Amerika
Asia

Amerika Mundur, Perseteruan Antara Sekutu Meningkat

Berita Internasional >> Amerika Mundur, Perseteruan Antara Sekutu Meningkat

Korea Selatan dan Jepang, yang keduanya adalah sekutu Amerika Serikat, semakin meruncing. Kebijakan “America First” di bawah pemerintahan Donald Trump membuat Negeri Paman Sam itu tidak mengambil tindakan berarti untuk mengakurkan dua negara Asia Timur itu. Episode di Asia Timur Laut ini menggambarkan bagaimana skeptisisme Trump terhadap aliansi tradisional Amerika Serikat dan kesibukannya dengan serangkaian krisis politik yang bergulir di Washington mungkin diam-diam membentuk kembali lanskap geopolitik pascaperang.

Baca juga: Robert Mueller: Pejabat Publik Paling Misterius di Amerika

Oleh: Isabel Reynolds dan Youkyung Lee (Bloomberg)

Keinginan Presiden Donald Trump untuk mengutamakan kebijakan “America First” telah memicu perselisihan baru antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Di Asia, permusuhan lama juga meraung kembali.

Hubungan antara Jepang dan Korea Selatan—dua dari mitra keamanan terdekat Amerika Serikat—telah terbukti mengubah permusuhan mereka dalam lebih dari setengah abad ke serangkaian sengketa diplomatik. Sekarang, ada tanda-tanda bahwa perselisihan itu, yang dipicu oleh ketidaksepakatan mengenai penjajahan Jepang atas Semenanjung Korea beberapa dekade yang lalu, mulai merusak hubungan ekonomi dan militer antara para negara tetangga tersebut.

Selama gejolak nasionalistik sebelumnya, pemerintahan Amerika Serikat biasanya turun tangan untuk memastikan dendam semacam itu tidak lepas kendali. Sekarang, tidak lagi.

“Tidak ada kepemimpinan dari atas dalam pemerintahan Amerika Serikat yang bertindak seperti dulu,” kata Daniel Sneider, dosen kebijakan internasional di Stanford University dan penulis buku tentang hubungan Asia Timur Laut. “Pada saat-saat seperti ini, Amerika Serikat biasanya diam-diam turun tangan dan membantu memulihkan komunikasi dan kadang-kadang menemukan solusi.”

Episode di Asia Timur Laut ini menggambarkan bagaimana skeptisisme Trump terhadap aliansi tradisional Amerika Serikat dan kesibukannya dengan serangkaian krisis politik yang bergulir di Washington mungkin diam-diam membentuk kembali lanskap geopolitik pascaperang.

Keluhan Lama

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tidak menanggapi permintaan komentar pada hari Kamis (31/1) dan Jumat (1/2).

Walaupun hubungan antara Jepang dan Korea Selatan berjalan kuat—keduanya adalah mitra dagang terbesar Amerika yang ketiga—mereka sarat dengan keluhan yang tersimpan selama berabad-abad, terutama mengenai kolonisasi Jepang 1910-45 di semenanjung Korea. Perselisihan mengenai apakah Jepang telah cukup menebus dosa atas tindakannya terangkat ke permukaan setelah Moon Jae-in memenangkan kepresidenan Korea Selatan pada tahun 2017 dan mendorong kembali upaya Perdana Menteri Shinzo Abe untuk menghentikan perselisihan perang itu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Jepang bereaksi dengan marah terhadap upaya pengadilan Korea Selatan untuk menyita aset dari perusahaan yang diketahui menggunakan tenaga kerja paksa Korea di era kolonial, dengan mengatakan langkah itu melanggar perjanjian tahun 1965 mengenai hubungan antara kedua belah pihak. Mereka juga berdebat tentang masalah perempuan yang dipaksa bekerja di rumah pelacuran militer Jepang, dengan Moon bersumpah setelah kematian seorang juru kampanye “wanita penghibur” minggu lalu untuk melakukan segala upaya untuk “mengoreksi sejarah.”

Perselisihan Militer

Mungkin yang paling penting bagi Amerika Serikat adalah hubungan yang memburuk antara militer Jepang dan Korea Selatan—sesuatu yang dapat merusak upaya Amerika untuk melawan China yang sedang bangkit. Kedua menteri pertahanan saling menuduh telah membahayakan personel mereka setelah Jepang mengatakan sebuah kapal angkatan laut Korea Selatan menggunakan radar penargetan senjata ke salah satu pesawat militernya pada bulan Desember.

