Militer AS Khawatirkan Ancaman Stasiun Luar Angkasa China di Argentina
Global

Militer AS Khawatirkan Ancaman Stasiun Luar Angkasa China di Argentina

Antena utama stasiun darat luar angkasa China di Provinsi Neuquén, Argentina. (Foto: Argentina Presidency of the Nation)
Berita Internasional >> Militer AS Khawatirkan Ancaman Stasiun Luar Angkasa China di Argentina

Militer AS telah mengutarakan kekhawatiran terhadap ancaman dari stasiun luar angkasa China di Argentina. Mliter AS khawatir bahwa fasilitas pengawasan yang berbentuk piringan besar itu dapat digunakan untuk tujuan lain: mengumpulkan informasi tentang posisi dan aktivitas satelit militer AS. Namun China bersikeras bahwa tujuan dari pembangunan fasilitas ini adalah untuk eksplorasi dan observasi ruang angkasa yang damai. Misalnya, dikatakan fasilitas ini telah memainkan peran penting dalam pendaratan pesawat ruang angkasa China di sisi gelap bulan pada bulan Januari.

Oleh: Lara Seligman (Foreign Policy)

Baca Juga: Pengakuan Seorang Jenderal: Mengapa Militer Venezuela Masih Dukung Maduro

Para pejabat senior pertahanan Amerika Serikat (AS) semakin khawatir bahwa militer China dapat memantau dan berpotensi menargetkan satelit AS dan sekutu dari stasiun darat luar angkasa baru di Belahan Barat, yang terletak di gurun Patagonia.

Dalam kesaksian yang membahas berbagai hal sebelum Kongres AS pada 7 Februari 2019, Laksamana Craig Faller—Komandan Komando Selatan AS yang baru naik pangkat—memperingatkan anggota parlemen tentang percepatan ekspansi China ke Amerika Latin.

China tidak hanya mendukung rezim otoriter di Venezuela, Kuba, dan Nikaragua, dan menerapkan praktik pemberian pinjaman predatori di seluruh kawasan, tetapi juga berinvestasi dalam infrastruktur utama seperti fasilitas pelacakan ‘ruang angkasa dalam’ di Argentina, Faller mengatakan kepada anggota parlemen.

Para pejabat militer dan intelijen AS telah menyaksikan perkembangan fasilitas khusus ini dengan kecemasan yang semakin meningkat sejak awal. Selama beberapa tahun terakhir, menara pengawas setinggi 16 lantai yang kuat tersebut telah dibangun di kompleks terpencil seluas 200 hektar di Provinsi Neuquén.

Tetapi stasiun luar angkasa tersebut—yang dikelilingi oleh pagar kawat berduri setinggi delapan kaki—beroperasi dengan sedikit pengawasan dari otoritas Argentina, kata para ahli. Stasiun darat itu dilaporkan mulai beroperasi pada April 2018.

China bersikeras bahwa tujuan dari pembangunan fasilitas ini adalah untuk eksplorasi dan observasi ruang angkasa yang damai. Misalnya, dikatakan fasilitas ini telah memainkan peran penting dalam pendaratan pesawat ruang angkasa China di sisi gelap bulan pada bulan Januari.

Brian Weeden—pakar kebijakan luar angkasa dan keamanan di Secure World Foundation—mencatat bahwa Amerika Serikat juga telah membangun menara pengawasan yang mirip dengan menara pengawas di Patagonia di seluruh dunia.

“Kecuali ada sesuatu yang berbeda secara khusus tentang ini, (Amerika) seperti maling yang berteriak maling,” katanya. “Bagi saya, tidak ada bukti spesifik selain bahwa ini buatan China, yang menandakan bahwa itu (dimaksudkan untuk tujuan) buruk.”

Baca Juga: Pertemuan Menteri Pertahanan Soroti Hubungan Militer Indonesia-Rusia

Khawatir Penutupan Pemerintah, Pentagon Luncurkan Satelit Mata-Mata

Sebuah roket Delta IV yang membawa satelit mata-mata Amerika Serikat lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California, Sabtu, 19 Januari 2019. (Foto: Associated Press/Matt Hartman)

Tetapi militer AS khawatir bahwa fasilitas pengawasan yang berbentuk piringan besar itu dapat digunakan untuk tujuan lain: mengumpulkan informasi tentang posisi dan aktivitas satelit militer AS.

“Beijing bisa melanggar ketentuan perjanjiannya dengan Argentina di mana Beijing hanya boleh melakukan kegiatan sipil, dan mungkin mereka memiliki kemampuan untuk memantau dan berpotensi menargetkan kegiatan ruang angkasa AS, sekutu, dan mitra,” kata Faller, yang sebelumnya bertugas di Pentagon sebagai ajudan militer utama untuk mantan Menteri Pertahanan AS James Mattis, mengatakan dalam kesaksiannya kepada Komite Layanan Bersenjata Senat.

Baik China maupun Rusia memiliki banyak cara untuk mengerahkan atau menonaktifkan satelit sipil dan militer AS dan sekutu, yang menyediakan layanan navigasi, komunikasi, serta komando dan kontrol yang kritis di seluruh dunia, menurut sebuah laporan oleh Pusat Intelijen Udara dan Antariksa Nasional Angkatan Udara AS.

China memiliki unit militer yang telah memulai pelatihan dengan rudal anti-satelit seperti yang digunakan dalam uji coba pada tahun 2007 yang menghancurkan satelit cuaca China, menghasilkan lebih dari 3.000 keping puing berbahaya yang masih mengorbit Bumi dan membahayakan aset ruang angkasa di dekatnya.

