Hubungan China dan Taiwan
Asia

Lini Masa: Hubungan China dan Taiwan Sejak Tahun 1949

Demonstran pro-kemerdekaan meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi pada Oktober 2018 di Taipei. (Foto: The Associated Press/Chiang Ying-ying)
Berita Internasional >> Lini Masa: Hubungan China dan Taiwan Sejak Tahun 1949

Dalam memperingati 40 tahun sejak China menawarkan perdamaian dengan Taiwan, Presiden China Xi Jinping pada pidatonya mengatakan bahwa China dan Taiwan akan bersatu. Karena itu, penting rasanya untuk menilik tanggal-tanggal penting yang membentuk hubungan antara Taipei dan Beijing selama tujuh dekade terakhir. Berikut lini masa hubungan China dan Taiwan sejak tahun 1949.

Baca juga: Mengapa China Menunggu Tahun 2030 untuk Merebut Taiwan

Oleh: Al Jazeera

Presiden China Xi Jinping memperingatkan pada Rabu (2/1) bahwa penyatuan China dan Taiwan “tidak bisa dihindari”, di mana penggunaan kekuatan militer masih menjadi pilihan.

Xi membuat komentar tersebut selama pidatonya yang menandai peringatan 40 tahun pesan yang dikirim ke Taiwan, ketika China menyatakan diakhirinya pengeboman artileri rutin ke pulau-pulau lepas pantai yang dikendalikan Taiwan, dan menawarkan untuk membuka komunikasi antara kedua pihak.

“Pesan untuk Rekan-Rekan Seperjuangan di Taiwan” pada tahun 1979 akhirnya mengarah pada mencairnya hubungan dengan pulau yang diperintah sendiri itu.

Berikut adalah tanggal-tanggal penting dalam hubungan China dan Taiwan.

1949: Pemisahan

Komunis Mao Zedong mengambil alih kekuasaan di Beijing pada Oktober 1949, setelah mengalahkan nasionalis Kuomintang (KMT) Chiang Kai-shek dalam perang saudara.

KMT melarikan diri ke pulau Taiwan dan membentuk pemerintahan mereka sendiri di Taipei pada bulan Desember, memutuskan kontak dengan China daratan.

Pada tahun 1950, Taiwan menjadi sekutu Amerika Serikat (AS), yang berperang dengan Komunis China di Korea. AS menyebarkan armada di Selat Taiwan di antara Taiwan dan China, untuk melindungi sekutunya dari kemungkinan serangan daratan China.

1971: Beijing mendapat persetujuan PBB

Pada Oktober 1971, Beijing mengambil alih kursi China di PBB, yang sebelumnya dipegang oleh Taipei.

Pada tahun 1979, AS membangun hubungan diplomatik dengan China, tetapi juga berkomitmen untuk membantu pertahanan Taiwan. AS mendukung kebijakan “satu China”, dengan Beijing sebagai pemerintah yang sah, tetapi menjalin hubungan perdagangan dan militer dengan Taipei.

1987-2016: rekonsiliasi yang rapuh

Pada akhir tahun 1987, penduduk Taiwan untuk pertama kalinya diizinkan mengunjungi China, memungkinkan keluarga untuk bersatu kembali dan mengarah pada ledakan dalam perdagangan.

Pada tahun 1991, Taiwan mencabut status keadaan darurat, dan secara sepihak mengakhiri keadaan perang dengan China. Pembicaraan langsung pertama antara kedua belah pihak diadakan di Singapura dua tahun kemudian.

Namun pada tahun 1995, Beijing menunda pembicaraan sebagai protes atas kunjungan Presiden Taiwan Lee Teng-hui ke AS.

Pada tahun 1996, China menguji coba rudal ke Taiwan untuk menghalangi para pemilih dalam pemilihan presiden demokratis pertama di pulau itu.

Pada pemilu tahun 2000, KMT kehilangan kekuasaan di Taiwan untuk pertama kalinya, dan selama lima tahun berikutnya hubungan perdagangan antara kedua belah pihak membaik, pertama melalui laut dan kemudian melalui udara.

Pada bulan Maret 2005, Beijing memberlakukan undang-undang yang menjadikan pemisahan diri oleh Taiwan ilegal dengan risiko aksi militer. Pada bulan April, ada pertemuan pertama sejak tahun 1949 oleh para pemimpin KMT dan Partai Komunis China.

Pada tahun 2008, Taiwan dan China melanjutkan pembicaraan tingkat tinggi, setelah Ma Ying-jeou dari KMT terpilih sebagai presiden pada platform yang ramah Beijing.

Pada tahun 2010, mereka menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Sama Ekonomi; pada tahun 2014, mereka mengadakan pembicaraan antar-pemerintah sejak pemisahan.

Pada tahun 2015, para pemimpin kedua belah pihak bertemu di Singapura, berjabat tangan, dan melambai dengan antusias ke kerumunan pers yang besar, tetapi menahan diri dari pernyataan bersama.

Tsai Ing-wen pada upacara pelantikannya di Taipei pada tanggal 20 Mei 2016. (Foto: Tyrone Siu/Reuters)

2016: Berakhirnya hubungan baik

Pada Januari 2016, kandidat oposisi Tsai Ing-wen—dari Partai Progresif Demokratik tradisional pro-kemerdekaan—memenangkan pemilu untuk menjadi presiden wanita pertama Taiwan.

Dalam pidato kemenangannya, Tsai mengatakan, hasil menunjukkan bahwa demokrasi telah tertanam di dalam rakyat Taiwan, dan bahwa ia akan berusaha untuk menjaga stabilitas dengan China.

“Kami akan berupaya mempertahankan status quo untuk perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan untuk memberikan manfaat dan kesejahteraan terbesar bagi rakyat Taiwan,” kata Tsai.

Pada hari pelantikan Tsai pada bulan Mei, China memperingatkan bahwa perdamaian akan “mustahil” jika Tsai membuat langkah apa pun yang secara resmi memisahkan diri.

Pada bulan Juni, China menghentikan semua komunikasi dengan Taiwan, setelah pemerintah baru pulau itu gagal mengakui konsep bahwa hanya ada “satu China”.

Pada bulan Desember 2016, presiden terpilih Donald Trump mengakhiri kebijakan diplomatik AS selama beberapa dekade dengan berbicara langsung, melalui telepon, dengan Tsai.

Baca juga: China ialah Pemenang Utama dalam Pemilihan Umum Taiwan

Pada tahun 2017, pemerintahan Trump menyetujui penjualan senjata senilai $1,4 miliar ke Taiwan, yang memicu kemarahan dari Beijing.

Pada Maret 2018, AS memberlakukan hukum yang memperkuat hubungan dengan Taiwan, yang sekali lagi membuat marah China.

Pada September 2018, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan suku cadang untuk jet tempur F-16 dan pesawat militer lainnya senilai $330 juta, yang menarik peringatan dari China bahwa langkah itu membahayakan kerja sama antara Beijing dan Washington.

Keterangan foto utama: Demonstran pro-kemerdekaan meneriakkan slogan-slogan selama demonstrasi pada Oktober 2018 di Taipei. (Foto: The Associated Press/Chiang Ying-ying)

Lini Masa: Hubungan China dan Taiwan Sejak Tahun 1949

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top