Berita Politik Indonesia

MRT Hampir Selesai, Akankah Elektabilitas Jokowi Meningkat?

Koridor pertama MRT Jakarta senilai $1,1 miliar menghubungkan bundaran Hotel Indonesia di pusat kota ke Lebak Bulus di selatan kota. (Foto: Kyodo)
Berita Internasional >> MRT Hampir Selesai, Akankah Elektabilitas Jokowi Meningkat?

Mass Rapid Transit (MRT) yang telah lama ditunggu-tunggu, hampir selesai dan secara resmi akan dibuka untuk umum pada minggu keempat bulan Maret. Jokowi pun telah menggunakan kesuksesannya dalam menghidupkan MRT Jakarta dalam kampanye pemilihannya kembali menjelang Pilpres bulan April mendatang. Para analis mengatakan bahwa Jokowi berhak menggunakan MRT untuk menyoroti pencapaian infrastrukturnya. Namun akankah elektabilitas Jokowi meningkat dengan rampungnya proyek MRT?

Baca juga: Akankah MRT Indonesia Akan Memiliki Gerbong Khusus Wanita?

Oleh: Resty Woro Yuniar (South China Morning Post)

Maya Rizki sudah muak dengan perjalanan hariannya di Jakarta, yang bisa memakan waktu hingga lima jam. Ibu dua anak ini tinggal di bagian Jakarta Timur dan bekerja di Jakarta Selatan, berjarak sekitar 15 kilometer. Setiap hari, Maya dan suaminya mengantar anak-anak mereka ke sekolah di sepanjang jalan ke kantor masing-masing. Untuk menghindari jam sibuk pagi hari, dia mencoba berangkat dari rumah pukul 5 pagi—sebuah ritual yang juga dilakukan banyak warga Jakarta.

“Jika saya pergi setelah pukul 6 pagi, saya akan terjebak macet selama 1,5 atau dua jam,” kata pegawai negeri berusia 42 tahun itu. “Selama jam kerja, setelah jam kerja, jika saya meninggalkan kantor saya setelah pukul 5 sore, akan memakan waktu dua hingga tiga jam untuk sampai di rumah. Kadang saya baru sampai di rumah pukul 9 malam.”

Tetapi ada berita baik untuk Maya dan 30 juta warga Jakarta lainnya, karena Jakarta akan meluncurkan Mass Rapid Transit (MRT) yang telah lama ditunggu-tunggu, yang secara resmi akan dibuka untuk umum pada minggu keempat bulan Maret, menurut PT MRT Jakarta―perusahaan yang didirikan untuk membangun dan memelihara sistem kereta bawah tanah itu.

Koridor pertama dari sistem senilai Rp16 triliun itu panjangnya 16 kilometer, menghubungkan bundaran Hotel Indonesia di pusat kota ke Lebak Bulus di Jakarta Selatan. Ada 13 stasiun dan rutenya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit total dalam uji coba baru-baru ini untuk para diplomat Eropa—sebuah perjalanan yang sangat cepat dengan standar kota metropolitan yang macet ini.

MRT akan beroperasi dari pukul 5 pagi hingga tengah malam setiap hari, dan MRT Jakarta dapat menampung hingga 130.000 penumpang setiap hari. Kereta tersebut akan berjalan setiap 10 menit, dan setiap lima menit selama jam sibuk, dengan tarif yang diusulkan mulai dari Rp8.500 untuk 10 kilometer pertama hingga Rp12.800 untuk semua 13 stasiun.

“Kami telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur utama, semuanya siap dibuka untuk publik,” kata Muhammad Kamaluddin, Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan MRT Jakarta. “Uji coba kami difokuskan pada menjaga keamanan perjalanan dan kereta itu sendiri. Kami optimis bahwa kami dapat memasang fasilitas pendukung sebelum uji coba publik gratis pada tanggal 12 Maret.”

Mereka yang ingin mencoba MRT sebelum peluncuran resmi perlu berhati-hati tentang kurangnya fasilitas pendukung. Eskalator dan lift yang tidak berfungsi membuat penumpang harus menaiki tangga untuk mencapai peron dan kereta api, yang masih panas karena kurangnya AC.

Tapi Maya—yang baru saja naik MRT—sudah membuktikannya. “Sangat menyenangkan mencoba MRT… Jakarta akhirnya berada di level kota metropolitan lainnya,” katanya. “Saya penasaran dengan MRT sejak pemerintah mengumumkan rencana pembangunannya. Menurut saya memiliki MRT akan membantu banyak orang di Jakarta, yang berharap untuk naik kereta bawah tanah untuk mengurangi kemacetan jalan.”

