Keluarga Assad: Di Balik Dinasti Berbahaya Suriah
Timur Tengah

Keluarga Assad: Di Balik Dinasti Berbahaya Suriah

Home » Featured » Timur Tengah » Keluarga Assad: Di Balik Dinasti Berbahaya Suriah

Keluarga Assad memperlakukan Suriah seperti bisnis keluarga. Presidennya saat ini, Bashar al-Assad, sebelumnya bahkan tidak diperhitungkan sebagai ‘putra mahkota’. Dan ketika duduk di bangku kekuasaan, istrinya yang liberal dan modern, berusaha mengubah citra negara itu, yang saat ini menjadi salah satu masalah terbesar dunia.

Oleh: Nick Green (The Telegraph)

Baca Juga: Cerita dari Idlib di Tengah Bentrokan Pasukan Rezim Assad dan Pemberontak Suriah

Banyak yang bertanya-tanya bagaimana Bashar al Assad dan istrinya yang lahir di Inggris, Asma—pasangan yang pernah digembar-gemborkan sebagai kekuatan modern di Timur Tengah—akhirnya menjalankan sebuah rezim yang dituduh melakukan kejahatan perang. Jawabannya—yang saya temukan selama wawancara dengan banyak dari mereka yang telah mengenal keduanya—terletak pada hubungan yang kompleks antara Bashar, istrinya, ayahnya, ibunya, dan saudara-saudaranya; Kenali cara kerja dalam dinasti keluarga ini, yang telah memerintah Suriah selama lebih dari 40 tahun, dan Anda akan memahami bagaimana Suriah telah menjadi salah satu masalah terbesar dunia.

Selama pembuatan A Dangerous Dynasty: House of Assadserial dokumenter BBC Two yang baru—Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan Presiden Obama, membantu kami untuk mengungkap hubungan kompleks antara Bashar dan orang tuanya.

Kembali pada tahun 2011, ketika protes Kebangkitan Arab (Arab Spring) menjalar di seluruh Suriah, Bashar harus memilih apakah akan memberi kaumnya reformasi yang mereka inginkan, atau melakukan tindakan keras. Hubungannya dengan ibunya Anisa sangat penting untuk apa yang terjadi selanjutnya.

Dianggap sebagai anggota keluarga yang paling keras, Anisa tidak ingin melunakkan pendekatan garis keras keluarga tersebut kepada pemerintah. Hanya karena suaminya, Hafez, telah meninggal pada tahun 2000, bukan berarti pengaruhnya telah berkurang, seperti yang nantinya akan diberi tahu intelijen Amerika kepada Panetta.

“Ada suatu titik di mana, benar-benar ada perasaan bahwa Assad… tidak akan mau untuk memperjuangkan kekuasaan,” kata Panetta pada saya.

Baca Juga: Senjata Kimia di Idlib: Amerika Tingkatkan Ancaman Aksi Militer Terhadap Rezim Assad

Suriah telah dijalankan sebagai bisnis keluarga sejak tahun 1970. (Foto: Alexandra De Borchgrave)

Namun, ia menambahkan, “ibunya sangat menekan dia untuk berdiri dan menjadi seperti ayahnya. Dan dia berutang budi kepada ayahnya untuk berjuang demi kekusaan yang berkelanjutan, dan tidak hanya pergi begitu saja.” Jadi taktik Anisa untuk “menggunakan hantu ayahnya sebagai pengaruh untuk memberinya dorongan untuk bertarung” akan menang.

Suriah telah dijalankan sebagai bisnis keluarga sejak tahun 1970 ketika Hafez mengendalikan negara tersebut, menciptakan kultus kepribadian di mana kepresidenan mengendalikan setiap aspek kehidupan publik. Mereka yang melawan akan hancur; kelangsungan hidup rezim tersebut—yang memungkinkan kekayaan dan kekuatan pribadi klan Assad untuk berkembang—adalah segalanya.

Bagi Bashar—yang dulunya adalah pilihan ketiga untuk posisi kepemimpinan—itu bisa sangat berbeda. Saudara laki-lakinya yang tertua, Bassel, telah ditunjuk sebagai Presiden Suriah berikutnya, yang memungkinkan Bashar untuk mengejar minatnya pada dunia kedokteran. Pada awal tahun 1990-an, ia pergi ke London untuk belajar ophthalmology; ia akan terus makan di meja paling atas Suriah, tetapi tidak perlu terlibat dalam kekelaman menjalankan kediktatoran Timur Tengah.

