Gedung Putih Kekurangan Pengacara untuk Lawan Petinggi Demokrat
Amerika

Gedung Putih Kekurangan Pengacara untuk Lawan Petinggi Demokrat

Berita Internasional >> Gedung Putih Kekurangan Pengacara untuk Lawan Petinggi Demokrat

Kantor penasihat Gedung Putih kekurangan orang. Mereka telah tanpa pemimpin tetap sejak bulan Oktober, dan para deputi tingkat tinggi mengundurkan diri, meninggalkan hanya sejumlah kecil staf tersisa. Seorang mantan pejabat Gedung Putih di bawah George W. Bush, memperingatkan bahwa Trump harus berhati-hati selama periode lemah ini, di mana skandal kecil bisa meledak, jika tidak ada tim yang tepat untuk berurusan dengan Demokrat yang sudah bersiap-siap.

Oleh: Nancy Cook dan Darren Samuelsohn (Politico)

Baca Juga: Tak Anggap Serius Pekerjaan di Gedung Putih, Ivanka Trump Abaikan Aturan

Kantor penasihat Gedung Putih hanya memiliki sejumlah kecil staf yang tersisa, dan berpotensi membuat kantor itu tidak siap untuk menghadapi banjir panggilan untuk dokumen dan saksi, ketika Demokrat mengambil alih DPR.

Kantor tersebut telah tanpa pemimpin tetap sejak pengacara senior Gedung Putih Don McGahn, meninggalkan pemerintahan pada pertengahan Oktober. Penggantinya, Pat Cipollone, terjebak dalam pemeriksaan latar belakang yang lebih panjang yang mencegahnya untuk mulai menjabat.

Dan dalam beberapa minggu mendatang, wakil penasihat Annie Donaldson—yang bertugas sebagai pembantu paling terpercaya McGahn dan sebagai kepala staf kantor tersebut—diperkirakan akan meninggalkan pemerintahan, menurut dua Republik yang dekat dengan Gedung Putih. Donaldson pindah ke Alabama bersama suaminya, Brett Talley, di mana pencalonannya untuk jabatan hakim federal Gedung Putih ditarik pada bulan Desember 2017.

Di tengah-tengah keributan kepemimpinan, kantor penasihat tersebut telah menyusut menjadi sekitar 25 pengacara, menurut Republik kedua yang dekat dengan pemerintah. Itu kurang dari titik tinggi baru-baru ini sekitar 35 pengacara, dan juga kurang dari 40 pengacara yang diperkirakan akan diperlukan untuk berurusan dengan Partai Demokrat yang bersemangat kembali untuk menyelidiki hasil pajak Presiden Donald Trump, dan transaksi bisnis di negara-negara asing—membuka kembali penyelidikan terhadap ikut campur Rusia dalam pemilu dan memeriksa perilaku sekumpulan pejabat Kabinet.

“Mereka hanya memiliki sekitar 20 pengacara Gedung Putih yang berdedikasi, dan sekelompok karyawan pemerintah yang bisa pergi kapan saja,” kata seorang mantan pejabat Gedung Putih kepada Politico. “Saya tidak berpikir siapa pun yang memperhatikan, menganggap mereka siap untuk pengambilalihan Demokrat.”

“Tersesat dan menyusut” adalah bagaimana seorang Republik ketiga yang berhubungan dengan Gedung Putih menggambarkan keadaan kantor saat ini.

Cipollone—pemimpin pengacara yang akan masuk—adalah seorang litigator yang berpengalaman dan mantan pejabat Departemen Kehakiman. Namun dia masih menjalani pemeriksaan latar belakang dan berupaya untuk melepaskan diri dari bisnis firma hukumnya, menurut seorang pejabat pemerintah—yang berarti dia masih membutuhkan beberapa minggu untuk mengambil alih jabatan. Sementara itu, Emmet Flood mengawasi respons Gedung Putih terhadap investigasi Rusia dan kantor penasihat.

“Ketika pemimpin itu pergi, sulit untuk menemukan pengganti,” kata Republik ketiga yang dekat ke Gedung Putih, berbicara tentang periode antara kepergian McGahn dan kedatangan Cipollone.

Wakil-wakil utama lainnya dari kantor penasihat tersebut, telah tersebar di seluruh pemerintahan, ke jabatan hukum teratas di lembaga federal atau hakim, atau ke sektor swasta. Di bawah McGahn, banyak pengacara di kantornya berasal dari mantan firma hukumnya, Jones Day.

