Ini Alasan Mengapa Perang Korea Tak Pernah Berakhir hingga Saat Ini
Asia

Ini Alasan Mengapa Perang Korea Tak Pernah Berakhir hingga Saat Ini

Tahanan perang AS dan Korea Selatan diarak di jalan-jalan Pyongyang oleh pasukan komunis selama Perang Korea. Perwira AS di tengah itu dipaksa mengenakan kumis dan swastika Hitler dan menyeret bendera AS. (Foto: Keystone/Getty Images)
Berita Internasional >> Ini Alasan Mengapa Perang Korea Tak Pernah Berakhir hingga Saat Ini

Pertukaran tawanan perang sangat penting untuk memastikan gencatan senjata dalam Perang Korea—tetapi perjanjian damai tidak pernah ditandatangani. Akhir perang bergantung pada keberhasilan dalam menegosiasikan nasib tawanan perang di kedua belah pihak. Korea Utara dan China bersikeras agar tawanan perang mereka dipulangkan; Amerika Serikat dan Korea Selatan menolak dengan alasan kemanusiaan.

Oleh: Erin Blakemore (History)

Baca Juga: Mengapa Trump Gagal Tangani Masalah Nuklir Iran dan Korea Utara

Tembakan senapan belum pernah terdengar lagi dalam Perang Korea selama hampir 70 tahun—tetapi itu bukan berarti perang sudah berakhir. Secara resmi, Perang Korea secara teknis tidak pernah berakhir.

Meskipun Perjanjian Gencatan Senjata Korea (Korean Armistice Agreement) mengakhiri permusuhan yang menewaskan 2,5 juta orang pada tanggal 27 Juli 1953, namun gencatan senjata tidak pernah memberikan jalan bagi perjanjian damai. Pada saat itu, Presiden Korea Selatan menolak untuk menerima pembagian Korea.

Walau perjanjian damai antara Korea Utara dan Korea Selatan akan menjadi sesuatu yang simbolis, tetapi ini bisa mengantarkan perubahan nyata di kedua negara.

Namun jika pembicaraan damai yang serius pernah terjadi, pembiacaran semacam itu mungkin mengalami hambatan besar: tawanan perang.

Hal ini mungkin terdengar asing bagi siapa pun yang akrab dengan bagaimana Perang Korea berakhir. Pada tahun 1953, tawanan perang menjadi titik pelik yang sulit di antara kedua belah pihak, mengancam setiap peluang perdamaian, dan berkontribusi pada kebuntuan yang berkelanjutan seiring jutaan orang mati. Namun akhir perang bergantung pada keberhasilan dalam menegosiasikan nasib tawanan perang di kedua belah pihak. Negosiasi itu menghasilkan dua pertukaran tahanan besar-besaran yang menandai berakhirnya perang.

Pertukaran itu terjadi dalam dua gelombang—Operation Little Switch, di mana tawanan yang sakit dan terluka berpindah tangan, dan Operation Big Switch, dorongan terakhir untuk menukar semua tahanan yang tersisa di antara kedua belah pihak.

Penuh dengan kontroversi dan risiko, pertukaran tawanan perang ini adalah salah satu saat-saat paling sengit dari perang yang ditandai dengan bencana. Dan mereka masih mempengaruhi peluang perdamaian di Semenanjung Korea.

Baca Juga: Situs Rudal Korea Utara Dibangun Kembali, Trump ‘Sangat Kecewa’

Perang proxy yang berantakan

Perang Korea adalah bencana militer dan diplomatik sejak awal. Perang itu secara teknis adalah erang antara Korea Utara dan Korea Selatan, tetapi perang itu dilatarbelakangi oleh ketegangan Perang Dingin. Setelah pasukan Korea Utara menyerbu Korea Selatan pada Juni 1950, Amerika Serikat (AS) memimpin pasukan PBB untuk membela Korea Selatan.

