Pemilu Nigeria
Afrika

Pemilu Presiden Nigeria Mendadak Ditunda, Kecewakan Jutaan Warga

Berita Internasional >> Pemilu Presiden Nigeria Mendadak Ditunda, Kecewakan Jutaan Warga

Pemilu Nigeria ditunda secara mendadak, membuat jutaan calon pemilih kecewa dan bahkan marah. Di Nigeria, seorang pemilih harus datang ke daerah asalnya untuk mencoblos, karenanya banyak yang telah mengambil cuti, mengatur jadwal dan kerepotan lainnya demi bisa menggunakan suara mereka. Situasi di Nigeria sedang sangat tegang, dan penundaan pemilu ini membuat segalanya semakin buruk.

Baca Juga: 3 Pemilu Penting di 2019 (Termasuk Indonesia) dan Pengaruhnya bagi AS

Oleh: Dionne Searcey dan Emmanuel Akinwotu (The New York Times)

Cuaca. Sabotase bangunan penyimpanan materi pemilu. Setumpuk tantangan pengadilan.

Itulah beberapa alasan yang dikutip oleh komisioner pemilu Nigeria atas keputusan tengah malam―diumumkan pada jam 2:30 pagi pada hari Sabtu (16/2)―untuk menunda pemilu presiden negara itu, beberapa jam sebelum pemilu dibuka.

Penundaan 11 jam itu, ia meyakinkan kerumunan pengamat internasional, diplomat dan kelompok masyarakat sipil di konferensi pers di ibukota, “tidak ada hubungannya dengan keamanan, tidak ada hubungannya dengan pengaruh politik.”

Berita itu disambut kekecewaan besar oleh jutaan pemilih Nigeria, yang berharap untuk memilih salah satu dari lebih dari 70 kandidat. Di antara para pesaing ada Presiden Muhammadu Buhari, 76 tahun, yang mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiganya. Dia telah mengunjungi desanya untuk memberikan suara, dan terbang kembali ke ibukota pada hari Sabtu (16/2).

Pendukung Presiden Muhammadu Buhari pada rapat umum di Abuja pada hari Rabu (13/2). Dia menghadapi persaingan yang ketat dalam pemilu presiden, yang dijadwalkan pada hari Sabtu (16/2) tetapi tiba-tiba ditunda seminggu. (Foto: The New York Times/KC Nwakalor)

Banyak orang lain yang juga melakukan perjalanan jauh ke daerah asal mereka untuk memilih―Nigeria tidak memiliki sistem pemungutan suara absen (dari jauh). Dan frustrasi akibat penundaan itu jelas terlihat.

Buhari dan penantang utamanya, Atiku Abubakar, 72 tahun, mendesak para pendukung mereka untuk bersabar bahkan ketika mereka juga mengecam penundaan satu minggu itu.

Pengkritik Buhari mengatakan bahwa dalam empat tahun menjabat dia gagal memenuhi janji untuk memperbaiki ekonomi, mengatasi korupsi dan meningkatkan keamanan. Serangan yang dilakukan oleh organisasi kriminal dan oleh Boko Haram telah meningkat. Minggu ini, lebih dari 60 orang tewas di Kaduna dalam serangan atas konflik agama.

Baca Juga: Ledakan Mematikan Guncang Nigeria di Tengah Perayaan Idulfitri

Para kritikus juga mengatakan presiden telah menggunakan kampanye antikorupsi untuk menargetkan musuh-musuh politik sambil menyelamatkan sekutu-sekutunya.

Abubakar adalah mantan wakil presiden dan pengusaha kaya yang dirinya sendiri dirundung tuduhan korupsi. Pada tahun 2010, sebuah subkomite Senat Amerika Serikat menuduhnya menyalurkan pendapatan minyak Nigeria senilai puluhan juta dolar ke rekening-rekening luar negeri. Abubakar menanggapi tuduhan itu dengan menyatakan bahwa ia tidak pernah didakwa melakukan kejahatan.

Pekerja TPS yang telah memiliki materi pemilu akan mengiirim kembali materi itu ke kantor komisi pemilu Nigeria di Umuahia. Keputusan untuk menunda pemungutan suara telah membatalkan rencana jutaan orang dan pengamat pemilu internasional. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Cristina Aldehuela)

Partai-partai politik dari dua kandidat utama masing-masing menuduh yang lain mendapatkan keuntungan dari penundaan tersebut.

Diperkirakan akan ada tingkat partisipasi yang jauh lebih rendah. Tidak mungkin banyak pemilih yang tinggal jauh dari tempat pemungutan suara mereka akan memiliki waktu atau uang untuk melakukan perjalanan lagi. Namun tidak jelas kandidat mana yang akan diuntungkan.

Para pemimpin partai Buhari mengatakan, Abubakar akan mendapat keuntungan dari “istirahat” ini dan bahwa partainya telah “bertekad mendiskreditkan proses ini begitu menyadari bahwa tidak mendapat suara untuk memenangkan pemilu ini.”

Baca Juga: Tahun Pemilu Sibuk, 2019 Bisa Ubah Politik Global

Abubakar menuduh presiden mengatur penundaan ini untuk menekan jumlah pemilih.

