Alam Mengutuk Indonesia, tapi Kelalaian yang Timbulkan Bencana
Berita Politik Indonesia

Alam Mengutuk Indonesia, tapi Kelalaian yang Timbulkan Bencana

Berita Internasional >> Alam Mengutuk Indonesia, tapi Kelalaian yang Timbulkan Bencana

Indonesia memang tidak menguntungkan secara posisi. Bisa dibilang, alam telah mengutuk negara yang berada di atas lempeng tektonik dan cincin api ini, sehingga rentan bencana. Namun, seiring kota Palu berduka atas orang-orang yang meninggal akibat gempa bumi dan tsunami, kota ini dihantui oleh pertanyaan apakah pemerintah bisa menjadi penyebab kehancuran itu.

Oleh: Hannah Beech dan Muktita Suhartono (The New York Times)

Sebagian besar Petobo—lingkungan kelas menengah di kota Palu di Indonesia timur—lenyap ke dalam pusaran lumpur yang diakibatkan oleh gempa bumi pada tanggal 28 September. Salah satu kengerian terbesar yang ada pada hari itu adalah, bahwa itu tidak terlalu mengejutkan.

Kota tersebut berada di patahan Palu Koro, di salah satu zona paling tektonik di Bumi. Dan meskipun gempa bumi terus menerus terjadi di sini selama bertahun-tahun—dan peringatan tegas dari para ilmuwan bahwa Palu menghadapi konsekuensi mematikan jika tindakan pencegahan tidak diambil—namun gempa berkekuatan 7,5 SR bulan lalu membuat para pejabat tidak siap untuk bencana yang sebenarnya dapat diperkirakan.

“Kami mengecewakan rakyat Palu,” kata Rusdy Mastura, mantan wali kota kota itu.

Sebagai dampaknya, dengan ribuan mayat masih dianggap terendam di puing-puing yang terkubur, terdapat semakin banyak bukti bahwa ini adalah krisis yang alami dan juga buatan manusia.

Di zona gempa garis depan, sebagian besar Palu tampak dipenuhi bangunan yang runtuh di tanah yang lunak. Tsunami dengan cepat terdeteksi, tetapi tidak ada sirene yang berdering di sekitar kota. Dan terlepas dari pelajaran dari bencana alam sebelumnya di mana pihak berwenang Indonesia menolak bantuan asing dengan mengorbankan warga mereka, upaya bantuan internasional di Palu masih dirundung oleh perlawanan dan kebingungan.

Patahan paling aktif yang paling menonjol di pulau Sulawesi Indonesia, Palu Koro, mirip dengan “patahan supercepat”, menurut Ian M. Watkinson, seorang ahli gempa yang telah mempelajari daerah tersebut, yang merupakan bagian dari busur yang dilanda gempa di sepanjang Samudera Pasifik, yang disebut Cincin Api.

Dalam sebuah makalah yang pertama kali diterbitkan secara online pada tahun 2016, Watkinson dan Robert Hall dari Royal Holloway, Universitas London, memperingatkan bahwa apa yang membuat kota Palu sangat ideal untuk tempat tinggal manusia—tanah subur di atas teluk berbentuk tapal kuda, yang didukung oleh pegunungan hijau—juga adalah apa yang membuatnya sangat berbahaya.

Fenomena geologis menelan 744 rumah di Petobo dan sebagian besar dari dua lingkungan lainnya bulan lalu disebut likuifaksi, ketika getaran gempa bumi mengubah bumi padat menjadi bersifat seperti air.

Baca Juga: Tsunami Sulawesi: Bagaimana Media Sosial dan Lagu Pengantar Tidur Bisa Selamatkan Nyawa di Bencana Berikutnya

Tentara mencari sisa-sisa mayat di Palu bulan ini. Ribuan mayat masih dianggap hilang di tumpukan puing-puing. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

Watkinson dan Hall menulis dalam makalah mereka, bahwa Palu secara khusus memiliki risiko gempa bumi yang kuat, pencairan tanah lunak dan jenuh (likuifaksi), dan tsunami di teluk sempitnya.

Ketiga bencana itu terjadi pada tanggal 28 September.

“Bukannya kami ingin menjadi benar,” kata Watkinson. “Itu adalah bukti geologis yang menunjukkan dengan kuat kemungkinan terjadinya hal seperti ini.”

Pada tahun 2012, Badan Geologi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, menghasilkan peta Palu yang mendokumentasikan area-area di mana likuifaksi mungkin terjadi. Banyak zona pemukiman besar di kota tersebut—seperti Petobo dan Balaroa, daerah lain yang terkena dampak pada 28 September—termasuk dalam zona merah berisiko tinggi.

“Kami mengirimkan peta geologi ke pemerintah Sulawesi Tengah,” kata Sri Hidayati, yang mengelola divisi mitigasi gempa di badan geologi tersebut. “Tapi mungkin mereka tidak tahu arti dari peta itu. Kami tidak pernah menerima tanggapan balik.”

