Pasca-Kerusuhan, Apakah Presiden Zimbabwe Tunjukkan Sifat Aslinya?
Afrika

Pasca-Kerusuhan, Apakah Presiden Zimbabwe Tunjukkan Sifat Aslinya?

Berita Internasional >> Pasca-Kerusuhan, Apakah Presiden Zimbabwe Tunjukkan Sifat Aslinya?

Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa sudah satu tahun menjabat, mengusir diktator Robert Mugabe dari kekuasaan. Namun, banyak pihak mengatakan ia kini menunjukkan sifat aslinya. Ketika demonstran memenuhi jalan-jalan Harare untuk memprotes ekonomi yang memburuk, Mnangagwa bereaksi dalam sepekan terakhir dengan refleks otoriter yang sama dengan pendahulunya: mengerahkan tentara dan polisi untuk menindak para demonstran—yang mengakibatkan kematian belasan orang—dan menutup internet.

Oleh: Jeffrey Moyo dan Norimitsu Onishi (The New York Times)

Mungkin syal yang ia kenakan hanyalah syal biasa.

Sesaat setelah mengusir Robert Mugabe dari kekuasaan, Emmerson Mnangagwa, Presiden Zimbabwe, mulai mengenakan syal warna-warni ke mana pun ia pergi, pada hari-hari yang dingin dan panas, sebagai bagian dari perubahan yang lebih luas.

Tentu saja, Mnangagwa telah lama menjabat sebagai pria yang melakukan tugas kotor Mugabe dan dikenal dengan nama panggilan menakutkan ‘Buaya’. Tapi syal tersebut—dengan warna hangat dan dari bendera negara itu—tampaknya menandakan pemimpin dan pemerintah yang lebih lembut. Itu menjadi bagian dari wacana politik dan topik yang tren di media sosial.

Baca Juga: Perairan Dikuasai China, Ghana Hanya Peroleh 5% Keuntungan

Lebih dari setahun setelah kejatuhan Mugabe, Mnangagwa sekarang menunjukkan sifat aslinya, kata banyak orang Zimbabwe. Ketika demonstran memenuhi jalan-jalan Harare untuk memprotes ekonomi yang memburuk, Mnangagwa bereaksi dalam sepekan terakhir dengan refleks otoriter yang sama dengan pendahulunya: mengerahkan tentara dan polisi untuk menindak para demonstran—yang mengakibatkan kematian belasan orang—dan menutup internet.

Pada Senin (21/1) malam, Mnangagwa—yang telah melakukan perjalanan resmi ke Rusia selama penumpasan terhadap para pengunjuk rasa—kembali ke Zimbabwe setelah membatalkan perjalanan ke Davos, Swiss, di mana ia telah merencanakan untuk mempromosikan Zimbabwe yang baru, sebagai terbuka untuk bisnis.

“Kekerasan atau kesalahan oleh pasukan keamanan kami tidak dapat diterima dan merupakan pengkhianatan terhadap Zimbabwe yang baru,” katanya di Twitter pada Senin (21/1), dan menjanjikan penyelidikan atas kekerasan tersebut, dan menyerukan dialog nasional dengan para pemimpin politik, agama, dan pemimpin lainnya.

Kekerasan itu membatasi upaya setahun yang gagal oleh Mnangagwa dan pemerintah ZANU-PF-nya untuk meyakinkan orang luar bahwa Zimbabwe yang baru, secara fundamental berbeda dari yang lama. Harapan awal pupus ketika pasukan pemerintah menyerang pengunjuk rasa setelah pemilihan umum pada bulan Juli, di mana Mnangagwa terpilih untuk masa jabatan penuh.

Seiring kekerasan membuat takut para investor asing dan merusak kredibilitas pemerintah baru di hadapan para pemberi pinjaman internasional, ekonomi Zimbabwe yang sakit semakin memburuk. Kenaikan harga gas sebesar 150 persen memicu putaran protes dan kekerasan terbaru.

