Trump
Global

Arahan Keamanan: Trump, Bom Rusia, dan Persiapan Perang dengan Iran

Berita Internasional >> Arahan Keamanan: Trump, Bom Rusia, dan Persiapan Perang dengan Iran

FBI membuka penyelidikan kontra-intelijen yang menargetkan Presiden Trump. Trump menyita catatan dari pembicaraan dengan Putin. Dan, Gedung Putih meminta opsi militer untuk Iran.

Baca juga: Seiring Tim Trump Berselisih, Pasukan Amerika Tewas di Suriah

Oleh: Elias Groll dan Lara Seligman (Foreign Policy)

Koneksi Rusia. Dua pengungkapan mengejutkan dalam pemeriksaan hubungan Presiden Donald Trump dengan Rusia telah mengguncang Washington: Pertama, FBI membuka penyelidikan kontra-intelijen yang menargetkan Trump, setelah Trump memecat Direktur FBI James Comey; kedua, bahwa Trump telah berusaha keras untuk menyembunyikan pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurut The Washington Post, upaya Trump dalam penyembunyian ini berjalan sangat jauh sehingga ia pada satu titik mengambil catatan penerjemahnya dari pertemuan dengan Putin, dan menuntut agar penerjemahnya tidak menggambarkan percakapan tersebut kepada para pejabat lain.

Pengungkapan itu datang ketika The New York Times melaporkan bahwa pada hari-hari setelah pemecatan Comey, para pejabat FBI menjadi “sangat khawatir dengan perilaku presiden itu, sehingga mereka mulai menyelidiki apakah ia telah bekerja atas nama Rusia dalam melawan kepentingan Amerika.”

Hebatnya, Trump menolak untuk menjawab pertanyaan dari pewawancara Fox News yang ramah, terkait apakah ia bekerja atau pernah bekerja atas nama Rusia, dan justru memberikan serangan panjang terhadap media.

“Saya pikir itu adalah hal yang paling menghina yang pernah ditanyakan kepada saya,” kata Trump kepada Jeanine Pirro dari Fox News. “Saya pikir ini adalah artikel paling menghina yang pernah ditulis tentang saya. Dan jika Anda membaca artikel itu, Anda akan melihat bahwa mereka sama sekali tidak menemukan apa pun.”

Secara bersama-sama, kedua artikel itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit tentang hubungan Trump dengan Rusia dan—seperti yang ditulis Ben Wittes untuk Lawfare—meningkatkan kemungkinan menarik bahwa tindakan menghalangi investigasi FBI terhadap campur tangan Rusia bisa menjadi tindakan kolusi yang sedang diselidiki oleh para penyelidik.

Penerjemah. Dewan Demokrat sedang mempertimbangkan apakah akan memanggil penerjemah yang hadir pada pertemuan Presiden Trump dengan mitra Rusia-nya, dan memilah apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Tetapi langkah seperti itu akan sangat kontroversial.

Diplomat-diplomat yang sekarang dan yang dulu—bahkan mereka yang sangat kritis terhadap Trump dan terkesima dengan hubungannya dengan Putin—tidak nyaman dengan permintaan itu. Mereka mengatakan bahwa itu mengurangi kesucian dari percakapan pribadi yang harus dilakukan para pemimpin Amerika Serikat (AS) dengan rekan-rekan asing.

Penerjemah memiliki peran penting di belakang layar dalam diplomasi, tetapi mereka berada di belakang layar karena suatu alasan. Jika seorang penerjemah dibawa ke hadapan kongres, para pemimpin asing dan diplomat mungkin berpikir dua kali untuk secara langsung dan terang-terangan dengan Trump atau para pejabat puncaknya dalam pertemuan di masa depan.

Selain itu, penerjemah mungkin bukan saksi yang baik. Mantan penerjemah mengatakan bahwa kadang-kadang mereka kesulitan mengingat percakapan yang mereka terjemahkan, karena otak mereka sangat fokus untuk mendapatkan kata-kata dan frasa yang diterjemahkan dengan benar sehingga mereka tidak fokus untuk menyerap seluruh percakapan dalam ingatan mereka.

