Jokowi
Berita Politik Indonesia

Manisnya Gula Tak Mampu Maniskan Kampanye Pilpres Jokowi

Unjuk rasa petani gula. (Foto: via Bloomberg Quint)
Berita Internasional >> Manisnya Gula Tak Mampu Maniskan Kampanye Pilpres Jokowi

Presiden Jokowi berupaya meluncurkan kebijakan untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok seperti gula dan beras, namun hal itu menimbulkan kemarahan dari sektor pertanian. Petani domestik menghadapi kerugian sekitar Rp2 triliun seiring harga gula telah jatuh tujuh persen selama setahun terakhir, menurut Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Gerindra pun dengan cepat mengedepankan isu politik dan mempertanyakan keseriusan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan mencapai swasembada pangan.

Baca juga: Pertumbuhan Indonesia Melambat, Hambatan Lain Jokowi Jelang Pilpres 2019

Oleh: Yoga Rusmana dan Eko Listiyorini (Bloomberg Quint)

Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi)—yang sedang mengejar masa jabatan lima tahun lagi di Pilpres 2019—telah membuka lebar pintu impor gula untuk menstabilkan harga domestik. Ini berhasil, tetapi kini dia menghadapi reaksi keras dari petani lokal, yang merupakan sumber suara utama dalam pemilu.

Dengan pemilu yang akan dilakukan pada bulan April 2019, ekonomi Indonesia telah berkembang dengan laju sekitar lima persen di bawah pemerintahan Jokowi. Walau pemerintahannya gagal mencapai target tujuh persennya, namun tingkat pengangguran negara itu tercatat sekitar 5,3 persen, menurun ke level terendah dalam dua dekade pada Februari.

Presiden itu juga telah dipuji karena program infrastruktur besar-besaran dan agenda reformasi yang membantu mengamankan peningkatan peringkat pemerintah dan investasi yang sangat dibutuhkan.

Namun politik Indonesia rumit, dan Jokowi terlibat dalam tindakan penyeimbangan yang rumit. Ia meluncurkan serangkaian kebijakan untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok sehari-hari seperti gula dan beras, dan meningkatkan pertumbuhan upah yang stagnan, yang membebani kelas menengah Indonesia yang semakin meluas.

Namun dengan melakukan hal itu, ia telah menimbulkan kemarahan dari lobi pertanian yang kuat di negara itu, yang menguntungkan Prabowo Subianto, seorang pebisnis Indonesia dan mantan komandan pasukan khusus yang memimpin partai oposisi Gerindra.

“Jokowi harus memastikan bahwa harga komoditas terjangkau bagi konsumen berpendapatan rendah,” kata Achmad Sukarsono, seorang analis di Control Risks yang berbasis di Singapura. “Pada saat yang sama, Jokowi harus menunjukkan bahwa dia peduli dengan nasib petani lokal yang produknya gagal bersaing dengan barang-barang impor ini.”

Petani Gula

Ratusan petani tebu berkumpul di depan istana presiden di Jakarta pada tanggal 16-17 Oktober 2018, dan menyerukan kepada pemerintah untuk menghentikan impor dan memastikan bahwa gula halus untuk keperluan industri tidak dijual di pasar ritel. Para pengunjuk rasa juga mendesak pemecatan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Petani domestik menghadapi kerugian sekitar Rp2 triliun ($137 juta) seiring harga gula telah jatuh tujuh persen selama setahun terakhir, menurut Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Selain itu, rencana pemerintah terkait Bulog—perusahaan bahan pangan negara—untuk membeli gula lokal dan mendukung kepentingan pertanian domestik tidak berjalan sesuai rencana, kata kelompok industri tersebut.

“Mata pencaharian kami bergantung pada gula,” kata Achmad, seorang petani berusia 70 tahun dari Mojokerto, provinsi Jawa Timur, dalam sebuah wawancara di Jakarta. “Saya punya 40 pekerja, sebagian adalah perempuan tua. Bagaimana mereka dapat hidup jika saya tidak menanam tebu?”

