Awal Mula Runtuhnya Tembok Berlin dan Dampak yang Terasa Hingga Kini
Sejarah

Awal Mula Runtuhnya Tembok Berlin dan Dampak yang Terasa Hingga Kini

Tembok Berlin, 1988. Jatuhnya Tembok Berlin menandai berakhirnya Perang Dingin dan kemenangan nilai-nilai demokrasi liberal. (Foto: Shutterstock via The Conversation)
Berita Internasional >> Awal Mula Runtuhnya Tembok Berlin dan Dampak yang Terasa Hingga Kini

Runtuhnya Tembok Berlin menjadi tanda bersatunya Jerman Barat dan Jerman Timur dan berakhirnya Perang Dingin. Dampaknya pun masih terasa hingga kini, salah satunya dalam sistem keuangan. Kejatuhan ekonomi Jerman Timur yang cepat pada pertengahan tahun 1990 membuat para pemimpin Jerman Timur banyak kehilangan pengaruh. Begitu mata uang Jerman Barat, Deutsche Mark, diperkenalkan ke Timur dalam serikat mata uang pada bulan Juli 1990, perusahaan-perusahaan Jerman Timur—yang sudah terpapar oleh disintegrasi blok Soviet—secara drastis tidak mampu bersaing.

Oleh: Andrew Bonnell (The Conversation)

Hampir 30 tahun yang lalu, pada malam tanggal 9-10 November 1989, polisi perbatasan Jerman Timur membuka gerbang di persimpangan titik di Tembok Berlin, memungkinkan massa Berlin Timur untuk menghambur melalui tembok tersebut tanpa hambatan.

Ini dimulai pada malam perayaan yang tak terkendali, ketika orang-orang menyeberang dengan bebas melalui penghalang di era Perang Dingin tersebut, naik ke atasnya, dan bahkan menari dan berpesta di atasnya.

Sinyal untuk pelanggaran massal dari dinding yang sebelumnya dijaga ketat itu, hanyalah berupa pengumuman singkat dalam konferensi pers oleh ketua Partai Persatuan Sosialis (SED) Berlin, Günter Schabowski.

Pengumumannya bahwa larangan perjalanan untuk warga Jerman Timur akan dicabut, menyebabkan titik-titik transit Tembok Berlin dikerubungi oleh ribuan massa dari Jerman Timur karena mereka menafsirkan pengumuman itu berarti kebebasan bergerak segera ke Barat.

Baca Juga: Angela Merkel akan Mundur Sebagai Kanselir Jerman pada 2021

Warga Jerman Barat berkumpul saat pembukaan di Tembok Berlin, November 1989. (Foto: Departemen Pertahanan AS)

Apa yang terjadi?

Pembukaan Tembok Berlin memicu serangkaian peristiwa yang menyebabkan unifikasi cepat dari Republik Federal Jerman (FRG atau Jerman Barat) dan Republik Demokratik Jerman (GDR, atau Jerman Timur) pada 3 Oktober 1990.

Tetapi untuk benar-benar memahami momen ini, kita perlu melihat kapan dan mengapa Tembok Berlin didirikan sejak awal. Menyusul kekalahan Jerman dalam perang dunia kedua, negara itu terpecah antara para pemenang—zona pendudukan Sekutu Barat menjadi Republik Federal pada tahun 1949, sementara zona Soviet dibentuk kembali sebagai Republik Demokratik Jerman tidak lama kemudian.

Ibu kota Jerman, Berlin, juga terbelah di tengah. Dinding itu didirikan oleh para pemimpin Jerman Timur pada Agustus 1961 untuk menghentikan arus warga dari Timur ke Barat, menyempurnakan perbatasan tertutup di sepanjang perbatasan antara dua negara Jerman.

Mahasiswa Jerman Timur duduk di Tembok Berlin di depan penjaga perbatasan. (Foto: University of Minnesota Institute of Advanced Studies)

Pembukaan Tembok Berlin atau “The Wall” adalah hasil dua proses yang mengumpulkan momentum di sepanjang paruh kedua tahun 1989: demonstrasi damai dan protes dari sejumlah organisasi hak sipil Jerman Timur yang baru dibentuk, dan semakin banyak warga Jerman Timur yang meninggalkan GDR dari pintu samping.

