George H. W. Bush
Amerika

George H. W. Bush dan Donald Trump: Kajian Kepresidenan yang Kontras

Berita Internasional >> George H. W. Bush dan Donald Trump: Kajian Kepresidenan yang Kontras

Donald Trump adalah salah satu pemimpin dunia yang pertama menyampaikan belasungkawa dan penghormatan, atas berpulangnya Presiden Amerika Serikat ke-41 George H. W. Bush. Namun, meninggalnya Bush mau tidak mau memampangkan kekontrasan dari kedua presiden. Semasa jabatannya, George H.W. Bush terkenal dengan tutur katanya yang lembut dan sifat diplomatisnya yang berlawanan dengan Trump.

Baca juga: Bagaimana George W. Bush Mengkritik Fanatisme Trump

Oleh: Channel News Asia

Satu presiden Amerika Serikat berbicara dengan lembut, yang lainnya dengan tajam. Yang satu membangun koalisi internasional, yang lain mencabik-cabiknya. Yang satu seorang pahlawan perang, yang lainnya menghindari pertempuran.

Yang satu bernama George H. W. Bush dan yang lain, Donald Trump, sedang berada di Gedung Putih saat ini.

Trump adalah salah satu pemimpin dunia yang memberikan penghormatan atas kehidupan presiden AS ke-41, yang meninggal di Houston pada usia 94 tahun.

Namun bahkan pernyataan penuh penghormatan tengah malam Trump menyoroti kontras yang tak terbantahkan—dan membuat tidak nyaman—antara pria yang akan dikenang dan pria yang menyampaikan euologi.

“Harapan,” “rendah hati,” “tenang,” “tak tergoyahkan,” “menginspirasi.” Kata-kata seperti itu memenuhi pernyataan lima paragraf yang dikirim dari Buenos Aires, tempat Trump sedang menghadiri KTT G20.

Kata-kata itu terdengar asing dalam langskap politik brutal Washington saat ini—terlebih lagi di Gedung Putih.

Bush, yang menikahi kekasih remajanya, jelas menjalani kehidupan yang jauh dari skandal yang mengitari Trump. Salah satu yang paling jelas adalah ketika Trumo dituduh menyogok seorang bintang porno agar merahasiakan kencan rahasia mereka.

Bush bertutur dengan lembut, mematuhi etiket dan kesopanan diplomatik.

Trump adalah kompetitor zero-sum, seseorang yang melabeli dirinya pembuat kesepakatan yang transaksi-transaksinya—mulai dari kesepakatan real estat New York-nya pada mulanya sampai ke perang dagang dengan China—bergantung pada strategi berisiko dan seringnya dengan ejekan yang diatur dengan baik.

Saat Bush, seorang diplomat berpengalaman, terkenal karena menyatukan sekutu Perang Teluk untuk mendorong Irak keluar dari Kuwait pada tahun 1991, Trump secara terang-terangan mengutuk multilateralisme.

Bahkan presiden ke-45 sendiri tidak akan pernah mengklaim dia memiliki tata krama konservatif Bush, yang mungkin dilambangkan dengan catatan tulisan tangan yang Bush tinggalkan pada orang yang mengalahkannya dalam pemilihan, Bill Clinton, pada hari inagurasinya di tahun 1993. Bush menulis dia berharap Clinton mendapatkan “kebahagiaan yang besar.”

Jadi, kematian Bush membuat beberapa orang di Washington dipenuhi nostalgia.

“Ejekan dan bualan hari ini dianggap sebagai bentuk kepemimpinan yang kuat sementara kerendahhatian dan martabat dianggap sebagai kelemahan,” tweet Senator Marco Rubio, seseorang yang merasakan kekuatan penuh dari insting kompetitif Trump, ketika keduanya berselisih dalam pemilihan internal Republik untuk nominasi presiden pada tahun 2016.

“Wafatnya Presiden ke-41 kita,” tulis Rubio, “mengingatkan kita seperti apa bentuk kepemimpinan sesungguhnya.”

“Lebih baik hati, lebih santun’

Detil biografik Bush saja sudah menjadi oposisi yang jelas terhadap Trump.

Dia adalah seorang pilot US Navy dengan gelar kehormatan pada Perang Dunia II, nyaris tak lolos dari maut pada usia 20.

Dia tidak hanya bekerja keras melalui berbagai pangkat menuju kantor terpilih, tapi juga bertugas sebagai direktur CIA, duta besar PBB dan wakil presiden, menjadikannya sangat berkualifikasi ketika akhirnya memenangkan pemilihan presiden. Jabatan yang ia gunakan untuk membantu memastikan akhir damai dari Perang Dingin.

Trump tentu saja memiliki masa lalu penuh warna di dunia bisnis Manhattan yang kejam. Kebangkitannya pada pemilihan 2016, menuntutnya menundukkan partai Republik dan lalu lawannya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, yang mengejutkan teman dan lawan.

Baca juga: Gedung Putih Kekurangan Pengacara untuk Lawan Petinggi Demokrat

Namun, ketika Bush bergegas ke medan perang, Trump muda mengamankan tidak hanya satu, tapi lima penangguhan untuk menghindari konflik generasinya, Perang Vietnam.

Ketika Bush membuktikan dedikasi seumur hidup terhadap tradisi dan institusi politik AS, Trump datang dengan misi untuk memporakporandakannya.

Dan ketika Bush terkenal karena menyerukan suatu negara yang “lebih baik hati dan santun,” Trump mematrikan citranya sebagai sosok yang bermulut besar.

“Muka kuda,” “lemah,” “curang,” “licik,” “pengecut” hanya beberapa dari ejekan-ejekan yang telah ia lontarkan, sebagai presiden, terhadap mereka yang melewati jalurnya.

Petinggi Senat Demokrat, Chuck Schumer—yang Trump sering labeli dengan “Chuck Schumer yang cengeng”—mengatakan kemampuan Bush untuk berbicara dengan lawannya adalah sesuatu yang sangat ia rindukan.

“Dambaannya atas negara yang lebih baik dan lebih santun sepertinya lebih dibutuhkan saat ini dibandingkan saat ia pertama menyerukannya,” ujar Schumer.

Keterangan foto utama: Donald Trump memberikan tribut penuh hormat kepada mendiang George H. W. Bush, tapi kekontrasan antara presiden ke-41 dan 45 sangatlah jelas. (Foto: AFP/Mandel NGAN)

George H. W. Bush dan Donald Trump: Kajian Kepresidenan yang Kontras

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top