Suriah
Timur Tengah

Jelang Kemenangan Assad, Konflik Baru Terus Pecah di Suriah

Berita Internasional >> Jelang Kemenangan Assad, Konflik Baru Terus Pecah di Suriah

Rencana penarikan pasukan Amerika Serikat dari Suriah telah memicu konflik. Iran dan Rusia kini menjadi kekuatan utama dalam perang. Berikut ini berbagai perkembangan yang patut disimak.

Baca juga: Suriah Mengancam Akan Serang Bandara Ben-Gurion Israel

Oleh: Onur Ant dan Amy Teibel (Bloomberg)

Perang saudara di Suriah mungkin hampir berakhir, tetapi potensi kekerasan baru mulai menggelegak ketika para aktor regional dan internasional memikirkan kembali strategi-strategi yang telah lama berlaku.

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menarik pasukan AS telah memicu konflik. Meski AS akan meninggalkan Suriah di tangan sekutu pemimpin Suriah Bashar al-Assad, Rusia dan Iran, Amerika juga telah mendorong Israel untuk mengelukan bahwa keputusan itu telah mengecam posisi Iran, secara praktis memicu reaksi Iran. Beberapa analis memperingatkan adanya konfrontasi di antara mereka yang dapat memicu perang regional yang juga terjadi di Lebanon dan Irak.

Pada saat yang sama, para ekstremis Islam telah mengalami kebangkitan kecil. Mereka menargetkan pasukan AS dan Kurdi, dan mencetak kemenangan di medan pertempuran yang mengejutkan di benteng oposisi terakhir Idlib, yang tampaknya memicu serangan oleh Suriah dan Rusia. Sementara itu, serangan Turki yang terancam bisa membuat Kurdi Suriah mencari dukungan dari Assad dan rekan-rekan internasionalnya.

“Kita seharusnya tidak menipu diri kita sendiri dan mengatakan bahwa perang sudah berakhir,” kata Fawaz Gerges, profesional hubungan internasional di London School of Economics. “Pertempuran besar telah berakhir. Tetapi kenyataannya adalah perjuangan strategis dan politik atas Suriah oleh kekuatan-kekuatan regional yang pentingterus meningkat,” tuturnya. “Faktanya, pendapat saya adalah bahwa ini adalah fase paling berbahaya dalam konflik Suriah.”

Berikut ini berbagai perkembangan yang patut disimak.

Israel

Israel telah lama bersumpah untuk tidak membiarkan Iran mendirikan pangkalan garis depan di Suriah dari mana Iran bisa menyerang negara Yahudi tersebut. Sebaliknya, Israel kini secara terbuka membahas operasinya di sana setelah bertahun-tahun diam atau mengakui secara samar-samar. Rencana penarikan pasukan AS berarti Israel dapat kehilangan benteng terkuat melawan pasukan Iran dan proxy di wilayah tersebut, tetapi hal itu juga terjadi pada saat Iran telah dilemahkan oleh sanksi AS.

Kepala militer yang akan berhenti, Gadi Eisenkot mengatakan kepada The New York Times bahwa ribuan target Iran telah diserang di dalam Suriah selama dua tahun terakhir, dan operasi Israel mendapat izin dari administrasi Trump.

“Kami sangat mendukung upaya Israel untuk menghentikan upaya Iran mengubah Suriah menjadi Lebanon berikutnya,” tutur Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam pidato di Kairo bulan Januari 2019. Pernyataan itu merujuk pada kekuatan politik dan militer yang digunakan di Lebanon oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran, musuh utama Israel.

Taruhannya sangat tinggi. Iran saat ini tidak berkepentingan untuk memberikan Israel pembenaran untuk perang habis-habisan, tetapi perang “yang datang sesekali karena kesalahan perhitungan, karena variabel yang tidak diketahui, karena angsa hitam, karena suatu pemicu,” ujar Gerges. Ancaman terbesar di Suriah “adalah perang Israel-Iran yang dapat dengan mudah meningkat menjadi konflik regional habis-habisan.”

Idlib

Rusia dan Turki sepakat pada bulan September 2018 untuk mencegah ancaman serangan pemerintah Suriah terhadap benteng pemberontak Idlib, yang bisa mendorong gelombang pengungsi lain ke Turki, di mana hampir 4 juta orang telah berlindung. Tetapi terjadi perubahan perhitungan pada bulan Desember 2018 setelah para pejuang yang terkait dengan al-Qaeda masuk dan merebut Idlib dari pasukan oposisi yang didukung oleh Turki.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu telah mengisyaratkan bahwa Turki mungkin menyetujui serangan terbatas Suriah yang didukung Rusia untuk merebut kembali Idlib. Serangan itu akan menjadi pembalikan kebijakan utama untuk Turki, yang telah mendukung pasukan oposisi Suriah selama perang. Setelah bertaruh pada kehancuran rezim Suriah, daya tawar Turki terbatas, dan tampaknya yang bisa dilakukan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan adalah melobi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mempertimbangkan kepentingan Turki.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergie Lavrov “telah mengatakan Rusia akan ‘mempertimbangkan’ kepentingan Turki, tetapi pernyataan terdengar lebih seperti ungkapan diplomatik untuk ‘tidak’,” kata Heiko Wimmen, direktur proyek Suriah, Lebanon, dan Irak di International Crisis Group di Beirut. “Saya tidak bisa melihat mengapa Rusia menginginkan lebih banyak wilayah Suriah di bawah kendali Turki.”