Kemacetan mengelilingi situs konstruksi MRT Jakarta. (Foto: Rony Zakaria/Bloomberg)

Warga Jakarta lainnya juga antusias dengan proyek ini.

“Saya sangat senang dengan adanya MRT di Jakarta. Sudah saatnya Indonesia memiliki kereta bawah tanah, ini adalah perkembangan yang sangat penting bagi negara ini,” kata Stephane De Loecker, Duta Besar Belgia untuk Indonesia. “Jutaan orang di kota-kota lain di dunia sudah menggunakan kereta bawah tanah untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Membuat orang terjebak dalam kemacetan lalu lintas itu berakibat buruk secara ekonomi, karena Anda kehilangan banyak uang. Saya tak sabar untuk menggunakan MRT begitu sudah beroperasi sepenuhnya.”

Tapi perjalanan Indonesia untuk mendapatkan MRT tidak semulus yang dibayangkan. Proyek ini telah terbengkalai selama 26 tahun karena masalah pembebasan lahan dan kendala pendanaan, sebelum konstruksi dilanjutkan di bawah Gubernur Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2013. Jokowi—yang sekarang menjadi Presiden Indonesia—telah dipuji oleh banyak orang karena keberaniannya dalam memangkas birokrasi untuk memulai konstruksi kereta bawah tanah ini.

Sebagai contoh, ia mengeluarkan kebijakan khusus untuk mempercepat pengadaan tanah di area sepanjang koridor MRT pertama, yang sulit karena masalah seperti harga tanah yang mahal dan kepemilikan tanah yang tidak jelas.

“Ketika saya menjadi Gubernur Jakarta, saya diberitahu mengapa (konstruksi MRT) terbengkalai selama 26 tahun. Presentasi mereka tentang proyek selalu tentang berapa banyak untung dan rugi yang akan kita hasilkan,” kata Jokowi baru-baru ini kepada para wartawan. “Saya diberi tahu bahwa pemerintah Jakarta perlu mensubsidi sekitar Rp3 triliun setiap tahun. Jika kita tidak memulai (konstruksi) MRT pada saat itu, itu tidak akan pernah dibangun karena mereka akan selalu menghitung kerugiannya… yang saya pikir subsidi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan kerugian negara sebesar Rp65 triliun setiap tahun karena kemacetan jalan.”

Untuk mendanai proyek ini, Indonesia mendapatkan pinjaman lunak dari Badan Kerjasama Internasional Jepang, di mana pemerintah Jakarta akan membayar 51 persen dari pembayaran pinjaman itu, sementara pemerintah pusat akan menanggung sisanya.

Baca juga: Benarkah Pembangunan MRT Jokowi Sudah di Jalur yang Tepat?

Badan Jepang itu juga mendanai tahap kedua MRT, rute 8 kilometer yang menghubungkan Jakarta Pusat ke Jakarta Barat yang akan menelan biaya Rp25 triliun dan dijadwalkan akan berjalan pada tahun 2024. Kota ini bertujuan untuk membangun lima koridor MRT dengan total panjang 300 kilometer―termasuk jalur memutar dalam dan luar yang akan menghubungkan Jakarta dan kota-kota satelitnya―pada tahun 2030.

“Pinjaman ini 100 persen merupakan pinjaman pemerintah-ke-pemerintah antara Jepang dan Indonesia. Untuk tahap kedua, kami juga didanai oleh Jepang. Kami masih mencari investor untuk tahap ketiga,” kata Kamaluddin dari PT MRT Jakarta. “Kami akan mengundang investasi dari semua negara yang memiliki kapasitas untuk pinjaman, dan kami akan menyelesaikannya sesegera mungkin.”

Perusahaan ini bertujuan untuk memulai pengembangan koridor MRT ketiga tahun depan dan mulai beroperasi pada tahun 2025.

Jepang sekarang tengah mengusulkan kereta api berkecepatan tinggi antara Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur—kota terbesar kedua di Indonesia—dengan tujuan memangkas perjalanan selama 11 jam menjadi setengahnya. Proposal itu muncul setelah Jepang kalah dari China dalam upaya untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi antara Jakarta dan kota Bandung—sebuah pertikaian proksi antara dua negara yang berlomba untuk menjadi bagian dari penggerak infrastruktur Indonesia.

Jalur untuk kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer sedang berlangsung, meskipun saat ini terhenti di ruas  kilometer 6 dari jalan tol Jakarta-Cikampek karena tumpang tindih dengan pembangunan jalan layang. KCIC—perusahaan gabungan antara perusahaan China dan Indonesia—sedang berusaha untuk menyelesaikan proyek itu pada tahun 2021.

