Perang Dunia II
Sejarah

Peran Berbahaya George H.W. Bush Selama Perang Dunia II

George Bush bertugas di Angkatan Laut AS dari Juni 1942 hingga September 1945, naik pangkat menjadi letnan. (Foto: Corbis/Getty Images)
Berita Internasional >> Peran Berbahaya George H.W. Bush Selama Perang Dunia II

George H.W. Bush hampir menjadi salah satu korban pertempuran udara pada Perang Dunia II. Pada tanggal 2 September 1944, ia dihantam oleh tembakan anti-pesawat selama pengeboman di pulau Chichi Jima, Jepang. Ia menyelamatkan diri di atas lautan, kepalanya sempat terbentur bagian ekor pesawat dan parasutnya robek. Ia kemudian tercebur ke laut, disengat ubur-ubur, dan menelan terlalu banyak air laut membuatnya mual. Meskipun demikian, ia berhasil berenang ke rakit penyelamat dan tetap bertahan sampai kapal selam AS akhirnya menyelamatkannya.

Baca juga: Bom Hiroshima: Akhiri Perang Dunia II, Awali Perang Dingin

Oleh: Jesse Greenspan (History)

Dengan sayap pesawatnya terbakar dan asap tebal mengepul masuk kokpit, calon Presiden Amerika Serikat (AS) George H.W. Bush menyelamatkan diri dengan terjun payung ke Samudra Pasifik, tempat dia melayang selama berjam-jam di atas rakit penyelamat, muntah tak terkendali dengan darah mengucur deras dari dahinya.

Meski begitu, Bush bisa menganggap dirinya beruntung.

Diselamatkan dari air oleh kapal selam AS, ia berhasil menghindari nasib mengerikan yang diderita begitu banyak penerbang selama Perang Dunia II, termasuk dua rekan awaknya, yang keduanya tewas dalam serangan itu.

Tentara yang beperang dalam Perang Dunia II—konflik paling mematikan dalam sejarah—melakukan sejumlah pekerjaan berisiko. Dari semua pekerjaan yang dilakukan tentara, hanya sedikit—jika ada—yang sama berbahayanya dengan menerbangkan pesawat.

“Ini lingkungan yang sangat berbahaya bahkan jika tak ada pertempuran,” kata Jeremy Kinney, kurator Perang Dunia II di Smithsonian National Air and Space Museum.

Dia menunjukkan bahwa, tanpa kabin bertekanan dari pesawat saat ini, para penerbang harus mengenakan masker oksigen dan khawatir tak bisa menjaga dirinya tetap hangat.

Pesawat Tempur AS Berbahaya untuk Diterbangkan

Richard Overy—penulis berbagai buku Perang Dunia II, termasuk The Bombers and the Bombed: Allied Air War Over Europe 1940-1945—menambahkan bahwa masalah teknis “umum terjadi pada pesawat terbang yang diproduksi secara massal dan tidak selalu diperiksa dengan baik,” dan ditambah dengan kondisi cuaca atau kesalahan pilot, itu sering menyebabkan banyak kecelakaan.

Ribuan pesawat tempur AS bahkan tidak pernah sampai ke garis depan, dan justru jatuh saat pelatihan atau dalam rute perjalanan menuju pertempuran. Bush sendiri mengalami kecelakaan saat menjalankan latihan pengeboman di Virginia, selamat tanpa cedera meskipun pesawatnya hancur.

Kemudian, Bush menyaksikan kepanikan yang diderita sesama pilot, yang menabrak kru pendaratan di kapal induk—menunjukkan bagaimana stres dan ketakutan pilot bisa berubah mematikan, bahkan dalam situasi non-tempur.

Pertempuran, tentu saja, juga menyebabkan banyak korban dari kalangan penerbang, yang menghadapi tembakan anti-pesawat dari bawah dan tembakan dari pesawat musuh di langit, dengan hanya lambung setipis pisau untuk melindungi mereka.

“Anda harus selalu waspada,” kata Kinney. “Ini sangat membebani stabilitas mental mereka.”

Ditembaki di pesawat bisa sangat menegangkan, bahkan, seorang penerjun payung Inggris berbicara tentang bagaimana pada hari-H, ia tidak sabar untuk melompat keluar, di wilayah musuh, di mana “kami tahu kami akan lebih aman.”

Foto tentara AS dari USS Finback dan beberapa pilot dan awak Angkatan Laut AS yang diselamatkan oleh Finback. Berlutut kedua dari kiri adalah George Bush. (Foto: CORBIS/Corbis via Getty Images)

Seperempat Tentara Korban Perang AS adalah Penerbang

Secara keseluruhan, sekitar 100 ribu penerbang AS tewas dalam Perang Dunia II, mewakili hampir seperempat dari total kematian AS. Biaya material untuk mempertahankan angkatan udara juga sangat besar, di mana Amerika Serikat kehilangan hampir 100 ribu dari 300 ribu pesawat yang diproduksi selama konflik.

Angkatan Udara Kedelapan AS—yang mengebom Eropa yang diduduki Jerman dari tahun 1942 dan seterusnya—menanggung beban yang sangat berat. Lebih dari 26 ribu tentaranya—sepertiga dari total awaknya—tewas dalam pertempuran.

