Kemacetan Jakarta
Berita Politik Indonesia

Jelang Peresmian MRT: Satu Langkah Akhiri Kemacetan Jakarta

Jakarta akan meresmikan sistem Mass Rapid Transit (MRT) pertamanya pada bulan Maret, seiring pemerintah mencoba untuk meringankan kemacetan lalu lintas. (Foto: Pichayada Promchertchoo)
Berita Internasional >> Jelang Peresmian MRT: Satu Langkah Akhiri Kemacetan Jakarta

Titik terang untuk mengakhiri kemacetan Jakarta mulai terlihat. Pada bulan Maret, Jakarta akan meresmikan sistem Mass Rapid Transit (MRT), yang diharapkan pemerintah akan menjadi langkah pertama untuk mengakhiri mimpi buruk kemacetan lalu lintas di ibu kota. Tahap pertama selesai 98 persen dan diperkirakan akan mengangkut 130 ribu penumpang per hari. Tarif yang diusulkan adalah Rp8.500 per 10 kilometer, dan menurut Direktur MRT, itu akan disubsidi oleh pemerintah.

Baca juga: Mengatasi Kemacetan Jakarta Bisa Buat Jokowi Menangkan Pilpres 2019

Oleh:  Pichayada Promchertchoo (Channel NewsAsia)

Siapa pun yang mengunjungi Jakarta akan tahu betapa mengerikannya kemacetan lalu lintasnya, di mana perjalanan sederhana dari bandara ke pusat kota berpotensi menghabiskan waktu berjam-jam di hari yang buruk.

Walaupun ini mungkin hanya rasa frustrasi sementara bagi pengunjung sesekali, namun bagi banyak orang yang bekerja di ibu kota Indonesia, itu adalah mimpi buruk sehari-hari. Perjalanan dengan jarak yang dekat dari pinggiran kota ke pusat kota melalui jalan-jalan yang padat dan berpolusi, dapat memakan waktu berjam-jam. Ketika kemacetan sangat parah, perjalanannya bahkan lebih lama.

Tapi sekarang, terlihat titik terang. Mulai bulan depan, Jakarta akan memiliki sistem Mass Rapid Transit (MRT) sendiri, yang diharapkan pemerintah akan menjadi langkah pertama untuk mengakhiri mimpi buruk kemacetan lalu lintas di ibu kota.

“Inilah saatnya untuk mengubah Jakarta. Inilah saatnya untuk menjadikan Jakarta lebih baik dan bebas dari kemacetan,” kata Direktur MRT Jakarta William Sabandar.

Sistem Mass Rapid Transit Jakarta adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi mimpi buruk lalu lintas ibu kota. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Ketika tahap pertama mulai beroperasi pada bulan Maret, 14 kereta akan digunakan untuk layanan harian mulai pukul 5 pagi hingga tengah malam, sementara dua lainnya tetap disiagakan jika terjadi keadaan darurat. Rute ini membentang sejauh 15,7 kilometer antara Lebak Bulus di pinggiran selatan dan Hotel Indonesia.

Lebak Bulus adalah lingkungan perumahan yang padat penduduk. Dengan transportasi umum, saat ini dibutuhkan komuter sekitar 90 menit untuk melakukan perjalanan dari sini ke kawasan pusat bisnis di mana banyak gedung perkantoran berada. Tetapi dengan MRT, waktu perjalanan akan menjadi satu jam lebih pendek.

Diproduksi oleh perusahaan Jepang Nippon Sharyo, setiap kereta dapat menampung 1.950 penumpang dan dilengkapi dengan kursi prioritas serta ruang untuk kursi roda dan kereta bayi. Kecepatan perjalanan bervariasi antara 80 km/jam di jalur layang dan 100 km/jam di bawah tanah.

Ketika MRT Jakarta mulai beroperasi secara komersial, sistem ini diperkirakan akan mengangkut sekitar 130 ribu penumpang per hari. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

“Masih ada jalan panjang bagi kami. Tapi jalan yang kami bangun adalah peluang untuk mengubah Jakarta,” kata Sabandar. “Kita perlu menciptakan budaya baru di mana transportasi nyaman, aman, dapat diandalkan, dan selalu tepat waktu.”

Tahap pertama selesai 98 persen. Ini merupakan bagian dari jalur Utara-Selatan dan diperkirakan akan mengangkut 130 ribu penumpang per hari. Tarif yang diusulkan adalah Rp8.500 per 10 kilometer dan menurut Direktur MRT, itu akan disubsidi oleh pemerintah.

REVOLUSI TRANSPORTASI

Setiap tahun, Indonesia kerugian sekitar Rp6,5 triliun akibat kemacetan di Jakarta Raya atau Jabodetabek.

Sebagian besar kerugian berasal dari komuter di kota besar yang menghabiskan hampir setengah dari pendapatan mereka untuk transportasi, menurut analis perkotaan Dr Yayat Supriatna. Studinya menemukan bahwa tingginya biaya hidup di pusat kota Jakarta telah mendorong banyak masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah untuk tinggal di kota-kota satelitnya, dan memaksa mereka melakukan perjalanan jauh untuk bekerja di pusat bisnis.

