‘Pabrik’ Berita Palsu di Eropa: Cemari Pemilu AS hingga Indonesia
Global

‘Pabrik’ Berita Palsu di Eropa: Cemari Pemilu AS hingga Indonesia

Pada tahun 2016, lebih dari 100 situs web pro-Donald Trump dijalankan dari satu kota di Makedonia. (Foto: via Channel NewsAsia)
Berita Internasional >> ‘Pabrik’ Berita Palsu di Eropa: Cemari Pemilu AS hingga Indonesia

Pabrik berita palsu ikut berperan dalam kampanye pemilu, mulai dari pemilu Amerika Serikat, Malaysia, hingga Indonesia. Sebuah kota kecil di Eropa, Veles di Makedonia, bahkan dijuluki ibu kota berita palsu dunia. Pada tahun 2016, lebih dari 100 situs web pro-Trump dijalankan dari kota berpenduduk 44 ribu orang ini. Beberapa pabrik di Veles telah ditutup, yang menyebabkan pengangguran, dan kesempatan kerja langka. Berita palsu menjadi cara bagi kaum muda untuk mencari nafkah.

Oleh: Derrick A Paulo dan Daniel Heng (Channel NewsAsia)

Kartu namanya menyatakan, (bahwa dia adalah) ‘The man who helped Donald Trump win US elections’—”Orang yang membantu Donald Trump memenangkan pemilu Amerika Serikat (AS)”—dan Mirko Ceselkoski dengan bersemangat membacanya, mengatakan: “Sangat lucu bahwa saya menjadi terkenal karena ini.”

Entah itu ketenaran atau keburukan, pria berusia 38 tahun itu—yang menyebut dirinya seorang konsultan pemasaran internet—menemukan tiket emas tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga kota Veles di Makedonia, di mana ia memiliki beberapa murid.

Pada tahun 2016, lebih dari 100 situs web pro-Trump dijalankan dari kota berpenduduk 44 ribu orang ini, tetapi tidak dengan ketertarikan pada politik Amerika. Situs-situs itu menyebarkan berita palsu untuk mendapat keuntungan.

“Situs itu benar-benar menyesatkan atau 100 persen salah,” kenang editor media Buzzfeed News Craig Silverman, yang pertama mengetahui hal ini setelah ia dan seorang rekan memulai penyelidikan mereka musim panas itu.

Veles dikenal sebagai ibu kota berita palsu dunia. Dan sejak itu, industri berita palsu mulai membuat kehadiran mereka terasa dalam pemilu di tempat lain.

Itu termasuk Malaysia dan Indonesia, seperti yang ditemukan Channel NewsAsia dalam The Truth About Fake News, program spesial yang menunjukkan kepalsuan, dampaknya, dan isu-isunya di jantung masalah tersebut.

Baca Juga: Indonesia Darurat Hoax dan Berita Palsu

Kartu nama Mirko Ceselkoski. (Foto: via Channel NewsAsia)

Para Troll Makedonia

Dalam pemilu Amerika Serikat, troll Rusia mungkin telah memalsukan berita untuk pengaruh politik, tetapi di salah satu negara termiskin di Eropa, Makedonia—di mana rata-rata orang menghasilkan sekitar $580 sebulan—para troll memiliki motif yang lebih sederhana: Uang yang didapatkan dengan mudah.

Beberapa pabrik di Veles telah ditutup, menyebabkan pengangguran, dan kesempatan kerja langka. Berita palsu menjadi cara bagi kaum muda untuk mencari nafkah, dan Ceselkoski senang bahwa murid-muridnya yang “pekerja keras” mencapai kesuksesan.

“Ketika beberapa dari mereka mulai bereksperimen dengan politik AS, hasilnya sangat bagus,” katanya. “Banyak murid saya menghasilkan lebih dari $100.000 per bulan. Banyak siswa lain yang mendapatkan angka lumayan besar—lebih rendah tetapi masih hebat.”

Menurut “Sasha”—salah satu troll tersebut—bisnis itu dimulai dengan kelompok kecil, dan kemudian menyebar. “Kami bisa mendapatkan uang yang lumayan, katakanlah, mungkin lima kali lebih banyak dari yang biasanya kami dapatkan… jadi kami terus melakukan ini,” katanya.