Seorang mantan pejabat Gedung Putih di bawah George W. Bush, memperingatkan bahwa Trump harus berhati-hati selama periode lemah ini, di mana skandal kecil bisa meledak, jika tidak ada tim yang tepat untuk berurusan dengan Demokrat yang sudah bersiap-siap.

“Anda harus berhati-hati terhadap transisi,” kata pejabat tersebut, yang menekankan bahwa ketika Demokrat mengambil DPR dan Senat pada tahun 2006, pemerintahan Bush tidak memiliki staf untuk menangani serangan balik, setelah Departemen Kehakiman memerintahkan hal yang mengejutkan: pemecatan tujuh pengacara Amerika Serikat (AS). Demokrat dengan cepat mendorong untuk menyelidiki apakah pemecatan tersebut telah dilakukan karena alasan politik.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintah sedang merencanakan “untuk bekerja dengan Demokrat tetapi siap untuk intimidasi presiden.” Pejabat yang sama menolak untuk memberikan jumlah kepala pengacara terbaru saat ini di dalam kantor pengacara tersebut.

Begitu Cipollone tiba di Gedung Putih, sebagian besar dari pekerjaannya akan melibatkan menyewa pengacara untuk Gedung Putih, yang pasti dikepung oleh Demokrat. Selain merencanakan investigasi Gedung Putih, Demokrat juga berencana untuk menekan pemerintahan tersebut terkait perilaku Kepala Kabinet seperti Menteri Dalam Negeri Ryan Zinke, Menteri Perdagangan Wilbur Ross, dan Menteri Pendidikan Betsy DeVos.

Jim Schultz—mantan asisten khusus presiden dan penasihat senior asosiasi untuk Trump—mengatakan bahwa dia memperkirakan Cipollone akan mencoba untuk meningkatkan timnya menjadi sekitar 40 orang.

“Mereka tidak ada di sana sekarang,” kata Schultz. “Tentu saja pada saat Kongres baru dilantik, Anda ingin memiliki pasukan pengacara Anda.”

Namun, menyewa rombongan pengacara dan mantan pegawai Mahkamah Agung untuk menangani serangan gencar dari penyelidikan tersebut, menunjukkan bahwa Gedung Putih Trump akan menanggapi panggilan pengadilan dengan cara yang khas; Gedung Putih bisa dengan mudah mengabaikannya dan mengklaim hak istimewa eksekutif—sebuah langkah yang pada akhirnya akan mendaratkan mereka di pengadilan, tetapi sangat sesuai dengan pendekatan tipikal Gedung Putih Trump terhadap pemerintahan dan politik.

Keadaan kantor penasihat Gedung Putih yang kekurangan tenaga kerja sangat kontras pada minggu lalu dengan pertemuan tahunan Federalist Society yang berhaluan kanan—sebuah acara makan malam untuk pengacara dan akademisi konservatif.

Dalam sebuah gala pada Kamis (22/11) malam di Union Station, para peserta sangat gembira atas konfirmasi dua hakim yang berhaluan kanan di Mahkamah Agung di bawah Trump—menurut dua hadirin—sementara hakim Mahkamah Agung terbaru, Brett Kavanaugh, menerima tepuk tangan meriah.

Pertemuan Federalist Society sering berfungsi sebagai audisi informal untuk hakim atau pejabat pemerintahan puncak di masa depan. Sejumlah hakim dalam daftar pendek pilihan potensial Mahkamah Agung Trump, muncul di berbagai panel selama acara tiga hari tersebut.

Namun, walau para pengacara konservatif merayakan penguasaan mereka di bawah pemerintahan Trump, dan memperbaharui hak sistem peradilan, namun para veteran dari Gedung Putih sebelumnya, memperingatkan bahwa Gedung Putih Trump secara hukum tidak siap menghadapi serangan gencar yang terbentang di bawah pemerintahan yang terpecah.

“Pekerjaan penasihat Gedung Putih, lebih dari sekadar komitmen penuh waktu bahkan di saat-saat biasa,” kata mantan penasihat Gedung Putih Clinton Jack Quinn. “Menambah satu—atau lebih—pemeriksaan atau penyelidikan independen hanya menambah pekerjaan kedua di atas, tetapi itu pekerjaan yang sering menuntut perhatian berkelanjutan dan selalu menuntut kesabaran yang luar biasa.”

Baca Juga: CNN Gugat Donald Trump dan Gedung Putih

Keterangan foto utama: Don McGahn, mantan pengacara senior Gedung Putih, meninggalkan kantor penasihat pada bulan Oktober. (Foto: AP/Evan Vucci)

Gedung Putih Kekurangan Pengacara untuk Lawan Petinggi Demokrat

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top