tuhan China dan Tuhan Warga China. Namun menurut Injil hanya Tuhanlah yang bisa menjadi Tuhan. Pemerintah takut pada gereja-gereja,” ujar Huang Xiaoning, pastor gereja itu.

Pemerintah lokal juga telah menutup gereja-gereja “sanzi”  yang telah disetujui pemerintah. Sekolah-sekolah minggu dan perkumpulan pemuda juga telah dilarang. Salah satu tanda awal dari penggerebekan adalah ketika pihak berwenang mengambil 1.000 salib dari gereja-gereja sanzi secara paksa di provinsi Zheijian antara tahun 2014 dan 2016.

“Tujuan dari penggerebekan ini bukanlah untuk memusnahkan agama,” ujar Ying Fuk Tsang, direktur dari Kajian Studi Kristen untuk Agama dan Budaya china di Chinese University of Hong Kong. “Presiden Xi Jinping berusaha menerapkan orde baru untuk agama, menekan perkembangannya yang pesat. [Pemerintah] bertujuan untuk meregulasi “pasar keagamaan” secara menyeluruh.”

Sementara Partai Komunis China secara resmi atheis, Kristen adalah salah satu dari lima agama yang diizinkan oleh pemerintah dan kebebasan beragama telah dimasukkan ke dalam konstitusi sejak tahun 1980-an. Selama puluhan tahun, pemerintah menoleransi rumah-rumah gereja, yang menolak untuk mendaftar ke badan pemerintahan yang mengharuskan pemimpin gereja untuk mengadaptasi pengajaran mengikuti doktrin partai.

Anggota Gereja Early Rain berdoa dalam suatu pertemuan di gereja mereka sebelum ditutup pada bulan Desember 2018.

Seiring China mengalami ledakan pemeluk agama, pemerintah semakin merasa khawatir terhadap Kristen dan Islam, atas hubungan mereka dengan luar negeri. Di Xinjiang, sistem pengawasan dan interniran telah dibangun untuk minoritas Muslim, terutama para Uighur.

Xi telah menyerukan agar negera berjaga melawan “infiltrasi” melalui agama dan ideologi ekstremis.

“Apa yang terjadi Xinjiang dan apa yang terjadi kepada rumah-rumah gereja berhubungan,” ujar Eva Pils, seorang profesor hukum di King’s College London, yang fokus pada hak asasi manusia. “Perilaku baru semacam itu telah diterjemahkan menjadi berbagai tipe tindakan melawan Kristen, yang berujung pada intensifikasi persekusi terhadap kelompok-kelompok relijius.”

Ada setidaknya 60 juta umat Kristen di China, menyebar di perkotaan dan pedesaan. Gereja-gereja berbasiskan jamaah bisa mengorganisir kelompok-kelompok besar di penjuru negeri dan beberapa memiliki hubungan dengan kelompok Kristen di luar negeri.

Pastor-pastor seperti Wang dari Early Rain secara khusus membuat khawatir pemerintah. Di bawah Wang, seorang sarjana hukum dan cendikiawan publik, gereja itu telah melakukan advokasi bagi para orang tua yang anak-anaknya terbunuh dalam gempa bumi Sichuan di tahun 2008—kematian yang oleh banyak kritik dikatakan disebabkan oleh konstruksi buruk yang dijalankan pemerintah—atau untuk para keluarga yang terdampak oleh vaksin-vaksin yang salah.

Setiap tahun gereja itu mengenang para korban dari protes 4 Juni di tahun 1989, yang telah secara paksa dihentikan oleh militer China.

“Gereja Early Rain adalah salah satu dari sedikit yang berani menghadapi apa yang salah di masyarakat,” ujar salah satu anggotanya. “Kebanyakan gereja tidak berani membicarakan hal ini, tapi kami mematuhi Injil secara ketat, dan kami tidak menghindari apapun.”

