Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia Diam-diam Membelot?
Global

Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia Diam-diam Membelot?

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi Akademi Revolusi Mangyongdae pada peringatan 70 tahun, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) di Pyongyang 13 Oktober 2017. (Foto: Reuters/KCNA)
Berita Internasional >> Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia Diam-diam Membelot?

Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia diduga membelot bersama istrinya, setelah mereka meninggalkan kediaman resminya pada awal November, beberapa minggu sebelum masa jabatannya berakhir. Terdapat anggapan bahwa sulit bagi beberapa diplomat untuk kembali ke Korea Utara setelah menikmati tahun-tahun tinggal di Barat yang bebas. Mereka ingin anak-anak mereka hidup dalam sistem yang berbeda dan menerima pendidikan yang lebih baik.

Oleh: Frances D’Emilio dan Kim Tong-hyung (Time/Associated Press)

Baca Juga: Dari Ganja sampai Korea Utara, Ini 9 Isu Besar di Asia Tahun 2019

Diplomat tinggi Korea Utara di Italia bersembunyi bersama istrinya, menurut seorang anggota parlemen Korea Selatan, yang meningkatkan kemungkinan pembelotan seorang pejabat senior Korea Utara.

Berita itu datang dari agen mata-mata Korea Selatan, yang memberi pengarahan kepada anggota parlemen di Seoul pada Kamis (3/1) tentang status Pelaksana Tugas Duta Besar Korea Utara untuk Italia, Jo Song-gil. Dikatakan bahwa dia bersembunyi bersama istrinya pada bulan November sebelum jabatannya di Italia berakhir pada akhir bulan itu.

Pembelotan besar-besaran oleh salah satu elit Korea Utara akan sangat memalukan bagi Pemimpin Kim Jong-un, di saat ia mengupayakan diplomasi dengan Seoul dan Washington dan berusaha menggambarkan dirinya sebagai pemain geopolitik.

Anggota parlemen Korea Selatan Kim Min-ki, mengatakan bahwa seorang pejabat dari National Intelligence Service (NIS) Seoul berbagi informasi selama sebuah arahan tertutup.

Kim tidak mengatakan apakah agen mata-mata tersebut mengungkapkan sesuatu tentang keberadaan Jo saat ini, atau apakah ia memiliki rencana untuk membelot ke Korea Selatan.

Kim mengatakan bahwa NIS mengatakan belum dihubungi oleh Jo.

Menurut Kim, pejabat NIS itu mengatakan bahwa Jo dan istrinya meninggalkan kediaman resmi pada awal November—beberapa minggu sebelum masa jabatannya berakhir. Kim mengatakan bahwa dia tidak bisa mengkonfirmasi jika pejabat NIS itu mengungkapkan apakah Jo dan istrinya ditemani oleh anak-anak. NIS sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat mengkonfirmasi laporan media Korea Selatan bahwa Jo berada di bawah perlindungan pemerintah Italia, ketika ia mencari suaka di negara Barat.

Korea Utara belum mengomentari status Jo.

Seorang pejabat di Kementerian Luar Negeri Italia mengatakan pada Kamis (3/1) bahwa Jo tidak meminta suaka dari Italia. Pejabat itu—yang berbicara dengan syarat anonimitas sesuai dengan praktik standar—juga mengatakan bahwa Jo tidak lagi memegang status diplomatik di Italia, mungkin karena masa tugasnya telah berakhir.

Tanpa mengutip sumber apa pun, harian Italia La Repubblica meningkatkan kemungkinan bahwa walau Kementerian Luar Negeri mengatakan Jo tidak meminta suaka dari Italia, namun itu tidak mengesampingkan bahwa Jo mungkin telah meminta bantuan badan lain, seperti badan intelijen Italia “agar ia tidak dikembalikan ke negaranya.”

Korea Utara—yang menyebut dirinya sebagai surga sosialis—sangat peka tentang pembelotan, terutama di antara korps diplomatik elitnya, dan sebelumnya bersikeras bahwa pembelotan adalah rencana Korea Selatan atau AS untuk melemahkan pemerintahannya.

Mike Pompeo

Orang-orang dan tentara berkumpul untuk mempersembahkan bunga kepada patung-patung pendiri negara Kim Il Sung dan mantan pemimpin Kim Jong Il di Hari Songun di bukit Mansu, Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Korea Utara. (Foto: Reuters/KCNA)

Sekitar 30 ribu warga Korea Utara telah membelot ke Korea Selatan sejak akhir Perang Korea 1950-1953, menurut angka pemerintah Korea Selatan.

Banyak pembelot mengatakan bahwa mereka ingin meninggalkan sistem politik Korea Utara yang keras dan kemiskinan yang meluas. Korea Utara sering menuduh Korea Selatan menipu atau membayar orang untuk membelot, atau mengklaim bahwa mereka telah diculik.

Korea Utara dapat secara terbuka mengabaikan kemungkinan pembelotan Jo, atau menahan keinginan untuk melontarkan kritik keras untuk menghindari menyoroti kerentanan pemerintahnya, ketika mereka mencoba untuk melibatkan Washington dan Seoul dalam negosiasi, kata Koh Yu-hwan, seorang ahli Korea Utara di Universitas Dongguk Seoul.

Jo pernah menjadi Pelaksana Tugas Duta Besar Korea Utara untuk Roma, setelah Italia mengusir Duta Besar Mun Jong-nam pada Oktober 2017, karena memprotes uji coba nuklir dan peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara.

