Abu Sayyaf
Asia

Hajan Sawadjaan, Komandan Abu Sayyaf yang Jadi Pemimpin ISIS Filipina

Tentara Filipina mengawal sebuah mobil jenazah selama prosesi pemakaman seorang korban yang tewas dalam bom gereja 27 Januari di Jolo, provinsi Sulu di pulau selatan Mindanao, pada 30 Januari 2019. (Foto: AFP/Getty Images/Nickee Butlangan)
Berita Internasional >> Hajan Sawadjaan, Komandan Abu Sayyaf yang Jadi Pemimpin ISIS Filipina

Hajan Sawadjaan—seorang komandan kelompok ekstremis Abu Sayyaf yang berbasis di Jolo—ditunjuk sebagai pemimpin ISIS Filipina dalam sebuah upacara tahun lalu. Sawadjaan juga diduga menjadi otak dari serangan di sebuah gereja katedral pada akhir Januari lalu, yang menewaskan 23 orang dan melukai sekitar 100 orang lainnya, di Pulau Jolo selatan.

Baca juga: 5 Anggota Abu Sayyaf Pelaku Bom Gereja Filipina Serahkan Diri

Oleh: Jim Gomez (Associated Press)

Tidak seperti banyak rekannya yang terbunuh, pemimpin baru kelompok ISIS di Filipina selatan itu, tidak memiliki keberanian, nama klan, atau pelatihan asing.

Tidak banyak yang diketahui tentang Hatib Hajan Sawadjaan, tetapi serangan-serangan yang dikaitkan dengan dia yang menyulut kebangkitannya, sangatlah buas: Pengeboman mematikan—yang menurut pihak berwenang adalah serangan bunuh diri oleh pasangan militan asing—meledak di katedral Katolik Roma yang penuh sesak di tengah-tengah sebuah Misa.

Serangan pada tanggal 27 Januari tersebut—yang menewaskan 23 orang dan melukai sekitar 100 orang lainnya di Pulau Jolo selatan—dan serangan lainnya yang diduga bom bunuh diri di dekat Pulau Basilan Juli lalu—di mana menurut para pejabat Sawadjaan adalah otaknya—menempatkan Sawadjaan dalam kampanye global yang dipimpin Amerika Serikat (AS) terhadap terorisme.

Hal ini juga terjadi pada saat kantong terakhir kelompok ISIS di Suriah timur mendekati kejatuhannya, menandakan berakhirnya “kekhalifahan” ISIS yang pernah membentang di sebagian besar wilayah Suriah dan Irak.

Sebuah laporan Departemen Pertahanan AS baru-baru ini kepada Kongres mengatakan tanpa menjelaskan, bahwa pihaknya meyakini bahwa Sawadjaan adalah “amir pelaksana”, atau pemimpin, di Filipina dari kelompok ISIS. Ia menambahkan bahwa tidak ada pemimpin aktual yang dikonfirmasi telah ditunjuk oleh komando utama ISIS di Timur Tengah pada akhir tahun lalu.

Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano, bagaimanapun, mengatakan bahwa intelijen mengindikasikan bahwa Sawadjaan—seorang komandan kelompok ekstremis Abu Sayyaf yang berbasis di Jolo—ditunjuk sebagai kepala ISIS dalam sebuah upacara tahun lalu. Tiga kelompok ekstremis lainnya diakui sebagai sekutu ISIS, katanya.

Didirikan pada awal tahun 1990-an sebagai bagian dari pemberontakan separatis Muslim selama beberapa dekade di selatan, Abu Sayyaf kehilangan komandannya di awal pertempuran, mengirimnya ke jalur terorisme dan kriminalitas yang kejam. Abu Sayyaf telah dimasukkan ke dalam daftar hitam—bersama dengan kelompok-kelompok lokal yang terkait ISIS—sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat.

Sekarang di usia 60-an, Sawadjaan adalah orang yang terlambat berkembang dalam dunia terorisme.

Gilirannya sebagai pemimpin datang setelah puluhan komandan—beberapa awalnya bersekutu dengan gerakan al-Qaeda dan kemudian dengan ISIS—terbunuh atau ditangkap dalam beberapa dekade serangan militer. Kekalahan terbesar terjadi pada tahun 2017, ketika beberapa komandan asing dan lokal terbunuh, seiring pasukan militer mengakhiri pengepungan selama lima bulan oleh ratusan gerilyawan di kota Marawi selatan.

Salah satu yang terbunuh adalah Isnilon Hapilon, seorang pemimpin Abu Sayyaf yang sengit, yang merupakan pemimpin pertama yang ditunjuk ISIS di Filipina.

“Saya pikir Sawadjaan naik pangkat karena senioritas dan tidak ada pemimpin lain yang tersisa. Hampir semua orang telah musnah,” kata Ano, seorang mantan kepala militer yang mengawasi serangan Marawi dan sekarang mengawasi polisi nasional sebagai Menteri Dalam Negeri.

Gereja yang rusak diperiksa oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Jolo. (Foto: EPA)

Sebagian besar terkurung di pemukiman gunung Jolo yang miskin karena kemiskinan sepanjang hidupnya, Sawadjaan bukanlah seseorang yang akan dijadikan sekutu oleh kelompok-kelompok asing yang memiliki strategi media yang bagus dan terhubung dengan baik, untuk memperluas jangkauan mereka. Kebangkitan Sawadjaan menunjukkan bagaimana ISIS akan bergantung pada setiap militan yang bisa menyediakan tempat perlindungan dan pejuang bersenjata seiring benteng terakhirnya runtuh di Suriah, kata Ano.

