Dildo for Indonesia
Berita Politik Indonesia

Dildo for Indonesia: Pemilih Muda Indonesia Sulit Dipuaskan

Berita Internasional >> Dildo for Indonesia: Pemilih Muda Indonesia Sulit Dipuaskan

Seiring Pilpres 2019 yang semakin mendekat, para milenial yang merasa lelah dengan calon pemimpin yang dirasa tidak mewakili mereka menemukan kebahagiaan dari tokoh tokoh media sosial fiktif: Nurhadi dan Aldo. Kedua kandidat fiktif ini merupakan kritik generasi muda yang merasa para kandidat yang ada tidak mewakili mereka. Milenial membentuk 40 persen dari pemilih Indonesia.

Baca juga: #DildoForIndonesia, Oase di Tengah Teriknya Tahun Politik Indonesia

Oleh: Kate Lamb (The Guardian)

Dengan kmusi mereka, peci dan janji-janji besar kamanye, Nurhadi dan Aldo terlihat seperti politisi selayaknya. Namun, seiring Indonesia bergerak semakin dekat menuju Pilpres 2019, penampilan bisa menipu.

Kedua kandidat ini pada faktanya adalah fiktif.

Dibuat oleh sekelompok milenial yang tidak puas, kehadiran dua tokoh fiktif ini sangat tetap sasaran dengan para pemilih muda dan profil media sosial mereka. Akun Nurhadi-Aldo secara teratur membuat lelucon tentang politik arus utama, dan telah menarik 400.000 followers di Instagram dan ribuan lainnya di Twitter dan Facebook sejak diciptakan bulan lalu.

Dalam apa yang sampai sejauh ini membentuk kampanye Pilpres yang suam-suam kuku, Nurhadi dan Aldo telah menjadi sangat terkenal berkat tagline mereka yang vulgar, abrevasi kreatif dari beberapa huruf terakhir dari nama mereka sehingga kemudian membentuk: “Dildo for Indonesia.”

“Saya melihat gerakan ini sebagai angin segar untuk politik kami,” ujar Edwin, salah satu penciptanya, kepada the Guardian. “Hal ini adalah sudut pandang baru, cara baru untuk menikmati politik, dan drama dari para elit politik yang terus berdebat, tapi tidak benar-benar mewakili kami.

“Saya benar-benar menunggu mendengar dari kandidat-kandidat kami, tapi kebanyakan dari mereka tidak menampilkan program-programnya kepada kami, atau memberikan solusi untuk masalah-masalah kami.”

Negara demokrasi ketiga terbesar di dunia akan menuju bilik suara di bulan APril, dan milenial akan mengisi 80 (juta) dari 187 juga pemilih. Namun, beberapa pemilih muda tidak merasa antusias dengan pilihan yang ada di depan mereka.

Presiden Indonesia Joko Widodo, kiri, dan pendampingnya Ma’ruf Amin, berbicara pada debat pertama yang disiarkan di Jakarta, Kamis (17/1). (Foto: Anadolu Agency/Getty Images)

Pada Kamis (17/1) malam, acara Debat Pilpres 2019 yang pertama—berfokus pada hukum, HAM, terorisme, dan korupsi—tidak ada kandidat yang melenceng terlalu jauh dari skrip. Para analis mengatakan mereka gagal untuk mengartikulasikan visi kreatif untuk beberapa permasalahan Indonesia yang paling mengakar.

Pilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kontroversial, ulama berusia 75 tahun Ma’ruf Amin, yang telah mengadvokasikan fatwa-fatwa melawan minoritas, LGBT, dan bahkan olahraga yoga, hampir tidak berbicara. Walaupun ketika buka suara, dia mengatakan sesuatu yang berarti, bahwa “terorisme bukanlah jihad.”

Lawannya, mantan jenderal Prabowo Subianto, menghindari pembicaraan tentang pelanggaran HAM-nya di masa lalu, yang sampai saat ini ia masih jadi tertuduh. Prabowo berargumen bahwa gaji pegawai negeri sipil seharusnya dinaikkan agar bisa mencegah korupsi.