Setelah Menteri Pertahanan Jepang Takeshi Iwaya menekankan insiden radar selama kunjungan ke pangkalan tempat jet itu ditempatkan, mitranya dari Korea Selatan, Jeong Kyeong-doo memerintahkan angkatan laut untuk “menangani dengan tegas” pesawat yang terbang rendah lagi. Kyodo News dan media lainnya mengatakan bahwa perundingan pertahanan sedang ditunda, meningkatkan potensi kesalahpahaman selama pertemuan yang tidak direncanakan.

Baik Abe maupun Moon tidak memiliki banyak insentif domestik untuk diselesaikan, dengan sentimen nasionalis semakin tinggi. Sebuah jajak pendapat dari surat kabar Nikkei yang diterbitkan Senin (28/1) mengungkapkan bahwa 62 persen responden Jepang mendukung sikap yang lebih tegas terhadap Korea Selatan atas insiden radar itu. Dibandingkan dengan 24 persen yang mengatakan pemerintah Abe harus memperhatikan perkembangan dengan hati-hati.

“Kita tidak bisa melihat di mana dasarnya,” kata Lim Eunjung, asisten profesor di College of International Relations di Ritsumeikan University di Kyoto, Jepang.

Dampak Ekonomi

Meskipun Jepang dan Korea Selatan selama bertahun-tahun telah berhasil meredam permusuhan mereka agar tidak berubah menjadi kekerasan, risiko konflik ekonomi mulai tumbuh, termasuk kemungkinan tindakan balasan Jepang terhadap perusahaan-perusahaan Korea Selatan. Jumlah warga Korea Selatan yang berkunjung ke Jepang turun 5,5 persen dari tahun ke tahun, menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, bahkan ketika jumlah keseluruhan turis yang masuk naik 3,1 persen.

Di masa lalu, Amerika Serikat telah menggunakan perannya sebagai kepala penjamin keamanan untuk mengendalikan perseteruan itu, membantu untuk menengahi perjanjian tahun 1965 mereka meskipun ada pertentangan domestik dari kedua belah pihak. Pemerintahan mantan Presiden Barack Obama memainkan peran penting dalam membuat Jepang dan Korea Selatan menandatangani pakta wanita penghibur pada tahun 2015 dan perjanjian berbagi intelijen militer pada tahun 2016—nilai tertinggi dalam hubungan tersebut.

Namun, Trump telah menunjukkan sedikit ketertarikan pada aliansi itu sejak meninggalkan kampanye tekanan militernya terhadap Korea Utara tahun lalu, sebagai gantinya ia berfokus pada defisit perdagangan Amerika Serikat dan pengeluaran militer untuk kedua negara. Trump melewatkan beberapa KTT Asia pada bulan November untuk fokus pada pemilihan paruh waktu dan tidak mengadakan pertemuan trilateral dengan Abe and Moon pada pertemuan G20 berikutnya di Argentina.

Baca juga: Amerika Kalah di Vietnam tapi Selamatkan Asia Tenggara

Beberapa tanda kemungkinan upaya diplomatik oleh pejabat Amerika Serikat tingkat rendah telah muncul dalam beberapa hari terakhir. Duta Besar untuk Korea Selatan Harry Harris mengunjungi kementerian pertahanan di Seoul pada hari Senin (28/1), sementara para pejabat Amerika Serikat lainnya menekankan pentingnya ketiga negara yang bekerja sama mengenai Korea Utara selaras dengan rekan-rekan Jepang mereka.

Tetapi bahkan pada masalah-masalah utama, kedua negara tampaknya hanya memiliki sedikit kesamaan. Sementara Korea Selatan menyelesaikan negosiasi perdagangannya dengan Amerika Serikat dan ingin mendorong pemulihan hubungan Trump dengan Kim Jong Un, Jepang belum memulai pembicaraan perdagangan dengan Amerika Serikat dan mendukung pendekatan yang lebih hati-hati dengan Korea Utara.

“Para pemimpin politik di kedua belah pihak harus menyadari bahwa kerusakan yang disebabkan oleh memburuknya hubungan Jepang-Korea Selatan secara fundamental akan merusak sistem aliansi Amerika Serikat di Asia Timur,” kata Yuki Tatsumi, co-direktur Program Asia Timur di Stimson Center di Washington.

Keterangan foto utama: Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (kanan) dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengadakan pertemuan puncak di New York City, New York, Amerika Serikat pada tanggal 25 September 2018. (Foto: AP Images/Yomiuri Shimbun/Kaname Yoneyama)

Amerika Mundur, Perseteruan Antara Sekutu Meningkat

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top