Peristiwa 9/11
Sejarah

Peristiwa 9/11: Terorisme, Islamofobia, dan Perang Tanpa Akhir

Menara Selatan WTC hancur selama serangan 9/11. Peristiwa 11 September 2001 telah secara signifikan membentuk sikap dan tindakan Amerika dalam memerangi terorisme, mengawasi warganya, dan orang luar lainnya. (Foto: NIST SIPA/WikiCommons)
Berita Internasional >> Peristiwa 9/11: Terorisme, Islamofobia, dan Perang Tanpa Akhir

Peristiwa 9/11 yang meruntuhkan World Trade Center (WTC) dan menewaskan ribuan orang, berujung pada terorisme, Islamofobia, dan perang melawan teror yang tanpa akhir hingga hari ini. Di Timur Tengah, perang melawan teror telah meningkatkan pengaruh regional Iran, memupuk kebangkitan ISIS, dan menciptakan kekacauan yang abadi yang telah menyebabkan perang sipil. Peristiwa 9/11 juga turut mengikis demokrasi dan menyebarkan radikalisasi di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Gestur Tidak Pantas Donald Trump di Peringatan Tragedi 9/11 yang Jadi Sorotan

Oleh: Barbara Keys (The Conversation)

Pada pukul 8:46 pagi, hari Selasa yang cerah di New York City, pesawat jet komersial terbang ke Menara Utara World Trade Center (WTC), menabrak menembus lantai 93 hingga 99.

Ketika berita itu disiarkan di seluruh dunia, para wartawan yang terkejut bertanya-tanya apakah insiden itu merupakan kecelakaan atau tindakan terorisme. Pada pukul 09:03, orang-orang yang menyaksikan asap mengepul dari kehancuran di gedung tersebut, tertegun melihat pesawat jet kedua melesat dan terbang langsung ke Menara Selatan. Dalam sesaat, menjadi jelas bahwa Amerika Serikat (AS) sedang diserang.

Skala serangan tersebut menjadi jelas sekitar 40 menit kemudian, ketika jet ketiga menabrak Pentagon. Tidak lama setelah itu, pada kejutan keempat pagi itu, Menara Selatan World Trade Center tiba-tiba runtuh ke tanah dalam beberapa detik, bangunannya hancur oleh api yang dipicu oleh ribuan galon bahan bakar pesawat. Gedung kembarannya segera menyerah pada nasib yang sama.

Apa yang terjadi?

Selama beberapa hari dan minggu berikutnya, dunia mengetahui bahwa 19 militan yang tergabung dalam kelompok teroris Islam, al Qaeda—yang dipersenjatai dengan pisau dan belati yang lolos dari keamanan bandara—telah membajak empat pesawat.

Tiga pesawat mengenai target mereka. Yang keempat—yang dimaksudkan untuk menyerang Gedung Putih atau Capitol—jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania ketika penumpangnya, yang telah mengetahui tiga serangan lainnya, berjuang untuk mengendalikan pesawat. Semua mengatakan, bahwa hampir 3.000 orang tewas dan 6.000 orang terluka.

Dampak langsung dari serangan tersebut

Peristiwa 9/11 membakar jiwa Amerika. Sebuah negara yang negara-negara bagian kontinentalnya belum pernah mengalami serangan besar dalam hampir 200 tahun, tertegun ketika menemukan bahwa pusat ekonomi dan militernya telah dihantam oleh kelompok teroris kecil yang bermarkas ribuan mil jauhnya. Lebih banyak serangan massal tiba-tiba terlihat menjadi bukan hanya kemungkinan belaka, tetapi sebagai sesuatu yang tak terelakkan.

Pemadam kebakaran di tempat kejadian setelah serangan 9/11. (Foto: Wiki Commons/Mike Goad)

Bencana ini mendorong serangkaian reaksi dan konsekuensi yang tidak diinginkan, yang terus bergema hingga saat ini. Efeknya yang paling abadi dan konsekuensial saling terkait: “perang melawan teror” yang sangat mahal dan tak berujung, kecurigaan yang meningkat terhadap pemerintah dan media di banyak negara demokratis, sebuah pertentangan tajam dalam permusuhan Barat terhadap umat Islam, dan merosotnya kekuatan AS di samping meningkatnya gangguan internasional—perkembangan yang membantu naiknya Donald Trump dan para pemimpin sepertinya.