Seiring ekonomi Indonesia berkembang, populasi Palu melonjak, yang mendorong perkembangan baru di tanah berawa. Deforestasi dan penambangan emas di dekatnya menggeser sedimen di wilayah tersebut, membuat tanah kurang stabil di bawah tanah.

Petobo dan Balaroa—lingkungan Palu lain yang dibanjiri oleh likuifaksi—dulunya sebagian besar adalah ladang sagu, hamparan datar dengan akses air yang banyak. Ketika pemerintah mulai membangun perumahan bersubsidi untuk penduduk baru dan banyak pegawai negeri, pada tahun 1980-an dan 1990-an, tanah pertanian yang dikonversi ini tampaknya cocok secara alami.

“Kami tidak pernah tahu tentang likuifaksi,” kata Suhardy, kontraktor bangunan yang tinggal di dekat Balaroa. “Yang kami tahu hanyalah bahwa Palu rawan gempa.”

Bahaya gempa bumi sudah sangat melekat di Indonesia. Pada Kamis (11/10), gempa berkekuatan 6,0 SR menghantam lepas pantai dekat pulau Indonesia Bali dan Jawa, dan setidaknya tiga orang dilaporkan tewas. Pada Sabtu (13/10), gempa berkekuatan 5,6 SR menghantam Sulawesi utara.

Baca Juga: Bahasa Asli Indonesia Simpan Rahasia Penanggulangan Bencana

Rumah yang hancur oleh tsunami di desa Loli Tasiburi, dekat Palu. Tsunami dengan cepat terdeteksi, tetapi tidak ada sirene yang berdering di sekitar kota tersebut. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

“Seluruh Indonesia berisiko tinggi gempa bumi,” kata Rahmat Triyono, kepala gempa dan tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dengan empat lempeng tektonik berdesakan di bawah kepulauan Indonesia, negara ini sekarang dibelah oleh 295 patahan aktif, naik dari 81 pada tahun 2010.

Namun dalam kesibukan untuk mengakomodasi urbanisasi Indonesia yang cepat, bangunan baru pun dibangun dengan cepat, dan sering dibuat dari semen berkualitas buruk, kata Watkinson.

“Ada waktu transisi ketika pertumbuhan suatu negara melebihi kemampuan untuk mengembangkan insinyur untuk merancang bangunan untuk bertahan hidup,” katanya. “Jika Anda membandingkan dengan Tokyo atau Santiago, yang memiliki aturan bangunan yang ketat dan bangunan tahan gempa, tidak mungkin hal ini terjadi di kota seperti Palu.”

Sukmandaru Prihatmoko, ketua Asosiasi Ahli Geologi Indonesia, mengatakan bahwa meskipun aturan bangunan Indonesia terlihat memadai di atas kertas, namun “penegakannya lemah, sangat lemah.”

Membangun fondasi rumah tidak di lapisan berpasir yang rentan likuifaksi, dapat mencegah hilangnya nyawa di Palu, kata Sukmandaru.

“Lagipula, jika Anda membangun kompleks perumahan, Anda tidak benar-benar ingin menambahkan biaya tambahan dari fondasi ekstra yang mendalam,” tambahnya.

Pada hari-hari setelah tragedi Palu—dengan 70.000 orang mengungsi dan gempa susulan masih membuat cemas para korban selamat—kepemimpinan kota tampaknya telah menghilang.

Baik Wali Kota Palu Hidayat, maupun Wakil Wali Kota Sigit Purnomo Syamsuddin Said, tidak menanggapi panggilan berulang dan pesan teks dari The New York Times.

Baca Juga: Jalan Panjang Indonesia untuk Pemulihan Pasca-Bencana Sulawesi

Seorang wanita yang tinggal di luar masjid di Palu. Pada hari-hari setelah tragedi itu, dengan 70.000 orang mengungsi dan gempa susulan masih membuat cemas orang-orang yang selamat, kepemimpinan kota tampaknya telah lenyap. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

“Di mana para pegawai sipil? Di mana kantor gubernur? Di mana kantor wali kota?” Wakil Presiden Jusuf Kalla bertanya minggu lalu di Jakarta, ibu kota negara. “Pemerintah tidak hadir ketika dibutuhkan.”

Sebaliknya, militer mencoba menegakkan ketertiban. Di hari-hari yang kacau setelah gempa, tentara dapat terlihat membantu menjaga beberapa kendaraan pasokan yang dikendarai oleh kelompok bantuan, atau berjaga ketika warga mengerumuni kendaraan tersebut. Dengan sedikit informasi yang mengalir dari pejabat setempat, personel militer yang dikirim ke Palu berjuang untuk menghitung jumlah mayat, kesulitan dengan kurangnya bantuan dasar.