“Mereka yang menghasilkan banyak uang… bisa membeli rumah akhir pekan dan mobil baru.”

Ada panduan empat langkah untuk membuat berita palsu ala Makedonia. Langkah satu: Bergabunglah dengan grup Facebook menggunakan profil palsu.

Veles, Makedonia. (Foto: via Channel NewsAsia)

“Penting untuk masuk ke grup yang tepat untuk mengunggah artikel Anda. Ada kelompok yang kurang berpengaruh dan kelompok yang lebih berpengaruh,” jelas Sasha.

Langkah dua hingga empat adalah: Temukan kisah yang sedang tren; tulis ulang dan sensasikan itu; unggah dan raih untung.

“Judulnya dipersingkat sehingga orang dapat membacanya sekilas,” tambahnya.

Namun, bukan hanya judul click bait yang menarik perhatian. Ceselkoski mengatakan: “Mereka percaya semua yang Anda tulis menguntungkan karena mereka mendukung Donald Trump, dan mereka ingin menyebarkan berita. Mereka ingin berbagi kabar baik.”

“Mereka menandai teman-teman mereka dan berdebat dengan mereka, dan ceritanya semakin menyebar.”

Kisah-kisah seperti itu tampaknya menyebar lebih cepat daripada berita yang asli, yang berbicara soal isu-isu yang sama, di lingkungan media, menurut yang dipercayai Silverman.

“Itu menunjukkan bahwa Facebook menguntungkan… konten yang paling keterlaluan dan paling palsu.”

Sasha (Foto: via Channel NewsAsia)

Mengapa Berita Palsu Sering Jadi Tren

Terdapat penelitian yang dapat menjelaskan mengapa orang berbagi berita palsu di media sosial.

“Ketika mereka mendapatkan ‘like‘ atau melihat konten yang mereka pikir mungkin mendapatkan banyak ‘like‘, mereka membagikannya… Anda melihat aktivitas di (pusat kesenangan) otak,” mengutip Asisten Komunikasi dan Informasi Sekolah Komunikasi dan Informasi Wee Kim Wee, Profesor Ben Turner.

“Jadi, jika ada seseorang yang mempertimbangkan untuk membagikan artikel atau tidak… ketika mereka memikirkan sesuatu yang akan membuat orang lain lebih menyukai mereka… itu akan membuat mereka lebih mungkin untuk berbagi informasi, terlepas dari apakah informasi itu benar atau tidak.”

Tim lain dari sekolah yang sama di Universitas Teknologi Nanyang, melakukan penelitian terkait dengan mempelajari apakah kualitas ulasan hotel secara online—dari seberapa baik itu ditulis—memengaruhi kepercayaan pengguna terhadap ulasan tersebut.

“Berdasarkan temuan kami, untuk hotel-hotel mewah, terlepas dari kualitas ulasan, orang lebih percaya pada ulasan positif,” kata Dr Alton Chua. “Untuk hotel murah, terlepas dari kualitas ulasan, orang lebih mempercayai ulasan negatif.”

Jadi implikasinya adalah ini: Bias konfirmasi bekerja dengan (berdasarkan pada) skenario ini, di mana orang-orang… mengharapkan ulasan positif (untuk hotel mewah), dan untuk hotel murah, mereka berharap membaca ulasan negatif.”

Bias konfirmasi berarti orang cenderung mencari informasi yang sesuai dengan apa yang sudah mereka yakini, bahkan jika itu ditulis dengan buruk oleh para troll.

Seperti yang dikatakan oleh rekan peneliti senior Carol Soon dari Institute of Policy Studies, “Manusia juga adalah makhluk yang nyaman. Ketika kita menemukan sepotong informasi yang menghebohkan—sesuatu yang bertentangan dengan pandangan dunia kita—itu dapat menyebabkan ketidaknyamanan mental.”

Di satu sisi kemudian, industri berita palsu adalah produk dari media sosial, di mana orang tertarik pada apa yang mereka setujui, dan algoritma media sosial mendorong mereka untuk bergabung dengan orang lain yang menyukai hal serupa. Ini dapat membuat ruang gema.

