berita Israel terbaru hari ini
Timur Tengah

Erdogan Sebut ‘Genosida’ Gaza: ‘Israel Negara Teror!’

Presiden Turki Erdoğan menyebut Israel sebagai 'negara teror'. (Foto: AFP)
Home » Featured » Timur Tengah » Erdogan Sebut ‘Genosida’ Gaza: ‘Israel Negara Teror!’

Seiring ribuan orang melakukan protes di Istanbul melawan pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, Turki menarik duta besarnya untuk Israel dan AS; Erdoğan juga mengumumkan tiga hari berkabung; Afrika Selatan juga menarik duta besarnya; Sekretaris Jenderal PBB menyerukan ‘penahanan diri sepenuhnya,’ dan mengatakan bahwa ia ‘terkejut dengan jumlah kematian.’

Oleh: Itamar Eichner (YnetNews)

Turki mengumumkan pada Senin (14/5) malam, bahwa pihaknya menarik duta besarnya dari Amerika Serikat (AS) dan Israel “untuk berkonsultasi,” dan telah mengikuti pemimpin Otoritas Palestina dalam mengumumkan tiga hari berkabung, menyusul kematian 59 demonstran di Gaza pada Senin (14/5).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan memberikan pidato di London pada hari yang sama, menyebut Israel sebagai “negara teror,” dan menambahkan bahwa “serangan terhadap demonstran Gaza menunjukkan wajah buruk Israel, sebagai negara yang melakukan genosida di Gaza.”

Dalam wawancara kemudian dengan Bloomberg, pada Selasa (15/5), Erdogan mengatakan bahwa terdapat “dua orang yang bertanggung jawab: Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.”

Setelah insiden hari itu, Turki juga menyerukan pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang saat ini diketuai Turki.

Ankara menginginkan pertemuan badan yang beranggotakan 57 negara itu, untuk diadakan pada Jumat (18/5), kata juru bicara pemerintah Bekir Bozdag.

“Saya akan berbicara dengan para pemimpin lain, dan meminta mereka untuk menyuarakan suara mereka sendiri melawan ketidakadilan ini,” tambah Erdogan. “Sebagai pemimpin dunia Islam, kami tidak akan membiarkan kehilangan Yerusalem pada hari ini. Kami akan terus berdiri bersama saudara-saudara Palestina kami.”

Perdana Menteri Turki Binali Yıldırım, juga mengecam tindakan Israel di perbatasan jalur itu, dan menyebutnya sebagai “pembantaian pengecut.” Berbicara kepada para wartawan di bandara Ankara, Yildırım juga mengecam peresmian Kedutaan Besar AS di Yerusalem, dan mengatakan bahwa AS “memprovokasi hukum internasional.”

Lebih lanjut terkait reaksi Turki, ribuan orang melakukan protes di Istanbul pada Senin (14/5) malam, melawan keputusan Amerika yang disebutkan sebelumnya. Para pengunjuk rasa membakar bendera Israel dan Amerika. Protes lain akan berlangsung pada Selasa (15/5).

Protes menentang keputusan AS di Istanbul. (Foto: EPA)

Protes menentang keputusan AS di Istanbul. (Foto: EPA)

“Al Quds milik umat Muslim,” bunyi salah satu tanda yang dikibarkan di demonstrasi tersebut, seiring kerumunan yang berkumpul berteriak, “Yerusalem adalah milik kami, dan akan menjadi milik kami.”

Salah satu pembicara yang berbicara kepada orang banyak selama demonstrasi tersebut—yang diorganisir oleh kelompok yang sama di belakang armada Gaza 2010—menyebut Amerika sebagai “anjing”.

Afrika Selatan tarik duta besar dari Israel

Demikian pula di misi diplomatik, Afrika Selatan mengumumkan pada Senin (14/5) pagi, bahwa pihaknya memanggil kembali Duta Besar Sisa Ngombane dari Israel, untuk berkonsultasi di Pretoria, setelah dengan keras mengecam “serangan yang kejam dan merusak di wilayah Palestina.”

Pemerintah Afrika mengeluarkan kecaman atas serangan brutal “pasukan Israel di perbatasan Gaza. Para korban ikut ambil bagian dalam protes damai terhadap peresmian provokatif Kedutaan Besar AS di Yerusalem,” sebelum menyerukan Israel untuk “menarik diri dari Gaza.”

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres mengatakan bahwa dia “terkejut oleh eskalasi di wilayah Palestina, dan jumlah orang yang tewas dan luka-luka dalam protes di Jalur Gaza.”

Guterres lebih lanjut menyarankan pasukan keamanan Israel untuk “bertindak dengan penahanan diri, dalam menggunakan peluru hidup.”

Berbicara tentang masalah Palestina, sekretaris jenderal tersebut mengatakan bahwa Hamas dan para pemimpin protes “memiliki tanggung jawab untuk mencegah tindakan kekerasan lebih lanjut.”