Iran

Opsi. Gedung Putih Trump meminta opsi dari Pentagon untuk melakukan serangan militer terhadap Iran—permintaan yang memicu kekhawatiran dari para pejabat keamanan nasional, Wall Street Journal melaporkan. Permintaan itu muncul setelah serangan mortir pada September di Kedutaan Amerika di Baghdad, yang menyebabkan kerusakan tetapi tidak ada korban.

Penasihat Keamanan Nasional John Bolton dan para deputi, dilaporkan bertanggung jawab atas permintaan tersebut, di mana Pentagon mematuhinya. Tidak jelas apakah opsi untuk pembalasan militer mencapai Presiden Donald Trump, tetapi permintaan itu dianggap oleh para pejabat keamanan nasional konsisten dengan sikap pemerintahan Trump yang semakin konfrontatif terhadap Iran.

“Itu benar-benar mengguncang orang,” kata seorang mantan pejabat senior kepada Journal. “Orang-orang terkejut. Sangat membingungkan betapa bersemangatnya mereka untuk menyerang Iran.”

Kapal cepat. Jonathan Swan dari Axios melaporkan berita menarik dari Menteri Pertahanan Jim Mattis yang berselisih dengan Presiden Donald Trump: “Dari semua ketidaksepakatan yang membuat (Trump) dan (Mattis) terpisah, salah satu yang paling berbahaya berkaitan dengan meledakkan kapal-kapal Iran. ‘Mengapa kita tidak menenggelamkan mereka?’ Presiden itu akan bertanya.”

Tembakan. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menggunakan pidato utama di Kairo untuk bersumpah bahwa Amerika Serikat akan “menggunakan diplomasi dan bekerja dengan mitra kami untuk mengusir setiap pasukan Iran terakhir” dari Suriah.

Pemburu. Pejabat tinggi nuklir Iran mengatakan bahwa negara itu telah memulai “Kegiatan awal untuk merancang bahan bakar 20 persen (uranium) modern,” lapor Associated Press. Komentar Ali Akbar Salehi jauh dari pernyataan bahwa Iran memulai kembali program senjata nuklirnya, tetapi tampaknya mengisyaratkan bahwa Iran akan siap untuk melakukannya jika ia memilih untuk menarik diri dari perjanjian nuklir era Obama dengan negara-negara di dunia.

Diplomasi sandera. Ibu dari Michael White—seorang veteran Angkatan Laut yang ditahan di Iran—mengatakan bahwa putranya tidak pernah menjadi mata-mata dan dia bekerja sebagai juru masak untuk layanan itu, lapor CNN. White ditahan dengan tuduhan yang tidak ditentukan. Dia dilaporkan berada di Iran untuk mengunjungi pacarnya.

Perang Timur Tengah

Penarikan. Pentagon secara resmi mengkonfirmasi pada akhir pekan, bahwa Amerika Serikat telah mulai menarik peralatan—atau bahkan pasukan—dari Suriah, dalam apa yang disebut oleh juru bicara Komandan Sean Robertson sebagai sikap “tertib”. Sementara itu, pasukan AS akan terus memberikan dukungan kepada koalisi yang memerangi ISIS, termasuk pasukan Kurdi Suriah, yang baru-baru ini membebaskan kota al-Kashmah.

“Misinya belum berubah. CJTF-OIR dan mitra regional mereka terus mengejar ISIS di ruang tersisa terakhir yang saat ini mereka pengaruhi,” kata Robertson. “Kami akan terus bekerja dengan mitra dan sekutu untuk memastikan kekalahan ISIS yang berkelanjutan, dengan mempertahankan keuntungan militer dan mempromosikan keamanan dan stabilitas regional.”

Presiden AS Beraksi. Trump pada Minggu (13/1) beraksi lagi, mendorong lebih banyak kebingungan dengan tweet yang mengancam akan “menghancurkan Turki” secara ekonomi “jika Turki menyerang pasukan Kurdi Suriah yang bertempur di lapangan, dan mendorong” zona aman sejauh 20 mil.” Presiden itu juga mengatakan bahwa militer AS akan menyerang ISIS dari pangkalan terdekat yang ada, jika itu direformasi.

Tweet itu datang seiring Menteri Luar Negeri Mike Pompeo—selama tur Timur Tengah untuk meyakinkan sekutu-sekutu AS di wilayah itu—mengatakan pada Sabtu (12/1) bahwa ia yakin Turki dan Amerika Serikat dapat mencapai kesepakatan tentang cara melindungi Kurdi.

