Pilpres 2019: Bagaimana Golput Jadi Pilihan Menarik bagi Pemilih Milenial Indonesia
Berita Politik Indonesia

Pilpres 2019: Bagaimana Golput Jadi Pilihan Menarik bagi Pemilih Milenial Indonesia

Berita Internasional >> Pilpres 2019: Bagaimana Golput Jadi Pilihan Menarik bagi Pemilih Milenial Indonesia

Tinggal dua bulan lagi menjelang Pemilihan Legislatif dan Pilpres 2019. Namun, pemilih milenial Indonesia semakin merasa tidak puas dengan pilihan yang ada. Secara historis, tingkat golongan putih (golput) telah meningkat di Indonesia, terutama di kalangan pemuda.

Oleh: VOA/New Delhi Times

Dua bulan menjelang pemilihan presiden Indonesia berikutnya, tanda-tanda ketidakpuasan ditunjukkan di antara pemuda Indonesia, dan banyak yang khawatir bahwa mereka dapat memilih opsi yang berkembang: golongan putih (golput).

Tidak lama setelah menjalani hukuman penjara hampir dua tahun karena melanggar undang-undang penistaan agama, mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama—yang dikenal sebagai Ahok—mendesak para pendukungnya untuk memberikan suara dalam Pilpres 2019 pada tanggal 17 April mendatang. “Kita perlu memilih partai-partai politik untuk mendirikan empat pilar negara Indonesia,“ tulisnya dalam sebuah surat.

Baca Juga: Debat Pilpres 2019: Jokowi-Prabowo Gagal Tunjukkan Komitmen Berantas Korupsi

Dalam upaya untuk memadamkan kekecewaan oleh beberapa pendukungnya terhadap petahana Presiden Joko Widodo—yang secara luas dikenal sebagai Jokowi—Ahok mendorong mereka untuk tidak golput.

Golput dapat dikategorikan ke dalam golput aktif dan pasif, seperti dengan sengaja tidak muncul ke tempat pemungutan suara, salah memberikan suara, atau mencoblos kertas putih dalam pemungutan suara, karena itu mendiskualifikasi suara.

“Dalam pemilu 2019, target tingkat partisipasi adalah 77,5 persen, yang berarti bahwa tren golput tidak meningkat,” Arief P.S., juru bicara Komisi Pemilihan Umum (KPU), mengatakan kepada VOA.

Namun secara historis, tingkat golput telah meningkat. Menurut temuan organisasi Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), 48,3 juta pemilih golput dalam pemilu 2009, naik menjadi 58,9 juta pada pemilu 2014. Tingkat golput naik dari 16 persen pada tahun 1999 menjadi 30 persen pada tahun 2014—dekat dengan perkiraan tingkat suara dalam pemilu tahun ini.

Suara milenial

Dengan kebangkitan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)—yang kampanye dan mereknya berusaha mengumpulkan suara milenial—anak muda Indonesia telah menjadi blok suara yang kuat dalam pemilu tahun ini.

“Apakah itu blok suara besar atau tidak, sulit dikatakan karena kita tidak memiliki sumber daya untuk membuat data itu. Tetapi kita dapat sepakat bahwa milenial jauh lebih kritis dan memiliki akses yang lebih baik,” kata Aqsa. “Saya percaya bahwa golput akan menjadi pilihan bagi milenial.”

Para ahli percaya bahwa baik kampanye Jokowi maupun lawannya, Prabowo Subianto, menggunakan referensi budaya pop (Jokowi mengatakan “Musim dingin akan datang” dari acara TV Game of Thrones beberapa bulan yang lalu) dan memperjuangkan beberapa kebijakan, seperti tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, yang diyakini ditargetkan pada pemilih muda.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, calon wakil presiden Prabowo, pengusaha Sandiaga Uno, mengatakan bahwa sekitar 50 persen milenial cukup “terlepas (dari politik)” dan “kehilangan hak pilih.”

Rivanlee Anandar (25 tahun), seorang peneliti di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, mengatakan kepada VOA bahwa ia akan datang ke tempat pemungutan suara, tetapi ia akan mencoblos kedua surat suara, karena itu mendiskualifikasi suaranya. “Kenapa keduanya? Anda dapat menafsirkannya sesuka Anda, baik saya percaya pada kedua kandidat atau tidak mempercayai mereka sepenuhnya. Ini lebih merupakan opsi kedua, terutama pada masalah hak asasi manusia,” katanya.

Nabila Ernada (22 tahun), menyatakan kekecewaan yang serupa, tetapi dia mengatakan kepada VOA bahwa dia akan memberikan suara pada bulan April. “Saya akan memilih karena ada kewajiban. Saya tidak benar-benar percaya bahwa suara saya benar-benar membuat perbedaan terhadap panggung politik di Indonesia,” katanya sebelum mengungkapkan kebingungannya tentang “politik Indonesia yang stagnan”.

Mirip dengan Ernada, Moudy Alfiana (23 tahun), akan memilih dan dia lebih blak-blakan tentang alasannya. “Banyak orang percaya bahwa para kandidat adalah sama, tetapi jika Anda melihat visi mereka, ada juga perbedaan,” katanya, sebelum menambahkan bahwa dia mengakui bahwa janji kampanye tidak lebih dari sekadar janji. “Dikelilingi oleh orang-orang yang akan golput, saya bisa mengerti alasannya,” katanya.

Baca Juga: Ketika Abu Bakar Baasyir Jegal Langkah Jokowi Menuju Pilpres 2019

Pilihan lama

Secara historis, golput—yang tidak ilegal—selalu menjadi pilihan dalam politik Indonesia, yang saat ini merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Dipercaya secara luas bahwa kata golput mulai digunakan pada tahun 1971, ketika para aktivis memprotes pemilu di rezim Orde Baru. Pemilu pada waktu itu tidak demokratis—Suharto, presiden otoriter, memegang jabatan tersebut dari tahun 1967 hingga 1998.

Mirip dengan politik Indonesia di masa lalu, wacana seputar golput pada tahun 2019 telah berfokus pada kekecewaan terhadap dua kandidat presiden, Jokowi dan mantan jenderal militer Prabowo Subianto.

“Banyak hal yang memotivasi pemilih untuk golput. Mereka mungkin merasa seolah-olah pemilu tidak akan berdampak pada kehidupan mereka atau mereka tidak setuju dengan sistem politik saat ini, mereka mungkin tidak menyukai kandidat atau tidak mempercayai sistem demokrasi representatif,” pengacara dan mantan Direktur di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Alghiffari Aqsa, mengatakan kepada VOA.

Aqsa juga menambahkan bahwa meskipun orang lebih terbuka untuk golput sebagai pilihan, tapi masih terdapat stigma tentang itu.

“Jika kita melihat media sosial, ada banyak sebutan bagi orang-orang yang golput, dari warga negara yang buruk, penjahat, pragmatis, egois, hingga menggangu,” katanya.

Keterangan foto utama: Absen memilih alias jadi golongan putih (golput) menjadi opsi menarik bagi pemilih milenial Indonesia. (Foto: Istimewa)

Pilpres 2019: Bagaimana Golput Jadi Pilihan Menarik bagi Pemilih Milenial Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top