Komisi Hak Asasi Manusia Zimbabwe—sebuah organisasi pemerintah yang didirikan untuk melindungi hak asasi manusia—mengatakan pada Selasa (22/1), bahwa setidaknya delapan orang telah tewas dalam protes bulan ini—sebagian besar akibat “amunisi hidup.” Komisi tersebut menambahkan bahwa pemerintah tidak belajar banyak dari kekerasan yang menyusul pemungutan suara pada bulan Juli, dan mengatakan sangatlah “mengganggu” bahwa ia kembali mengerahkan tentara untuk mengendalikan protes jalanan.

Para pengunjuk rasa berkumpul di jalan-jalan Harare, ibu kota Zimbabwe, selama demonstrasi pekan lalu atas kenaikan tajam harga bahan bakar. (Foto: Associated Press/Tsvangirayi Mukwazhi)

Sebuah koalisi organisasi masyarakat sipil mengatakan pada Selasa (22/1), bahwa 12 orang telah tewas dalam protes tersebut dan ratusan orang mengalami luka tembak, dan bahwa ada pelanggaran serius terhadap hak-hak demonstran. Pasukan pemerintah, tambah koalisi tersebut, juga merespons dengan menyerang para pemimpin masyarakat sipil.

Kekerasan terbaru itu telah menyebabkan beberapa warga Zimbabwe membandingkan Mnangagwa secara negatif dengan pendahulunya.

“Dulu saya berpikir bahwa kehidupan akan membaik dengan dikeluarkannya Mugabe dari kekuasaan,” kata Tinevimbo Mutasa, yang menjual rokok, permen, dan kacang tanah di sebuah jalan di kawasan pusat bisnis Harare, putrinya yang masih muda terikat di punggungnya. “Mugabe biasa melepaskan polisi yang kejam pada para demonstran dan sekarang Mnangagwa menjadi lebih buruk—melepaskan polisi dan tentara pada warga sipil setiap kali mereka protes, dan bahkan menembak untuk membunuh.”

Kelvin Tinashe Choto (22 tahun), seorang pemain sepak bola yang menjanjikan, ditembak dan tewas selama protes baru-baru ini, kata keluarganya. Ayahnya, Julius Choto, mengatakan telah menemukan jenazah putranya di kamar mayat.

“Tinashe adalah masa depan kami sebagai sebuah keluarga, yang dengannya kami memprediksi kehidupan yang lebih baik,” kata Choto di pemakaman putranya akhir pekan lalu.

Pada bulan November 2017, didukung oleh para jenderal, Mnangagwa melakukan kudeta terhadap Mugabe, yang mengakhiri kekuasaan brutalnya selama 37 tahun atas Zimbabwe. Mnangagwa telah menjabat selama beberapa dekade sebagai tangan kanan Mugabe, dan telah memimpin beberapa serangan paling sengit terhadap lawan politik.

Tidak berubah—dengan syal warna-warni—Mnangagwa meluncurkan serangan citra baiknya di luar negeri, termasuk pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos tahun lalu. Dia menemukan orang-orang menerimanya, terutama Inggris, yang bersemangat untuk bergerak meninggalkan era Mugabe.

Tetapi ada satu syarat: pemerintah Mnangagwa harus mengadakan pemilihan umum yang berhasil, bebas, dan adil. Baru pada saat itulah pemerintah-pemerintah Barat akan mendukung pemberian pinjaman yang sangat dibutuhkan Zimbabwe—yang telah ditolak selama hampir dua dekade setelah perebutan paksa tanah pertanian milik kulit putih di awal tahun 2000-an.

Segalanya berjalan baik pada awalnya. Kampanye berjalan dengan damai dan adil, seperti halnya pemungutan suara pada Hari Pemilu, menurut pengamat domestik dan internasional. Tetapi setelah partai oposisi utama, Gerakan untuk Perubahan Demokratis, mengklaim bahwa pemungutan suara telah dicurangi dan mendesak para demonstran untuk turun ke jalan, tentara dan petugas polisi disebar, menewaskan setengah lusin pengunjuk rasa.

