Hasil Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un: China Pemenang Sejatinya
Asia

Hasil Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un: China Pemenang Sejatinya

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersulang dengan Presiden China Xi Jinping, saat dia melakukan kunjungan tidak resmi ke Beijing, China. (Foto: Reuters)
Home » Featured » Asia » Hasil Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un: China Pemenang Sejatinya

Menjelang pertemuan dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un, Trump yakin denuklirisasi akan berlangsung lengkap dan diverifikasikan segera. Setelah pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump, Trump mengumumkan latihan perang gabungan AS dan Korea Selatan sebagai imbalan bagi Korut. Namun yang paling diuntungan dengan keputusan ini ternyata adalah China. Mengapa demikian?

Oleh: Matthew Carney (ABC News)

    Baca Juga: Trump Janji Hentikan Latihan Militer dan Tarik Pasukan dari Asia, Seoul & Washington Cemas

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut deklarasi yang ditandangani di akhir pertemuannya dengan Kim Jong-un sebagai “komprehensif”, namun hanya mencakup empat poin umum yang kurang begitu mendetail. Deklarasi tersebut lebih menekankan pada pernyataan mengenai iktikad denuklirisasi dan komitmen teehadap kedamaian stabil dan jangka panjang, dengan adanya jaminan keamanan bagi pemimpin korea Utara yang tidak disebutkan dengan jelas.

Dalam sebuah konferensi pers di akhir pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump, Trump terlihat yakin bahwa denuklirisasi akan berlangsung lengkap dan diverifikasikan segera, dengan kesepakatan yang berbeda dengan yang telah dilakukan dengan pihak lain sebelumnya.

Trump menegaskan bahwa pertemuan yang terjadi merupakan “langkah berani menuju masa depan yang cerah” dan “hanya mereka yang paling berani yang dapat mewujudkan perdamaian.”

Pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump

Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berjalan-jalan setelah makan siang mereka di resor Capella di Pulau Sentosa Selasa, 12 Juni 2018 di Singapura. (Foto: AP Photo/Evan Vucci)

Tentu saja, terdapat sentimen dalam pertemuan yang berlangsung, terutama karena tidak menjawab berbagai kekhawatiran maupun menjelaskan bagaimana denuklirisasi, stabilitas, dan perdamaian dunia akan terwujud.

Pada tahap awal kali ini, China jelas keluar sebagai pemenang. Tahun kemarin, China telah mengajukan “penundaan atas pemberian penundaan.” Dalam beberapa penilaian konkret, hal itulah yang kemudian diakui Trump. Menurut Trump, latihan perang gabungan AS dan Korea Selatan akan dihentikan untuk mengimbangi pemberhentian uji coba misil dan nuklir Korea Utara.

Hal tersebut menjadi sinyal bagi China bahwa tuntutannya telah dipenuhi serta melambungkan harapan bahwa kepentingan strategis China akan diwujudkan lebih lanjut. Dalam serangkaian pertemuan dan negosiasi yang akan datang, China setidaknya akan mendorong upaya “mendefinisikan ulang” 28.000 pasukan AS di Korsel sebagai “penjaga perdamaian.”

Trump sendiri menuturkan bahwa dirinya pada akhirnya berharap pasukan negerinya dapat dipulangkan. Ini tentu saja menjadi kesempatan emas bagi China untuk melakukan konsolidasi terhadap ambisi saling mendominasi di Asia.

Hubungan China Korea Utara tampaknya telah membaik. (Foto: Xinhua/AP/Ju Peng)

Hubungan China Korea Utara tampaknya telah membaik. (Foto: Xinhua/AP/Ju Peng)

Kehadiran pasukan AS di Korsel beserta markas militer berukuran masif merupakan proyeksi terbesar atas cengkeraman kekuatan AS di kawasan Semenanjung Korea. Dengan melemahnya kekuatan AS tersebut, China mulai meraih manfaat sendiri.

Hal tersebut menjadi representasi pembukaan pertama bagi China yang memandang negaranya dikelilingi oleh basis militer AS di Korsel, Jepang, Guam, dan Filipina. Hubungan China dan Korut, terlepas dari tegangan antara AS-Korut, kini telah membaik. Trump tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mengembalikan tekanan maksimal dengan sanksi.