Jo tampak nyaman berkeliling Italia. Pada bulan Maret 2018—didampingi oleh pejabat kedutaan lainnya, Pak Myong-gil—ia mengunjungi dua pabrik di wilayah Veneto timur laut Italia, dan ketertarikan pada perdagangan, menurut La Tribuna di Treviso, harian setempat.

Satu pabrik memproduksi perabotan kamar mandi dan aksesoris buatan marmer lainnya. Surat kabar itu mengutip pengusaha lokal yang pada awalnya berasumsi bahwa itu adalah delegasi Korea Selatan, bukan Korea Utara, mengingat sanksi ekonomi terhadap Korea Utara.

Di antara orang Italia yang menemani para pejabat Korea Utara itu, terdapat mantan senator Italia untuk apa yang sekarang menjadi partai Liga, yang secara umum menentang embargo ekonomi sebagai hal buruk bagi bisnis.

Politisi tersebut, Valentino Perin, mengatakan kepada AP bahwa dia telah berbicara dengan Jo berkali-kali, termasuk tentang persiapan untuk kunjungan ke wilayah Veneto. Perin mengatakan bahwa dia terakhir bertemu dengan Jo pada 5 September 2018, dalam sebuah pertemuan resmi yang diselenggarakan oleh Kedutaan Korea Utara di Roma.

Menampilkan kartu nama Jo, Perin mengatakan bahwa Korea Utara “sangat bangga dengan rakyatnya dan negaranya.”

Diplomat senior Korea Utara terakhir yang diketahui telah membelot adalah Thae Yong Ho, seorang mantan menteri di Kedutaan Korea Utara di London, yang melarikan diri ke Korea Selatan pada tahun 2016.

Dalam sebuah wawancara di televisi Korea Selatan, Thae mengatakan bahwa dia bekerja dengan Jo selama lebih dari satu dekade di Biro Eropa Kementerian Luar Negeri Korea Utara, dan bahwa Jo punya anak ketika Thae terakhir bertemunya pada tahun 2013.

Thae mengatakan bahwa Jo berasal dari keluarga diplomat, di mana ayah dan mertuanya sama-sama bertindak sebagai duta besar.

Dalam foto tahun 2013 dari media milik pemerintah Korea Utara ini, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un (tengah), dikatakan sedang memeriksa pabrik ponsel pintar. (Foto: KCNA)

Kedutaan di Italia sangat penting bagi Korea Utara, karena menangani negosiasi tahunan dengan Program Pangan Dunia (WFP) yang berbasis di Roma terkait bantuan bagi Korea Utara, kata Thae. Dia juga mengatakan bahwa Italia telah menjadi pusat penyelundupan barang-barang mewah untuk elit Korea Utara, dan Jo akan terlibat dalam kegiatan itu.

Thae mengatakan bahwa Jo akan menjadi diplomat utama Korea Utara untuk Vatikan dan juga akan menangani diskusi yang melibatkan kemungkinan kunjungan ke Korea Utara oleh Paus Fransiskus jika pembicaraan seperti itu telah terjadi.

Korea Selatan mengatakan pada bulan Oktober, bahwa Pemimpin Korea Utara Kim menyebutkan dalam pertemuan puncak dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, bahwa ia akan menyambut kunjungan kepausan.

Thae mengatakan bahwa dia yakin Jo akan digantikan oleh Duta Besar Kim Chon yang akan menjabat pada bulan November, tetapi tidak mengungkapkan bagaimana dia memperoleh informasi tersebut.

Meskipun tidak mengidentifikasikan namanya, namun media pemerintah Korea Utara menggambarkan Thae sebagai “sampah manusia” setelah pembelotannya di London, dan mengklaim bahwa ia sedang berusaha melarikan diri dari hukuman untuk kejahatan berat. Thae—yang telah menjadi kritikus blak-blakan Kim saat tinggal di Korea Selatan—membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa dia membelot karena dia tidak ingin anak-anaknya hidup “sengsara” di Korea Utara.

Mungkin saja Jo mencoba untuk membelot karena alasan yang sama, kata Koh, penasihat kebijakan untuk Presiden Korea Selatan.

“Mungkin sulit bagi beberapa diplomat untuk mau kembali ke Korea Utara setelah menikmati tahun-tahun tinggal di Barat yang bebas. Mereka ingin anak-anak mereka hidup dalam sistem yang berbeda dan menerima pendidikan yang lebih baik,” katanya kepada The Associated Press.

Pejabat Korea Utara tingkat tertinggi Korut yang mencari suaka di Korea Selatan adalah Hwang Jang-yop, seorang pejabat senior Partai Buruh yang berkuasa yang pernah mengajar ayah mendiang Kim Jong-un, diktator Kim Jong-il.

Pembelotan Hwang pada tahun 1997 dielu-elukan oleh banyak warga Korea Selatan sebagai prestasi intelijen. Hwang meninggal pada tahun 2010.

Juga pada tahun 1997, Duta Besar Korea Utara untuk Mesir melarikan diri dan bermukim kembali di Amerika Serikat.

Baca Juga: Pengadilan AS Denda Korea Utara $501 Juta atas Kematian Otto Warmbier

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi Akademi Revolusi Mangyongdae pada peringatan 70 tahun, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) di Pyongyang 13 Oktober 2017. (Foto: Reuters/KCNA)

Diplomat Tinggi Korea Utara di Italia Diam-diam Membelot?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top