Akun Nurhadi dan Aldo menampilkan kandidat mereka dengan cara yang selayaknya ditampilkan para kandidat sesungguhnya. Dengan dua kandidat terlihat alim, yang diletakkan di samping nomor kertas suara mereka, atau program sosial yang membuai, yang seringnya dibentuk menjadi susunan akronim yang menarik.

Mereka mengejek formula politik, seringnya menggunakan kevulgaran. Salah satu kebijakan untuk program subsidi internet, “Program Subsidi Tagihan Warnet Bagi Umum” disingkat menjadi “Prostat Bau”.

Yang lainnya mengejek konflik kepentingan antara kepemilikan media Indonesia dan partai-partai politik, atau menggunakan karikatur dari Karl Marx, tohokan satir atas paranoia Indonesia terhadap komunisme, yang dilarang.

Nurhadi dan Aldo juga pro hak-hak LGBT dan memiliki program “halal” untuk melegalisasi marijuana—keduanya adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk iklim politik Indonesia saat ini.

Edwin, yang adalah seorang mahasiswa dari Jawa Tengah dan meminta The Guardian untuk hanya menggunakan nama depannya saja, mengatakan bahwa dia menciptakan para kandidat ini dengan bantuan tujuh pemuda lainnya yang ia temui di laman komedi online setelah merasa muak dengan para kandidat presiden tahun ini.

Seorang tukang pijat dari kota Kudus setuju untuk meminjamkan wajahnya untuk kampanye ini sebagai Nurhadi, sementara Aldo benar-benar tokoh fiktif, gabungan dari dua wajah yang berbeda.

“Generasi muda tidak merasa puas”

Pangeran Siahaan, pendiri dari Asumsi, channel YouTube yang memasukkan bincang politik mingguan, mengatakan bahwa setelah pencalonan Ma’ruf Amin diumumkan, beberapa pemuda mulai berpikir untuk tidak memilih. Dia bertaka: “Saya pikir Dildo for Indonesia, gerakan perlawanan ini, awalnya dimulai karena ada bagian dari para pemilih muda yang tidak merasa puas.”

Dengan usia pemilih 17-40 tahun mengisi 40 persen dari para pemilih, kedua kandidat presiden telah berupaya untuk menarik mereka, terutama secara online.

Baca juga: ‘Capres’ Alternatif Nurhadi-Aldo Perkeruh Suasana Jelang Pilpres 2019

“Saya rasa kedua kandidat terjebak dalam apa yang saya sebut “politik viral dan meme” karena mereka ingin menjadi viral dan terdistribusikan dengan baik di media sosial karena merka pikir, disitulah milenial membaca konten mereka,” jelas Pangeran. “Tapi jika Anda melihat lebih dalam, hal ini hanyalah kosmetik.”

Mengenakan sepatu sneakers atau memasukkan referensi budaya pop dalam pidato politik, tambahnya, juga tidak berhasil menarik pemilih muda ini karena: “Para milenial tidak mempercayainya.”

Di balik referensi-referensi vulgar yang dibalut sebagai visi politik, Edwin mengatakan akun satir mereka memiliki agenda serius.

Dengan menunjukkan betapa mudahnya untuk mereplika kampanye politik yang dungu, dia berharap para pemilih akan berpikir dua kali sebelum memutuskan pilihan. “Kami hadir untuk memberikan humor tapi juga mendidik tentang bagaimana memilih pemimpin yang baik dan menjadi pemikir kritis,” ujarnya. “Jadi Nurhadi-Aldo melakukan sesuatu yang tidak dilakukan kandidat lain.”

Keterangan foto utama: Nurhadi bertemu dengan Donald Trump dalam fofo yang sudah diedit ini. Foto ini ditampilkan di akun media sosial dari dua kandidat palsu untuk Pilpres 2019. (Foto: Instagram/Nurhadi dan Aldo)

Dildo for Indonesia: Pemilih Muda Indonesia Sulit Dipuaskan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top