Carol Soon. (Foto: via Channel NewsAsia)

Seorang pengguna yang mengklik ‘like’ pada laman Breitbart News Network yang beraliran kanan jauh, misalnya, ditawari lebih banyak outlet berita yang memperkuat bias konservatif, menurut penjelasan Donara Barojan dari Laboratorium Riset Forensik Digital Dewan Atlantik di Latvia.

“Kita bisa melakukan hal yang sama dengan outlet berita hiper-liberal seperti Occupy Democrats, dan kita akan mendapatkan hasil yang sama persis. Saya menawarkan untuk menyukai Being Liberal, laman Hillary Clinton, dan banyak media hiper-liberal lainnya,” katanya.

“Orang-orang diradikalisasi dalam ruang gema mereka sendiri, dengan tidak terpapar dengan sudut pandang pihak lain. Ini merusak dialog antar-masyarakat dan semakin memperkuat perpecahan yang dapat dieksploitasi melalui disinformasi.”

Sulit, bagaimanapun, bagi para troll Makedonia untuk mempertimbangkan kerusakan yang disebabkan oleh berita palsu.

“Demokrasi adalah tentang kebebasan berbicara rakyat. Mereka mengatakan itu berita palsu, tapi saya pikir kita bebas untuk berbicara,” kata “Nikolai” yang lahir di Veles.

Sasha setuju, dan menambahkan sambil tertawa: “Anda tidak melakukan kejahatan apa pun; Anda menghasilkan uang… Jika seseorang tidak menyukainya, dia tidak akan melakukannya. Jika Anda menyukai gagasan itu, Anda harus melakukannya. Trump paling diuntungkan.”

Nikolai dan Sasha. (Foto: via Channel NewsAsia)

Operasi Informasi

Secara global, setelah terbongkarnya skandal Cambridge Analytica pada bulan Maret—ketika ada berita bahwa perusahaan konsultasi politik itu telah mencuri data dari 87 juta pengguna Facebook—telah muncul perasaan urgensi terhadap masalah tersebut.

Pengungkap fakta Christopher Wylie mengungkapkan bahwa selama pemilu AS, ada segmen populasi, misalnya, yang menanggapi pesan seperti, “musnahkan sesuatu yang berbahaya” di Washington D.C., atau gambar tembok.

Dengan menggunakan data tersebut, perusahaan dapat membangun profil pengguna dan menargetkan mereka dengan pesan pemilu khusus.

Christopher Wylie memperingatkan tentang Cambridge Analytica dan penyalahgunaannya atas ketentuan privasi data Facebook. (Foto: AFP/Mandel Ngan)

Kepala Eksekutif Dan Direktur Byline Media Peter Jukes—yang terlibat dalam membuat Wylie mau bicara—mengatakan kepada CNA bahwa orang-orang tersebut salah, tetapi: “Ini bukan berita yang benar-benar palsu… ini operasi informasi.”

Contoh kasus lainnya adalah Malaysia. Beberapa minggu sebelum pemilunya pada bulan Mei, seorang wartawan Reuters menghubungi Digital Forensic Research Lab di belahan dunia lain untuk mengatakan bahwa dia melihat kampanye di Twitter melawan koalisi Pakatan Harapan (PH).

Para peneliti memeriksanya dan menemukan 22.000 akun yang menggunakan dua tagar: #SayNoToPH dan #KalahkanPakatan dalam bahasa Melayu. Menurut Barojan, 98 persen dari akun itu adalah bot, algoritma yang melakukan tugas otomatis.

“Kami melihat pengontrolnya, dan mereka didominasi pengontrol alfanumerik. Itu tanda solid bahwa mereka memakai sebuah algoritma,” katanya. “Tanda-tanda lain adalah bahwa mereka menggunakan pola bicara yang sama persis (dan) bahwa mereka tidak memiliki pengikut.”

James Chappell—pendiri dan kepala inovasi perusahaan analisis Digital Shadows—dapat menghabiskan biaya $30 untuk membeli bot-bot Twitter di web gelap.

“Hanya dengan beberapa perangkat lunak sederhana di komputer saya, saya dapat menyewa ribuan akun,” katanya.

CNA mengujinya dengan membuat akun Instagram, mengunggah foto sepotong roti panggang, dan—dengan beberapa dolar—berhasil membeli beberapa “like” dan komentar positif.