“Itu adalah noda besar dan luka dalam apa yang seharusnya menjadi transisi bersih,” kata Busisa Moyo, mantan Presiden Konfederasi Industri Zimbabwe. “Investor asing telah menunggu pemilu yang bersih. Kami membayangkan bahwa kami akan berlari dan kami akan berlari kencang setelah pemilu. Tapi ternyata tidak seperti itu.”

Baca Juga: Serangan Teroris Al-Shabaab di Kenya, Apa dan Bagaimana?

Para rekan satu tim sepak bola dari Kelvin Tinashe Choto—yang ditembak dan dibunuh dalam sebuah demonstrasi—membawa peti mati selama pemakamannya di Chitungwiza, di luar Harare, pada Sabtu (19/1) lalu. (Foto: Associated Press/Tsvangirayi Mukwazhi)

Pemerintahan Mnangagwa menemukan dirinya kembali ke tempat semula.

“Apa yang Anda harapkan dari orang-orang ini—mereka toh bersama Mugabe? Sama saja,” kata Tendai Murisa, Direktur Eksekutif Sivio Institute, sebuah kelompok riset swasta di Harare.

Pada saat yang sama, Murisa mengatakan, harapan terhadap pemerintah Mnangagwa begitu tinggi dan tidak realistis, sehingga warga Zimbabwe dan masyarakat asing akan kecewa.

“Zimbabwe tidak diberi kesempatan untuk pulih dari era Mugabe,” katanya.

Dengan tidak adanya uang baru yang masuk ke Zimbabwe, pemerintah Mnangagwa harus membuat pilihan ekonomi yang menyakitkan dan tidak populer, termasuk mengenakan pajak 2 persen pada transfer uang elektronik.

Dalam beberapa tahun terakhir, transfer elektronik menjadi satu-satunya cara untuk melakukan pembayaran karena krisis keuangan yang berkepanjangan. Zimbabwe menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang utama, tetapi juga memiliki mata uang paralel yang disebut surat obligasi. Meskipun surat obligasi seharusnya sama dengan dolar, namun nilainya telah anjlok dalam beberapa bulan terakhir di pasar gelap.

Kesenjangan yang semakin lebar antara dolar dan surat obligasi membuat subsidi gas semakin mahal bagi pemerintah—yang mengakibatkan kenaikan harga gas baru-baru ini.

“Penyesuaian ini harus dilakukan—tidak ada jalan keluarnya,” kata Ashok Shakravat, seorang ekonom dan mantan penasihat Kantor Presiden dan Kabinet. “Ini akan memakan waktu lebih lama, mungkin satu tahun lagi, dan jadi kita akan mengalami masa-masa sulit di masa depan.”

Kenaikan harga telah menyebabkan kekurangan akut di pom bensin, karena pemasok yang terhubung secara politis mengalihkan bahan bakar ke pasar gelap yang lebih menguntungkan.

“Saya sudah terbiasa tidur di antrean bahan bakar,” kata Richard Nhari, yang berada di urutan ke-88 dari sekitar 120 mobil di sebuah pom bensin di kawasan bisnis, pada Jumat (18/1) lalu. “Keluarga saya sekarang tahu bahwa kadang-kadang Ayah tidak pulang karena dia harus tidur dalam antrean untuk mencari bahan bakar.”

Pada Senin (21/1) malam, setelah membatalkan perjalanannya ke Davos, Mnangagwa mendarat kembali di Harare di mana ia disambut oleh para deputinya di bandara. Dia mengenakan syal khasnya.

Keesokan harinya, Luke Msipa, seorang anggota Liga Pemuda ZANU-PF, mengatakan, “Mnangagwa, dengan mengenakan syal, ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ia berbeda dari mantan Presiden Robert Mugabe.”

Jeffrey Moyo melaporkan dari Harare, dan Norimitsu Onishi dari Montreal.

Keterangan foto utama: Presiden Emmerson Mnangagwa dari Zimbabwe (tengah), kembali ke Bandara Internasional Robert Mugabe di Harare, Zimbabwe, pada Senin (21/1). (Foto: Associated Press/Tsvangirayi Mukwazhi)

Pasca-Kerusuhan, Apakah Presiden Zimbabwe Tunjukkan Sifat Aslinya?

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top