Selain rudal anti-satelit, kedua negara memiliki kemampuan untuk menjebak AS dan satelit-satelit sekutu, seperti mengendalikan pesawat militer AS tak berawak, menurut laporan itu. Laser yang terbawa udara juga dapat digunakan untuk membutakan citra satelit dan sensor lainnya secara sementara atau permanen.

Serangan siber pada infrastruktur utama—seperti stasiun ruang angkasa berbasis darat—juga menimbulkan ancaman.

Komunitas intelijen AS juga percaya bahwa kemampuan luar angkasa China dan Rusia berisiko bagi pasukan AS, bahkan seiring kedua negara itu mengupayakan perjanjian internasional tentang ruang angkasa non-bersenjata.

Selain rudal militer China operasional yang ditujukan untuk menargetkan satelit di orbit rendah Bumi, China kemungkinan bermaksud untuk membuat senjata tambahan yang mampu menghancurkan satelit hingga orbit “geosynchronous” Bumi, kata Direktur Intelijen Nasional Dan Coats dalam kesaksiannya pada 29 Januari 2019 di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat.

“Proposal China dan Rusia untuk perjanjian internasional tentang ruang angkasa non-bersenjata tidak mencakup banyak masalah yang terkait dengan senjata (anti-satelit) yang mereka kembangkan dan gunakan, yang memungkinkan mereka mengejar kemampuan perang ruang sambil mempertahankan posisi ruang itu harus tetap bebas senjata,” kata Coats, sesuai dengan kesaksian tertulisnya.

Para ahli mencatat bahwa klaim Beijing bahwa mereka akan menggunakan fasilitas ini hanya untuk tujuan damai tidak dapat dianggap sebagai nilai nominal, karena badan antariksa nasional China terkait erat dengan Tentara Pembebasan Rakyat China.

Frank Rose—yang menjabat sebagai Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk kontrol senjata dari tahun 2014 hingga 2017 dan saat ini adalah rekan senior di Brookings Institution—mengatakan bahwa lokasi geografis stasiun baru itu menyediakan cakupan ruang kritis China di belahan bumi Selatan dan Barat.

“Ini pertanyaan untuk menutupi orbit tertentu. Ada alasan mengapa AS memiliki stasiun pelacakan satelit di seluruh dunia—ini memberi Anda jangkauan global,” kata Rose. “Anda tidak bisa mendapatkan jangkauan global dari China.”

Baca Juga: Tak Sebutkan China dalam Pidato Kenegaraan, Trump Tunjukkan Banyak Hal

China Segera Luncurkan Satelit untuk Mengontrol Laut China Selatan

China Segera Luncurkan Satelit untuk Mengontrol Laut China Selatan. (Foto: Reuters)

Evan Ellis—seorang profesor studi Amerika Latin di Institut Studi Strategis di Army War College AS—mengatakan bahwa tujuan utama stasiun darat sebenarnya mungkin untuk penelitian damai. Bentuk umum dan ukuran piringan tersebut “konsisten dengan apa yang dikatakan pihak China,” katanya, mencatat bahwa lokasi itu “memang masuk akal” karena para ilmuwan membutuhkan fasilitas yang diposisikan di semua sisi Bumi untuk memperoleh kedalaman data dalam pengamatan ruang angkasa.

Personel yang mengoperasikan fasilitas itu adalah petugas aktif atau mantan militer China, tetapi itu “tidak secara inheren (memiliki tujuan) buruk”, mengingat seberapa dekat tentara terikat dengan program luar angkasa China, kata Ellis.

Namun, Ellis mencatat bahwa fasilitas itu juga dapat digunakan untuk mengumpulkan tipe data lainnya, terutama pada berbagai satelit komersial dan militer yang sensitif yang sering melewati perbatasan.

Yang juga mengkhawatirkan adalah, bahwa pemerintah Argentina “benar-benar tidak memiliki akses fisik” terhadap kompleks itu, ia menambahkan, dan mencatat bahwa dibutuhkan waktu enam jam perjalanan dari fasilitas pemerintah terdekat.

Rose memuji pemerintahan Trump karena meningkatkan fokusnya pada ruang angkasa, termasuk rencana untuk membangun kembali Komando Luar Angkasa AS, tetapi mengatakan bahwa satu kekurangan dalam pendekatan mereka adalah kurangnya penjangkauan diplomatik kepada China tentang masalah ini.

Pemerintahan Obama pada tahun 2016 mengadakan dua putaran perundingan keamanan ruang angkasa dengan China, satu di Washington dan satu di Beijing, katanya, mencatat partisipasi Departemen Luar Negeri dan Pertahanan. Tetapi pemerintahan Trump belum melanjutkan pembicaraan ini, katanya.

“Saya akan memberi pujian pada pemerintah, mereka fokus pada ancaman terhadap sistem ruang angkasa kami, dan saya memberi mereka kredit karena memusatkan perhatian publik,” kata Rose. “Namun itu bukan hanya solusi militer untuk masalah ini—ya kita harus melindungi sistem kita di luar angkasa, ya kita harus siap untuk menanggapi serangan, tetapi harus ada peran untuk diplomasi.”

Lara Seligman adalah staf penulis di Foreign Policy.

Keterangan foto utama: Antena utama stasiun darat luar angkasa China di Provinsi Neuquén, Argentina. (Foto: Argentina Presidency of the Nation) 

Militer AS Khawatirkan Ancaman Stasiun Luar Angkasa China di Argentina

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top