Pergerakan ke luar dari Jerman Timur kebanyakan terjadi melalui Hungaria, yang membuka perbatasannya dengan Austria pada bulan Mei. Sejumlah besar orang Jerman Timur yang sedang berlibur di Hungaria mengambil keuntungan dari kesempatan itu untuk bermigrasi ke Jerman Barat. Pada bulan November 1989, sisa-sisa orang Jerman Timur yang pergi membludak, di mana ribuan orang pergi ke Jerman Barat pada minggu ketika tembok itu dibuka.

Selain itu, kepemimpinan SED Jerman Timur semakin kalah langkah sejak demonstrasi damai dimulai, setelah memanipulasi pemilihan pemerintah lokal pada bulan Mei 1989.

Pada awal Oktober, terdapat pawai protes rutin pada Senin malam melalui Leipzig dan kota-kota Jerman Timur lainnya. Awalnya, ada kekhawatiran bahwa pimpinan SED mungkin menekan protes ini dengan kekerasan.

Demonstrasi Lapangan Tiananmen dan pembunuhan massal yang terjadi selanjutnya di Beijing pada Juni 1989, masih segar di benak banyak orang. Tetapi setelah demonstrasi besar Senin malam di Leipzig diizinkan untuk dilanjutkan tanpa pertentangan bersenjata dari polisi dan layanan keamanan pada 9 Oktober, oposisi mendapatkan keberanian dan momentum.

Beberapa hari sebelum pembukaan Tembok itu, diperkirakan setengah juta pengunjuk rasa berkumpul di Alexanderplatz, Berlin Timur, menyerukan reformasi demokratis Jerman Timur.

Tentu saja ada konteks yang lebih luas untuk peristiwa-peristiwa ini. Pada tahun 1989, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, yakin akan perlunya melakukan langkah-langkah reformasi ekonomi di Uni Soviet. Dia mempertimbangkan perlucutan senjata dan mengakhiri konfrontasi Perang Dingin di Eropa sebagai prasyarat yang diperlukan untuk reformasi semacam itu.

Tidak seperti para pemimpin Soviet sebelumnya, Gorbachev mengisyaratkan sikap toleran terhadap reformasi di negara-negara anggota Pakta Warsawa, termasuk pelonggaran sensor dan kontrol pusat untuk masalah ekonomi.

Memang, Gorbachev bahkan mulai mendorong penggantian kelompok garis keras komunis yang lebih tua dengan para pemimpin reformis yang lebih muda. Ketika Gorbachev mengunjungi Berlin Timur untuk perayaan 40 tahun peresmian pendirian GDR pada tanggal 7 Oktober 1989, dia disambut dengan gembira oleh para demonstran muda. Mereka melihat kunjungannya sebagai reformasi yang menjanjikan yang sampai sekarang ditentang oleh kepemimpinan SED yang menua di bawah Erich Honecker.

Pada 18 Oktober, Honecker diwajibkan untuk mundur untuk memberi jalan putranya yang lebih muda Egon Krenz. Namun, pada minggu-minggu berikutnya, terlepas dari pembukaan Tembok Berlin yang hampir tidak disengaja, Krenz gagal mengikuti tekanan populer untuk perubahan.

Dampak robohnyaTembok Berlin

Keterbukaan baru untuk mereformasi apa yang masih dikenal sebagai “blok Soviet”, menghasilkan pemilu di Polandia pada Mei 1989, dan reformasi politik dan ekonomi di Hungaria. Ini adalah katalis untuk perubahan di Jerman Timur (terutama peristiwa seperti pembukaan perbatasan barat Hungaria).

Dalam minggu-minggu setelah pembukaan Tembok Berlin, ada transisi damai di pemerintahan demokratis di Cekoslowakia, dan perubahan rezim yang kurang damai di Romania dan Bulgaria, ketika menjadi jelas bahwa Uni Soviet tidak lagi siap untuk mendukung pemerintah garis keras Komunis di Eropa Timur.

Relevansi kontemporer

Konsekuensi abadi dari jatuhnya Tembok Berlin sangat penting.