Dewan Keamanan badan internasional tersebut akan bersidang pada Selasa (15/5) untuk sesi darurat, menyusul peristiwa di Gaza dan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem.

Kuwait—yang menyerukan pertemuan itu—menyebarluaskan draf pernyataan media di antara anggota Dewan, dan menyarankan agar draf itu diterbitkan selama sesi tersebut.

Draf pernyataan tersebut mengatakan, “Dewan Keamanan mengungkapkan kemarahan dan rasa sakitnya sehubungan dengan pembunuhan warga sipil Palestina yang menggunakan hak mereka untuk melakukan protes damai. Dewan Keamanan menyerukan semua negara untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut untuk memperburuk situasi dan membahayakan peluang untuk perdamaian.”

“Dewan Keamanan menegaskan kembali bahwa setiap keputusan atau tindakan untuk mengubah karakter, status, atau demografi Yerusalem tidak memiliki validitas hukum dan tidak sah.” AS diperkirakan akan memblokir publikasi pernyataan itu pada Selasa (15/5).

Perwakilan Israel sendiri untuk PBB Danny Danon, meminta anggota Dewan pada Senin (14/5), untuk mengecam Hamas “atas kejahatan perang yang telah dilakukan. Hamas tidak hanya mengirim puluhan ribu orang yang telah dihasut untuk menerobos perbatasan dan membahayakan warga sipil Israel, tetapi juga dengan sengaja membahayakan warga sipil Palestina.”

“Pembantaian warga sipil Israel atau kematian warga Gaza—keduanya akan disambut oleh Hamas. Setiap warga sipil yang terluka di perbatasan adalah korban kejahatan perang Hamas, setiap kematian adalah hasil dari kegiatan terorisme kelompok tersebut dan di bawah tanggung jawab eksklusifnya,” Danon menyimpulkan.

Protes menentang keputusan pemindahan kedubes AS ke Yerusalem di Istanbul. (Foto: EPA)

Protes menentang keputusan pemindahan kedubes AS ke Yerusalem di Istanbul. (Foto: EPA)

Erdoğan terkait pemindahan kedutaan: ‘Akan mengobarkan ketegangan’

Presiden Turki Erdoğan juga berbicara tentang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“AS telah memilih untuk menjadi bagian dari masalah, bukan solusi, dan telah kehilangan perannya sebagai mediator dalam proses perdamaian Timur Tengah. Kita pasti merasa seolah-olah kita kembali pada masa kelam sebelumnya, Perang Dunia Kedua,” kata Erdogan.

Menyebut pemindahan kedutaan tersebut “sangat disayangkan,” Erdogan memperingatkan akan “mengobarkan ketegangan dan menyalakan api antara dua rakyat, bahkan lebih.” Presiden tersebut juga menuduh bahwa pemindahan itu adalah pelanggaran hukum internasional dan resolusi PBB, dan diakhiri dengan menyebutnya sebagai “kesalahan besar.”

Seorang pejabat pertahanan Amerika mengatakan kepada NBC, bahwa AS mengirim tambahan puluhan marinir AS ke misi diplomatiknya di Turki, Yordania, dan Israel, sebagai tanggapan terhadap meningkatnya ketegangan.

Departemen Luar Negeri dan Pentagon sedang mempertimbangkan juga mengirim marinir ke kedutaan lain di wilayah itu, termasuk Lebanon, Mesir, dan Pakistan, pejabat itu menambahkan.

Demonstran Yahudi di Washington menuntut hak Palestina. (Foto: Reuters)

Demonstran Yahudi di Washington menuntut hak Palestina. (Foto: Reuters)

Demonstrasi terhadap keputusan Trump juga terjadi di AS, di mana salah satu yang menonjol terjadi di Washington. Sekitar seratus pengunjuk rasa dari kelompok IfNotNow Yahudi memprotes di luar Trump International Hotel di ibu kota tersebut.

Meneriakkan “Hentikan kekerasan,” para demonstran memblokir Pennsylvania Avenue, yang menghubungkan Gedung Putih dan Capitol berkubah putih, selama sekitar dua jam.

Para pengunjuk rasa—banyak yang mengenakan kupluk dan kaos hitam dan menyatakan bahwa “masa depan Yahudi menuntut kebebasan Palestina”—menyanyikan “Kami akan membangun dunia ini dengan cinta.” Mereka juga membawa bagian-bagian bangunan tiruan dan tanda-tanda arah untuk “Kedutaan Kebebasan”, untuk menggantikan apa yang mereka sebut “Kedutaan Pendudukan” di Yerusalem.

Reuters berkontribusi untuk laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden Turki Erdoğan menyebut Israel sebagai ‘negara teror’. (Foto: AFP)

Erdogan Sebut ‘Genosida’ Gaza: ‘Israel Negara Teror!’
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top