Tim Penanggulangan Bencana
Berita Politik Indonesia

Para Pahlawan Nasional: Perjuangan Tim Penanggulangan Bencana Indonesia

Anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) membawa mayat dari pesawat yang jatuh di Wamena, Indonesia, pada 6 Juli 2017. (Foto: AP/Gerry Kossay)
Berita Internasional >> Para Pahlawan Nasional: Perjuangan Tim Penanggulangan Bencana Indonesia

Tekanan, logistik yang sulit, dan banyaknya tuntutan, telah membuat para penyelamat di tim penanggulangan bencana menjadi pahlawan dengan ciri khas pakaian oranye mereka. Indonesia telah dilanda bencana tanpa henti baru-baru ini. Mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga pesawat jatuh, para pahlawan inilah yang tanpa kenal lelah berusaha menyelamatkan para korban, hidup atau mati.

Baca juga: Kisah Cinta Sutopo dan Rakyat Indonesia, Melawan Kanker dan Bencana

Oleh: Timothy McLaughlin dan Stanley Widianto (The Washington Post)

Retno Budiharto seolah tengah menjalin hubungan yang sangat dekat dengan orang mati.

Sejak Juni, veteran badan pencarian dan penyelamatan (SAR) Indonesia tersebut telah menggali mayat di gedung yang hancur akibat gempa bumi, dan di antara reruntuhan yang basah setelah tsunami. Dan ketika kapalnya tergelincir dalam lumpur minyak licin yang dipenuhi puing pesawat terbang pada akhir Oktober lalu, dia tahu dia akan kembali mencari mayat alih-alih korban selamat.

Bulan-bulan terakhir di Indonesia—saat bencana hampir tanpa henti terjadi—telah menjadi ujian besar bagi Retno dan yang lainnya di Badan SAR Nasional (Basarnas). Ini juga menyoroti ambisi negara tersebut untuk menanggapi banyak krisis tanpa menyerahkan kendali kepada negara-negara asing dan organisasi internasional.

Kadang-kadang, badan penyelamat Indonesia telah berjuang untuk mengimbangi bencana seperti itu di seluruh nusantara. Ada lebih dari 15.000 pulau yang menjadi bagian dari “Cincin Api” Pasifik—area aktivitas tektonik yang sangat rentan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Namun tekanan, logistik yang sulit, dan tuntutan yang tak kenal lelah, juga telah membuat para penyelamat tersebut menjadi pahlawan rakyat dengan ciri khas pakaian oranye mereka.

Badan ini telah mendapatkan kekaguman dari masyarakat Indonesia sebagai simbol kebanggaan nasional dan kemandirian. Hal ini bahkan membuat juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)—badan tanggap bencana yang lain—menjadi selebriti karena ia terus memberikan perkembangan kepada media, meskipun sedang melakukan perawatan yang berkelanjutan untuk kanker paru-paru stadium empat.

Black Box Pesawat Lion Air

Tim penyelamat mengumpulkan barang korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (29/10). Barang-barang penumpang dikumpulkan di Posko Basarnas Jakarta International Container Center II. (Foto: AFP/Resmi Malau)

Sebuah kartun menggambarkan sang juru bicara, Sutopo Purwo Nugroho, menerima kemoterapi sementara gunung berapi meletus dan tanah retak di dekat kakinya.

Retno kini berusia 46 tahun dan telah dikirim ke lokasi-lokasi bencana selama lebih dari separuh hidupnya bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, yang dikenal secara lokal dengan akronim Basarnas.

Badan ini dibentuk pada tahun 1972. Operasi tanggap besar pertamanya terjadi dua tahun kemudian ketika penerbangan Pan Am yang berada dalam perjalanan ke Los Angeles jatuh di pegunungan dekat Bali, menewaskan 107 orang di dalamnya. Retno mendaftar untuk bergabung dengan Basarnas pada tahun 1992 dan mulai bekerja tahun depannya.

Salah satu tugasnya yang berkesan, katanya, terjadi pada tahun 2000, ketika dia dikirim ke pulau Sumatra untuk mencari korban gempa, terbang dengan menteri-menteri tingkat tinggi di sebuah pesawat angkut militer.

Bertahun-tahun pengalaman telah mengajarinya cara membaca tingkat keparahan kecelakaan pesawat, kekuatan gempa bumi, dan akhirnya kemungkinan bertahan hidup bagi mereka yang terjebak di dalamnya.

“Orang mati tidak dapat hidup, tetapi yang hidup bisa mati,” katanya tentang penekanan yang dilakukan oleh penyelamat untuk menemukan orang yang selamat dengan cepat. “Terdapat kebanggaan dalam menemukan orang-orang yang masih hidup.”

Tapi setelah kecelakaan tanggal 29 Oktober 2018 dari Lion Air penerbangan 610—yang jatuh ke Laut Jawa—Retno melihat sedikit harapan untuk menemukan “VVIP,” istilahnya untuk seseorang yang ditemukan hidup. Semua 189 orang di pesawat itu meninggal.

Para penyelidik menemukan sensor rusak Boeing 737 Max 8, yang membuat pesawat jatuh beberapa menit setelah lepas landas. Para pilot bergulat untuk menjaga agar pesawat tetap berada di udara ketika pembacaan yang salah dari sebuah baling-baling kunci mendorong hidung pesawat itu terus turun, yang menyebabkan ketinggian pesawat berubah secara dramatis selama 13 menit di udara.

Di lokasi kecelakaan, Retno hanya menarik bagian-bagian tubuh dari air—kaki, lalu lengan.

“Itu tragis,” katanya.

Slogan Basarnas adalah “Semoga Selamatlah Alam Semesta,” tetapi bulan-bulan terakhir ini tidak baik bagi Indonesia.