Dia memenuhi kebutuhannya dengan menyewakan sebagian tanahnya dan mencari pinjaman.

Achmad mengatakan bahwa ia harus menjual gula dengan harga tertinggi pemerintah sebesar Rp9.700 per kilogram, yang harganya di bawah biaya produksi yakni Rp10.500. Petani yang dikelola oleh pabrik swasta bahkan mendapatkan harga yang lebih rendah sebesar Rp8.300 per kilogram untuk gula mereka, kata Soemitro Samadikoen, ketua APTRI.

Impor gula Indonesia telah meningkat hampir dua kali lipat dalam dekade terakhir, karena pertumbuhan ekonomi telah mendorong perluasan konsumsi pangan di negara keempat terbesar di dunia tersebut. Indonesia mengambil alih posisi China sebagai pengimpor gula terbesar di musim 2016/2017, dan merupakan konsumen terbesar minyak sawit dan pembeli gandum terbesar kedua.

Izin impor diatur oleh pemerintah. Pemanis untuk industri makanan dipasok oleh penyuling yang memproses impor gula mentah menjadi gula putih halus. Konsumsi rumah tangga gula dipasok oleh pabrik lain yang menghancurkan pasar tebu domestik, yang juga hancur dengan adanya impor pemerintah.

Impor gula total Indonesia dapat turun sekitar empat persen dalam setahun hingga April 2019 hingga 4,25 juta metrik ton dari tahun lalu, menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS). Namun, pembelian berbagai varietas mentah yang digunakan oleh rumah tangga dapat naik 22 persen pada tahun 2018 menjadi 1,1 juta ton dari tahun lalu, kata Oke Nurwan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, dalam pesan teks. Negara biasanya mengimpor gula dari Thailand.

Meskipun kebijakan Jokowi ditentang oleh para petani, namun kebijakan ini berhasil mengendalikan harga. Harga gula lokal telah jatuh sekitar enam persen menjadi 11.950 rupiah per kilogram tahun ini, menurut data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS Nasional) yang dikelola oleh bank sentral. Indeks harga konsumen turun ke level terendah dalam dua tahun pada bulan September, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Partai oposisi Gerindra dengan cepat mengedepankan isu politik dari peningkatan impor gula ini, dengan mempertanyakan keseriusan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan mencapai swasembada pangan, menurut sebuah unggahan di halaman Facebook-nya. Indonesia juga mengimpor produk makanan lainnya, mulai dari beras hingga kedelai dan garam.

Baca juga: Opini: Tol Gratis Suramadu, Haruskah Dikaitkan dengan Pilpres 2019?

Bulog—yang mendapatkan mandat pada bulan Juli untuk menyerap 600 ribu ton gula lokal—sejak saat itu hanya membeli sepertiga dari target itu, menurut Direktur Pengadaan Bachtiar pada tanggal 24 Oktober 2018. Perusahaan tersebut hanya dapat membeli 500 ribu ton hingga April 2019. Mereka memiliki sekitar 400 ribu ton gula yang ditimbun pada bulan lalu, katanya.

Walau pembelian melambat, Bulog akan terus membeli gula lokal, kata Bachtiar. Terdapat sekitar 100 ribu ton gula putih yang dimiliki oleh petani di gudang, karena Bulog tidak ingin membelinya, kata Samadikoen, asosiasi petani.

Kualitas yang buruk adalah alasan yang paling mungkin mengapa pembelian oleh Bulog masih rendah, kata Hizkia Respatiadi, kepala penelitian di Pusat Studi Kebijakan Indonesia. “Jika Bulog bahkan tidak mau membelinya, bahkan dengan harga di bawahnya, maka tidak heran jika industri perdagangan menolak untuk membelinya juga.”

Keterangan foto utama: Unjuk rasa petani gula. (Foto: via Bloomberg Quint)

Manisnya Gula Tak Mampu Maniskan Kampanye Pilpres Jokowi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top