Di Venezuela, Beberapa Loyalis Menginginkan Orang Lain Menggantikan Maduro
Amerika

Di Venezuela, Beberapa Loyalis Menginginkan Orang Lain Menggantikan Maduro

Presiden Venezuela Nicolas Maduro disebut telah siap berpisah dari jabatannya. (Foto: STR/Reuters)
Berita Internasional >> Di Venezuela, Beberapa Loyalis Menginginkan Orang Lain Menggantikan Maduro

Beberapa pihak yang kecewa dengan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro mulai mencari beberapa alternatif lain untuk mencalonkan diri menjadi presiden di pemilu berikutnya. Beberapa mengatakan Maduro telah siap, dan memang ingin, berpisah dengan kursi kepresidenan.

Oleh: Carmen Sesin (NBC News)

Presiden Venezuela Nicolas Maduro disebut telah siap berpisah dari jabatannya

Presiden Venezuela Nicolas Maduro disebut telah siap berpisah dari jabatannya. (Foto: STR/Reuters)

Setelah hasil pemilihan gubernur yang mengejutkan di Venezuela, perhatian mulai dipusatkan kepada pemilihan lain yang berdampak besar, yaitu pemilihan presiden pada akhir 2018. Di sebuah negara yang bergolak dalam krisis ekonomi, banyak yang akan bergantung pada apakah Presiden Venezuela Nicolás Maduro akan kembali mencalonkan diri.

Di tengah beberapa ketidakpuasan yang tumbuh di dalam pemerintahan Maduro, ada beberapa yang melihat orang lain, selain presiden saat ini, sebagai calon berikutnya dari Partai Sosialis Venezuela (PSUV).

Salah satu tokoh kunci yang dipertimbangkan sebagai calon presiden adalah pemimpin Partai Sosialis Diosdado Cabello, menurut sebuah sumber pro-pemerintah yang dekat dengan pejabat partai yang meminta untuk tidak diidentifikasi. Cabello adalah salah satu politisi paling kuat di negara tersebut.

Foto 1 Gambar: Presiden Venezuela Nicolas Maduro berbicara kepada media saat sebuah konferensi pers di Istana Miraflores di Caracas. Foto oleh Carlos Garcia Rawlins untuk Reuters

“Ada kelompok yang merasa yakin akan terpilihnya kembali Nicolás Maduro. Tapi ada banyak di dalam partai yang memproyeksikan Diosdado Cabello dalam pemilihan internal,” kata sumber tersebut, mengacu pada pemilihan utama untuk memilih kandidat partai.

Orang tersebut menambahkan ada nama lain yang sedang dipertimbangkan, termasuk Delcy Rodríguez, presiden Majelis Konstituante Nasional, yang juga mantan menteri luar negeri. Pengganti lain yang mungkin adalah Wakil Presiden Tareck el Aissami, yang mendapatkan sanksi dari Amerika Serikat (AS) dan dituduh melakukan perdagangan narkoba, namun hal itu telah disangkalnya dan menyebutnya sebagai “agresi imperialis.”

Sumber tersebut dengan keras membantah ada friksi di dalam partai tersebut dan berpikir ada kecenderungan di dalam badan pemerintahan untuk memilih Cabello, kecuali Maduro kembali mencalonkan diri; sebuah tindakan yang menurut beberapa orang tidak mungkin akan terjadi.

Setelah Maduro terpilih secara mendadak untuk menggantikan pemimpin Veneluela mendiang Hugo Chavez pada tahun 2013, negara tersebut mengalami kekacauan ekonomi yang menyebabkan kekurangan makanan dan obat-obatan. Ada kekecewaan dengan Maduro di antara beberapa Chavistas, mereka yang setia pada warisan pemimpin sosialis terakhir itu.

Ketika Chavez berkuasa, dia memulai rencana pengeluaran sosial yang ambisius ketika harga minyak melonjak menjadi $145 per barel. Hal ini sangat menekan bagi  kehidupan masyarakat miskin. Tapi situasi keuangan negara yang memburuk di tengah keruntuhan harga minyak dan faktor lainnya telah membuat banyak orang di negara kaya minyak ini kelaparan, dan kekerasan merajalela.

Selama empat bulan demonstrasi yang dipimpin oleh oposisi sejak awal tahun ini, berbagai peristiwa telah menewaskan 125 orang dan ribuan lainnya terluka.