Perang tanpa akhir?

Hanya beberapa minggu setelah peristiwa 9/11, pemerintahan Presiden AS George W. Bush menginvasi Afghanistan dengan tujuan menghancurkan Al-Qaeda, yang telah diberikan perlindungan oleh rezim ekstremis Taliban. Dengan dukungan puluhan sekutu, invasi tersebut dengan cepat menggulingkan pemerintah Taliban dan melumpuhkan al-Qaeda. Namun baru pada tahun 2011, di bawah Presiden Barack Obama, pasukan AS menemukan dan membunuh Pemimpin Al Qaeda dan dalang 9/11—Osama bin Laden.

Meskipun telah ada upaya untuk mengakhiri operasi tempur resmi sejak saat itu, namun lebih dari 10.000 pasukan AS tetap berada di Afghanistan hingga saat ini, memerangi pemberontak Taliban yang meningkat.

Sekarang, ini adalah perang terpanjang yang telah diperjuangkan Amerika Serikat. Jauh dari diberantas, Taliban masih aktif di sebagian besar negara tersebut. Meskipun biaya perang mendekati satu triliun dolar, namun tekanan domestik untuk mengakhiri perang masih sangat minim, berkat semua tentara sukarela dan korban yang relatif rendah yang membuat perang tampak jauh dan abstrak bagi kebanyakan orang Amerika.

Bahkan yang lebih penting adalah konflik bersenjata besar kedua yang dipicu oleh 9/11: invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2003. Meskipun diktator Irak Saddam Hussein tidak terkait dengan 9/11, namun pejabat di pemerintahan George W. Bush yakin bahwa rezimnya yang brutal merupakan ancaman besar bagi tatanan dunia.

Ini sebagian besar disebabkan oleh agresi Saddam Hussein di masa lalu, kesediaannya untuk menentang Amerika Serikat, dan aspirasinya untuk membangun atau memperluas program senjata nuklir, kimia, dan biologi, sehingga tampaknya ia akan membantu kelompok yang merencanakan serangan teroris di Barat.

Pasukan penyerbu dengan cepat menggulingkan Saddam, tetapi pekerjaan yang dilakukan dengan buruk dan penuh kesalahan membuat situasi tidak stabil di seluruh wilayah.

Di Irak, itu memicu pemberontakan besar-besaran yang berlangsung lama. Di Timur Tengah secara lebih luas, itu meningkatkan pengaruh regional Iran, memupuk kebangkitan ISIS, dan menciptakan kekacauan yang abadi yang telah menyebabkan perang sipil, serangan teroris yang tak terhitung jumlahnya, dan radikalisasi.

Di banyak bagian dunia, perang tersebut memicu anti-Amerikanisme; di Eropa, opini publik tentang perang tersebut memicu kerenggangan yang melebar antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu utamanya di Eropa.

Tentara Amerika di Afghanistan, tahun 2001. (Foto: Flickr/Korps Marinir New York)

Biaya moneter dan sosial

Hari ini, Amerika Serikat menghabiskan $32 juta setiap jam pada perang yang terjadi sejak 9/11. Total biayanya lebih dari $5,6 triliun. Apa yang disebut perang melawan teror telah menyebar ke 76 negara, di mana militer AS sekarang melakukan kegiatan kontra-teror, mulai dari serangan pesawat tanpa awak hingga operasi pengawasan.

Jumlah yang mencengangkan tersebut telah dibiayai oleh pinjaman, yang telah meningkatkan ketidaksetaraan sosial di Amerika Serikat. Beberapa pengamat menyatakan bahwa pengeluaran perang pemerintah bahkan lebih penting daripada deregulasi keuangan, dalam menyebabkan Krisis Keuangan Global 2007-2008.

Mengikis demokrasi

Era pasca-9/11 telah mengikis kebebasan sipil di seluruh dunia. Banyak pemerintah telah menyebutkan kebutuhan mendesak untuk mencegah serangan di masa depan sebagai pembenaran untuk meningkatkan pengawasan warga, membatasi perbedaan pendapat, dan meningkatkan kapasitas untuk menahan tersangka tanpa dakwaan.

