Senjata Nuklir
Asia

Belt and Nope: Negara Asia Tenggara Mulai Tak Percaya China

Seorang perwira polisi paramiliter berdiri di depan bendera merah di Lapangan Tiananmen di Beijing, China. (Foto: Bloomberg/Getty Images/Tomohiro Ohsumi)
Berita Internasional >> Belt and Nope: Negara Asia Tenggara Mulai Tak Percaya China

Banyak dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina, tak mempercayai niat China dalam memberikan pinjaman terkait inisiatif ambisius Presiden Xi Jinping, Belt and Road alias Jalur Sutra Baru. Mereka pada umumnya khawatir terjatuh dalam jebakan utang tak berkesudahan, dan cemas bahwa China akan meningkatkan pengaruhnya di kawasan itu.

Oleh: Emma Richards (Asian Correspondent)

Baca Juga: Asia Tenggara Khawatir terhadap China, Skeptis terhadap AS

Negara-negara Asia Tenggara, di antara beberapa penerima manfaat terbesar dari investasi China, tidak mempercayai Beijing dan percaya bahwa pemerintah mereka harus berhati-hati ketika bernegosiasi tentang Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road) unggulan Presiden China Xi Jinping.

Jatuh ke dalam perangkap utang yang tidak berkesudahan adalah kekhawatiran dari 70 persen responden yang tidak sepenuhnya percaya pada inisiatif China.

Bagaimana Analis China Melihat Inisiatif Sabuk dan Jalan

Dalam foto tanggal 29 Juni 2018 ini, seorang pria berdiri di bawah pilar-pilar yang menampilkan rencana kebijakan luar negeri China, “China Dream” dan “One Belt, One Road” selama acara di Beijing. (Foto: AP/Andy Wong)

Survei yang dirilis Senin (7/1) oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute, mensurvei 1.008 responden dari sepuluh negara dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yang diambil dari pemerintah, komunitas akademik dan bisnis, masyarakat sipil dan media.

Ketidakpercayaan dan dorongan untuk berhati-hati ini terasa paling kuat di Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Mayoritas negara Asia Tenggara percaya minat China yang meningkat pada daerah itu akan menempatkan wilayah itu di bawah pengaruh China yang terlalu besar, dan berisiko jatuh ke dalam jebakan utang abadi, yang pada akhirnya akan merugikan mereka dalam jangka panjang.

Mereka melihat inisiatif itu sebagai alat untuk mengendalikan mereka di Asia, demi keuntungan China sendiri, dengan kurang dari satu dari 10 negara melihat China sebagai “kekuatan yang ramah dan baik hati,” dan hampir setengahnya mengatakan Beijing memiliki “niat untuk mengubah Asia Tenggara untuk masuk dalam lingkaran pengaruhnya.”

Sebuah laporan tahun 2018 dari Departemen Luar Negeri AS menemukan Malaysia telah menjadi penerima manfaat terbesar dari diplomasi keuangan raksasa ekonomi di kawasan Asia Timur Pasifik selama 16 tahun. Selama periode ini, Beijing menghabiskan sekitar $48 miliar untuk diplomasi keuangan di wilayah tersebut.

Sejak menjabat, perdana menteri baru Malaysia, Mahathir Mohamad, telah membatalkan proyek Belt and Road senilai $22 miliar di negara itu, termasuk jalur East Coast Rail, dan dua jaringan pipa gas alam. Utang negara yang melonjak disebut sebagai alasannya.

Mahathir mengatakan pada Agustus Malaysia tidak bisa membayar kembali uang itu dan menuduh China menjalankan “versi baru kolonialisme.”

Burma (Myanmar) juga berupaya mengurangi proyek pelabuhan senilai $7 miliar di negara bagian Rakhine yang bermasalah, lagi-lagi karena dikhawatirkan melibatkan terlalu banyak utang bagi negara untuk membayar. Mencapai kompromi, keduanya menandatangani perjanjian pada bulan November untuk melanjutkan proyek dengan pengurangan biaya $1,3 miliar pada tahap awal.

Wakil Presiden AS Mike Pence memperingatkan negara-negara yang meminjam dari China saat ia menghadiri KTT Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada November.

“Proyek yang mereka dukung seringkali tidak berkelanjutan dan berkualitas buruk. Dan terlalu sering, mereka juga menyebabkan keterikatan dan menyebabkan utang yang sangat menyulitkan,” kata Pence.

Dia juga mengusulkan Amerika Serikat (AS) sebagai pilihan yang lebih baik bagi kawasan Asia untuk bermitra. Tetapi survei ISEAS menunjukkan bahwa negara-negara Asia juga skeptis tentang komitmen Amerika.

Enam dari 10 responden mengatakan pengaruh AS secara global telah memburuk dari tahun lalu dan dua pertiga percaya keterlibatan AS dengan Asia Tenggara menurun. Sekitar sepertiga mengatakan mereka memiliki sedikit atau tidak ada kepercayaan terhadap AS sebagai mitra strategis dan penyedia keamanan regional.

Washington tampaknya menyerahkan kekuasaan kepada Beijing di mata rakyat, dengan 73 persen meyakini China adalah pengaruh ekonomi terbesar di kawasan itu. Negara itu juga diyakini memiliki pengaruh lebih besar secara politis dan strategis dibandingkan Amerika Serikat.

Baca Juga: Survei Buktikan Asia Tenggara Khawatirkan Inisiatif Sabuk dan Jalan China

Keterangan foto utama: Seorang perwira polisi paramiliter berdiri di depan bendera merah di Lapangan Tiananmen di Beijing, China. (Foto: Bloomberg/Getty Images/Tomohiro Ohsumi)

Belt and Nope: Negara Asia Tenggara Mulai Tak Percaya China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top