Ekstremis Islam

Trump mengumumkan pada bulan Desember 2018 bahwa pasukan AS akan keluar dari Suriah karena ISIS telah dikalahkan, tetapi kelompok ekstremis tersebut telah mengirim sinyal mematikan bahwa mereka tetap menjadi bahaya yang bersembunyi. Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari seminggu, pelaku bom bunuh diri menargetkan pasukan AS pada tanggal 21 Januari 2019. Serangan tersebut tidak menimbulkan jatuhnya korban Amerika, tetapi menewaskan lima pejuang sekutu Kurdi.

Pekan sebelumnya, empat orang Amerika tewas dan tiga orang lainnya luka-luka ketika seorang pengebom bunuh diri menargetkan patroli dalam serangan paling mematikan terhadap pasukan AS di Suriah.

Meskipun kelompok ekstremis tersebut sebagian besar telah dikalahkan di Suriah dan Irak yang berdekatan, penarikan pasukan Amerika ketika masih terdapat ketidakstabilan dapat memberikan kesempatan kepada ISIS untuk berkumpul kembali dan bahkan menghasilkan kelompok teror lainnya.

Setidaknya langkah itulah yang dilakukan oleh pendahulunya, al-Qaeda, setelah AS menyerang Afghanistan untuk menghancurkan persembunyiannya setelah serangan 11 September 2001.

“Karena ISIS tidak dapat lagi mengandalkan pasukan resmi, mereka semakin menggunakan taktik gerilya dan serangan teroris tunggal,” kata Anthony Skinner, direktur perusahaan prediksi yang berbasis di Verk Maplecroft. “PBB dan Pentagon menyatakan masih memiliki pasukan sebanyak 20.000 hingga 30.000 orang di Suriah dan Irak.”

Kurdi

Pengumuman penarikan pasukan yang mengejutkan oleh Trump telah mengecewakan mereka yang melihatnya sebagai undangan bagi Iran untuk mengisi kekosongan di timur laut Suriah dan pengkhianatan terhadap sekutu Kurdi yang telah berperang melawan ISIS. Namun, pengumuman itu disambut hangat di Turki. Kehadiran pasukan AS telah menghalangi Turki untuk menyerang pasukan Kurdi yang didukung AS, yang dianggap terkait dengan separatis Kurdi yang berjuang untuk otonomi di Turki tenggara.

Hingga kini tidak jelas apakah Rusia akan menyetujui operasi Turki memasuki wilayah Suriah. Suara-suara yang bertentangan dari Amerika mengenai jadwal penarikan pasukan telah menahan militer Turki, tetapi Erdogan mengatakan Turki akan mengambil alih kota Manbij yang dikuasai Kurdi di utara Suriah dan akhirnya menyerahkannya kepada “pemilik sebenarnya.”

Milisi Kurdi YPG, yang khawatir dengan kemungkinan penarikan pasukan AS, telah mendesak pemerintah Assad dan Rusia untuk mengirim pasukan ke daerah perbatasan yang telah dipertahankan pasukan Kurdi selama bertahun-tahun untuk menahan serangan Turki. Sebuah kampanye Turki di kota timur laut Afrin telah mengusir pasukan Kurdi dan warga sipil pada tahun 2018.

Baca juga: Konflik Suriah: Israel dan Iran Bisa Terlibat dalam Perang Terbuka

Erdogan dapat menyenangkan kaum nasionalis menjelang pemilihan umum kota pada bulan Maret 2019 dengan serangan terhadap militan Kurdi, tetapi kemungkinan kejatuhan ekonomi dari meningkatnya ketegangan dengan AS telah melemahkan “dividen” dari operasi semacam itu, menurut Skinner.

“Yang secara konsisten jelas adalah bahwa YPG adalah prioritas utama Turki,” kata Skinner. Tetapi “Turki jelas akan memilih untuk menghindari melancarkan serangan militer ke wilayah di mana pasukan AS masih ada.”

Sulit untuk membayangkan bahwa Turki akan menyerang tanpa persetujuan Rusia. Rezim Suriah tidak akan bergerak “kecuali jika dapat dipastikan bahwa AS tidak akan tetap menembak jatuh mereka dari udara,” kata Wimmen dari International Crisis Group.

“Saya percaya bahwa Amerika benar-benar ingin menghindari kesan bahwa Iran dan sekutu-sekutunya masuk ke dalam kekosongan yang diciptakan oleh penarikan pasukan, dan memungkinkan rezim untuk memasuki daerah itu akan melakukan hal itu,” katanya. “Mungkin orang-orang Kurdi dapat mencapai kesepakatan dengan rezim, tetapi Suriah telah bersikap keras kepala di masa lalu dan bahkan memiliki lebih sedikit alasan untuk bersikap fleksibel saat ini.”

Keterangan foto utama: Sebuah kendaraan militer Amerika Serikat melewati desa di Suriah, Baghuz, 26 Januari 2019. (Foto: Getty Images/AFP/Delil Souleiman)

Jelang Kemenangan Assad, Konflik Baru Terus Pecah di Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top