Erdogan Peringatkan Perang Antara Salib dan Bulan Sabit, Setelah Penutupan Masjid Austria
Eropa

Erdogan Peringatkan Perang Antara Salib dan Bulan Sabit, Setelah Penutupan Masjid Austria

Home » Featured » Eropa » Erdogan Peringatkan Perang Antara Salib dan Bulan Sabit, Setelah Penutupan Masjid Austria

Setelah pemerintah Austria memutuskan untuk menutup tujuh masjid dan mengusir 40 imam, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecamnya, dan memperingatkan akan perang salib dan bulan sabit. Para imam tersebut dideportasi dengan alasan didanai asing, dan tujuh masjid ditutup karena ditemukan melaksanakan kegiatan yang dianggap dilarang.

    Baca juga: Erdogan Serukan Dukungan atas Pemboikotan ‘Produk Pemukiman Illegal Israel’

Oleh: Hurriyet Daily News

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada tanggal 9 Juni mengecam Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz, atas keputusan pemerintahnya untuk menutup tujuh masjid dan mengusir 40 imam, dan memperingatkan akan adanya “perang salib dan bulan sabit”.

“Saya khawatir langkah-langkah yang diambil oleh Perdana Menteri Austria akan membawa dunia lebih dekat ke perang salib-bulan sabit,” kata Erdogan selama acara berbuka puasa yang diselenggarakan di Istanbul.

Dia menambahkan bahwa Turki juga akan “menanggapi” pada waktunya atas keputusan untuk mengusir para imam tersebut.

Pernyataan Erdogan tersebut adalah tanggapan terhadap langkah-langkah yang diumumkan oleh Kurz pada tanggal 8 Juni, untuk mengusir beberapa imam yang didanai asing dan menutup tujuh masjid, dalam tindakan keras terhadap “Islam politik.”

Kurz mengatakan bahwa penyelidikan pada beberapa masjid dan asosiasi yang dilakukan oleh Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Urusan Agama telah disimpulkan, dan bahwa kegiatan tujuh masjid ditemukan dilarang, salah satunya dari Asosiasi Budaya Turki-Islam (ATIB).

Kanselir Austria itu menambahkan bahwa para imam tersebut akan dideportasi dengan alasan didanai asing.

“Masyarakat paralel, Islam politik, dan radikalisasi tidak memiliki tempat di negara kita,” kata Kurz.

Masjid yang dimaksud itu dikelola oleh ATİB di Eropa, yang berbasis di kota Cologne Jerman, dan sebuah cabang dari Direktorat Urusan Agama Turki (Diyanet).

Ketegangan meningkat antara Ankara dan Wina

Perdana Menteri Binali Yıldırım juga mengecam keputusan Austria untuk menutup masjid-masjid.

“Itu sangat salah. Ini tidak sesuai dengan aturan hukum universal atau nilai-nilai Uni Eropa atau hukum migran,” kata Yıldırım pada tanggal 8 Juni.

Kementerian Luar Negeri Turki mengeluarkan pernyataan yang mengecam keputusan tersebut.

“Kami mengecam para politisi Austria, terutama Kanselir Kurz, karena mencoba untuk mencapai kepentingan politik dari perkembangan yang mengkhawatirkan ini, daripada berperang melawan rasisme, Islam dan xenofobia, dan kebangkitan ekstrem kanan,” kata kementerian itu pada tanggal 8 Juni.

Hubungan antara Ankara dan sejumlah negara Eropa dilanda ketegangan pada tahun 2017 menjelang referendum kontroversial pada April 2017, mengenai pergeseran ke sistem presidensial eksekutif, di mana banyak politisi Turki tidak diizinkan untuk mengadakan pertemuan yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Menjelang referendum itu, para menteri Turki berusaha menggalang dukungan di negara-negara dengan komunitas Turki besar, seperti Belanda dan Jerman. Negara-negara itu memberlakukan larangan dengan alasan keamanan yang membuat marah Istanbul, dan Erdogan dan beberapa sekutunya pada saat itu membandingkan pemerintah Jerman dengan “Nazi.”

    Baca juga: Austria Tutup Masjid dan Usir Puluhan Imam, Erdogan: ‘Ini Bisa Jadi Perang Suci’

Untuk pemilihan parlemen dan presiden yang akan datang pada tanggal 24 Juni, Sarajevo menjadi satu-satunya pemberhentian kampanye untuk Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa dan Erdogan, di saat pemerintah di Austria, Jerman, dan Belanda mengatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan pawai untuk pemilu Turki kali ini juga.

Turki dengan keras mengecam larangan itu dan mengatakan bahwa gerakan itu “rasis” dan “tidak demokratis.”

Beberapa ratus ribu orang di Austria adalah warga negara Turki atau asli Turki.

Kelompok konservatif Kurz berada dalam pemerintahan koalisi dengan Partai Kebebasan anti-Islam, yang menjadikan Austria sebagai satu-satunya negara Eropa Barat yang memiliki partai sayap kanan dalam pemerintahan. Kedua pihak percaya bahwa Uni Eropa harus memutuskan pembicaraan aksesi Turki.

Keterangan foto utama: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara kepada para pendukungnya saat pawai pemilu di Ankara pada tanggal 9 Juni 2018. (Foto: AFP)

Erdogan Peringatkan Perang Antara Salib dan Bulan Sabit, Setelah Penutupan Masjid Austria
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top