Kesalahan yang dipublikasikan dengan baik dari FBI dan CIA terkait kegagalan untuk mendeteksi dan mencegah plot 9/11—meskipun terdapat banyak peringatan—menambah ketidakpercayaan publik terhadap intelijen dan lembaga penegak hukum. Informasi yang salah bahwa ternyata tidak ada “senjata pemusnah massal” Irak, merusak kepercayaan publik tidak hanya pada pemerintah yang menyebut klaim-klaim tersebut, tetapi juga pada media karena penyampaian informasi palsu.

Hasilnya adalah iklim ketidakpercayaan yang meluas terhadap suara-suara otoritas. Di Amerika Serikat dan di negara lain, warga semakin curiga terhadap sumber-sumber pemerintah dan media—kadang-kadang bahkan mempertanyakan apakah kebenaran dapat diketahui. Konsekuensinya untuk demokrasi sangatlah buruk.

Meningkatnya Islamofobia

Di Dunia Barat, 9/11 juga memicu gelombang Islamofobia. Setelah berjuang selama Perang Dingin selama beberapa dekade tidak lama sebelumnya, orang Amerika membingkai serangan itu sebagai perjuangan yang baik melawan kejahatan, yang menggambarkan Islam radikal sebagai musuh terbaru.

Di banyak negara, suara-suara di media dan dalam politik menggunakan pandangan ekstrem dan tindakan teroris Islam untuk menghukum umat Muslim secara umum. Sejak 9/11, umat Islam di Amerika Serikat dan di tempat lain telah mengalami pelecehan dan kekerasan.

Kartun yang menyoroti Islamofobia di Eropa. (Foto: Flickr/Carlos Latuff)

Di negara-negara Barat, umat Islam sekarang sering diperlakukan sebagai musuh publik yang paling signifikan. Populis Eropa telah bangkit untuk berkuasa dengan mencela pengungsi dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Suriah, dan kesediaan dan kemampuan Muslim untuk berasimilasi dipandang dengan meningkatnya skeptisisme.

Baca juga: 17 Tahun Setelah Tragedi 9/11, Al-Qaeda Lebih Kuat Dibanding Sebelumnya

Seminggu setelah pelantikannya, Presiden AS Donald Trump memenuhi janji kampanyenya dengan menandatangani apa yang disebut “larangan Muslim,” yang dirancang untuk mencegah warga dari enam negara mayoritas Muslim memasuki Amerika Serikat.

Serangan-serangan susulan

Salah satu konsekuensi yang paling banyak diperkirakan dari 9/11 sejauh ini telah dicegah. Meskipun apa yang disebut “teroris Islam” telah terlibat dalam serangan yang sukses di Barat sejak 9/11—termasuk pengeboman Bali tahun 2002, pengeboman kereta Madrid 2004, dan serangan 2015 di Paris—namun belum ada serangan pada skala 9/11. Sebaliknya, negara-negara dengan populasi Muslim besar-lah yang telah melihat peningkatan serangan teroris.

Namun Barat masih membayar harga untuk respons militan dan militer terhadap terorisme, melalui melemahnya norma-norma dan nilai-nilai demokratis. Penggunaan kekuatan militer AS yang seharusnya mengintimidasi teroris, telah mengurangi kekuatan Amerika, menciptakan kondisi utama bagi janji Donald Trump untuk memulihkan kehebatan Amerika.

Meskipun banyak dari masalah yang kita hadapi saat ini memiliki akar yang sangat panjang, namun dunia yang kita tinggali telah dibentuk oleh peristiwa 9/11 dan setelahnya.

Barbara Keys adalah Associate Professor untuk Sejarah Amerika dan Sejarah Internasional, University of Melbourne.

Keterangan foto utama: Menara Selatan WTC hancur selama serangan 9/11. Peristiwa 11 September 2001 telah secara signifikan membentuk sikap dan tindakan Amerika dalam memerangi terorisme, mengawasi warganya, dan orang luar lainnya. (Foto: NIST SIPA/WikiCommons)

Peristiwa 9/11: Terorisme, Islamofobia, dan Perang Tanpa Akhir

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top