“Sistem kereta api seperti MRT dan Light Rail Transit (LRT) akan menjadi solusi utama untuk lalu lintas di Jabodetabek,” katanya.

Kemacetan lalu lintas di pusat kota Jakarta. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Akhirnya, jaringan MRT akan dilengkapi dengan dua koridor, jalur Utara-Selatan dan jalur Timur-Barat. Ini juga akan terhubung dengan sistem LRT, yang saat ini sedang dibangun untuk lebih meningkatkan interkonektivitas antara Jakarta dan kota-kota satelitnya.

MENGAPA JAKARTA BEGITU MACET?

Menjadi rumah bagi lebih dari 30 juta orang, Jabodetabek menghadapi kemacetan yang konstan. Setiap hari, populasi kota besar ini mencatat sekitar 48 juta perjalanan, di mana lebih dari 22 juta di antaranya terkonsentrasi di Jakarta pusat.

Tetapi walau jumlah kendaraan bermotor telah meningkat sebesar 8,1 persen setiap tahun, data dari pemerintah Jakarta menunjukkan bahwa jaringan jalan hampir tidak berkembang, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 0,01 persen.

Baca juga: Jakarta, Kota Termacet di Dunia Akhirnya Tunjukkan Perbaikan

Ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas ini, menurut Wakil Gubernur Jakarta Sutanto Soehodho, yang bertanggung jawab atas transportasi.

“Ini berarti semakin banyak orang menggunakan transportasi kolektif, semakin sedikit kendaraan yang ada. Jika mereka beralih ke angkutan umum, pastinya kemacetan akan berkurang,” katanya.

Setiap kereta dapat menampung 1.950 penumpang. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Kerugian tahunan sebesar Rp6,5 triliun akibat kemacetan di Jabodetabek, mendorong Presiden Joko Widodo untuk menyoroti pada bulan Januari, perlunya meyakinkan masyarakat untuk menggunakan transportasi umum.

“Kita tidak bisa melanjutkan dengan cara ini. Kita harus berani untuk memulai dan berani merancang sehingga Rp65 triliun ini tidak hanya menjadi asap yang memenuhi kota,” Jokowi mengatakan kepada para wartawan, dan menyerukan integrasi sistem transportasi—Transjakarta, kereta api bandara, MRT, dan LRT.

“Kita benar-benar perlu mendorong anggota masyarakat untuk menggunakan sistem transportasi umum yang telah kami persiapkan untuk membebaskan jalanan dari mobil.”

BEKERJA DARI RUMAH

Sementara penantian berlanjut untuk angkutan umum yang saling terhubung, lebih banyak kendaraan telah mengambil ruang di kota metropolis yang macet ini. Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek mengatakan bahwa sebagian besar perjalanan di ibu kota bergantung hampir secara eksklusif pada kendaraan pribadi, yang menyumbang sekitar 99 persen dari sekitar 10 juta unit.

Namun, kota ini telah menetapkan target transportasi yang ambisius.

Pada tahun 2030, Jakarta bertujuan untuk menggeser 60 persen mobilitas perkotaan ke angkutan umum, meningkatkan kecepatan perjalanan minimum, dan meningkatkan rasio jalan ke area kota dari 7 menjadi 10 persen.

Mencakup jalur Utara-Selatan, tahap pertama dimulai dengan 13 stasiun. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Namun alih-alih mengandalkan transportasi umum saja, Deputi Gubernur Jakarta Bidang Industri, Perdagangan, dan Transportasi Soehodho, percaya bahwa perubahan gaya hidup bisa menjadi solusi yang lebih baik dan lebih murah untuk masalah kemacetan. Bekerja dari rumah, katanya, dapat membantu penumpang mengurangi banyak perjalanan yang tidak perlu di jalanan yang padat dan menurunkan biaya transportasi.

Baca juga: Cepat Jadi Hits, Akankah Railink Jadi Solusi Kemacetan Jalur Bandara?

“Tidak akan ada infrastruktur yang cukup untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang berkembang. Jadi daripada mencoba menyelesaikan masalah transportasi ini dengan ide-ide yang sangat konvensional—Anda tahu, dengan semakin banyak menyediakan transportasi umum dan infrastruktur jalan—mengapa Anda tidak bekerja dengan cara yang berbeda?” katanya.

“Semuanya terhubung. Kita dapat mengirim email dan mungkin bertemu seminggu sekali di kantor. Anda dapat melakukan pekerjaan Anda di rumah, di kafe, atau di mana pun Anda suka. Anda dapat menghabiskan waktu lebih efisien, merasa lebih nyaman, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga Anda. Saya pikir itulah yang kita inginkan, sungguh.”

Keterangan foto utama: Jakarta akan meresmikan sistem Mass Rapid Transit (MRT) pertamanya pada bulan Maret, seiring pemerintah mencoba untuk meringankan kemacetan lalu lintas. (Foto: Pichayada Promchertchoo)

Jelang Peresmian MRT: Satu Langkah Akhiri Kemacetan Jakarta

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top