Korea Utara dibimbing, dipersenjatai, dan dilatih oleh USSR (Uni Soviet), dan China datang membantu dengan lebih dari dua juta tentara—pertama kali militer China bertempur dalam skala besar di luar China. Sebagai akibatnya, konflik tersebut merupakan perang proxy untuk Perang Dingin.

Rasa dingin itu menandai perang sejak awal. Pasukan dengan cepat mengakar setelah upaya yang gagal untuk mengakhiri perang jauh di dalam Korea Utara. Selama dua tahun, kedua belah pihak berjuang di sekitar paralel ke-38, mencapai kebuntuan total yang diimbangi dengan kebuntuan di meja perundingan antara para pihak, yang tidak bisa sepakat tentang cara menghentikan perang.

Sementara itu, korban dan kematian menumpuk. Hampir 37.000 orang Amerika terbunuh selama perang. Setidaknya satu juta warga sipil Korea Selatan terbunuh, dan 7.000 anggota militer Korsel tewas. Di Korea Utara, 406.000 tentara tewas, dan 600.000 warga sipil tewas. Enam ratus ribu anggota militer China juga tewas dalam perang tersebut.

Korban tewas mencakup para tawanan perang yang menghadapi siksaan dan kelaparan di Korea Utara. Kondisi sangat sulit dialami warga Korea Selatan yang ditangkap oleh Korea Utara dan China. Dilihat sebagai pembelot dan pengkhianat, mereka diperlakukan dengan kasar.

Meskipun tawanan perang yang ditahan oleh Amerika Serikat juga meninggal, namun mereka lebih mungkin meninggal karena penyakit menular seperti disentri.

Pertukaran tahanan antara PBB dan Komunis di Panmunjom, Korea, pada Agustus 1953. (Foto: Central Press/Getty Images)

Bagaimana pertukaran tawanan perang menjadi titik penting dalam negosiasi damai

Selama perang, Amerika Serikat dan sekutunya menangkap puluhan ribu tentara Komunis. Banyak dari tawanan perang itu mengklaim bahwa mereka dipaksa untuk beperang untuk China dan Korea Utara, dan mengatakan bahwa mereka tidak ingin kembali ke negara asal mereka begitu mereka bertukar.

Ini menghadirkan batu sandungan serius bagi negosiasi perdamaian antara para pihak. Korea Utara dan China bersikeras agar tawanan perang mereka dipulangkan; Amerika Serikat dan Korea Selatan menolak dengan alasan kemanusiaan.

Akhirnya, seiring kebuntuan militer berlanjut, Korea Utara dan China mengalah, mengakui tuntutan Amerika untuk membiarkan tawanan perang kembali atau diberikan suaka oleh para penawannya, sementara komisi netral PBB menangani tawanan perang yang tidak ingin kembali.

Neutral Nations Repatriation Commission yang baru dibentuk—yang dipimpin oleh India—segera bertindak. Prioritas pertama adalah tawanan perang yang sakit dan terluka, dan pada bulan April 1953, Operation Little Switch dimulai.

Dua tentara India membawa tawanan perang China yang menangis ke titik pertukaran di Panmunjom, Korea Utara, untuk kembali ke negara Komunis setelah Perang Korea pada awal musim gugur tahun 1953. Dia termasuk di antara 65 tentara China yang meminta dipulangkan ke tanah air mereka. (Foto: Bride Lane Library/Popperfoto/Getty Images)

Komunis menukar 684 tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk lebih dari 5.000 warga Korea Utara, 1.000 warga China, dan sekitar 500 warga sipil. Namun, pejabat Amerika Serikat mengeluh bahwa Komunis menafsirkan “sakit dan terluka” begitu sempit sehingga mereka tidak merilis jumlah tawanan yang tepat, dan pertentangan mengenai cara terbaik untuk mempertukarkan tawanan terus berlangsung.

Fase berikutnya adalah pertukaran jumlah tawanan perang yang tidak dianggap sakit atau terluka, dalam jumlah yang lebih besar. Pada saat itu, persyaratan gencatan senjata sebagian besar telah dihapuskan.

