Pemerintah Gabon: Upaya Kudeta Berhasil Digagalkan
Afrika

Pemerintah Gabon: Upaya Kudeta Berhasil Digagalkan

Berita Internasional >> Pemerintah Gabon: Upaya Kudeta Berhasil Digagalkan

Terjadi percobaan kudeta di Gabon, Afrika Tengah, tapi berhasil segera dipadamkan oleh pasukan pemerintah. Percobaan itu terjadi ketika Presiden Ali Bongo Ondimba berada di luar negeri, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, karena sakit. Dua tersangka tewas, dan delapan lainnya ditangkap. 

Oleh: Dionne Searcey (The New York Times)

Baca Juga: Afrika Khawatir Aliran Investasi China akan Surut

Pemerintah Gabon dengan cepat membatalkan upaya kudeta pada Senin (7/1), menewaskan dua tersangka dan menangkap delapan tersangka lainnya, setelah komplotan tersebut mengambil alih stasiun radio milik pemerintah di negara Afrika Tengah itu, dan mengumumkan rencana untuk “dewan restorasi nasional”, di negara di mana satu keluarga telah memegang jabatan presiden selama hampir setengah abad.

Presiden Ali Bongo Ondimba telah keluar dari Gabon sejak Oktober, menerima perawatan medis untuk apa yang banyak orang yakini sebagai stroke saat menghadiri konferensi di Arab Saudi. Ketidakhadirannya rupanya menciptakan apa yang dirasakan oleh komplotan kudeta sebagai peluang.

Tembakan terdengar pada Senin (7/1) di ibu kota, Libreville, tetapi tentara pemerintah segera menyebar di jalanan dan menyerbu stasiun radio tersebut. Tank-tank militer dan kendaraan-kendaraan bersenjata terlihat, dan pihak berwenang berusaha untuk menggambarkan bahwa situasinya normal.

Guy-Bertrand Mapangou, juru bicara pemerintah, mengatakan pada Senin (7/1) sore, bahwa situasi telah dipulihkan. Dia mengatakan bahwa kedua tersangka telah tewas dalam proses penangkapan.

Sebuah klip video dari tiga komplotan kudeta di stasiun radio menunjukkan dua pria bersenjata, dan masing-masing mengenakan seragam militer perwira junior. Pemerintah sedang menyelidiki motif kelompok itu, kata Mapangou.

Para komplotan itu terlihat seperti perwira muda berpangkat rendah yang tampaknya tidak memiliki rencana yang cermat. Para pekerja radio mengatakan bahwa salah satu dari mereka telah melepas seragam seorang karyawan stasiun dan berganti pakaian sipil sebelum melarikan diri.

Ketidakhadiran Bongo tidak memiliki efek negatif khusus pada negara yang kaya minyak itu. Pertumbuhan ekonominya melambat, tetapi dalam beberapa minggu terakhir, perdana menteri telah memegang tanggung jawab dan kehidupan sehari-hari terus berjalan.

Gabon relatif stabil dalam beberapa dekade terakhir, tetapi para analis mengatakan bahwa upaya kudeta itu merupakan tanda kerusuhan yang mendasarinya.

“Bahkan walau itu bodoh, namun terdapat lebih banyak gangguan politik di Gabon daripada sebelumnya,” kata Eric Benjaminson, mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk negara itu, yang pergi pada tahun 2013. “Itu penanda untuk sesuatu.”

“Bongo perlu kembali ke Gabon,” katanya, “dan melakukan sesuatu yang positif bagi negara.”

Dalam pidatonya di Malam Tahun Baru yang disiarkan dari Maroko—di mana Bongo (59 tahun) sedang memulihkan diri—presiden itu berusaha meyakinkan negaranya bahwa ia sehat.

“Memang benar bahwa saya telah melalui masa yang sulit, seperti yang kadang-kadang terjadi dalam hidup,” katanya. “Hari ini, seperti yang Anda lihat, saya lebih baik dan saya siap untuk bertemu dengan Anda lagi segera.”

Para pengamat mencatat bahwa presiden itu kurang jelas dalam menyebutkan beberapa kata dan tidak menggerakkan lengan kanannya.

Indikasi pertama bahwa ada sesuatu yang salah di Libreville pada Senin (7/1), terlihat di pagi hari, ketika lagu-lagu dari kampanye Jean Ping—lawan utama Bongo dalam Pemilihan Presiden 2016—disiarkan melalui radio nasional.