Namun pembentukan Majelis Konstituante Nasional yang berkuasa dan pro-pemerintah pada bulan Juli, yang memiliki kewenangan luas untuk membuat dan meloloskan undang-undang, mungkin merupakan harapan terakhir bagi beberapa orang yang telah melihat masa depan negara tersebut dengan tidak semangat.

Maduro sekarang memiliki kelompok kritikus kecil yang telah berkembang termasuk pejabat terkini dan mantan pejabat Venezuela. Kecewa dengan keadaan negara saat ini, mereka tidak harus berpihak pada oposisi, tapi mereka mencari pengganti Maduro untuk menjadi pemimpin baru Venezuela.

Eva Golinger, seorang pengacara Amerika yang dekat dengan Chavez, mengkritik kebijakan Maduro. Dia dijuluki “kekasih” Venezuela oleh Chávez satu dekade yang lalu. Membandingkan Maduro dengan Chavez, Golinger mengatakan kepada NBC News, “Maduro tidak memiliki keterampilan kepemimpinan atau karisma yang serupa. Situasi ekonomi sekarang sangat mengerikan. Chavez bersikap pragmatis, sedangkan Maduro tidak.”

“Cara pemerintah saat ini membuat keputusan tidak masuk akal dan impulsif. Keputusan tersebut tidak memiliki visi jangka panjang atau perencanaan strategis,” katanya.

Gollinger menganggap majelis Konstituen merupakan “tindakan radikal” yang “tidak benar.” Dia mengatakan bahwa Maduro siap untuk berpisah dari kursi kepresidenan. “Dia ingin berhenti. Saya tahu dia ingin berhenti.” Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin memastikan penggantinya tidak menganiaya dia atau keluarganya.

Bergabung dengan kelompok yang tidak puas terhadap Maduro adalah Gabriela Ramírez, mantan ombudsman publik Venezuela dan pendukung setia Chavez. Pada bulan Juni, Ramírez turun dari posisinya sebagai penasihat ke pengadilan tertinggi karena kekhawatirannya tentang majelis konstituante. Dia masih percaya terhadap ideologi program sosial Chavez. Dia mengatakan bahwa ada diskusi tentang kemungkinan penerus Maduro yang akan berlangsung di antara partai pimpinan.

“PSUV bukan partai demokratis; keputusan itu akan datang dari sebuah kelompok kecil yang membuat semua keputusan untuk partai tersebut,” katanya. Dia setuju Cabello akan memiliki kekuatan.

Mungkin kritikus paling terkenal dari sekutu pemerintah sebelumnya, adalah mantan jaksa agung, Luisa Ortega Diaz, telah melarikan diri dari Venezuela pada bulan Agustus setelah diturunkan dari jabatannya oleh majelis konstituante. Ortega melepaskan diri dari pemerintahan pada akhir Maret, dengan menyatakan bahwa keputusan Mahkamah Agung tersebut tidak konstitusional dengan meniadakan kongres yang dikendalikan oposisi dari kekuatan terakhirnya.

Suaminya, German Ferrer, seorang anggota parlemen yang selaras dengan Maduro, telah berdiri di sisi Ortega dan mencela pembentukan majelis tersebut.

Orang-orang seperti Miguel Rodríguez Torres, mantan kepala mata-mata di bawah Chavez, telah mengasingkan para loyalis pemerintah dengan kritik tajamnya terhadap partai sosialis.

Sementara itu, beberapa yang berada di kalangan oposisi melihat sebuah kesempatan untuk memenangkan pemilih yang telah dikecewakan Maduro.

“Salah satu strategi oposisi adalah menaklukkan Chavista yang tidak puas,” kata Alfredo Cols, dari Súmate, sebuah kelompok pemantau pemilu Venezuela yang membantu Mengorganisir pemungutan suara recall 2004 yang gagal melawan Chávez.

Cols tidak melihat pemilihan regional pada minggu lalu di mana partai sosialis memenangkan mayoritas kursi sebagai indikasi tentang apa yang akan terjadi dalam pemilihan presiden. Dia mengandalkan pemilih yang tidak akan berubah dalam pemilihan regional sebagai bentuk demonstrasi, dan orang-orang Venezuela yang tinggal di luar negeri yang berhak memilih dalam pemilihan presiden.

“Kami meminta mereka yang menolak memberikan suara dalam pemilihan daerah; kami memperkirakan sekitar ada dua juta orang, dan dua juta lagi berada di luar negeri, yang akan memilih,” katanya.

Di Venezuela, Beberapa Loyalis Menginginkan Orang Lain Menggantikan Maduro

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top