Afghanistan. Presiden Trump tidak mendapatkan penarikan besar dari Afghanistan seperti yang dia inginkan. “Militer AS sedang menyusun rencana untuk menarik beberapa ribu pasukan dari Afghanistan sambil melanjutkan semua misi besar dalam perang terpanjang dalam sejarah Amerika, kata para pejabat AS, tiga minggu setelah Presiden Trump mencari opsi untuk penarikan yang lebih drastis,” Dan Lamothe dari Washington Post melaporkan. “Perencanaan sedang berlangsung setelah Trump memerintahkan Pentagon untuk mempersiapkan penarikan hingga setengah dari sekitar 14 ribu tentara AS yang dikerahkan di Afghanistan.”

Keluar dari lapangan. Sebelas tahun setelah Amerika Serikat mulai membangun angkatan udara untuk Afghanistan dengan biaya sekarang mendekati $8 miliar, itu masih merupakan pekerjaan yang membuat frustrasi, tanpa akhir yang terlihat, tulis The New York Times. Dengan tujuan membangun angkatan udara yang bisa dioperasikan oleh orang-orang Afghanistan, Amerika berencana untuk menyerahkan puluhan jet penyerang A-29 dan lebih dari 100 helikopter Black Hawk UH-60. Tetapi para ahli mengatakan bahwa rakyat Afghanistan akan bergantung pada pemeliharaan Amerika dan dukungan lainnya selama bertahun-tahun, yang mempersulit rencana Trump untuk membebaskan Amerika Serikat dari perang 17 tahun.

Masalah penerjemah. Mohasif Motawakil—mantan penerjemah pasukan AS di Afghanistan—ditahan oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan pada Jumat (11/1), setelah tiba di bandara Houston bersama keluarganya, dan diancam akan dideportasi kembali ke Kabul, kata kelompok advokasi layanan hukum—sebuah langkah yang dapat membahayakan nyawanya.

Asia Pasifik

Masalah pendanaan. Korea Selatan menolak permintaan pemerintahanTrump untuk pembayaran yang lebih tinggi untuk membiayai pasukan AS di wilayahnya, yang meningkatkan kekhawatiran bahwa Presiden Trump mungkin mengancam penarikan pasukan pada saat diplomasi sensitif di Semenanjung Korea.

Sanksi mereda. Departemen Luar Negeri AS telah memutuskan untuk melonggarkan beberapa pembatasannya yang paling ketat pada bantuan kemanusiaan untuk Korea Utara, mencabut pembatasan perjalanan pada pekerja bantuan Amerika, dan melonggarkan pemblokirannya pada pasokan kemanusiaan yang ditujukan untuk negara itu, Colum Lynch dari FP melaporkan.

Pelunasan. Para pejabat Cina menawarkan untuk menyelamatkan dana pemerintah Malaysia di tengah skandal korupsi bernilai miliaran dolar, dengan imbalan saham dalam proyek-proyek kereta api dan pipa gas utama, Wall Street Journal melaporkan. Sebagai bonus, para pejabat keamanan China juga menawarkan untuk mengawasi wartawan Journal yang menulis tentang dana tersebut.

Ambil alih. Seorang mantan pejabat tinggi angkatan laut Filipina menyerukan kewaspadaan atas laporan bahwa sebuah perusahaan China mungkin mengambil alih pelabuhan komersial utama Filipina, lapor Inquirer.

Kebebasan navigasi. Pejabat tinggi Angkatan Laut AS, Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana John Richardson, melakukan perjalanan ke China minggu ini untuk mengadakan pembicaraan dengan para pejabat senior militer China, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan bentrokan di Laut China Selatan—salah satu jalur air paling berharga di dunia. Tujuan dari kunjungan tersebut—kunjungan kedua dari Richardson sebagai kepala operasi—adalah untuk “melanjutkan dialog yang fokus pada pengurangan risiko yang berorientasi pada hasil” antara kedua militer, kata Angkatan Laut.

Penumpukan pertahanan Jepang. Setelah lama menentang kekerasan, Jepang telah memutuskan untuk mempercepat pengeluaran militernya dan secara efektif mulai bersiap dalam menanggapi rudal Korea Utara dan agresivitas China di Pasifik, tulis The National Interest. Sifat penumpukan ini juga merupakan tanggapan terhadap tekanan lain dari sekutu besarnya, Amerika Serikat, yang menginginkan Jepang membeli lebih banyak peralatan AS.