Wang dan Early Rain berasal dari apa yang oleh beberapa pihak lihat sebagai generasi baru Krsten yang muncul bersamaan dengan gerakan hak sipil. Secara meningkat, aktivitas para pemimpin gereja telah mengambil inspirasi dari peran-peran demokratis yang dimainkan gereja di negera-negara Eropa timur di blok Soviet atau di bawah darurat militer di Korea Selatan, menurut Lian. Beberapa pengacara HAM China yang paling giat adalah pemeluk Kristen.

“Mereka telah menyadari potensi politik Kristen sebagai kekuatan perubahan,” ujar Lian. “Apa yang benar-benar membuat pemerintah khawatir adalah klaim Kristen atas hak dan nilai-nilai universal.”

Pada tahun 2018, pemerintah menerapkan undang-undang yang menyapu praktik-praktik keagamaan, menambahkan persyaratan lebih untuk kelompok keagamaan dan melarang organisasi-organisasi yang tidak disetujui untuk melakukan aktivitas keagamaan. Namun kampanye itu bukan hanya tentang mengatur perilaku.

Salah satu tujuan dari rencana kerja pemerintah untuk “mempromosikan Kekristenan China” antara 2018 dan 2022 adalah “reformasi pemikiran”. Rencana itu menyerukan “penerjemahan dan anotasi ulang” Injil, untuk menemukan kesamaan dengan sosialisme dan menerapkan “pemahaman yang benar” dari teks tersebut.

Baca Juga: Partai vs Keyakinan: China Susun Pembatasan untuk Semua Agama

“Sepuluh tahun yang lalu, kami bisa mengatakan partai tidak terlalu tertarik pada apa yang dipercayai masyarakat di dalam hati,” ujar Pils. “Respons Xi Jingping jauh lebih invasif dan dalam beberapa cara kembali ke cara era-Mao untuk mengontrol hati dan pikiran.”

Injil-injil, yang penjualannya selalu dikontrol di China tidak lagi tersedia secara online, celah yang sudah ada selama bertahun-tahun. Pada bulan Desember, perayaan Natal dilarang di beberapa sekolah-sekolah dan kota-kota di berbagai penjuru China.

“Penggerebekan tahun lalu adalah yang terburuk dalam tiga dasawarsa,” ujar Bob Fu, pendiri dari ChinaAid, kelompok advokasi China yang berbasis di Amerika Serikat.

Di Chengdu, Early Rain tidak menghilang. Sebelum digerebek, satu rencana sudah diberlakukan untuk melestarikan gereja, dengan mereka yang tidak ditangkap diharapkan akan tetap menjalankannya, melakukan pertemuan kapan saja mereka bisa. Secara perlahan, semakin banyak anggota Early Rain yang dibebaskan. Pada tanggal 9 Januari, setidaknya masih ada 25 orang yang ditahan.

Mereka mempertahankan kontak melalui platform-platform terenskripsi. Pada Malam Tahun baru, 300 orang bergabung dalam misa online, beberapa dari rumah-rumah mereka, yang lain dari mobil atau tempat kerja, untuk berdoa untuk 2019. Yang lain berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil di restoran dan taman.

Salah satu anggota, seorang pelajar yang dikirim kembali ke Guangzhou, mengatakan dia membacakan ayat-ayat suci kepada polisi yang mengawasinya.

Gereja terus mengirimkan ayat-ayat harian dan mengunggah video-video kotbah. Dalam salah satunya, pastor Wang mengisyaratkan penggerebekan yang akan daang: “Dalam perang ini, di Xinjiang, di Shanghai, di Beijing, di Chengdu, para penguasa telah memilih musuh yang tidak bisa dipenjara—jiwa manusia. Karena itu, mereka dikutuk untuk kalah dalam perang ini.”

Keterangan foto utama: Jam sibuk di pusat kota Chendu, rumah bagi Gereja Early Rain, yang baru saja ditutup. (Foto: Zhang Peng/LightRocket via Getty Images)

Di China, Gereja Ditutup, Pastor Dipenjara, dan Ayat-Ayat Ditulis Ulang

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top