Impian Gus Dur Ciptakan Demokrasi Islam di Indonesia
Berita Politik Indonesia

Impian Gus Dur Ciptakan Demokrasi Islam di Indonesia

Home » Berita Politik Indonesia » Impian Gus Dur Ciptakan Demokrasi Islam di Indonesia

Oleh: Alissa Wahid

Tujuh tahun setelah ia meninggal dunia, mantan Presiden Indonesia Gus Dur masih menjadi tokoh yang lekat di benak masyarakat. Beberapa menjadikannya sebagai target kebencian, namun banyak yang menganggapnya sebagai seorang pahlawan, ujar puterinya, Alissa Wahid. Gus Dur adalah tokoh yang terkenal memperjuangkan Islam dan demokrasi, serta menegakkan supremasi sipil.

Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid—atau dikenal dengan nama Gus Dur—tetap menjadi sosok yang diingat oleh masyarakat Indonesia, bahkan setelah tujuh tahun ia meninggal dunia. Makamnya yang berada di sebuah kota kecil di Jawa Timur, dikunjungi oleh lebih dari 1.5 juta orang setiap tahunnya.

Tentu saja, sudah menjadi kebiasaan bagi anggota Nahdlatul Ulama (organisasi Muslim terbesar di Indonesia dengan 60 juta anggota), untuk mengunjungi ulama-ulama yang dihormati. Namun makam Gus Dur adalah satu-satunya makam yang dikunjungi oleh semua orang dari berbagai kalangan dan agama: biksu-biksu Buddha, pendeta dan biarawati Katolik, pedanda-pedanda Hindu, masyarakat China, penduduk kota ataupun desa, hingga anggota band punk.

Ketika ditanya “Mengapa mereka semua sangat mencintai Gus Dur?” seorang sarjana Muslim Mustafa Bisri—yang juga merupakan sahabat Gus Dur—menjawab, “karena Gus Dur sangat mencintai mereka.”

Itu adalah sebuah penjelasan sederhana, namun karakter kepemimpinan Gus Dur yang luar biasa telah menciptakan perubahan dan transformasi sosial. Ia juga merupakan pemimpin Nahdlatul Ulama yang lama menjabat, dan membawa organisasi tersebut pada periode yang penuh kemajuan, dimana pada masa jabatannya, ia memberikan dukungan terhadap demokrasi yang melibatkan Islam.

Menegakkan Supremasi Sipil

Gus Dur merupakan presiden pertama yang secara bebas dipilih oleh parlemen Indonesia. Kepresidenannya berlangsung hanya dua tahun, namun meninggalkan peninggalan bagi demokrasi yang kuat. Ia berhasil menegakkan supremasi sipil dengan menyingkirkan para pasukan militer dari penduduk sipil, setelah runtuhnya rezim Orde Baru militer Presiden Suharto. Badan-badan negara yang semakin memperkuat demokrasi seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Yudisial, dan Ombudsman, merupakan bagian dari prioritasnya.

Satu-satunya peninggalan yang dihentikan oleh para penerusnya adalah Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kekerasan Hak Asasi Manusia di Masa Lalu, yang menyebabkan tragedi di masa lalu tidak terungkap hingga saat ini.

Penentuan gender di setiap kebijakan publik, ditetapkan sebagai keputusan presiden, sama seperti perlindungan terhadap hak-hak pekerja, baik pekerja domestik maupun asing. Masyarakat Papua mengenalnya sebagai presiden yang mengembalikan nama Papua sebagai identitas kehormatan mereka, dan mencabut nama Irian yang diberikan setelah aneksasi pada tahun 1967.

Selama era kepresidenan Gus Dur, operasi militer dihentikan, dan digantikan dengan dukungan kepada kongres rakyat Papua terhadap kekejaman militer Indonesia.

Komunitas China menyebut Hari Tahun Baru China sebagai Hari Gus Dur, dan di banyak kuil-kuil China di Indonesia, nama atau fotonya digantung di antara para leluhur dan dewa. Mereka menghormati Gus Dur atas kebijakannya yang mencabut larangan untuk mengekspresikan budaya China yang dijatuhkan pada tahun 1967. Saat ini, masyarakat China di Indonesia bebas untuk mengekspresikan diri mereka.

Islam dan Demokrasi

Namun era kepresidenannya tidak selalu diwarnai oleh kebahagiaan dan kesejahteraan. Gus Dur seringkali ditentang oleh para penganut Islam garis keras, yang memiliki idealisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih “Islam”, dan militer Indonesia yang kehilangan kekuatannya, begitu juga pemerintahan oligarki.

Ia pada akhirnya kehilangan kekuatan politiknya, dan memutuskan untuk mundur, ketika ribuan pendukungnya datang ke Jakarta untuk membelanya. Kata-kata terkenal yang diucapkannya di saat-saat terakhirnya sebagai presiden adalah, “Tidak ada kekuatan yang layak dipertahankan dengan mengorbankan darah rakyat.”

Kebijakan-kebijakan dan tindakan afirmatif ini berasal dari kepercayaannya terhadap Islam dan demokrasi. Ia percaya kepada universalisme dari Islam: bahwa Islam pada intinya memiliki nilai-nilai kehormatan manusia, dan demokrasi. Dengan seluruh batasannya, Islam adalah ideologi politik terbaik untuk menegakkan nilai-nilai tersebut. Ia menulis, “Demokrasi tidaklah haram dalam Islam, namun sebuah elemen wajib Islam. Menegakkan demokrasi adalah salah satu prinsip dalam Islam.”

Ia juga berulang kali mengutip salah satu pernyataan hukum dalam yurisprudensi Islam: “tasharuf al-imam ala al-raiyyah manuthun bi al-maslahat” (kebijakan dari seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung pada kemaslahatan).

Dengan begitu banyak peninggalannya, tidak mengejutkan bahwa Gus Dur sangat dicintai oleh rakyat Indonesia, dan masih memberikan pengaruh hingga saat ini. Ketika dunia saat ini dihadapi dengan Islamisme dan Islamophobia, pandangan dan karya Gus Dur dapat menjadi sumber inspirasi yang menunjukkan bahwa Islam tentu saja adalah bagian dari dunia. Selain itu, juga dapat berperan penting dalam mewujudkan impian Nabi Muhammad: Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (Islam Rahmatan li al-Alamin).

 

Alissa Wahid adalah puteri dari Gus Dur. Ia adalah salah satu pendiri dan koordinator nasional Jaringan Gusdurian, yang merupakan sebuah jaringan para aktivis di Indonesia yang menyatukan ribuan aktivis dan pendukung yang fokus terhadap nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kebebasan (dari penindasan), dan perdamaian. Baru-baru ini, jaringan ini bekerja dalam masalah multikultularisme, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Impian Gus Dur Ciptakan Demokrasi Islam di Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top