Siber

Kejutan. Perusahaan keamanan siber Rusia Kaspersky Lab memberi tahu NSA bahwa mereka harus menyelidiki kontraktor Hal Martin, yang kemudian didakwa karena menyimpan sejumlah besar materi rahasia di rumahnya di Maryland, Kim Zetter melaporkan untuk Politico.

Martin mengirim pesan kepada peneliti Kaspersky di Twitter menggunakan akun anonim, tetapi perusahaan itu dengan cepat mengetahui identitas aslinya dan meneruskan materi tersebut ke kontak NSA.

Kaspersky telah dilarang digunakan oleh lembaga pemerintah federal, dan pejabat intelijen telah memperingatkan bahwa perusahaan tersebut dapat digunakan sebagai alat spionase oleh layanan keamanan Rusia. Jadi pengungkapan bahwa Kaspersky memberi tahu NSA tentang salah satu kebocoran terburuk dalam sejarah agen rahasia itu, merupakan ironi yang mendalam.

Fakta bahwa itu adalah Kaspersky—dan bukan NSA—yang menemukan Martin, juga menimbulkan pertanyaan tentang upaya agensi tersebut untuk menindak para pembocor dan risiko keamanan internal. Seandainya Martin tidak membuat keputusan nahas untuk menghubungi para penyelidik Kaspersky, ia mungkin masih bebas.

Dapat hasil besar atau pulang saja. Para peretas kriminal Rusia mengejar target yang lebih besar, menurut penelitian baru dari perusahaan keamanan siber Crowdstrike. “Kelompok peretas kriminal yang dicurigai beroperasi di Rusia telah mengubah taktik dalam beberapa bulan terakhir, dari penipuan kawat menjadi menargetkan organisasi besar untuk pembayaran ransomware,” lapor Sean Lyngaas dari CyberScoop.

Pintu terbuka. The Wall Street Journal telah melacak bagaimana para peretas Rusia menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam sistem infiltrasi yang mengendalikan sistem kelistrikan Amerika, dan hasilnya menyedihkan. Para peretas dengan cerdik menargetkan kontraktor kecil yang memasok bahan dan layanan ke perusahaan besar, dan menggunakan pelanggaran yang pertama untuk menjangkau sistem-sistem komputer tersebut. Dengan cermat, para peretas menggali ke dalam sistem energi dan kemungkinan memenangkan kemampuan untuk mengganggu pasokan listrik.

Kapitalisme pengawasan. Perusahaan telekomunikasi Amerika menjual data lokasi yang terkait dengan pelanggan seluler mereka, dan informasi itu berakhir di pasar gelap yang berkembang yang mencakup para pemburu hadiah, menurut laporan Vice.

Kisah ini mendapat daya tarik langsung di Washington, di mana sekelompok senator Demokrat yang berpengaruh meminta Komisi Komunikasi Federal untuk menyelidiki masalah tersebut. Seorang komisioner FCC juga mendesak badan tersebut untuk menangani masalah ini.

Kebocoran Jerman. Pihak berwenang di Jerman mengatakan bahwa seorang pria berusia 20 tahun dalam tahanan mengaku berada di balik kebocoran besar informasi pribadi milik para politisi Jerman dan individu terkemuka lainnya, Deutsche-Welle melaporkan.

KRIM. Zerodium—vendor terkemuka eksploitasi peretasan—menaikkan harga yang akan ditawarkan alat untuk membobol sistem komputer seperti Apple iOS dan Android. Perusahaan tersebut sekarang akan membayar hingga $2 juta untuk eksploitasi iOS yang berfungsi, dan hingga $1 juta untuk alat eksekusi jarak jauh di WhatsApp dan iMessage.

Eropa dan Rusia

Brexit. Perdana Menteri Theresa May melakukan upaya terakhir pada Senin (14/1) untuk meyakinkan anggota parlemen pemberontak untuk mendukung perjanjian Brexit-nya, memperingatkan mereka bahwa kepergian Inggris dari UE sekarang dalam bahaya dari politisi yang berupaya menggagalkannya.

