Dorong Perdamaian, Dewan Perdamaian Afghanistan Akan Selenggarakan Konferensi Keagamaan
Timur Tengah

Dorong Perdamaian, Dewan Perdamaian Afghanistan Akan Selenggarakan Konferensi Keagamaan

Home » Featured » Timur Tengah » Dorong Perdamaian, Dewan Perdamaian Afghanistan Akan Selenggarakan Konferensi Keagamaan

Berfokus pada para cendekiawan agama garis keras Pakistan, Afghanistan sedang dalam proses menyelenggarakan konferensi keagamaan internasional dalam upaya untuk menemukan penyelesaian damai atas konflik di daerah itu dan mendorong perdamaian, kata Dewan Perdamaian Afghanistan. Para cendekiawan Pakistan pun—yang percaya bahwa pemberontakan Taliban di Afghanistan adalah sah—didorong untuk berpartisipasi dalam “Konferensi Besar Keagamaan” tersebut.

    Baca Juga : Presiden Afghanistan Ajukan Tawaran Damai untuk Taliban

Oleh: Mohammad Habibzada (VOA)

Berfokus pada para cendekiawan agama garis keras Pakistan, negara Timur Tengah Afghanistan sedang dalam proses menyelenggarakan konferensi keagamaan internasional dalam upaya untuk menemukan penyelesaian damai atas konflik di daerah itu, kata Dewan Perdamaian Tinggi (HPC) Afghanistan.

HPC mengatakan kepada VOA, sangat penting bahwa para cendekiawan Pakistan, yang percaya bahwa pemberontakan Taliban di Afghanistan adalah sah, berpartisipasi dalam “Konferensi Besar Keagamaan” tersebut.

“Kami berharap para cendekiawan Pakistan seperti Maulana Fazal-ur-Rehman dan Maulana Sami-ul-Haq, yang melihat perang di Afghanistan sebagai jihad yang sah, akan berpartisipasi dalam konferensi tersebut,” Sayed Ehsan Taheri, juru bicara Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan, mengatakan kepada VOA.

Rehman, yang juga anggota Majelis Nasional negara itu, mengaitkan pemberontakan Taliban Afghanistan dengan kehadiran pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO di Afghanistan, dalam upaya untuk membenarkan kekerasan Taliban yang terus berlanjut di negara itu.

Partai religius Jamiat Ulema-e-Islam-nya juga dituduh memelihara hubungan dengan berbagai kelompok militan.

Demikian pula, Haq—yang juga dikenal sebagai “Ayah dari Taliban”—secara terbuka mendukung pemberontakan Taliban di Afghanistan.

“Beri mereka satu tahun saja, dan mereka akan membuat seluruh Afghanistan bahagia,” kata Haq dalam wawancara tahun 2013 dengan Reuters.

Dipercaya bahwa gerakan Taliban dimulai di Darul Uloom Haqqnia, sekolah agama Pakistan yang dikelola oleh Maulana Sami-ul-Haq.

Konferensi keagamaan internasional tersebut akan memberikan para ulama agama Islam kesempatan untuk menemukan kesamaan dalam hal perang dan perdamaian di Afghanistan.

“Kontraterorisme di kawasan dan Afghanistan, serta perdamaian dan perang di Afghanistan, akan menjadi topik utama diskusi ini, berdasarkan prinsip-prinsip Islam,” kata Taheri. “Belum jelas di mana konferensi ini akan diadakan.”

Dewan perdamaian Afghanistan telah melipatgandakan upayanya untuk mendapatkan suara negara-negara Islam, untuk meyakinkan Taliban dan para pendukungnya untuk mengakhiri perang di Afghanistan, setelah Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani menawarkan perundingan perdamaian tanpa syarat kepada para pemberontak.

Pendapat ahli

Para ahli tidak terbagi atas apakah para cendekiawan atau ulama dapat memainkan peran konstruktif.

“Yang disebut ulama agama di negara Islam tidak memiliki wewenang, termasuk Pakistan. Bahkan jika mereka berpartisipasi dalam konferensi seperti itu, mereka hanya akan mengikuti kebijakan pemerintah,” Osman Kakar, seorang politisi Pakistan dan ahli Afghanistan mengatakan kepada VOA. “Masalah ini akan berlanjut sampai negara-negara menghentikan intervensi di Afghanistan,” katanya.