China memiliki sumbangsih perdagangan sebanyak 90 persen terhadap Korut. Sanksi hanya berlaku karena China memperkuat tekanan di tahun lalu dalam hal batu bara, bijih besi, olahan laut, srta tenaga kerja Korut. China telah bersiap memanfaatkan setiap pembukaan Korut serta memiliki posisi yang ideal untuk mengambil langkah demikian.

     Baca Juga:  Pertemuan Kim dan Trump: Bagaimana Berlangsungnya, dan Apa Hasilnya?

Kini telah ada tiga zona perdagangan bebas maupun industri berskala masif yang berada di perbatasan Korut dan proyek infrastruktur skala besar—seperti jembatan—yang tengah berlangsung. China berharap untuk mengambil manfaat dari tenaga kerja Korut yang terkenal murah di dunia. China juga ingin memanfaatkan kerjasama ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian di kawasan tenggaranya.

Tidak mengejutkan ketika Menteri Luar Negeri China mengajukan agar sanksi dapat diringankan segera pasca penandatanganan deklarasi bersama di Singapura. Korsel tampaknya memiliki paling banyak manfaat maupun kerugian yang dapat diperoleh dari perjanjian perdamaian dan denuklirisasi.

Selama 65 tahun, Korsel telah hidup di bawah ancaman Korut dan memperkirakan sejumlah 8.000 meriam yang diarahkan ke Ibukota Korsel. Presiden Korsel, Moon Jae-in, putra dari seorang pengungsi Korut, telah mempertaruhkan jabatan kepresidenannya untuk mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea.

Perubahan Citra Diri Kim Jong-un: Dari Maniak Nuklir Menjadi Pemimpin Terampil

Kim dan Presiden Xi Jinping dari China di Dalian, China, pada bulan lalu. Itu adalah pertemuan kedua Kim dengan Xi dalam dua bulan. (Foto: KCNA/EPA/Shutterstock)

Pasca pertemuan di Singapura, Moon Jae-in memberi ucapan selamat kepada Donald Trump dan Kim Jong-un dan menyebut momen itu sebagai “peristiwa bersejarah yang akan mengakhiri sisa-sisa konflik Perang Dingin dan menuliskan sejarah baru perdamaian dan kerjasama di Semenanjung Korea.” Meski terdapat perasaan optimis di Korsel, banyak pihak yang masih dibayangi oleh ketakutan akan gagalnya negosiasi dalam hal detail dan komitmen yang kuat.

Selain itu, seperti yang digarisbawahi Trump, Korsel harus membayar upaya perdamaian dan rekonstruksi Korut. Diperkirakan terdapat sejumlah besar biaya mencapai triliunan dolar yang dikhawatirkan banyak pihak harus dibayar.

Yang tak kalah penting ialah nasib Jepang, yang merasa telah dikesampingkan dalam keseluruhan proses. Jepang telah menghadapi kenyataan mencolok bahwa misil Korut telah diarahkan menuju wilayah Jepang pada tahun lalu. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengambil langkah terakhir untuk menemui Trump pekan lalu agar kepentingan Jepang dapat dipertimbangkan.

Meski ada kemungkinan bahwa Kim dapat menghentikan program rudal balistik antar benua (ICBM), yang dapat menghancurkan kota-kota di Amerika, apabila diikuti dengan konsesi ekonomi, tampaknya sangatlah sulit untuk menghentikan medium maupun rudal jarak pendek yang mampu menjangkau Jepang. Kim bisa jadi belum sepenuhnya bersedia untuk menghentikan keuntungan regional strategis yang dikantunginya tersebut.

Jepang juga mengkhawatirkan nasib warganya yang diculik oleh Korut, yang menjadi isu emosional penting, yang ditakutkan kian hilang dan terlupakan dalam negosiasi yang akan datang.

Jepang, China, dan Korsel menghargai arah baru yang ditentukan lewat pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump, namun perbedaan serta strategi dan kebutuhan tiap negara untuk saling bersaing dapat berpotensi menjadi penghalang dalam bulan-bulan dan tahun-tahun yang akan datang, seperti yang terjadi dalam berbagai negosiasi serupa di masa lampau.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik.

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bersulang dengan Presiden China Xi Jinping, saat dia melakukan kunjungan tidak resmi ke Beijing, China. (Foto: Reuters)

Hasil Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un: China Pemenang Sejatinya
Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top