Nasib keluarnya Britania Raya pada tanggal 29 Maret dari Uni Eropa sangat tidak pasti karena parlemen kemungkinan akan membatalkan kesepakatan May pada Selasa (15/1) malam, membuka hasil mulai dari penarian diri yang tidak teratur hingga membatalkan Brexit sama sekali.

Huawei. Perusahaan raksasa telekomunikasi China memecat seorang karyawan di Polandia yang dituduh melakukan spionase—berusaha dengan cepat menjauhkan diri dari skandal yang mengancam bisnisnya di Eropa. Beberapa negara Eropa sedang mempertimbangkan apakah akan mengeluarkan perusahaan itu dari pengembangan jaringan telekomunikasi 5G generasi mendatang.

Pergi dengan damai. Kremlin memberkati operasi politik Maria Butina untuk menyusup ke Organisasi Senapan Nasional (NRA), menurut laporan intelijen Amerika yang ditinjau oleh Daily Beast. Butina mengaku bersalah bulan lalu atas tuduhan berkonspirasi untuk bertindak sebagai agen asing.

Tentara Eropa. Menteri Pertahanan Jerman telah mengungkapkan bahwa pasukan gabungan Eropa yang kontroversial “sudah mulai terbentuk”—terima kasih kepada sekutu Perancisnya. Jerman dan Prancis sekarang menjadi “kekuatan pendorong” dalam pertahanan Eropa, dan mereka akan berdiri bersama dalam menghadapi setiap serangan darat, kata Ursula von der Leyen, menurut beberapa media berita.

Usaha yang bagus. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pekan lalu putus asa bahwa Ankara akan membatalkan rencana untuk membeli sistem rudal S-400 Rusia dengan imbalan US Patriot, dan mengatakan bahwa Turki tidak akan menerima Amerika Serikat yang memberlakukan persyaratan mengenai kesepakatan dengan Moskow.

Afrika

Pasangan yang aneh. Memindahkan bahan nuklir dari Nigeria telah menjadi tujuan yang telah lama dicari Amerika Serikat dan pendukung nonproliferasi. Tetapi tujuannya semakin penting dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya kelompok-kelompok militan di kawasan itu, khususnya Boko Haram—kelompok yang disebut Pentagon sebagai kekhawatiran teroris utama di kawasan itu, tulis Aaron Mehta untuk Defense News.

Menggarisbawahi pentingnya operasi: peran kunci yang dimainkan China dalam mengangkut dan menyimpan plutonium, dengan operasi yang terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump membuat ancaman eksplisit ke China tentang peningkatan persenjataan nuklir Amerika.

Cuti sakit. Presiden Gabon Ali Bongo—yang telah keluar dari negara itu selama dua bulan untuk pulih dari stroke—menunjuk perdana menteri baru pada Sabtu (12/1) dalam upaya nyata untuk menopang posisi politiknya, beberapa hari setelah upaya kudeta yang gagal. Para komplotan dari upaya kudeta tersebut pada Senin (14/1) ditangkap atau dibunuh dalam beberapa jam setelah merebut stasiun radio nasional, tetapi langkah tersebut mencerminkan semakin frustrasinya masyarakat terhadap pemerintah, yang dilemahkan oleh cuti sakit rahasia Bongo di Maroko.

Kejatuhan pemilu Kongo. Blok Afrika kedua menyerukan penghitungan ulang pemilihan presiden Republik Demokratik Kongo, yang meningkatkan tekanan pada Kinshasa untuk memperbaiki perselisihan yang dapat memicu kerusuhan.

Benua Amerika

Diktator. Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton pada Jumat (11/1) meningkatkan serangan terhadap pemerintah sosialis Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan menyebutnya sebagai “diktator” yang memegang “klaim tidak sah atas kekuasaan.” Maduro memulai masa barunya pada Kamis (10/1) setelah menyatakan dirinya sebagai pemenang pemilu yang dikritik luas pada Mei lalu.

Minggu pertama. Jair Bolsonaro—presiden baru Brasil—menggunakan minggu pertamanya di kantor untuk mengeluarkan kebijakan dan proposal baru yang merusak hak-hak masyarakat adat dan komunitas LGBTQ, dan menawarkan tinjauan terhadap kebijakan sayap kanannya di masa depan, tulis Vox.

