Penarikan Pasukan AS dari Suriah
Timur Tengah

Apa yang Akan Terjadi Setelah AS Tarik Pasukan dari Suriah?

Tentara SDF dan pasukan AS terlihat selama patroli di dekat perbatasan Turki di Hasakah, Suriah, pada bulan November 2018. (Foto: Reuters/Rodi Said)
Berita Internasional >> Apa yang Akan Terjadi Setelah AS Tarik Pasukan dari Suriah?

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengumumkan akan menarik pasukan AS dari Suriah. Lalu apa yang akan terjadi? Hingga kini AS belum mengartikulasikan bagaimana mereka akan mengelola atau mengoordinasikan penarikan pasukannya dari Suriah. Ini telah menyebabkan desas-desus yang terus-menerus tentang bagaimana hal tersebut akan dilakukan. Bisa dikatakan, penarikan pasukan AS dari Suriah masih menemui jalan buntu.

Baca juga: Senat Tegur Rencana Trump Tarik Pasukan dari Suriah dan AfghanistanZ

Oleh: Seth J. Frantzman (Jerusalem Post)

Enam minggu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan Amerika dari Suriah, koalisi yang dipimpin AS yang terdiri atas 79 negara mitra dan organisasi berkumpul di Washington pada Kamis (7/2), untuk menilai perang melawan ISIS dan situasi di Suriah timur.

Pada pertemuan tersebut—yang diadakan sehari setelah pidato kenegaraannya—Trump memuji mitra Koalisi dan Pasukan Demokrat Suriah karena membebaskan “hampir semua wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh ISIS.”

Konfrontasi itu terjadi ketika sebagian besar ISIS dikalahkan, setelah kehilangan 99,5 persen wilayahnya, menurut perkiraan Departemen Pertahanan AS baru-baru ini.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa 110 ribu kilometer persegi wilayah telah dibebaskan, dan tujuh juta orang dibebaskan dari kendali ISIS dalam empat setengah tahun terakhir. Dia menjabarkan strategi koalisi ke depan, mengatakan bahwa AS berkomitmen pada pasukan keamanan Irak, dan untuk mencegah ancaman ISIS terhadap negara-negara mitra.

Dia mendorong 79 negara anggota koalisi untuk “mengambil tindakan.”

Ini akan mencakup investasi dalam “bantuan stabilisasi sipil,” program-program yang akan mengembalikan daerah-daerah yang dibebaskan dari ISIS ke bagian-bagian yang berfungsi dan aman di negara masing-masing. “Tujuan akhir kita adalah untuk mempromosikan keadilan bagi para korban.”

Peserta dalam pertemuan itu termasuk: Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, yang mengunggah foto dengan korban genosida Yazidi Nadia Murad; dan Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki, yang mengatakan bahwa koordinasi diperlukan untuk mencegah kebangkitan ISIS.

“Kita harus mengatasi akar penyebab momok ini secara efektif dan menghindari pengulangan kesalahan masa lalu.”

Terlepas dari apa yang disebut kemenangan atas ISIS, yang masih jadi sumber kecemasan adalah keputusan AS untuk menarik diri dari Suriah. AS—yang menekankan perlunya stabilisasi—tidak merinci rencananya untuk masa depan di Suriah timur atau bagaimana mereka akan mengelola penarikan pasukannya.

Kantor luar negeri Jerman mencatat sebelum pertemuan itu, bahwa walau ISIS telah “diusir” di Irak dan sebagian besar wilayah Suriah, namun ancaman mereka “tidak pernah bisa dihilangkan.”

Turki menekankan bahwa keputusan Trump untuk mundur—yang diumumkan pada Desember 2018—bukanlah akhir dari konflik ini. “Itu hanya mewakili tahap baru dalam pertarungan lama.”

AS belum mengartikulasikan bagaimana mereka akan mengelola atau mengoordinasikan penarikan pasukannya dari Suriah. Ini telah menyebabkan desas-desus yang terus-menerus tentang bagaimana hal tersebut akan dilakukan.

Laporan bulan lalu mengindikasikan bahwa AS mungkin tetap bertahan di pangkalannya di al-Tanf di gurun timur Suriah.

Turki dan AS telah membahas zona “penyangga” atau zona “aman” yang mungkin mencapai 30 kilometer di Suriah. Turki ingin zona ini bebas dari pasukan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), kelompok Kurdi yang ditegaskannya adalah bagian dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), tetapi yang juga merupakan bagian dari SDF, mitra utama koalisi AS. Ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik baru di Suriah setelah AS menarik diri.