“Agar ISIS dapat mengabadikan aksi teror mereka, mereka membutuhkan basis, mereka membutuhkan orang. Itulah peran Sawadjaan,” kata Ano kepada The Associated Press dalam sebuah wawancara. Dia memperkirakan bahwa Sawadjaan memerintah sekitar 200 pejuang dan pengikut.

Sawadjaan terlahir dari keluarga petani di Jolo yang mayoritas penduduknya Muslim dan hanya lulus sekolah dasar. Kemiskinan mendorongnya untuk bekerja sebagai penebang pohon di hutan-hutan di kota Patikul, di mana ia menikahi seorang wanita dari Tanum, desa pegunungan tempat ia mendasarkan fraksi Abu Sayyaf-nya bertahun-tahun kemudian, menurut seorang perwira militer, yang secara dekat memantau Abu Sayyaf, kepada AP dengan syarat anonim.

Sebagai seorang warga desa yang sudah lanjut usia, ia melayani sebagai pengkhotbah masjid setempat, dan mendapatkan julukan agama “hatib,” atau pemimpin khotbah dalam bahasa Arab, kata perwira itu.

Sawadjaan pertama kali mengangkat senjata sebagai anggota Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF)—kelompok separatis Muslim terbesar di selatan Filipina, yang sebagian besar beragama Katolik Roma—dan kemudian menandatangani perjanjian otonomi Muslim tahun 1996 dengan pemerintah, menurut pejabat itu.

Komandannya adalah Radulan Sahiron, pemberontak satu tangan yang populer secara lokal, yang memisahkan diri dari MNLF pada tahun 1992. Mereka bergabung dengan Abu Sayyaf, yang baru saja diorganisasi oleh seorang militan lokal berpendidikan Libya, kata pemimpin MNLF Yusop Jikiri.

Baca juga: Militer Filipina Luncurkan Serangan Udara terhadap Abu Sayyaf

Sawadjaan kemudian berpisah dengan Sahiron, termasuk karena penolakan Sahiron untuk mengakomodasi para militan asing karena takut mereka adalah magnet bagi serangan udara militer, kata Abu Jihad, seorang mantan militan yang telah bertemu Sawadjaan dan ditangkap oleh pasukan. Abu Jihad menggambarkan Sawadjaan sebagai lansia desa yang sederhana, yang terus-menerus membawa senapan M-16 di komunitas pedalamannya, tetapi bersahabat dengan para pengunjung.

Ketika sesama militan menculik seorang mualaf Muslim Amerika, Jeffrey Schilling, untuk tebusan pada bulan Agustus 2000, Sawadjaan tidak terihat, tetapi membantu mengumpulkan bambu yang digunakan untuk membangun gubuk bagi para militan dan sandera mereka, kata Abu Jihad.

“Dia dapat membahas masalah-masalah lokal tetapi tidak memiliki kebijaksanaan jihad,” katanya kepada AP melalui telepon, merujuk pada konsep perang suci militan. “Dia sangat akomodatif. Dia tipe yang tidak akan sulit untuk diombang-ambingkan.”

Bom Filipina

Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Año. (Foto: Pemerintah Filipina via CNN Philippines)

Sawadjaan bekerja sama dengan berbagai penjahat, baik ekstremis Islam maupun perampok, kata Ano.

Dia menyembunyikan pasangan asing itu—yang diyakini oleh para pejabat Filipina sebagai orang Indonesia—yang meledakkan bom di katedral Jolo bulan lalu, serta seorang militan yang diyakini orang Arab yang dikenal sebagai Abu Kathir al-Maghribi, yang tewas dalam ledakan van yang menewaskan 10 milisi pemerintah dan penduduk desa di Basilan tahun lalu, Ano menambahkan.

Sebuah video yang diperoleh oleh petugas kepolisian menunjukkan al-Maghribi di kamp Sawadjaan tahun lalu, sebelum gerilyawan asing tersebut dilaporkan melakukan serangan bunuh diri di Basilan. Video itu dilihat oleh AP.

Baca juga: Sandera Indonesia Diselamatkan dari Abu Sayyaf di Sulu

Putrinya menikah dengan seorang militan Malaysia yang dikenal sebagai Amin Baco, yang memiliki koneksi dengan ISIS. Adik laki-lakinya, Asman, juga bergabung dengan Abu Sayyaf, menurut profil rahasia Sawadjaan milik polisi.

Sawadjaan dan anak buahnya kemudian terlibat dalam penculikan pasangan Jerman, dua pria Kanada, Schilling, dan seorang jurnalis Yordania, Baker Atyani. Sebagian besar bebas dengan uang tebusan atau melarikan diri, tetapi para sandera Kanada secara terpisah dipenggal dalam video oleh salah satu keponakan militan Sawadjaan, Ben Yadah, menurut para pejabat militer dan polisi.

Selama lebih dari satu tahun ditahan di hutan oleh kelompok Sawadjaan mulai Juni 2012, Atyani mendapat wawasan mendalam tentang Abu Sayyaf. Atyani diyakini telah dibebaskan dengan imbalan tebusan.

“Ini semua didorong oleh uang, bukan ideologi,” kata Atyani. “Namun, Sawadjaan memiliki simpati untuk mereka yang diduga berjuang demi suatu tujuan.”

Keterangan foto utama: Tentara Filipina mengawal sebuah mobil jenazah selama prosesi pemakaman seorang korban yang tewas dalam bom gereja 27 Januari di Jolo, provinsi Sulu di pulau selatan Mindanao, pada 30 Januari 2019. (Foto: AFP/Getty Images/Nickee Butlangan)

Hajan Sawadjaan, Komandan Abu Sayyaf yang Jadi Pemimpin ISIS Filipina

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top