Pengadilan abad ini. Dalam siklus berita yang waras, persidangan Joaquin Guzman Loera—raja narkoba yang lebih dikenal sebagai “El Chapo”—akan menjadi berita utama, tetapi di Amerika milik Trump, raja narkoba semakin memudar. Minggu ini, jaksa membawa spesialis IT-nya, di mana ia merinci bagaimana ia mengubah sistem komunikasi terenkripsi Chapo terhadapnya, dan menyerahkan nama pengguna dan kata sandi untuk spyware yang digunakan oleh raja narkoba untuk mengawasi kekasih dan letnannya, tulis Elias Groll dari FP.

Identitas yang salah. Seorang remaja yang ditangkap di Suriah oleh milisi Kurdi yang didukung Amerika, berasal dari Triniad, dan bukan warga negara Amerika seperti yang diklaim kelompok itu, The New York Times melaporkan. Bocah 16 tahun itu, Su-lay Su, datang ke Suriah pada tahun 2014 bersama ibunya, yang menikah dengan seorang pria bernama Anthony Hamlet, yang membawa para perempuan dan anak-anak bersamanya ke Suriah. Hamlet nantinya akan muncul dalam propaganda ISIS.

“Begitu mereka tiba di Suriah,” kata kakak perempuan Su, “mereka mengatakan kepada saya bahwa orang ini mengambil dokumen mereka dan menghancurkannya, dan berkata, ‘Sekarang Anda akan tinggal di sini dan mati.’”

Pemerintah AS

Penutupan Patroli Perbatasan. Bahkan ketika Presiden Donald Trump mengancam untuk mengumumkan “darurat nasional” atas apa yang disebutnya “krisis kemanusiaan dan keamanan” di perbatasan selatan, hampir 100 ribu karyawan Bea Cukai dan Perlindugan Perbatasan (CBP) dan karyawan penegak hukum Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) kehilangan gaji pertama mereka pada Jumat (11/1) karena penutupan sebagian pemerintah selama 21 hari, tulis Lara Seligman dari FP.

Baca juga: Trump Berencana Tarik AS dari NATO, Hadiah Besar bagi Rusia

Perawatan pribadi. Departemen Urusan Veteran sedang bersiap untuk memindahkan miliaran dolar dari rumah sakit veteran yang dikelola pemerintah ke penyedia layanan kesehatan swasta, yang menyiapkan panggung untuk transformasi terbesar dari sistem medis veteran dalam satu generasi, tulis The New York Times.

Selamat tinggal terorisme, halo Trump. Eliot Engel, ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR yang baru menjabat, akan membatalkan subkomite badan yang ditujukan untuk terorisme, untuk mendukung penyelidikan kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, termasuk apakah kepentingan bisnis pribadinya telah memengaruhi kebijakannya. Susan Glasser dari New York memiliki detailnya.

Skema. Para ahli teknologi di DARPA telah memimpikan inisiatif kecerdasan buatan baru yang bertujuan untuk memahami berita. “Sebuah program baru di lembaga penelitian ini bertujuan untuk menciptakan sistem pembelajaran mesin yang dapat menyaring berbagai peristiwa dan media yang tak terhitung banyaknya yang dihasilkan setiap hari, dan mengidentifikasi setiap jalinan koneksi atau narasi di dalamnya,” lapor TechCrunch.

Influencer. Apakah Kelly Davis adalah alat pemasaran Angkatan Udara yang paling hemat biaya? The Aviationist ingin tahu. Dalam profil Davis, blog ini memeriksa apakah akun Instagram dengan lebih banyak pengikut daripada tim demo F-35 Angkatan Udara melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mempromosikan AU daripada skema pemasaran besar-besaran.

Staf penulis Robbie Gramer berkontribusi dalam laporan ini.

Elias Groll adalah staf penulis di Foreign Policy yang meliput dunia maya.

Lara Seligman adalah koresponden Pentagon Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Anggota Komite Intelijen Dewan, Perwakilan Adam Schiff (D-CA) berdiri di sebelah foto Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, selama konferensi pers di Capitol AS pada 17 Mei 2017 di Washington, DC. (Foto: Getty Images/Chip Somodevilla)

Arahan Keamanan: Trump, Bom Rusia, dan Persiapan Perang dengan Iran

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top