Presiden Afganistan Ashraf Ghani (tengah), dan para delegasi berdiri untuk lagu kebangsaan, selama Konferensi Proses Kabul kedua di Istana Presiden di Kabul, pada tanggal 28 Februari 2018. Ghani menggunakan konferensi tersebut untuk memperpanjang perundingan damai dengan Taliban. Kelompok tersebut belum menanggapi. (Foto: AP)

Mohammad Rasool Taheri—seorang cendekiawan agama yang bermarkas di AS—sependapat bahwa masalah perang dan damai Afghanistan tidak dapat diselesaikan oleh para cendekiawan. “Saya tidak berpikir cendekiawan atau ulama dapat melakukan apa pun dalam hal membawa perdamaian atau mengakhiri perang di Afghanistan,” tambahnya.

    Baca Juga : ‘Diplomasi Islam’: Indonesia Berupaya Menengahi Perdamaian Afghanistan

Waheed Muzhda, mantan anggota kelompok pemberontak, mengatakan bahwa masalah perdamaian dan perang di Afghanistan tidak dapat dipecahkan, bahkan oleh Afghanistan, dan membutuhkan wadah internasional yang lebih luas.

“Masalah ini (perang dan perdamaian di Afghanistan) tidak dapat diselesaikan di Afghanistan sampai negara-negara dunia (yang terlibat di Afghanistan) memecahkan perbedaan mereka di tingkat internasional,” Muzhda mengatakan kepada VOA.

Konferensi perdamaian Indonesia

Jakarta sedang mempersiapkan untuk menyelenggarakan konferensi trilateral, di mana para cendekiawan agama dari Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia akan mencoba mengakhiri lebih dari 16 tahun perang di Afghanistan.

Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan mengatakan bahwa Indonesia dan Afghanistan siap untuk mengadakan konferensi, dan sedang menunggu Pakistan untuk mengkonfirmasi keikutsertaannya.

Taliban Afghanistan mendesak para ulama untuk memboikot konferensi itu.

Pada Sabtu (14/4), selama upacara pembukaan pendaftaran pemilih untuk pemilihan parlemen yang akan datang, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani sekali lagi menyerukan kepada Taliban untuk bergabung dengan arena politik dan berpartisipasi dalam pemilu.

“Presiden Ghani meminta Taliban untuk bertindak sebagai partai politik dan berpartisipasi dalam pemilihan, sementara memanfaatkan peluang yang berlaku dan tawaran perdamaian,” kata pernyataan kepresidenan Afghanistan.

Tekanan pada Taliban

Jenderal John Nicholson—komandan militer AS di Afghanistan—mengatakan pada bulan lalu di Kabul, bahwa pendekatan agama, diplomatik, militer, dan sosial akan digunakan untuk menekan Taliban.

“Akan terdapat tekanan agama yang diterapkan pada Taliban dengan para ulama yang disambut di Indonesia dan di tempat lain, untuk menghapus legitimasi agama untuk jihad di Afghanistan,” katanya kepada para wartawan di ibu kota Afghanistan, Kabul.

Nicholson menyebut pemilihan parlemen sebagai alat yang secara sosial akan menekan Taliban, ketika masyarakat Afghanistan memilih pemimpin mereka pada akhir tahun ini.

Pemerintah Afghanistan dan Misi Pendukung Resolusi pimpinan AS bersikeras bahwa Taliban tidak akan pernah mencapai kemenangan di medan perang. “Jadi ini mungkin adalah waktu terbaik mereka untuk melakukan negosiasi, karena itu hanya akan menjadi lebih buruk bagi mereka,” tambah Nicholson.

Taliban belum menanggapi tawaran perdamaian Afghanistan.

Sementara tawaran perdamaian masih di atas meja, pemerintah Afghanistan dan para sekutu internasionalnya terus menargetkan Taliban, seiring para pemberontak tersebut melakukan serangan di seluruh negeri.

Keterangan foto utama: Anggota Dewan Perdamaian Tinggi Afghanistan terlihat bertemu dalam foto tidak bertanggal ini. (Foto: hpc.org.af)

Dorong Perdamaian, Dewan Perdamaian Afghanistan Akan Selenggarakan Konferensi Keagamaan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top