Kamikaze, Serangan ‘Bunuh Diri’ Jepang yang Jadi Warisan Perang Dunia II
Sejarah

Kamikaze, Serangan ‘Bunuh Diri’ Jepang yang Jadi Warisan Perang Dunia II

Upacara penguburan pilot Jepang Letnan Satu Fusata Iida di Pearl Harbor setelah kecelakaan fatal. (Foto: Bettmann Archive/Getty Images)
Berita Internasional >> Kamikaze, Serangan ‘Bunuh Diri’ Jepang yang Jadi Warisan Perang Dunia II

Serangan ‘bunuh diri’ oleh Jepang dengan menabrakkan pesawat, atau Kamikaze, menjadi warisan Perang Dunia II. Namun tidak seperti anggapan umum mengenai kamikaze, hampir tiga tahun setelah pengeboman Pearl Harbor, Jepang baru mengadopsi serangan udara bunuh diri tersebut sebagai strategi militer resmi.

Oleh: Christopher Klein (History)

Baca Juga: Jangan Pernah Lupa, Perang Dunia I Juga Rasis

Pada pagi yang terkenal tanggal 7 Desember 1941, pilot pesawat tempur Jepang merancang strategi akhir menuju kematian mereka.

Para penerbang menulis surat perpisahan dan menyelipkannya ke dalam amplop bersama dengan kunci rambut dan kuku yang dipotong, agar orang-orang yang mereka cintai bisa menggunakannya untuk pemakaman mereka.

Setelah beberapa saat berdoa di kuil Shinto darurat, para penerbang memecah kesunyian dengan dua kali tepukan tangan sebelum menenggak sake dalam ritual mereka.

Para pilot Jepang itu bersiap-siap seolah serangan diam-diam mereka ke Pearl Harbor akan menjadi saat terakhir mereka di kokpit. Tapi mereka tidak sedang melakukan misi bunuh diri. Nasib akan menentukan apakah mereka hidup atau mati.

Jika memang kematian harus menjadi takdirnya, Letnan Satu Fusata Iida bersumpah untuk mengakhiri nyawa sebanyak mungkin dari pihak musuh. Menurut cerita otoritatif Gordon W. Prange, At Dawn We Slept: The Untold Story of Pearl Harbor, pilot Jepang mengatakan kepada sesama penerbang, “Ketika terjadi masalah, saya akan terbang langsung ke tujuan saya dan menabrakkan pesawat kepada target musuh alih-alih melakukan pendaratan darurat.”

Beberapa jam kemudian, ketika Iida sedang membombardir Stasiun Udara Angkatan Laut Kaneohe dengan tembakan, tiba-tiba dia mencium bau bensin. Pandangan sekilas pada meteran Mitsubishi Zero-nya membenarkan ketakutannya. Tembakan musuh telah menembus tangki bahan bakarnya.

Dengan menggunakan isyarat tangan, pilot yang malang itu memberi tahu rekan-rekannya tentang kesulitannya sebelum melambai selamat tinggal. Dengan bahan bakar yang bocor di atas stasiun udara angkatan laut Amerika, Iida membelok tajam dan berputar kembali ke hanggar, mungkin untuk melaksanakan rencana darurat yang telah dia diskusikan sebelumnya.

Tanpa keinginan untuk ditangkap dan tidak ada harapan untuk kembali dengan selamat ke kapal induknya, penerbang itu mungkin telah mencoba untuk menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin pada musuh dengan menabrakkan pesawat ke hangar. Jika itu yang terjadi, Iida meleset dari targetnya dan dengan fatal menabrak lereng bukit.

Para penerbang Jepang yang bunuh diri di Pearl Harbor tidak ber-kamikaze

Selama serangan udara tersebut, pesawat Jepang yang lumpuh lainnya menabrak dek USS Curtiss. Meskipun para pilot Jepang mungkin sengaja menghantam target musuh setelah mengalami kerusakan dahsyat, itu bukan tujuan dari misi mereka.

“Para pilot pejuang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sangat bersedia mengorbankan diri mereka jika tidak ada jalan keluar selain ditangkap, tetapi itu berbeda dari bunuh diri yang disengaja,” kata Burl Burlingame, seorang sejarawan di Pacific Aviation Museum Pearl Harbor.

“Istilah kamikaze telah memasuki bahasa Inggris dan telah diartikan sebagai tindakan pengorbanan diri satu arah yang disengaja. Namun, itu telah digunakan dan disalahartikan oleh penulis-penulis sejarah-pop. Pada saat serangan Pearl Harbor, penggunaan misi bunuh diri yang disengaja dan resmi baru terjadi beberapa tahun berikutnya.”

Burlingame mengatakan bahwa Iida—meskipun ia bertujuan untuk menyasar target Amerika dengan pesawatnya—bukan pilot kamikaze. “Jika dia memiliki kesempatan untuk kembali ke kapal induk, dia pasti akan melakukannya.”