Sebuah panggilan telepon ke stasiun tersebut selama siaran dijawab oleh Letnan Kelly Ondo Obiang, pemimpin Gerakan Patriotik Pertahanan dan Pasukan Keamanan Gabon, yang mengatakan akan mengumumkan kudeta segera. Dia mengudara (on-air) dan melakukannya, sementara para karyawan stasiun disandera selama siaran tersebut.

Letnan Obiang mengatakan bahwa pidato Bongo dari jauh telah “memperkuat keraguan tentang kemampuan presiden itu untuk terus melaksanakan tanggung jawab jabatannya.”

Dia melanjutkan: “Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba ketika tentara telah memutuskan untuk menempatkan dirinya di pihak rakyat untuk menyelamatkan Gabon dari kekacauan. Jika Anda makan, berhentilah; jika Anda minum, berhentilah; jika Anda tidur, bangun. Bangunkan tetangga Anda. ”

Baca Juga: Amerika Tarik Pasukan Luar Negeri, Pentagon Kurangi Peran di Somalia

Presiden Ali Bongo Ondimba dari Gabon pada tahun 2017. Dia telah keluar dari negara itu sejak Oktober. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Gabriel Bouys)

Letnan Obiang adalah salah satu tersangka yang terbunuh, kata pemerintah.

Teori konspirasi beredar di Gabon sepanjang hari, termasuk bahwa upaya kudeta itu telah dipentaskan oleh Bongo sebagai cara untuk mengirim pesan bahwa ia akan membatalkan segala upaya untuk merebut kekuasaan.

Dengan meningkatnya ketegangan setelah pemilihan presiden baru-baru ini di negara tetangga Republik Demokratik Kongo, Presiden Trump mengatakan pada Jumat (4/1) bahwa ia telah mengirim sekitar 80 tentara ke Gabon, berjaga-jaga jika sengketa pemilu membuatnya perlu untuk mengevakuasi warga Amerika.

Seorang juru bicara Komando Afrika Amerika Serikat mengatakan bahwa pasukan Amerika di Libreville “tidak terlibat apa pun” dengan komplotan kudeta atau militer dan pemerintah Gabon selama upaya kudeta tersebut.

Keluarga Bongo telah lama dikritik karena memperkaya dirinya sendiri dengan hasil kekayaan minyak dan mineral negara itu, sementara banyak penduduknya hidup dalam kemiskinan.

Dan masa menjabat Bongo sebagai presiden terus diiringi dengan kritik bahwa ia telah melakukan pemilu yang curang—kadang-kadang untuk tujuan yang kejam—dengan harapan mempertahankan kekuasaan. Ayahnya, Omar, adalah presiden selama 42 tahun sebelum meninggal saat menjabat pada tahun 2009.

Ketika Bongo pertama kali dipilih untuk menggantikan ayahnya, masalah logistik selama pemungutan suara yang tidak terduga menyebabkan tuduhan penyimpangan. Dalam pertarungan tahun 2016, Bongo mengalahkan lawannya, Ping, tetapi pemilu itu dirusak oleh tuduhan penghitungan suara yang curang.

Para pengunjuk rasa pada saat itu membakar Parlemen, dan pengawal presiden dituduh menyerang markas Ping, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.

Namun tindakan Bongo untuk melindungi hutan, sabana, dan garis pantai di negaranya yang relatif belum tersentuh—semuanya dipenuhi dengan satwa liar—mendapat pujian dari para konservasionis. Dia adalah tokoh dalam konferensi perubahan iklim internasional dan telah menciptakan salah satu kawasan laut terlindung terbesar di dunia.

Bongo—yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan sebelum menjadi presiden—hampir seluruhnya berpendidikan Prancis. Dia juga seorang musisi jazz; ibunya adalah seorang penyanyi terkenal. Pada tahun 1970-an, Bongo merilis album funk, “A Brand New Man.”

Yves Laurent Goma berkontribusi melaporkan dari Libreville, Gabon; Jaime Yaya Barry dari Dakar; dan Eric Schmitt dari Washington.

Keterangan foto utama: Sebuah video tentara di radio negara Gabon pada Senin (7/1). “Tentara telah memutuskan untuk menempatkan dirinya di pihak rakyat untuk menyelamatkan Gabon dari kekacauan,” kata mereka. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images)

Pemerintah Gabon: Upaya Kudeta Berhasil Digagalkan

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top