“Rencana mereka adalah memprovokasi publik, berharap reaksi negatif, dan kemudian menggunakannya sebagai alasan untuk tindakan antidemokratis lebih lanjut,” katanya.

Namun kedua kubu juga mendesak para pendukung untuk bersabar dalam menghadapi penundaan yang berisiko meningkatkan ketegangan dalam pemilu yang sudah tegang ini.

Para pendukung Atiku Abubakar, kandidat oposisi utama untuk kepresidenan, pada rapat umum di kota Jimeta pada hari Kamis (14/2). (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Luis Tato)

Keputusan itu membatalkan rencana jutaan orang, termasuk tim besar pengamat internasional dari Uni Eropa, Uni Afrika dan organisasi pro-demokrasi di Amerika Serikat dan di negara lain. Para pengamat telah menyebar ke seluruh negeri dan mendirikan pusat komando di ruang konferensi hotel untuk memantau pemilu.

Pada hari Sabtu (16/2) mereka sibuk memesan ulang penerbangan dan membayar perpanjangan penginapan mereka. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk memantau pemilu pada tanggal yang baru, tidak jelas apakah peringkat mereka akan tetap akurat.

Baca Juga: Tentara Nigeria Jadikan Ucapan Donald Trump Pembenaran atas Pembantaian Demonstran

Pemilih meluapkan kekecewaan mereka di media sosial. Beberapa mengatakan bahwa mereka telah melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang terkenal akan kekerasannya untuk memberikan suara mereka, dan bahwa mereka sekarang terdampar di sana tanpa petugas pemilu yang seharusnya bertanggung jawab atas keamanan mereka.

Ada kekhawatiran bahwa desas-desus dan laporan berita palsu tentang alasan keterlambatan tersebut akan menyebar. Dan sepertinya mungkin masih banyak masalah logistik yang bisa bertambah.

Mahmood Yakubu, komisaris pemilu Nigeria, mengatakan bahwa di antara tantangannya adalah fakta bahwa 180.000 pembaca kartu pintar berteknologi tinggi perlu diprogram ulang untuk tanggal pemilu yang baru.

Tentara yang berpatroli di Aba, sebuah kota di tenggara, pada hari Jumat (15/2), yang kemudian dianggap sebagai malam pemilu. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Cristina Aldehuela)

Dia mengutip penundaan cuaca yang menghambat distribusi bahan suara ke hampir 120.000 tempat pemungutan suara. Badai debu besar telah terjadi di beberapa bagian negara selama berhari-hari dan menghambat beberapa penerbangan. Hingga 640 tantangan pengadilan oleh berbagai pesaing juga berkontribusi terhadap keterlambatan ini. Dan tiga bangunan yang menyimpan materi pemilu telah dibakar dalam aksi sabotase, katanya.

Baca Juga: Facebook Terapkan Aturan Ketat di Beberapa Negara Jelang Pemilu 2019

Yakubu mempertimbangkan untuk menunda pemungutan suara selama satu hari, tetapi mengatakan banyak orang Kristen di negara itu akan keberatan jika pemilu diadakan pada hari Minggu. Menunggu hingga hari Senin juga tidak akan berhasil, katanya, karena mengambil dan mengatur ulang puluhan ribu pembaca kartu dari tempat pemungutan suara di seluruh negeri akan menjadi proses yang panjang.

Penjadwalan ulang pemilu ini akan merugikan banyak orang, tidak hanya karena berpindahnya orang dan peralatan, tetapi juga untuk sejumlah pekerja restoran, karyawan pasar, pengemudi taksi, dan lainnya yang semuanya cuti kerja pada hari Sabtu (16/2) untuk memilih. Pemerintah telah memerintahkan semua jalan bebas dari kendaraan untuk hari itu, dan sebagian besar bisnis tutup.

Namun, banyak pengamat optimis bahwa akan memakluminya. Dua pemilu presiden Nigeria terakhir juga ditunda.

Tetapi kampanye ini telah diperjuangkan dengan ketat, dan ketegangan telah memuncak.

Pihak oposisi menuduh pemerintah Buhari merencanakan mencurangi pemungutan suara. Pada gilirannya, Abba Kyari, kepala staf presiden, membuat komentar publik yang jarang dalam sebuah artikel untuk sebuah surat kabar Nigeria, menuduh Amerika Serikat dan Uni Eropa bekerja sama dengan partai Abubakar.

Gubernur Kaduna, sekutu dekat Buhari, sebelumnya telah memicu kemarahan dengan memperingatkan bahwa para aktor asing yang melakukan intervensi di Nigeria akan meninggalkan negara itu “sebagai mayat.”

 

Keterangan foto utama: Warga Nigeria memeriksa nama mereka di daftar pemilih di Jimeta pada hari Sabtu (16/2). Badan pengawas pemilu negara itu menunda pemilu presiden dan parlemen selama satu minggu, beberapa jam sebelum pemilu dibuka. (Foto: Agence France-Presse/Getty Images/Luis Tato)

Pemilu Presiden Nigeria Mendadak Ditunda, Kecewakan Jutaan Warga

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top