Gempa dan Tsunami di Palu
Berita Politik Indonesia

Gempa dan Tsunami di Palu, Korban Tewas Mencapai 400, Ratusan Lainnya Terluka

Berita Internasional >> Gempa dan Tsunami di Palu, Korban Tewas Mencapai 400, Ratusan Lainnya Terluka

Gempa bumi yang disusul Tsunami yang melanda kota Palu, Sulawesi telah menewaskan lebih dari 400 orang, dan jumlah ini masih akan terus bertambahkan karena belum semua korban ditemukan. Banyak korban gempa dan tsunami di Palu masih terkubur di bawah reruntuhan. Gempa berkekuatan 7,5 SR menghantam Jumat lalu (28/9), air menghantam gedung-gedung dan menyapu rumah-rumah di kota pesisir Palu, yang dihuni 350.000 orang.

Baca juga: Apakah Taruhan Pariwisata Indonesia Setelah Gempa Lombok Akan Buahkan Hasil?

Oleh: Nicole Chavez dan Mochammad Andri (CNN)

Petugas penyelamat masih melanjutkan pencarian para korban yang selamat, Minggu (30/9), dua hari setelah gempa bumi dahsyat melanda pulau Sulawesi dan memicu tsunami, menewaskan lebih dari 400 orang.

Setelah gempa berkekuatan 7,5 SR menghantam Jumat lalu (28/9), air menghantam gedung-gedung dan menyapu rumah-rumah di kota pesisir Palu, yang dihuni 350.000 orang.

Juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan korban tewas berjumlah 405 pada hari Minggu pagi (30/9), berdasarkan jumlah mayat yang telah ditemukan. Lebih dari 400 orang terluka parah, kata Sutopo.

Banyak korban gempa dan tsunami di Palu masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan dan rumah, kata Sutopo, dan upaya evakuasi terhambat karena kurangnya personil dan peralatan berat.

Listrik dan komunikasi terputus, sehingga sulit untuk menilai kerusakan di Palu dan komunitas nelayan terdekat Donggala, kata Sutopo.

“Bukan hanya orang-orang di daerah perkotaan besar. Ada banyak orang yang juga tinggal di komunitas terpencil yang sulit dijangkau” Jan Gelfand, kepala Palang Merah Internasional di Indonesia, mengatakan kepada CNN.

Dengan ditutupnya bandara Palu, petugas penyelamat harus menggunakan jalur darat untuk menuju ke Palu. Sulawesi adalah salah satu pulau terbesar di dunia dan perjalanan dari bandara terdekat memakan waktu sekitar 10-12 jam. “Kami sudah mengerahkan para petugas dan mereka sedang dalam perjalanan tetapi kami tidak tahu kerusakan apa yang terjadi pada infrastruktur jalan.”

Di Palu, pihak berwenang mendesak warga untuk tidak tidur rumah mereka pada Sabtu malam (29/9) dan tidur di luar bangunan—ladang, jalan atau pekarangan karena adanya bahaya gempa susulan.

Ratusan orang terluka, rumah sakit butuh bantuan

Setelah rumah sakit setempat rusak, staf medis memilih untuk merawat puluhan warga yang terluka di luar gedung, kata Sutopo.

Tim medis merawat warga yang terluka di luar rumah sakit pada hari Sabtu (29/9). (Foto: AFP/Getty Images/Muhammad Rifki)

Dr Komang Adi Sujendra, Direktur Rumah Sakit Undata di Palu meminta bantuan dari masyarakat Indonesia setelah gempa.

“Saat ini, di rumah sakit kami, listrik mati di seluruh Palu, jalan retak, jaringan telepon tidak berfungsi,” katanya dalam sebuah video yang diposting di Twitter. “Kami berharap ada bantuan datang.”

“Kami butuh tenda, obat, kanvas, perawat …”

Personel layanan navigasi penerbangan tewas setelah mencoba keluar dari gedung

Salah satu dari puluhan korban adalah seorang personel layanan navigasi penerbangan tetap tinggal untuk memastikan pesawat penumpang lepas landas.

Anthonius Gunawan Agung, 21 tahun, meninggal di rumah sakit setelah ia melompat dari menara kontrol lalu lintas di bandara Palu ketika ia berpikir menara itu akan runtuh.

Rekan-rekannya telah keluar dari menara ketika mereka merasakan adanya gempa bumi, tetapi dia tetap tinggal di ruangan untuk memastikan pesawat Batik lepas landas dengan aman, Air Nav Indonesia, lembaga yang mengawasi navigasi pesawat, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Kami berduka cita atas meninggalnya Anthonius, semoga Tuhan memberikan Anthonius tempat terbaik di sampingnya, bersama dengan korban gempa Donggala lainnya,” kata juru bicara Air Nav Yohanes Sirait.

Gempa besar

Kejadian mengerikan ini dimulai pada hari Jumat (29/9) ketika gempa pertama dalam serangkaian gempa dirasakan pada jam 3 sore (3 pagi ET) 35 mil (56 km) utara Palu, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

Tiga gempa berkekuatan 4,9  SR dan yang berkekuatan lebih besar tercatat hingga tiga jam sebelum gempa di dekat Palu, kata USGS.

Gempa itu memicu tsunami yang menghantam pantai di kota Palu dan Donggala, kata para pejabat.

Tsunami itu “tingginya sekitar tiga meter,” kata Nugroho.

Baca juga: Rumah-Rumah Tradisional Lombok Selamatkan Nyawa dari Bencana Gempa

Guncangan gempa berkekuatan 7,5 SR itu “sangat parah” dan kerusakan yang mungkin terjadi setelah gempa diperkirakan “sedang hingga berat,” kata USGS.

Serangkaian gempa susulan terjadi setelah gempa besar itu, termasuk guncangan berkekuatan 5,8 SR 12 menit kemudian.

Peringatan dini tsunami telah dikeluarkan oleh badan meteorologi Indonesia, tetapi kemudian dicabut setelah badan tersebut memastikan bahwa air telah surut.

Seorang warga di samping dinding bata rumahnya yang runtuh di desa Tobadak di Mamuju Tengah, provinsi Sulawesi Barat, pada 28 September setelah gempa besar menghantam daerah tersebut. (Foto: AFP/Getty Images/Nurpadila)

Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan militer dikerahkan ke wilayah yang dilanda bencana tersebut untuk membantu tim SAR mencari korban dan menemukan jasad para korban.

Menulis di akun Twitter resminya pada hari Jumat (29/9), Joko Widodo mengatakan dia telah memantau situasi dan mempersiapkan setiap kemungkinan pasca-gempa.

“Semoga saudara-saudari kita tetap tenang dan aman,” tulisnya.

Gempa datang sebulan setelah tiga gempa bumi melanda beberapa pulau di Pasifik Selatan dan Indonesia, termasuk Lombok, yang masih belum pulih dari dampak gempa bumi 5 Agustus lalu, yang menewaskan lebih dari 430 orang.

 

Keterangan foto utama: Gempa bumi dan tsunami melanda Indonesia (Foto: AFP/Getty Images/Bay Ismoyo)

Gempa dan Tsunami di Palu, Korban Tewas Mencapai 400, Ratusan Lainnya Terluka

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top