Bashar tiba di London sebagai sarjana yang memenuhi syarat, dan di sanalah ia bertemu Asma, seorang lulusan ilmu komputer muda dari Acton, London Barat.

Namun, pada tahun 1994, hubungan mereka yang berkembang terputus ketika pria 29 tahun itu dipanggil kembali ke Suriah. Bassel—yang merupakan pilihan kedua untuk kepresidenan setelah saudara laki-laki Hafez, Rifaat, telah mencoba melakukan kudeta satu dekade sebelumnya, dan kemudian diasingkan—meninggal dalam kecelakaan saat mengendarai salah satu dari banyak mobil sport-nya di Damaskus. Bashar, sebagai putra sulung berikutnya, ditempatkan di jalur cepat untuk mengambil alih jabatan dari ayahnya yang sedang sakit.

Meskipun Bushra, saudara perempuan Bashar, memiliki kekuatan besar dalam keluarga—ia dikabarkan adalah anak kesayangan ayahnya, dan orang yang lebih cocok untuk jabatan teratas—namun Suriah belum siap untuk seorang presiden wanita. Dennis Ross—salah satu dari negosiator perdamaian Timur Tengah di bawah Bill Clinton yang mengenal Hafez dengan baik—menjelaskan: “Saya pikir dia berpikir putrinya lebih kuat dari Bashar. Tapi di masyarakatnya, tidak mungkin anak perempuannya (yang menggantikannya).”

Baca Juga: Istri Bashar Al-Assad Dirawat karena Kanker Payudara

Presiden Suriah Bashar al-Assad pertama kali bertemu istrinya, Asma al-Assad, ketika keduanya tinggal di London. (Foto: Sipa Press/Rex/Shutterstock)

Maka, ketika Hafez meninggal karena serangan jantung pada tahun 2000 pada usia 69 tahun, Bashar menjadi presiden, dan menikahi Asma enam bulan kemudian dalam upacara rahasia tanpa foto dan tidak ada pengumuman resmi tentang hari bahagia itu.

Asma memasuki keluarga Assad dan ingin mengambil peran yang tidak biasa untuk istri diktator Timur Tengah: menjadi lambang seorang ibu negara modern, tanda kemajuan perempuan bagi rakyat Suriah dan reformasi sosial.

Dia “berasal dari pola pikir yang sama sekali berbeda,” kata mantan penasihat Bashar, Ayman Abdelnour. “Dia ingin menjadi bagian dalam membangun atau memodernisasi… Kemudian dia menemukan bahwa, tidak, dia tidak diterima sebagai anggota keluarga.”

Para wanita Assad lainnya tampaknya tidak memiliki visi yang sama dengannya, yang menyebabkan “pertentangan buruk” antara Asma dan Bushra, menurut Riad Nassan Agha, Mantan Menteri Kebudayaan. Agha juga memberi tahu kami bagaimana para wanita berselisih tentang ‘ibu negara’—salah satu yang dia gunakan ketika ibu Bashar, Anissa, masih hidup.

Namun masalah Asma di rumah akan segera hilang ketika suaminya menjadi orang yang diasingkan secara internasional. Presiden George W. Bush menyebut Suriah sebagai bagian dari poros kejahatan, dan kaum Assad segera menemukan diri mereka berada di pusat investigasi pembunuhan setelah pembunuhan Rafic Hariri, mantan Perdana Menteri Lebanon.

Yang paling merusak baginya secara pribadi adalah perintah PBB agar pasukan Suriah ditarik dari Lebanon—penghinaan pribadi bagi Bashar, karena ayahnya menganggap negara itu sebagai perpanjangan tangan dari Suriah. Di mata ibunya, ini adalah—kami diberi tahu—pertanda buruk.

