berita Iran terkini
Eropa

Risiko Perang Termonuklir: Bagaimana Eropa Bisa Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran

Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden AS Donald Trump berunding pada awal sesi kerja pertama pertemuan G20 di Hamburg, Jerman, pada 7 Juli 2017. (Foto: AFP/Getty Images/John Macdougall)
Home » Featured » Eropa » Risiko Perang Termonuklir: Bagaimana Eropa Bisa Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran

Trump harus dihadapkan dengan pilihan yang jelas: mempertahankan JCPOA, sebagai imbalan atas dukungan Eropa dalam mengatasi masalah regional dan program rudal nuklir Iran; atau merusak kesepakatan itu dan berisiko kehilangan kerja sama Eropa, dan keberadaan Iran yang bersenjata nuklir.

   Baca juga: Jika Trump Akhiri Kesepakatan Nuklir Iran, Apa yang Dipertaruhkan?

Oleh: Mark Leonard (The Strategist)

Minggu ini, seorang pejabat senior Jerman menunjukkan kepada saya bahwa, ‘Kesepakatan nuklir Iran adalah tembok pertahanan terakhir yang mencegah ketegangan militer di wilayah yang paling mudah terbakar di dunia, yang meluas ke perang termonuklir.’

Bahasa itu sangat penuh bencana, tetapi itu mencerminkan ketakutan yang sebenarnya bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat segera membongkar garis pertahanan penting yang Jerman dan orang Eropa lainnya bangga telah bangun.

Para pemimpin Eropa telah merasa dikalahkan sejak Januari, ketika Trump memberi mereka batas waktu tanggal 12 Mei untuk ‘memperbaiki kekurangan yang mengerikan dari kesepakatan nuklir Iran,’ atau Trump akan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

Penolakan utama Trump terhadap kesepakatan nuklir Iran adalah bahwa kesepakatan itu tidak mengatasi perilaku buruk Iran di wilayah tersebut atau program rudal balistiknya, juga tidak mencegah Iran untuk memulai kembali program nuklirnya setelah tahun 2025. Dan sekarang di saat Trump telah membentuk tim kebijakan luar negeri baru yang ganas—dengan John Bolton sebagai penasihat keamanan nasional dan Mike Pompeo sebagai Menteri Luar Negeri—para diplomat Eropa takut akan yang terburuk.

Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah Jerman, Prancis, dan Inggris telah dengan gegabah mengumpulkan sekumpulan tindakan—termasuk potensi sanksi terhadap para elit Iran—untuk mengatasi kekhawatiran Trump. Dan baik Presiden Prancis Emmanuel Macron maupun Kanselir Jerman Angela Merkel, kini telah mengunjungi Gedung Putih untuk membujuk Trump bahwa lebih baik untuk membangun kesepakatan daripada meledakkannya.

Dalam jangka pendek, negara-negara Eropa berharap bahwa tindakan yang mereka usulkan akan memungkinkan Trump untuk menyatakan kemenangan, sambil tetap berada dalam kesepakatan. Mereka telah mengingatkan Trump bahwa solusi diplomatik terhadap krisis nuklir Korea Utara bisa sangat bergantung pada apakah ia secara sepihak meninggalkan komitmen Amerika kepada Iran di bawah Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

Namun, dalam jangka panjang, kemampuan para pemimpin Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran tersebut akan bergantung pada sejauh mana mereka dapat bertindak untuk kepentingan mereka sendiri, daripada menjadi sandera dari tingkah pemerintahan Trump.

Sudah sepatutnya bahwa masalah Iran telah menjadi yang terdepan di sekitar peringatan 15 tahun dimulainya Perang Irak. Bagi para diplomat Eropa, bencana itu dan keberhasilan JCPOA telah datang untuk mewakili dua kebijakan luar negeri yang ekstrem. Irak adalah saat-saat paling gelap pada pasca-Perang Dingin Eropa, di mana negara-negara Eropa berbaris melawan satu sama lain untuk mendukung atau menentang perang, meskipun tidak ada yang punya pengaruh nyata atas keputusan AS.

   Baca juga: Iran: Kesepakatan Nuklir Iran Adalah yang Terburuk, dan Itu Salah Trump

Sebaliknya, JCPOA dipandang sebagai keberhasilan Eropa modern yang bersinar. Putus asa untuk menghindari perang lain di Timur Tengah, Eropa—mulai tahun 2005—mulai mendefinisikan kepentingan mereka sendiri di wilayah tersebut. Dengan tujuan dua cabang untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menghindari perang lain, mereka merancang berbagai hukuman dan penghargaan untuk membentuk tindakan Iran dan AS.