Ketika tweet atau unggahan Facebook memiliki banyak retweet atau share, kata Silverman, “yang menciptakan apa yang orang sebut sebagai bukti sosial, ini menunjukkan bahwa informasi ini beresonansi, dan ada keinginan untuk bergabung dan menjadi bagian dari kerumunan itu.”

Dan seperti kata pepatah, kebohongan diulang ribuan kali—dengan bot atau sebaliknya—menjadi sebuah kebenaran.

Pengalaman di Indonesia

Di Indonesia, sekarang adalah musim pemilihan umum, yang berarti segala sesuatunya menjadi sibuk bagi organisasi pemeriksa fakta, Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo).

Bahkan sebelum Jakarta menjadi tuan rumah Asian Games pada bulan Agustus, co-founder Mafindo dan ketua komite pemeriksa fakta Aribowo Sasmito, menemukan cerita palsu yang menyebutkan kandidat wakil presiden Sandiaga Uno.

Politisi itu secara salah dilaporkan mengatakan bahwa Indonesia tidak akan menjadi juara Olimpiade karena “atlet lokal secara fisik lemah (dan) memiliki IQ rendah.”

“Media arus utama yang kredibel tidak akan menggunakan judul provokatif seperti itu,” kata Aribowo. “Tapi bagi orang yang tidak suka Sandiaga Uno, mereka akan mempercayai berita itu.”

Penyelamatan Rupiah

Sandiaga Uno. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Politik adalah salah satu topik berita palsu—atau hoaks, seperti orang Indonesia menyebutnya—yang paling populer di negara ini, dan “biasanya, partai politik akan menggunakan hoaks untuk menyerang para kandidat,” tambahnya.

Salah satu cerita palsu tentang Presiden Joko Widodo, misalnya, adalah bahwa ia adalah anggota partai komunis Indonesia yang terlarang, PKI, dengan foto dirinya yang tampak pada sebuah rapat umum komunis pada tahun 1965 yang tersebar secara online.

“Orang ini samar-samar terlihat seperti Jokowi. Tetapi tentu saja pada tahun 1965, Jokowi baru berusia empat tahun,” catat Ross Tapsell, dosen ANU College of Asia dan dosen senior Pasifik.

“Tapi itu menyebar karena sangat konspiratif, dan itu terkait dengan komunisme.”

Presiden Jokowi Imbau Oposisi Akhiri Politik Bohong

Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo. (Foto: Bloomberg/Dimas Ardian)

Indonesia juga memiliki industri troll dengan akun palsu yang dijalankan untuk mendapatkan keuntungan. Troll ini disebut buzzer, dan salah satunya, “Iqbal,” memberi tahu CNA bahwa ia memiliki “ratusan” akun Twitter dan “puluhan” akun Facebook.

Ia berspesialisasi dalam unggahan politik, dan klien membayarnya untuk mempromosikan konten. Agar akun tampak asli, unggahan tersebut dirancang agar sesuai dengan kepribadian profil.

“Unggahannya konsisten. Misalnya, profil wanita akan membahas masalah wanita,” jelas Iqbal. Dia bahkan mengantisipasi permintaan di masa depan dengan membuat akun yang membahas, misalnya, seorang politisi dan pendukungnya.

Bisnis ini berkembang pesat bagi orang-orang seperti dia di seluruh dunia. Sebuah studi Oxford Internet Institute menemukan bukti kampanye manipulasi media sosial oleh partai politik atau lembaga pemerintah di 48 negara tahun lalu, naik dari jumlah 28 negara pada tahun 2017.

Iqbal bersikeras, bagaimanapun, bahwa ia tidak bersalah.

“Kebohongan (hoaks) dan ujaran kebencian di media sosial akhir-akhir ini adalah hal yang mengkhawatirkan. Jadi (saya dan teman saya) biasanya mencoba menghindarinya,” katanya.

Baca Juga: #BumerangLaNyalla: Sebar Hoax, La Nyalla Harus Diproses Hukum

Memerangi Berita Palsu

Terlepas dari tantangan dan kerumitan dalam memerangi berita palsu—seperti yang ditunjukkan oleh kasus Iqbal—pengecekan fakta masih penting. “Orang-orang percaya berita palsu di Indonesia karena, misalnya, mereka malas,” kata Aribowo.

