Al-Shabaab
Afrika

Al-Shabaab: Siapakah Kelompok Jihad Afrika Ini dan Apa Tujuan Mereka?

Militan Al-Shabaab membawa senapan dan peluncur roket (Foto: Reuters)
Berita Internasional >> Al-Shabaab: Siapakah Kelompok Jihad Afrika Ini dan Apa Tujuan Mereka?

Kelompok jihad Al-Shabaab yang bermarkas di Somalia, kerap melakukan serangan bom bunuh diri dan serangan mematikan lainnya, yang menargetkan ‘musuh-musuh Islam’. Baru-baru ini, Al-Shabaab melakukan serangan mematikan di Nairobi, Kenya, yang menunjukkan bahwa kelompok ini masih aktif dalam melakukan serangan. Namun, siapakah sebenarnya Al-Shabaab, dan apa tujuan mereka?

Baca Juga: Somalia: Negara tanpa Tentara

Oleh: Joe Sommerland (The Independent)

Al-Shabaab adalah kelompok jihad paling mematikan di sub-Sahara Afrika—sebagian besar dari mereka beroperasi di Somalia—tetapi mereka terkenal akan serangan brutal mereka terhadap negara tetangga, Kenya.

Didirikan pada tahun 2006, kelompok jihad Al-Shabaab—yang namanya jika diterjemahkan dari bahasa Arab menjadi “Pemuda” atau “Gerakan Pemuda Mujahidin”—dimulai sebagai kelompok militan Persatuan Pengadilan Islam (ICU), aliansi kelompok Syariah garis keras di Somalia selatan yang berusaha menyaingi Parlemen Federal Transisi untuk menguasai negara tersebut.

Al-Shabaab telah lama memisahkan diri dari ICU dan bertujuan untuk menggulingkan penerus Parlemen Federal yang didukung Barat, melakukan serangan bom bunuh diri dan tindakan brutal lainnya terhadap “musuh-musuh Islam”, di antaranya termasuk penganut Kristen dan Muslim sufi. Berkomitmen untuk Islam Wahhabi yang ultra-konservatif, al-Shabaab bermaksud untuk memerintah Somalia sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah yang ketat.

Al-Shabaab awalnya mendapat dukungan rakyat, dengan berjanji akan menjaga keamanan negara yang belum pernah memiliki pemerintahan yang stabil dalam 20 tahun itu. Namun, mereka kehilangan dukungan rakyat setelah penolakan mereka terhadap bantuan internasional memperburuk kondisi sulit rakyat, ketika tanah di negara itu dilanda kekeringan dan kelaparan pada tahun 2011.

Al-Shabaab diusir dari Mogadishu pada tahun yang sama oleh pasukan dari Uni Afrika—aliansi militer yang terdiri dari tentara dari Uganda, Kenya, Ethiopia, dan Burundi—dan keluar dari kota pelabuhan Kismayo pada tahun 2012—sebuah pukulan besar bagi mereka karena perdagangan arang melalui dermaga di sana telah menjadi sumber pendapatan utama mereka.

Kelompok ini telah berafiliasi dengan al-Qaeda sejak tahun 2012 ketika pemimpin sebelumnya, Ahmed Abdi Godane, berjanji “setia” kepada rekannya, Ayman al-Zawahiri, pada tahun 2012. Godane kemudian terbunuh dalam serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS), dan al-Shabaab kini dipimpin oleh Ahmad Umar, yang juga dikenal sebagai Abu Ubaidah. Dia memiliki antara 7.000 hingga 9.000 prajurit di bawah perintahnya.

Milisi itu juga dianggap memiliki hubungan dengan Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) di Aljazair dan Boko Haram di Nigeria.

Al-Shabaab tidak memiliki hubungan dengan ISIS, namun, setelah menolak mereka, itu menyebabkan keretakan di antara jajaran petingginya dan menyebabkan faksi kelompok, Jabha Afrika Timur, yang mengakui pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, sebagai “Khalifah yang sah dari semua Muslim”.

Setelah membawa pembantaian ke wilayah ini selama dekade terakhir, al-Shabaab sekarang diakui sebagai organisasi teroris oleh Inggris, AS, Norwegia, Australia, Selandia Baru, dan UEA.

Salah satu kekejamannya yang paling awal adalah pengeboman sebuah restoran di Kampala, Uganda, pada tanggal 11 Juli 2010, yang dirancang bertepatan dengan Final Piala Dunia FIFA antara Spanyol dan Belanda, sebagai pembalasan atas operasi Uganda terhadapnya sebagai bagian dari Uni Afrika. Tujuh puluh empat orang yang sedang menonton pertandingan malam itu terbunuh.

Baca Juga: Konflik Somalia: Pertama Kalinya, Tentara Amerika Terbunuh dalam Perang

Kenya telah menjadi korban dari sebagian besar serangan al-Shabaab di luar Somalia, terutama serangan terhadap pusat perbelanjaan kelas atas Nairobi Westgate di tahun 2013 yang menewaskan 62 warga sipil, lima tentara, dan empat pria bersenjata bertopeng, dan di mana salah seorang penjihad berkebangsaan Inggris, Samantha Lewthwaite—yang dijuluki sebagai Janda Putih—dikabarkan telah terlibat.