“Tidak ada pertempuran besar, tetapi hanya gesekan lambat saat mereka terbang keluar setiap malam,” kata Overy. “Beberapa pilot pengebom berhasil bertahan mungkin 50 misi, tapi itu sangat jarang. Biasanya seorang pilot yang selamat cukup kelelahan setelah 30 tahun.”

Walau itu sangat buruk bagi Amerika Serikat, namun negara lain menghadapi yang lebih buruk. Komando Angkatan Udara Kerajaan Inggris, misalnya, kehilangan hampir separuh awaknya dalam Perang Dunia II, sedangkan, di pihak Poros, ratusan ribu penerbang Jerman dan Jepang tewas.

Overy menjelaskan bahwa angka kecelakaan udara Poros sangat tinggi menjelang akhir konflik, ketika Sekutu mendominasi langit.

Baca juga: Kamikaze, Serangan ‘Bunuh Diri’ Jepang yang Jadi Warisan Perang Dunia II

Untuk semua negara yang terlibat konflik, Overy mengatakan, sekitar 25 persen pilot terbunuh atau terluka serius setiap bulan dalam pertempuran puncak, dan dalam beberapa pertempuran, tingkat kehilangan mencapai 40 persen.

George Bush hampir merupakan salah satu dari korban ini. Mendaftar dalam program pelatihan penerbangan Angkatan Laut setelah lulus dari sekolah tinggi, ia kemudian terbang dalam 58 misi tempur di Pasifik, dan pertama kali beraksi pada bulan Mei 1944 dengan menerbangkan pesawat pengebom torpedo Avenger yang bermuatan tiga orang.

“Dia adalah pemimpin,” kata Kinney, “bertanggung jawab untuk membuat tim beroperasi secara efisien.”

Bush dan krunya pertama kali mengalami masalah pada bulan Juni itu, ketika tembakan anti-pesawat memaksa mereka melakukan pendaratan air darurat. (Sebuah kapal perusak AS menyelamatkan mereka beberapa menit setelah kecelakaan itu).

George Bush diselamatkan oleh kapal selam AS, USS Finback, setelah pesawatnya ditembak jatuh saat melakukan pengeboman di Pulau Chi Chi Jima pada 2 September 1944. (Foto: US National Archives)

George Bush Selamat Setelah Ditembak Senjata Anti-Pesawat

Kemudian, pada tanggal 2 September 1944, ia kembali dihantam oleh tembakan anti-pesawat selama pengeboman di pulau Chichi Jima di Jepang. “Tiba-tiba ada sentakan,” tulis Bush kemudian, “seolah-olah tinju besar telah berderak di perut pesawat. Asap mengepul ke dalam kokpit, dan saya bisa melihat nyala api berdesir di lipatan sayap, merayap menuju tangki bahan bakar.”

Bush menjatuhkan empat bom seberat 500 pon pada sasaran—sebuah fasilitas radio—dan kemudian menyelamatkan diri di atas lautan, meskipun sebelumnya kepalanya sempat terbentur bagian ekor pesawat dan parasutnya robek.

Kesulitannya berlanjut ketika dia tercebur ke laut, saat ubur-ubur menyengat dan menelan terlalu banyak air laut membuatnya mual. Meskipun demikian, ia berhasil berenang ke rakit penyelamat dan tetap bertahan sampai kapal selam AS akhirnya menyelamatkannya.

Selama masa ini, pesawat-pesawat tempur AS mengusir beberapa kapal Jepang yang mengejarnya, sehingga menyelamatkannya dari siksaan mengerikan yang diderita oleh tawanan Amerika lainnya di Chichi Jima. Namun, dua krunya tidak beruntung. (Parasut seorang kru tampaknya gagal terbuka dan yang lain tidak berhasil keluar dari pesawat.)

Baca juga: Jepang Hadapi Situasi Paling Berbahaya Sejak Perang Dunia II, Karena Korea Utara

Para sejarawan sepakat bahwa penerbang seperti Bush—belum lagi aktor Jimmy Stewart dan Clark Gable, calon Senator dan calon Presiden AS George McGovern, dan pemain softball New York Yankees Jerry Coleman, ditambah ratusan ribu tokoh yang tidak terkenal—memainkan peran penting dalam memenangkan perang.

“Meskipun ada tingkat kehilangan yang tinggi, kekuatan udara sangat penting,” kata Overy, “khususnya pesawat yang terlibat dalam… operasi (untuk menghancurkan) kekuatan udara musuh atau dalam dukungan taktis operasi di darat atau laut.”

Hingga saat ini, pesawat masih menjadi bagian penting dari bagaimana perang dilancarkan, meskipun seperti yang ditunjukkan Kinney, skala dan ruang lingkup (dan bahaya) pertempuran udara Perang Dunia II belum pernah ada yang menandingi hingga saat ini.

Keterangan foto utama: George Bush bertugas di Angkatan Laut AS dari Juni 1942 hingga September 1945, naik pangkat menjadi letnan. (Foto: Corbis/Getty Images)

Peran Berbahaya George H.W. Bush Selama Perang Dunia II

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top