“Mereka hanya membaca judulnya, dan kemudian mereka membaginya. Ketika (anggota grup) mereka bertanya kepada orang yang mengirim berita, ‘Apakah ini benar?,’ orang itu akan berkata, ‘Saya tidak tahu. Saya menerima ini dari grup, dan saya membaginya.'”

Namun, ada seruan yang berkembang untuk pendidikan literasi media. Dan perubahan tampaknya sedang terjadi di Indonesia.

Salah satu anggota Creators for Change di YouTube adalah Cameo Project, enam orang Indonesia yang peduli tentang perkembangan yang mengancam persatuan negara mereka. Dan mereka telah membuat video musik yang disebut “Cek Dulu.”

“Salah satu elemen yang dapat menghancurkan persatuan ini adalah berita bohong atau hoaks,” kata Martin Anugrah, salah satu pendiri grup tersebut.

Jadi ide di balik video mereka adalah untuk mengajarkan para penontonnya tentang pentingnya pengecekan fakta. Salah satu pendiri Cameo Project Andry Ganda berkata dengan masam, “Hidup itu sulit; jangan membuatnya lebih sulit.”

Program literasi digital lainnya di Indonesia adalah “Think Before You Share,” yang merupakan bagian dari pendidikan yang ditawarkan oleh kelompok pengembangan pemuda YCAB Foundation kepada anak-anak yang kurang beruntung.

Bendahara dan kepala keuangan YCAB Stella Tambunan, mengatakan bahhwa tekanan sosial—misalnya untuk menjadi yang pertama membagikan sesuatu kepada teman-teman—meningkatkan jumlah pemuda yang berbagi “tanpa berpikir.”

Jadi yayasannya mengajarkan mereka untuk menjadi “warga digital yang bertanggung jawab” yang dapat menilai apakah sebuah cerita benar dan “apakah membagikan hal itu akan berguna bagi siapa pun.”

“Jika tidak, maka itu tidak layak untuk waktu Anda… atau data ponsel Anda,” katanya.

Program ini disediakan dalam kemitraan dengan Facebook, dan direktur urusan komunitas perusahaan raksasa media sosial itu (Asia-Pasifik dan Amerika Latin), Clair Deevy, terkesan dengan cara yang menarik untuk menyajikan “apa yang bisa menjadi subjek yang benar-benar sulit.”

“Ada musik, dan ada nyanyian, dan masyarakat muda merasa seolah-olah mereka adalah bagian dari pengalaman yang luar biasa,” katanya.

“Tidak mungkin kita bisa memahami setiap negara dan nuansa. Jadi bagi kami, yang terpenting adalah menemukan mitra lokal.”

Facebook mengakui bahwa terlalu lambat untuk melawan berita palsu, tetapi sudah mulai membersihkan akun dan cerita palsu.

Menggunakan algoritma, Facebook membersihkan lebih dari 1,5 miliar akun palsu antara bulan April dan September 2018. Facebook juga meningkatkan keamanan data dan mengubah cara algoritma menampilkan konten. Langkah-langkah ini telah berhasil.

Troll Makedonia—Sasha dan Nikolai, misalnya—telah berhenti memproduksi berita palsu. “Mereka mematikan profil kami, mereka memblokir cerita kami, dan juga kami mendapatkan (lebih sedikit) pemirsa di situs web kami. Itu adalah alasan utama untuk menghentikan pekerjaan ini,” kata Nikolai.

Ini adalah permainan kucing dan tikus, dan akan ada masalah yang terkait dengan berita palsu selama beberapa waktu.

Barojan mengatakan: “Penting untuk mempertahankan tekanan publik pada jaringan media sosial itu, untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya mengatasi ancaman yang ada, tetapi juga mempersiapkan apa yang akan terjadi di masa depan.”

Keterangan foto utama: Pada tahun 2016, lebih dari 100 situs web pro-Donald Trump dijalankan dari satu kota di Makedonia. (Foto: via Channel NewsAsia)

‘Pabrik’ Berita Palsu di Eropa: Cemari Pemilu AS hingga Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top