Baca Juga: Israel: ‘Perang Suriah Berakhir, Presiden Assad Kembali Berkuasa’

Anak-anak al-Assad di sebuah taman pada tahun 1970-an, dari kiri ke kanan: Bushra, Majd, Bashar, Bassel, dan Maher. (Foto: BBC/Shutterstock)

Bagi Bashar, ini adalah saat-saat tersulit. Tapi ini adalah kesempatan Asma untuk naik dalam jajaran keluarga. Pada tahun 2005, peluang muncul dalam dirinya dalam bentuk yang tidak terpikirkan. Dia menghadiri pemakaman Paus Yohanes Paulus II bersama suaminya pada saat citra suaminya sangat buruk di masyarakat internasional. Tidak ada yang terlihat di mana pun di dekat Assad, tetapi Asma sangat bersemangat, menjadi—dalam kata-kata fotografer Assad saat itu Amad Abd Rabbo—wajah yang dapat diterima dari sebuah rezim yang mengerikan.

“Saya pikir dia menyadari betapa berharganya dia,” katanya, dan mengubah citra dirinya sebagai “aset dalam krisis.” Halla Diyab, mantan rekan Asma, setuju bahwa dia melangkah ke pusat perhatian “untuk mengalihkan perhatian dunia dari politik kotor Assad.”

Sejak pertengahan tahun 2000-an—dengan Bushar menghabiskan lebih banyak waktu di Dubai dan, dengan demikian, tak lagi menghalanginya—Asma memulai amal, berusaha untuk menyelenggarakan festival seni untuk Damaskus, dan mendorong anak-anak untuk menjadi warga negara yang aktif. Statusnya berkembang.

Dan ketika Vogue Magazine datang menelepon pada akhir tahun 2010, dia dicap sebagai ‘A Rose in the Desert’ (bunga mawar di padang pasir). Pemilihan waktunya tidak mungkin lebih buruk lagi; artikel itu diterbitkan pada bulan yang sama saat Kebangkitan Arab tiba di Suriah.

Ketika pemberontakan mulai terjadi, dan pasukan pemerintah melawan dengan lebih banyak kekerasan, banyak yang bertanya-tanya di mana posisi Asma. Untuk waktu yang lama, dia menghilang dari mata publik. Email yang diretas yang dipublikasikan pada tahun 2012 mengatakan bahwa dia menghabiskan waktu ini dengan belanja online—Uni Eropa menjatuhinya sanksi dengan membekukan asetnya dan memberlakukan larangan perjalanan pada pasangan tersebut selama waktu ini—sementara suaminya tampaknya memiliki korespondensi genit dengan para ajudan wanita.

Namun tahun itu, Asma akhirnya muncul kembali di panggung dunia—dan dengan mendapatkan keuntungan, juga. Dia membuat pidato dan terlihat menghibur para ibu dari para prajurit yang gugur bertempur untuk Bashar; dia memberikan wawancara dengan televisi Rusia, berbicara tentang suaminya. Dan Asma pada akhirnya, yang sempat disengketakan sebagai ibu negara—dikonfirmasi, sekali dan untuk selamanya, setelah kematian Anisa di awal tahun 2016.

Ini bukan perjalanan yang mudah. Asma yang merupakan ibu dari tiga anak diancam akan dicabut kewarganegaraan Inggrisnya tahun lalu sebagai akibat dari kebrutalan rezim tersebut, yang telah menyaksikan kematian sekitar 400 ribu warga Suriah.

Namun ia berkomunikasi dengan dunia melalui Instagram, di mana ia memiliki hampir 300 ribu pengikut: kekuatan ampuh yang mengatakan kepada dunia bahwa Suriah masih terikat dengan Assad.

Beberapa hari yang lalu, dia mengunggah foto dirinya setelah menjalani perawatan kemoterapi untuk kanker payudara—walau dia ditawari perawatan di Rusia, dia memilih untuk mencari bantuan medis di rumah sakit militer di Damaskus sebagai gantinya.

Kebanyakan orang yang kami ajak bicara dengan enggan percaya bahwa rezim tersebut akan bertahan hidup dalam waktu dekat. Namun bagaimana cara istri Bashar—yang lahir dan besar di London Barat dengan rancangan tentang liberalisasi negara—dapat mengubahnya, masih harus dilihat.

Keterangan foto utama: Mantan Presiden Suriah, Hafez al-Assad, dan keluarganya di Damas, Suriah, tahun 1974. (Foto: BBC/Alexandra De Borchgrave)

 

Keluarga Assad: Di Balik Dinasti Berbahaya Suriah

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top