Terlepas dari kehadiran ratusan ribu pasukan militer Soviet di bekas negara garis depan Perang Dingin Jerman Timur, Gorbachev setuju dalam negosiasi dengan Presiden Amerika Serikat George HW Bush dan Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl, untuk mengizinkan penyatuan cepat dari dua negara Jerman. Ini hampir seluruhnya terjadi dengan aturan dari Jerman Barat.

Kejatuhan ekonomi Jerman Timur yang cepat pada pertengahan tahun 1990 membuat para pemimpin Jerman Timur—yang sekarang dipilih secara demokratis—banyak kehilangan pengaruh. Begitu mata uang Jerman Barat, Deutsche Mark, diperkenalkan ke Timur dalam serikat mata uang pada bulan Juli 1990, perusahaan-perusahaan Jerman Timur—yang sudah terpapar oleh disintegrasi blok Soviet—secara drastis tidak mampu bersaing.

Selama dua abad, sejarah Eropa modern sebagian besar berkisar seputar “Pertanyaan Jerman”: apa batas-batas eksternal yang dimiliki negara Jerman, dan apa tatanan politik yang akan berlaku di negara Eropa Tengah yang sangat penting ini? Penyatuan damai dan demokratis tahun 1990 tampaknya memberikan jawaban pasti.

Mewujudkan persatuan nyata antara Jerman Barat dan Timur membutuhkan transfer keuangan yang sangat besar dari Barat ke Timur. Transformasi negara-negara Timur dalam praktiknya menyebabkan dislokasi ekonomi dan sosial yang signifikan. Ketika Jerman Timur membuat penyesuaian besar dalam kehidupan mereka, saudara Barat mereka juga membayar pajak yang sedikit lebih tinggi untuk menutupi biaya penyatuan.

Secara lebih global, jatuhnya Tembok Berlin menandai akhir simbolis Perang Dingin. Berlin telah lama menjadi kokpit konfrontasi Perang Dingin—sekarang menjadi trofi bagi pemenang. Seorang analis kebijakan AS secara dini memproklamasikan “akhir sejarah,” sejauh sejarah adalah bentrokan antara tatanan politik utama, dan demokrasi Barat dan kapitalisme telah menang.

Baca Juga: Unjuk Rasa di Jerman: Ratusan Ribu Orang Tentang Bangkitnya Kelompok Kanan Garis Keras

Pria Jerman Barat memotong sepotong Tembok Berlin sebagai suvenir, November 1989. (Foto: Departemen Pertahanan AS)

Tapi sejak 1989, banyak kekecewaan yang terjadi setelah euforia di awal. “Dividen perdamaian” diharapkan oleh jutaan orang, dan formula Gorbachev yang penuh harapan tetapi tidak jelas tentang koeksistensi damai di “rumah umum Eropa,” belum terealisasi. Sebaliknya, NATO yang menang telah memasang tenda di dalam perbatasan Uni Soviet lama, dan Rusia yang bermuka masam dan kesal menanggapi dengan kedekatan dan konfrontasi.

Setelah berakhirnya Perang Dingin, pemerintahan-pemerintahan neo-konservatif AS berusaha untuk menempatkan cap mereka pada dunia, dan “perlawanan” telah mengakibatkan kekacauan di banyak wilayah Timur Tengah dan prediksi wadah-wadah pemikir tentang “bentrokan antar-peradaban.”

Secara ekonomi, kapitalisme neoliberal yang mendapatkan kekuatan baru telah dipertanyakan, terutama setelah krisis keuangan global tahun 2008. Namun, yang penting untuk dicatat adalah bahwa sejak runtuhnya sosialisme negara—yang dilambangkan dengan jatuhnya Tembok Berlin—kontur sebuah tatanan sosial alternatif menjadi hampir tidak mungkin untuk dipahami.

Andrew Bonnell adalah Associate Professor of History, University of Queensland.

Keterangan foto utama: Tembok Berlin, 1988. Jatuhnya Tembok Berlin menandai berakhirnya Perang Dingin dan kemenangan nilai-nilai demokrasi liberal. (Foto: Shutterstock via The Conversation)

Awal Mula Runtuhnya Tembok Berlin dan Dampak yang Terasa Hingga Kini

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top