Dalam satu kasus, perkembangan jumlah korban tewas harian digagalkan ketika ditemukan bahwa jumlah korban hari sebelumnya telah ditulis di papan tulis dengan spidol permanen.

Dan meskipun bantuan luar negeri akhirnya diizinkan masuk—tidak seperti selama gempa di pulau Lombok pada bulan Agustus—namun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menulis di Twitter pekan lalu untuk memperingatkan bahwa “warga asing yang bekerja dengan LSM asing tidak diizinkan untuk melakukan kegiatan apa pun di lokasi yang terkena dampak,” dan meminta kelompok-kelompok internasional untuk “segera menarik personel mereka.”

Sehari setelah itu, Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa perintah itu tidak dimaksudkan sebagai penolakan menyeluruh terhadap bantuan asing, tetapi permohonan untuk integrasi yang lebih baik dengan agen-agen lokal.

“Semua bantuan termasuk sukarelawan asing, hanya harus masuk setelah koordinasi dan persetujuan telah diberikan, sehingga tujuan, peran, dan fungsi mereka jelas,” kata pernyataan itu.

Tetapi para pekerja bantuan asing terus mengeluhkan keterlambatan dalam mendapatkan pasokan yang disetujui untuk diimpor, karena diganggu oleh para pejabat.

Untuk bagiannya, BMKG—yang telah dikritik karena mengizinkan diakhirinya sistem peringatan tsunami—berjuang dengan kekurangan anggaran kronis. Dari 170 alat pengukur pasang surut di mana Indonesia harus memantau perubahan tingkat air, hanya ada cukup uang untuk mempertahankan 70 dari alat itu, kata Rahmat, kepala gempa dan tsunami agensi tersebut.

Baca Juga: Bank Dunia Sediakan Pinjaman 1 Miliar Dolar untuk Pemulihan Bencana Indonesia

Kerusakan di Balaroa, lingkungan Palu lain yang hancur karena likuifaksi. Para peneliti telah memperingatkan dalam beberapa tahun terakhir bahwa kota ini sangat berIsiko untuk gempa bumi yang kuat, likuifaksi, dan tsunami. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

“Kami adalah negara yang rawan gempa dan tsunami,” katanya. “Risikonya sangat jelas, tetapi anggaran yang dialokasikan tidak sesuai dengan risiko.”

Rantai komando terpecah. Pada 28 September, peringatan tsunami dikeluarkan oleh badan tersebut beberapa menit setelah gempa. Sirene telah ditempatkan di dekat stadion Palu hanya untuk tujuan itu. Tapi sirine itu tidak pernah terdengar. Rahmat mengatakan bahwa dia masih tidak yakin mengapa.

“Kami juga harus memeriksa apakah sistemnya 24 jam,” katanya. “Mungkin ketika peringatan itu keluar, kantor telah ditutup. Kami tidak tahu. ”

Atau mungkin itu adalah kesalahan manusia oleh seorang pekerja pemerintah yang mengakibatkan orang-orang yang bersukacita pada festival pantai di Palu menuju ke laut, tidak pernah menyadari bahwa tsunami sedang bergulir.

“Meskipun pekerjaan operator adalah menyalakan sirene, orang-orang harusnya panik dan lalu lari,” kata Rahmat.

Di Provinsi Gorontalo—di pulau yang sama di Sulawesi seperti Palu, dan dirusak oleh patahan aktif besar lainnya—Sultan Kalupe, kepala divisi perencanaan tata ruang dari Kementerian Pekerjaan Umum Provinsi, mengatakan bahwa dia terkejut mendengar dari seorang wartawan Times bahwa peta pemerintah telah dikeluarkan pada tahun 2012 yang memperingatkan bahwa wilayahnya memiliki risiko likuifaksi yang tinggi.

Peta Gorontalo dikeluarkan oleh Badan Geologi pada tahun yang sama ketika peta bahaya Palu diterbitkan.

“Kami tidak pernah tahu ada studi semacam itu,” kata Sultan. “Jika ada penelitian semacam itu, itu akan sangat bagus karena kami sedang merevisi rencana kota kami.”

Setelah gempa bumi di Palu, katanya, para pejabat kota berniat memindahkan penduduk jauh dari daerah-daerah yang rawan likuifaksi. Dari mana uang untuk proyek ini akan berasal, masih tidak jelas.

“Ketika Anda tahu Anda memiliki potensi bencana tetapi Anda tidak membuat rencana apa pun,” kata Sultan, “itu adalah bencana besar.”

Keterangan foto utama: Sisa-sisa lingkungan Petobo di Palu, Indonesia. Meskipun gempa bumi terus melanda Palu selama bertahun-tahun, namun gempa berkekuatan 7,5 SR bulan lalu membuat para pejabat tidak siap. (Foto: The New York Times/Adam Dean)

Alam Mengutuk Indonesia, tapi Kelalaian yang Timbulkan Bencana

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top