Bagi Iran, para diplomat Eropa menawarkan pilihan antara dua masa depan: Satu, di mana Iran akan membekukan program nuklirnya dan mengakhiri isolasi internasionalnya; dan satu lagi di mana Iran akan mempertahankan programnya dan menghadapi sanksi yang lebih keras, dan mungkin perang. Pada saat yang sama, Eropa—yang telah meyakinkan Rusia dan China untuk mendukung strategi mereka—mendekati AS dengan pilihan lain: entah bergabung dengan koalisi internasional untuk menerapkan tekanan diplomatik terhadap Iran, atau mengejar langkah militernya sendiri yang secara meragukan efektif.

Saat ini, tujuan para pemimpin Eropa di Timur Tengah adalah untuk mengurangi perjuangan hegemonik antara Iran dan Arab Saudi, mencegah proliferasi nuklir, memerangi terorisme, dan menahan arus pengungsi ke Eropa. Tetapi banyak dari tujuan-tujuan ini sekarang sedang secara aktif dirusak oleh pemerintahan Trump, yang telah menunjukkan keberpihakannya pada Israel dan Arab Saudi untuk melawan Iran dalam konflik regional, dari Yaman dan Irak hingga Lebanon dan Suriah.

Para diplomat di beberapa negara anggota Uni Eropa telah mulai khawatir bahwa upaya untuk menenangkan Trump dapat memaksa mereka ke posisi yang menghancurkan diri sendiri, sehingga mengulangi kembali hubungan antara Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan Presiden AS George W. Bush pada tahun 2003. Seperti yang dikatakan seorang pejabat kepada saya, pemberlakuan sanksi baru akan membuat lebih sulit untuk menjaga Iran agar berkomitmen pada JCPOA, apalagi melibatkannya pada isu-isu regional lainnya.

Namun demikian, pendekatan Eropa sejauh ini telah disesuaikan dengan hati-hati untuk memenangkan Trump dan melestarikan komitmen Iran terhadap kesepakatan tersebut. Tak perlu dikatakan, ini membutuhkan keseimbangan yang rumit. Jika Eropa memberi Trump terlalu banyak, mereka akan bermain di tangan para garis keras AS.

Pada saat yang sama, mereka akan memberdayakan kelompok garis keras di Iran. Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, ilmuwan politik Nasser Hadian dari Universitas Teheran mengatakan kepada saya bahwa pemimpin moderat Iran seperti Presiden Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negeri Javad Zarif telah berada dalam posisi yang lemah, di mana kelompok garis keras sekarang mengatakan, ‘Kami sudah memberi tahu Anda.’ Dalam pandangan Hadian, bahaya terbesar adalah bahwa Eropa akan mencoba untuk menenangkan Trump ‘dengan biaya apa pun’, ketika mereka harus bekerja ‘pada rencana B untuk menyelamatkan kesepakatan tersebut tanpa AS’.

Salah satunya, rencana B akan menawarkan bantuan ekonomi kepada Iran jika AS harus memberlakukan kembali sanksi, tergantung pada kepatuhan berkelanjutan Iran dengan JCPOA; dan itu akan memberikan dasar untuk strategi yang lebih besar untuk melibatkan Iran dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengurangi konflik regional. Tentu saja, akan lebih baik bagi semua orang jika Trump setuju untuk tidak membatalkan kesepakatan nuklir. Tetapi untuk meyakinkannya tentang hal itu, Eropa harus menunjukkan bahwa Eropa bersedia melakukannya sendiri.

Untuk itu, Trump harus dihadapkan dengan pilihan yang jelas: baik mempertahankan JCPOA, sebagai imbalan atas dukungan Eropa dalam mengatasi masalah regional dan program rudal Iran; atau merusak kesepakatan itu dan berisiko kehilangan kerja sama Eropa, dan bangkitnya Iran yang bersenjata nuklir. Seperti yang dikatakan teman bicara saya di Jerman, ‘Trump harus diberi tahu bahwa dia tidak bisa mendapatkan segalanya.’

Mark Leonard adalah Direktur Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri. Artikel ini disajikan dalam kemitraan dengan Project Syndicate © 2018. 

Keterangan foto utama: Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden AS Donald Trump berunding pada awal sesi kerja pertama pertemuan G20 di Hamburg, Jerman, pada 7 Juli 2017. (Foto: AFP/Getty Images/John Macdougall)

Risiko Perang Termonuklir: Bagaimana Eropa Bisa Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top