Pada 5 Agustus 1953, Operation Big Switch dimulai. Lebih dari 75.000 tahanan Komunis dikembalikan ke Korea Utara dan China, yang menyerahkan 12.722 tahanan dari Komando PBB. Lebih dari 22.000 tentara Komunis memutuskan untuk mencari suaka daripada kembali ke negara asal mereka; 88 membelot ke India, sebagai gantinya. Dan segelintir orang Amerika menolak dipulangkan.

Itu adalah pertukaran yang ambisius, dan bukan tanpa krisis besar. Hambatan terutama datang dari Syngman Rhee, Presiden Korea Selatan saat itu. Dia tidak ingin perang berakhir sama sekali tanpa penyatuan kembali Korea, dan Rhee mengancam akan memobilisasi tentaranya sendiri melawan sekutu PBB mereka selama tahanan kembali. Masalah lain adalah kondisi tawanan perang, banyak dari mereka telah mengalami penyiksaan dan pencucian otak saat berada dalam tahanan Komunis.

Dan kemudian ada tawanan perang yang tidak dikembalikan sama sekali. Sekitar 80.000 warga Korea Selatan berada di Korea Utara ketika gencatan senjata mengakhiri perang. Sebagian besar dianggap telah dipekerjakan sebagai buruh, “dididik ulang,” dan diintegrasikan ke dalam masyarakat Korea Utara.

Pada tahun 2010, Korea Selatan memperkirakan 560 tawanan perangnya masih hidup. Cobaan mereka di Korea Utara yang represif tidak diketahui sampai sekelompok kecil pembelot menceritakan kisah mereka.

Baca Juga: Tak Ada Jawaban Mudah untuk Masalah Nuklir Korea Utara

Gencatan senjata tanpa perjanjian damai

Amerika Serikat mundur dari Perang Korea pada tahun 1953, setelah perjanjian gencatan senjata dan gencatan senjata mengakhiri pertempuran tersebut. Tetapi itu tidak berarti mengakhiri perang itu sendiri. Hampir 70 tahun setelah dimulai, Perang Korea secara teknis masih berlangsung.

Seorang juru kunci Korea mengungkap lubang di sudut halaman sekolah menengah atas tempat ditemukannya mayat tahanan perang Amerika yang tertutup kain. Beberapa tawanan perang yang ditawan oleh Korea Utara dipaksa untuk menggali kuburan mereka sendiri. (Foto: AP Photo)

China, Korea Utara, dan Amerika Serikat semuanya menandatangani gencatan senjata, tetapi Korea Selatan—yang berniat menyatukan kembali kedua Korea—tidak. Konferensi perdamaian 1954 yang gagal di Jenewa, Swiss, tidak menghasilkan perjanjian damai.

Karena gencatan senjata adalah perjanjian militer dan bukan perjanjian antar-negara, perang secara teknis masih berlanjut.

Begitu juga pertanyaan tentang apa yang terjadi pada tawanan perang Korea Utara yang tidak pernah kembali. Baik Korea Selatan maupun organisasi non-pemerintah telah meminta pemulangan mereka, tetapi Korea Utara menolak untuk mengatasi masalah ini. Sementara itu, status segelintir orang yang dianggap hidup tidak diketahui.

Sekitar 80 mantan tawanan perang melarikan diri dari Korea Utara. Tetapi meskipun pertukaran tahanan tahun 1953 membantu mengakhiri bagian militer dari Perang Korea, namun itu tidak mengakhiri pertanyaan tentang nasib tawanan perang yang tersisa.

Keterangan foto utama: Tahanan perang AS dan Korea Selatan diarak di jalan-jalan Pyongyang oleh pasukan komunis selama Perang Korea. Perwira AS di tengah itu dipaksa mengenakan kumis dan swastika Hitler dan menyeret bendera AS. (Foto: Keystone/Getty Images)

Ini Alasan Mengapa Perang Korea Tak Pernah Berakhir hingga Saat Ini

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top