Pilpres 2019

Presiden Indonesia Joko Widodo (kanan), yang mencalonkan diri untuk periode kedua, memeluk calon presiden, Prabowo Subianto selama deklarasi perdamaian untuk kampanye pemilu di Monumen Nasional di Jakarta pada 23 September 2018. (Foto: AFP/Adek Berry)

“Hanya ada beberapa detail yang tersedia untuk saat ini, memang itu bukan shinkansen (kereta peluru Jepang), tidak ada kereta ekspres,” kata Masafumi Ishii, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, selama panel baru-baru ini yang diadakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club. “Kami berusaha memanfaatkan infrastruktur yang ada sebaik mungkin dan memperbaikinya dengan jumlah uang yang terbatas. Rincian akan muncul setelah (studi lebih lanjut).”

Sementara itu, Jokowi telah menggunakan kesuksesannya dalam menghidupkan MRT Jakarta dalam kampanye pemilihannya kembali menjelang Pilpres bulan April mendatang, di mana ia menghadapi pemimpin oposisi Prabowo Subianto. Para analis mengatakan bahwa Jokowi berhak menggunakan MRT untuk menyoroti pencapaian infrastrukturnya.

“Jokowi berani meluncurkan MRT selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta,” kata Djoko Setijowarno, seorang spesialis Masyarakat Transportasi Indonesia. “Pada tahun 2013, Jokowi bukan kandidat presiden dan dia benar-benar menargetkan MRT agar bisa beroperasi selama Asian Games tahun lalu… tapi dia ketinggalan target. Harapannya MRT akan beroperasi pada tahun pemilu ini.”

Selain MRT, akan ada juga Light Rail Transit (LRT) sepanjang 5,8 kilometer pada akhir bulan ini, yang akan menghubungkan Rawamangun di Jakarta Timur ke Kelapa Gading di Jakarta Utara. Berbeda dengan MRT, LRT belum mendapatkan izin dari pemerintah Jakarta untuk beroperasi, dan sedang menunggu rekomendasi dari kementerian transportasi negara pada stasiun dan depotnya.

Yang pasti, MRT dan LRT tidak akan secara otomatis menghilangkan kemacetan Jakarta jika masyarakat tidak memiliki keinginan untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. Kota ini masih perlu membangun sistem transportasi umum terintegrasi yang melibatkan kereta bawah tanah, metro, dan bus, seperti di megalopolis Asia lainnya seperti Tokyo dan Singapura.

Baca juga: Jokowi Bela Kebijakan Infrastruktur pada Debat Capres ke-2

MRT Jakarta mengatakan, bahwa beberapa stasiun MRT di koridor pertama akan dihubungkan dengan halte bus Transjakarta, dan stasiun metro LRT akan mewujudkan sistem transportasi umum terpadu yang disebut Jak Lingko.

“MRT masih menjadi bagian kecil dari sistem transportasi umum Jakarta; hanya mengandalkan MRT tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan jalan,” kata Setijowarno dari Masyarakat Transportasi Indonesia. “Penumpang cenderung masih naik taksi setelah turun dari MRT. Orang akan naik bus jika stasiun MRT terintegrasi dengan halte Transjakarta.”

Sebagai pendukung utama MRT, Jepang berharap kedatangan kereta bawah tanah ini akan mengubah pola perjalanan yang ada di Jakarta―dan mengharapkan Jakarta mendapat manfaat ekonomi dari proyek tersebut, terutama di daerah dekat stasiun MRT.

“Anda akan memiliki dampak positif dalam perekonomian dengan mengurangi kemacetan di Jakarta,” kata Ishii, Duta Besar Jepang. “Jika Anda mulai memiliki beberapa (cara) untuk membawa Anda lebih dekat ke tempat kerja Anda, Anda juga akan mengubah kemacetan di depan stasiun, yang membuat pembangunan area di dekat stasiun menjadi lebih mudah―yang membuat penggunaan stasiun lebih efisien. Saya benar-benar berharap MRT akan muncul sebagai nilai tambah besar bagi perekonomian Indonesia.”

Keterangan foto utama: Koridor pertama MRT Jakarta senilai $1,1 miliar menghubungkan bundaran Hotel Indonesia di pusat kota ke Lebak Bulus di selatan kota. (Foto: Kyodo)

MRT Hampir Selesai, Akankah Elektabilitas Jokowi Meningkat?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top