Kelompok Islam itu juga menargetkan kota wisata Mpeketoni, para guru yang bepergian dengan bus wisata, pekerja tambang, dan Universitas Garissa, tempat di mana 148 orang terbunuh pada tahun 2015, sebagian besar dari mereka merupakan siswa Kristen. Mereka menyandera 700 orang dan mengidentifikasi mana sandera yang beragama Kristen, yang setelah itu mereka bunuh.

Ketika kelompok itu menyergap bus lain yang sedang menuju ke selatan, dari Mandera ke Nairobi, pada tahun yang sama, upaya mereka untuk menggunakan taktik yang sama berubah menjadi kacau ketika para penumpang menolak untuk membagi diri mereka ke dua kelompok, Kristen dan Muslim—suatu tindakan pemberontakan yang berani. Jumlah korban tewas dalam insiden itu berkurang menjadi dua.

Kelompok itu juga menargetkan pangkalan militer Kenya dekat El Adde di Somalia pada Januari 2016, menewaskan 180 tentara.

Kendaraan terbakar setelah ledakan besar di depan Hotel Safari di ibu kota Somalia Mogadishu (Foto: EPA)

Tidak diragukan lagi, serangan terburuk mereka adalah pengeboman bunuh diri menggunakan truk yang dilakukan di depan Hotel Safari di Mogadishu pada 14 Oktober 2017, yang paling menghancurkan dalam sejarah Somalia. Insiden ini menghancurkan beberapa blok di sekitarnya dan menyebabkan 587 orang tewas, dan 316 lainnya cedera karena terkubur di bawah puing-puing.

Baca Juga: PBB Cabut Sanksi atas Korea Utara-nya Afrika, Eritrea

Insiden ini diikuti oleh pengepungan 12 jam di hotel Nasa-Hablod di kota yang sama dua minggu kemudian, ketika 25 orang lagi terbunuh setelah sebuah bom mobil menerobos pintu gerbang hotel dan merusak bangunan tiga lantai itu, yang memungkinkan orang-orang bersenjata untuk masuk. Seorang ibu dan ketiga anaknya—salah satunya masih bayi—ditembak kepalanya selama insiden itu.

Dalam upayanya untuk menegakkan hukum agama fundamentalis, al-Shabaab juga terkenal karena merajam “orang berdosa” sampai mati. Ibu dari delapan anak, Habiba Isak, 30 tahun, dieksekusi dengan cara ini di kota Sakow pada Oktober 2017, setelah dituduh tidak setia kepada suaminya, seperti halnya  Shukri Abdullahi, 30 tahun, di Lower Shabelle lima bulan kemudian, yang didakwa atas bigami.

Al-Shabaab juga telah memotong tangan pencuri dan melakukan pemenggalan untuk menegakkan “keadilan”.

Serangan terbaru Al-Shabaab berupa bom mobil yang diledakkan di depan gedung parlemen di Mogadishu pada Maret 2018 dan di depan Kementerian Dalam Negeri empat bulan kemudian. Saat insiden yang terakhir ini, pegawai negeri sipil yang bekerja di kementerian sempat melompat dari jendela untuk melarikan diri dari baku tembak di dalam koridornya. Tiga belas orang meninggal dalam dua insiden ini.

Semua ini membutuhkan perhatian ekstra komunitas internasional, mengingat pasukan keamanan domestik Somalia yang tidak berpengalaman akan mengambil alih kendali atas tanggung jawab pemeliharaan perdamaian negara tersebut dari Uni Afrika, yang memiliki 21 ribu personel pada tahun 2020.

Amerika Serikat—yang mempertahankan 500 tentaranya di Somalia—khawatir dengan pergantian kendali yang segera terjadi ini.

Baca Juga: 17 Tahun Setelah Tragedi 9/11, Al-Qaeda Lebih Kuat Dibanding Sebelumnya

Donald Trump menyetujui rencana Pentagon untuk meningkatkan operasi terhadap al-Shabaab pada bulan Maret 2017, dan militer AS telah melakukan 30 serangan udara di negara itu—sebagian besar serangan dilakukan dengan pesawat tak berawak, berharap untuk lebih melemahkan para ekstremis sebelum penyerahan kendali itu terjadi.

Salah satu aspek paling aneh dari pandangan kelompok ini adalah komitmennya terhadap masalah lingkungan. Al-Shabaab belum lama ini tampil di berita utama karena melarang kantong plastik sekali pakai, dengan alasan bahwa kantong plastik merupakan “ancaman terhadap manusia dan ternak”—sebuah pengumuman yang dibuat melalui media propaganda utamanya, Radio Andalus, yang mengudara dalam bahasa Somalia, Arab, Swahili, dan Inggris.

Al-Shabaab sebelumnya berbicara menentang industri penebangan Somalia yang menumbangkan pohon-pohon langka, dan mengecam Barack Obama karena kegagalannya dalam mengatasi perubahan iklim selama masa jabatannya. Hal itu memicu ejekan terhadap kelompok itu. Mereka diejek dengan sebutan “jihadis ramah lingkungan” Afrika Timur.

Keterangan foto utama: Militan Al-Shabaab membawa senapan dan peluncur roket (Foto: Reuters)

Al-Shabaab: Siapakah Kelompok Jihad Afrika Ini dan Apa Tujuan Mereka?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top