Pasukan khusus Amerika di sebuah pos di luar kota Suriah utara, Manbij. (Foto: The New York Times/Mauricio Lima)

Ketua Syrian Democratic Council (SDC), Ilham Ahmad, telah berada di Washington selama dua minggu untuk memberikan pidato dan mengadakan diskusi yang bertujuan memperlambat penarikan AS dan menopang dukungan untuk SDF, sayap militer SDC yang merupakan organisasi politik.

Dia telah bertemu dengan kelompok-kelompok di seluruh spektrum politik, termasuk anggota Demokrat Tulsi Gabbard, yang mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020. Menurut Al-Monitor, dia menerima undangan ke Pidato Kenegaraan Presiden AS dari Gabbard.

Gabbard sendiri kritis terhadap kebijakan AS di Suriah, terutama mengenai rezim Assad, dan menegaskan bahwa Assad bukan musuh AS.

Ini meninggalkan banyak tanda tanya tentang penarikan pasukan AS. SDF khawatir penarikan yang dilakukan terburu-buru dapat menyebabkan eskalasi ketegangan dengan Turki, yang akan memaksa mereka untuk mengejar kesepakatan di mana rezim Suriah mungkin kembali ke perbatasan di Suriah timur, atau Rusia mungkin menengahi agar terbentuk semacam kesepakatan. Tetapi mereka lebih suka mitra AS yang telah bekerja bersama mereka selama empat tahun untuk mengalahkan ISIS.

Setelah jatuhnya lebih dari 10 ribu korban dalam perang melawan ISIS, SDF dan kelompok-kelompok pendukungnya menginginkan perdamaian. Namun AS belum memberikan kejelasan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, menurut pertemuan yang diadakan di Washington dengan orang-orang yang mengetahui diskusi saat ini.

Pada saat yang sama, AS telah menjadi tuan rumah bagi perwakilan Mesir, Prancis, Jerman, Yordania, Arab Saudi, dan Inggris untuk membahas situasi di Suriah. Mereka menekankan perlunya solusi politik untuk mengakhiri konflik, tetapi tidak memberikan rincian.

Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Sedat Onal, juga berada di Washington pada 5 Februari 2019 dan bertemu dengan para pejabat AS untuk meluncurkan beberapa kelompok kerja terkait hubungan bilateral, termasuk “kerja sama bilateral di Suriah.”

Seperti pertemuan Koalisi dan pertemuan tingkat tinggi lainnya yang diadakan minggu ini, tidak ada rencana konkret yang diumumkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tampaknya lebih dari satu setengah bulan setelah Trump melakukan pengumuman penarikan dari Suriah, masih banyak yang harus diselesaikan. Telah ada protes ataupun pengakuan atas pengorbanan yang dilakukan SDF melawan ISIS.

Baca juga: Konsekuensi Tak Sengaja dari Keputusan Penarikan Pasukan Amerika di Suriah

Namun AS belum menjadikan SDF bagian dari diskusi yang lebih besar tentang penarikan pasukan, dan pertemuan Koalisi tidak memberikan kejelasan tentang langkah itu.

Akun Twitter Koalisi tampaknya jarang menyebutkan daerah di Suriah timur yang dibebaskan oleh Koalisi. Sebaliknya, akun tersebut menyebutkan proyek-proyek di Aleppo, Azaz, Souran di provinsi Hama, dan program-program PBB yang diarahkan ke wilayah-wilayah lain di Suriah.

Walau Koalisi itu mengatakan pada Desember 2018 bahwa “banyak proyek stabilisasi telah dimulai di Irak dan Suriah,” dan bahwa upaya kemanusiaan akan berlanjut pada tahun 2019, namun mereka tidak lagi menyoroti upaya-upaya itu. Mundurnya AS secara online dari Suriah tampaknya sudah dimulai, bahkan jika penarikan pasukan secara fisik menemui jalan buntu.

Keterangan foto utama: Tentara SDF dan pasukan AS terlihat selama patroli di dekat perbatasan Turki di Hasakah, Suriah, pada bulan November 2018. (Foto: Reuters/Rodi Said)

Apa yang Akan Terjadi Setelah AS Tarik Pasukan dari Suriah?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top