Pilot Jepang menerima perintah terakhir sebelum mengebom pangkalan militer Amerika Pearl Harbor pada tahun 1941. (Foto: Keystone-France/Gamma-Keystone/Getty Images)

Jepang menggunakan kamikaze sebagai upaya terakhir

Pada musim panas tahun 1944, angkatan udara Jepang telah mengembangkan pilot-pilot terampil, pesawat modern, dan bahan bakar, sementara pasukan Amerika terus menekan ke arah barat seiring mereka menjamah pulau-pulau di Samudera Pasifik.

Situasi menjadi semakin buruk setelah Amerika Serikat menduduki Saipan pada bulan Juli 1944, membuat pulau-pulau utama Jepang dalam jangkauan pesawat pengebom jarak jauh B-29 yang baru, milik Amerika.

Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan serangan konvensional gagal menghentikan serangan Amerika, militer Jepang memutuskan untuk mengubah penerbang mereka menjadi pelaku bom bunuh diri.

“Dalam situasi kami saat ini, saya sangat yakin bahwa satu-satunya cara untuk membuat perang menguntungkan kami adalah dengan menggunakan serangan tabrakan dengan pesawat kami. Tidak ada jalan lain,” kata Kapten angkatan laut Jepang Motoharu Okamura.

Orang Jepang akan bertempur seperti lebah, katanya. “Mereka menyengat, mereka mati.”

M.G. Sheftall, penulis Blossoms in the Wind: Human Legacies of the Kamikaze, mengatakan bahwa penggunaan pilot bunuh diri “dielukan sebagai secercah harapan terakhir dari penduduk Jepang yang hidup dengan teror dalam menghadapi kekalahan di bawah pengebom B-29 Amerika.”

Sheftall mengatakan bahwa komando tinggi Jepang didorong oleh ‘gabungan tujuan militer pragmatis,’ termasuk kebutuhan akan senjata yang menentukan, untuk melawan musuh yang memiliki superioritas udara total, dan “dorongan sosial budaya Jepang tertentu, seperti menyelamatkan harga diri dan isyarat simbolis dari penyesalan tentang kegagalan.”

Para pilot kamikaze muncul hampir tiga tahun setelah Pearl Harbor

Teror baru turun dari langit selama Pertempuran Teluk Leyte pada Oktober 1944. Dalam pertempuran ini, para pilot kamikaze disebut “angin suci” yang merujuk pada angin legendaris yang dua kali menyelamatkan Jepang dari invasi laut Mongol abad ke-13 yang diluncurkan oleh Kubilai Khan.

Pilot Kamikaze minum segelas sake sebelum melakukan serangan selama Pertempuran Teluk Leyte pada 10 Desember 1944. (Foto: The Asahi Shimbun/Getty Images)

Para pilot Kamikaze dengan sengaja menerbangkan pesawat Zero yang sudah direparasi seadanya dan menghantam kapal perang Amerika.

Dimulai pada musim semi 1945, militer Jepang juga mengerahkan pesawat-pesawat bertenaga roket yang dirancang khusus yang disebut ohka (bahasa Jepang untuk “bunga sakura”) yang diluncurkan dari pesawat pengebom dan diarahkan kepada target musuh oleh pilot kamikaze.

“Akan ada lebih dari cukup sukarelawan dalam kesempatan untuk menyelamatkan negara kami,” Okamura memprediksi. Namun, Sheftall mengatakan bahwa terdapat lebih banyak lagi pilot bunuh diri yang dipaksa untuk menjadi kamikaze dibandingkan dengan para pilot yang bersedia secara sukarela.

“Sebagian besar dari mereka tak memiliki ideologi ala elit militer, tak juga mewarisi pandangan seorang samurai, yang menuliskan puisi perpisahan di kebun batu sementara kelopak bunga sakura berguguran di sekitar mereka. Mereka, sebagian besar, hanyalah anak-anak petani yang tidak berpendidikan di usia remaja dan/atau mahasiswa yang penangguhan wajib militernya telah dibatalkan oleh situasi perang yang memburuk pada tahun 1943, dan yang memilih layanan udara alih-alih infanteri yang berkubang dalam lumpur dengan tubuh berdarah. Dari perspektif budaya militer akademi lulusan Jepang, mereka dianggap—dan digunakan sebagai—umpan meriam.”

Baca Juga: Pelajaran Mengenaskan dari Perang Dunia I untuk Asia

Pesawat bunuh diri Jepang yang menyerang USS Missouri selama Pertempuran Okinawa 1945. (Foto: Corbis/Getty Images)

Penggunaan kamikaze mencapai puncaknya selama Pertempuran Okinawa yang berdarah, ketika pilot-pilot bunuh diri menyerbu kapal-kapal Amerika. Dalam satu rentang 80 menit saja, lebih dari 20 pilot kamikaze menargetkan kapal perusak USS Laffey, yang berhasil selamat dari serangan itu.

Tidak ada angin ajaib, bagaimanapun, yang akan menyelamatkan Jepang dari kekalahan dalam Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat terus bertahan sampai Jepang menyerah tanpa syarat pada Agustus 1945.

Keterangan foto utama: Upacara penguburan pilot Jepang Letnan Satu Fusata Iida di Pearl Harbor setelah kecelakaan fatal. (Foto: Bettmann Archive/Getty Images)

 

Kamikaze, Serangan ‘Bunuh Diri’ Jepang yang Jadi Warisan Perang Dunia II

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top