Rodrigo Duterte menembak selama beberapa putaran dengan senapan sniper, saat upacara pembukaan Senjata Khusus dan Taktik Nasional. Hubungannya dengan PBB menjadi semakin tegang. (Foto: AFP/Joey Dalumpines)
Asia

Duterte vs PBB: ‘Umpankan Para Aktivis HAM Itu untuk Makanan Buaya!’

Rodrigo Duterte menembak selama beberapa putaran dengan senapan sniper, saat upacara pembukaan Senjata Khusus dan Taktik Nasional. Hubungannya dengan PBB menjadi semakin tegang. (Foto: AFP/Joey Dalumpines)
Home » Featured » Asia » Duterte vs PBB: ‘Umpankan Para Aktivis HAM Itu untuk Makanan Buaya!’

Presiden Filipina Rodrigo Duterte ingin umpankan tim penyidik hak asasi manusia PBB untuk makanan buaya jika mereka datang ke negaranya. Ekspresi kekesalannya yang terakhir itu terlihat saat dia berbicara dengan para tentara di kota selatan Zamboanga. Kira-kira, apa sebabnya?

Oleh: Simon Roughneen, Nicola Smith (The Telegraph)

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memicu perang kata-kata yang luar biasa dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan mengatakan bahwa tim penyidik hak asasi manusia PBB akan dijadikan makanan buaya jika mereka datang untuk menyelidiki perang kontroversialnya dalam melawan narkoba.

Hal ini menyusul satu minggu di mana dia menyebut Agnes Callamard—Pelapor PBB untuk pembunuhan di luar hukum—”kurang gizi”, sementara kepala hak asasi manusia PBB Zeid Ra’ad Al Hussein berkomentar di depan umum bahwa Duterte perlu berkonsultasi dengan psikiater.

Ekspresi kekesalannya yang terakhir itu terlihat saat dia berbicara dengan para tentara di kota selatan Zamboanga, dan berusaha untuk membenarkan perintahnya agar polisi mengabaikan para inspektur yang ingin menyelidiki perang melawan narkoba, di mana kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh bahwa perang melawan narkoba tersebut telah menewaskan lebih dari 12 ribu nyawa.

“Jika orang-orang bodoh itu datang ke sini, apakah ada buaya di sini? Buaya yang makan orang? Buang orang-orang brengsek itu ke buaya,” katanya, menurut Philippine Star.

    Baca Juga : Duterte dan Jokowi: Bagaimana Politik Lokal Diterapkan di Panggung Nasional

Menurut statistik resmi, sekitar 4.000 orang Filipina telah dibunuh oleh polisi dalam sebuah tindakan keras terhadap para pengguna dan pengedar narkoba, sejak Duterte berkuasa pada pertengahan tahun 2016. Ribuan orang lainnya telah dieksekusi di jalanan oleh pembunuh bertopeng.

Di Manila, Filipina, para wanita mengadakan pawai untuk menandai hari tersebut dan untuk memprotes apa yang disebut pelanggaran hak asasi manusia oleh Presiden Rodrigo Duterte. (Foto: Getty Images/Jes Aznar)

Di Manila, Filipina, para wanita mengadakan pawai untuk menandai hari tersebut dan untuk memprotes apa yang disebut pelanggaran hak asasi manusia oleh Presiden Rodrigo Duterte. (Foto: Getty Images/Jes Aznar)

Polisi telah berulang kali mengklaim bahwa mereka hanya menembak orang-orang yang menolak untuk ditangkap; klaim yang sering diperdebatkan oleh para saksi mata.

Presiden Duterte telah memerintahkan para petugas untuk menolak menjawab pertanyaan oleh penyidik pada eksekusi singkat, sehingga mereka tidak membuat diri mereka sendiri didakwa.

“Jika Anda menjawab pertanyaan mereka, jawabannya akan sangat meluas dan direkam,” katanya. “Jadi cara terbaik adalah diam saja. Katakan saja kepada mereka: ‘Kami memiliki seorang panglima tertinggi.’ Bukankah sudah saya katakan? Saya bertanggung jawab penuh,” kata Duterte.

Gaya semena-mena presiden tersebut, dan dukungan yang dituduhkan atas penghinaan terhadap peraturan hukum, telah membuatnya terlibat dalam bentrokan dengan institusi internasional, terutama yang bertugas untuk menegakkan hak asasi manusia.

Komentar Zeid pada Jumat (9/3) dikeluarkan di tengah memburuknya hubungan antara Manila dan PBB, dan menyusul keputusan pemerintah untuk memasukkan seorang pelapor khusus PBB ke dalam daftar 600 orang yang mereka ingin klasifikasikan sebagai “teroris”.

Victoria Tauli-Corpuz, seorang ahli PBB mengenai hak-hak masyarakat adat, termasuk dalam daftar gerilyawan komunis yang dituduh. Jika ditegakkan, pemerintah memiliki kekuatan untuk dengan cermat mengawasi mereka yang ada dalam daftar tersebut, dan untuk membatasi sumber daya mereka.

Pelapor Khusus PBB untuk hak-hak masyarakat adat Victoria Tauli-Corpuz, mengklaim bahwa hidupnya berada di bawah ancaman. (Foto: AFP/Orlando Sierra)

Dalam sebuah wawancara dengan The Telegraph, Tauli-Corpuz—yang berbasis di Filipina dan telah berada di posisinya itu sejak tahun 2014—mengatakan bahwa dia saat ini mengkhawatirkan nyawanya.

Walau berjanji untuk melanjutkan pekerjaannya dan tetap tinggal di negara tersebut, namun dia memperingatkan bahwa dalam iklim pelanggaran hukum saat ini, pemasukan namanya dalam daftar tersebut, dapat menjadi lampu hijau bagi calon pembunuh bayaran.

“Terdapat kesetaraan antara apa yang telah terjadi pada perang melawan narkoba dan penyusunan daftar ini,” katanya.

Para pengacara dan aktivis yang mengamati perang melawan narkoba itu, telah menuduh bahwa beberapa korban menyerah dalam pengampunan pemerintah hanya untuk kemudian berakhir pada apa yang disebut “daftar pembunuhan,” yang mengarahkan orang-orang bersenjata untuk membereskan orang dengan nama-nama yang harus mereka bunuh.

    Baca Juga : Duterte kepada Masyarakat Filipina: ‘Tidak Perlu Pakai Kondom, Itu Tidak Nyaman’

Tauli-Corpuz mengatakan bahwa dia dan para kritikus berprofil tinggi rezim Duterte lainnya, diserang oleh “fasisme merayap” pemerintah.

Para pengamat mengklaim bahwa “daftar sasaran” tersebut terkait dengan kampanye garis keras baru oleh Presiden Duterte terhadap pemberontak komunis, dalam pemberontakan yang telah berlangsung lama di selatan negara itu, setelah perundingan perdamaian gagal.

Tauli-Corpuz telah dicap sebagai anggota milisi komunis yang disebut Tentara Rakyat Baru (NPA)—sebuah tuduhan yang dia bantah. Dalam posisinya di PBB, dia telah bersuara secara terang-terangan mengenai hak-hak etnis minoritas yang tinggal di wilayah di mana NPA beroperasi aktif.

Keterangan foto utama: Rodrigo Duterte menembak selama beberapa putaran dengan senapan sniper, saat upacara pembukaan Senjata Khusus dan Taktik Nasional. Hubungannya dengan PBB menjadi semakin tegang. (Foto: AFP/Joey Dalumpines)

Duterte vs PBB: ‘Umpankan Para Aktivis HAM Itu untuk Makanan Buaya!’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top