Pada bulan Juni, sebuah feri yang penuh sesak dengan para wisatawan terjebak dalam cuaca buruk di Danau Toba di provinsi Sumatra Utara, menewaskan hampir 200 orang. Bulan berikutnya, gempa pertama dari beberapa gempa bumi yang melanda pulau Lombok, menyebabkan lebih dari 500 orang tewas.

Pemerintah Indonesia melakukan investasi yang signifikan dalam program tanggap bencana dan bantuannya setelah tsunami Samudera Hindia 2004 yang menghancurkan, tidak lagi ingin bergantung pada bantuan asing.

Tetapi Presiden Joko Widodo dikritik karena tidak menyatakan gempa bumi di Lombok sebagai darurat bencana, yang akan memungkinkan bantuan asing lebih banyak. Koordinasi antara lembaga pemerintah kadang-kadang kurang. Tim penyelamat memiliki terlalu banyak pekerjaan daripada yang bisa mereka tanggung, karena gempa susulan berlanjut selama berminggu-minggu, menyulitkan upaya mereka.

Kemudian pada 28 September 2018, gempa menghantam dekat kota Palu di pulau Sulawesi. Tanah yang padat berubah menjadi cair, menyapu seluruh desa pedalaman. Itu juga memicu tsunami yang menghantam kota, menghancurkan garis pantai, dan rumah-rumahnya menjadi tumpukan puing-puing. Setidaknya 2.250 orang tewas dalam bencana ganda tersebut.

Hampir sebulan kemudian, ketika beberapa upaya pembangunan kembali dimulai di Palu, penerbangan Lion Air jatuh.

Jonatan Lassa, yang meneliti tata kelola bencana dan manajemen darurat di Charles Darwin University di Australia, mengatakan: “Ada semacam kelelahan” di Indonesia.

Sejak tahun 2015, sumber daya penyelamat telah diutilisasi dengan “sangat berat,” kata Lassa, dan menambahkan bahwa kondisi mereka “belum pulih.”

Retno—yang dikenal teman-temannya dan rekan-rekannya dengan panggilan Budi—membantu mengatur logistik untuk tanggap bencana di Lombok. Dia kemudian menghabiskan sembilan hari di Palu. Ketika para wartawan Washington Post bertemu dengannya di sana, ia telah menyelamatkan dua orang dari hotel-hotel yang ambruk. Seorang wanita harus diamputasi kakinya agar penyelamat bisa menariknya dari puing-puing.

Dia sedang berada di kantornya di Jakarta pada awal 29 Oktober 2018, ketika sebuah alarm memperingatkan para penyelamat bahwa ada pesawat yang kehilangan kontak dengan menara kontrol sesaat setelah pesawat itu lepas landas. Setelah membantu mengatur peralatan yang diperlukan untuk memulai tanggap darurat, dia berangkat menuju area kecelakaan.

Pekerjaan Retno bersama Basarnas termasuk penempatan di kota Banda Aceh tak lama setelah tsunami besar melanda pada akhir tahun 2004. Selama dua minggu, katanya, pekerjaannya hanya menarik mayat-mayat dari puing-puing.

Dia membuang dua jumpsuit yang dipakainya terus-menerus selama bekerja.

“Ketika saya pulang ke rumah, saya meninggalkan seragam-seragam itu,” katanya. “Mereka terendam dalam lumpur, darah… bau mayat.”

Dia mengenang pekerjaan itu pada hari berkabut baru-baru ini di pelabuhan utama Jakarta, di mana pusat komando untuk operasi pencarian Lion Air perlahan-lahan dikurangi.

Tindakan dan peralatan keselamatan telah membaik daripada pada saat dia mulai bekerja. Tim penyelamat sekarang diberikan suntikan untuk kemungkinan penyakit seperti tetanus, katanya.

Jasad Mulai Dikumpulkan, Penyebab Lion Air Jatuh Masih Belum Ditemukan

Presiden Jokowi memeriksa puing-puing pesawat Lion Air di lokasi terjadinya kecelakaan, 30 Oktober 2018. (Foto: Ivan Watson/CNN)

Namun, tidak ada cara untuk menghapus ingatan itu. Pikirannya sesekali mengembara kepada orang-orang di zona bencana dan pertanyaan mengapa beberapa orang bertahan hidup sementara yang lain tidak.

“Ketika saya melamun, kadang-kadang saya bertanya-tanya, bagaimana hal itu terjadi pada mereka?” katanya.

Kecelakaan Lion Air mengingatkan Retno pada apa yang menginspirasinya untuk bergabung dengan Basarnas.

Baca juga: Peneliti: Lion Air JT610 ‘Tak Layak Terbang’ di 2 Penerbangan Terakhir

Ketika berusia 15 tahun, kakak laki-lakinya bepergian bersama teman-temannya di atas perahu kecil di Jakarta ketika mesinnya rusak dan kapal mulai dimasuki air. Saudaranya, Bambang Suprayogi—dua minggu sebelum hari pernikahannya—berusaha dengan tergesa-gesa untuk menyelamatkan perahu. Dia memberikan jaket pelampungnya kepada putra kapten ketika sudah jelas bahwa kapal itu tenggelam, seorang korban mengatakan pada Retno.

Kelelahan, saudaranya tenggelam, dan penumpang lainnya diselamatkan, kata Retno. Tubuhnya tidak pernah ditemukan.

“Itu motivasi saya: untuk menemukan korban, hidup atau mati,” katanya.

Keterangan foto utama: Anggota Badan SAR Nasional (Basarnas) membawa mayat dari pesawat yang jatuh di Wamena, Indonesia, pada 6 Juli 2017. (Foto: AP/Gerry Kossay)

Para Pahlawan Nasional: Perjuangan Tim Penanggulangan Bencana Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top