Global

Pendiri Huawei Bantah Tuduhan Jadi Mata-Mata untuk China

Pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei di Shenzhen, China, pada Selasa, 15 Januari 2019. (Foto: The Wall Street Journal/Theodore Kaye)
Berita Internasional >> Pendiri Huawei Bantah Tuduhan Jadi Mata-Mata untuk China

Pendiri dan kepala eksekutif Huawei Ren Zhengfei, membantah tuduhan AS bahwa perusahaan teknologi raksasa China itu digunakan untuk menjadi mata-mata untuk China. Tuduhan tersebut sebelumnya telah berulang kali dibantah oleh perusahaan itu. Tahun 2012, DPR AS merilis laporan yang mengatakan bahwa Huawei adalah ancaman keamanan nasional, dan merekomendasikan perusahaan-perusahaan AS untuk tidak menggunakan peralatannya.

Oleh: Dan Strumpf dan Josh Chin (The Wall Street Journal)

Pendiri Huawei Technologies Co. mengatakan bahwa perusahaannya tidak pernah dan tidak akan pernah memata-matai untuk pemerintah China, ketika Ren melakukan penampilan langka di hadapan publik setelah penangkapan putrinya di Kanada.

“Tidak ada undang-undang yang mewajibkan perusahaan di China untuk memberikan jalan belakang,” kata Ren Zhengfei pada Selasa (15/1) merujuk pada tindakan memberikan seorang pejabat kunci untuk mengakses data pada perangkat atau jaringan. “Saya pribadi tidak akan pernah merugikan kepentingan pelanggan dan saya, dan perusahaan saya tidak akan mematuhi permintaan semacam itu.”

Amerika Serikat (AS) telah menyuarakan kekhawatiran tentang hubungan Huawei dengan pemerintah China, dan bahwa peralatan telekomunikasi dapat digunakan oleh China untuk memata-matai. Tuduhan tersebut telah berulang kali dibantah oleh perusahaan itu. Ren—yang juga menjabat sebagai kepala eksekutif Huawei—tidak mengatakan secara spesifik apa yang akan ia lakukan untuk menolak permintaan dari pemerintah China.

Semua perusahaan yang melakukan bisnis di China diwajibkan oleh hukum untuk menyerahkan data pelanggan kepada pemerintah jika ada kasus yang menyentuh keamanan nasional. Di China, ancaman keamanan nasional didefinisikan secara luas dan dapat mencakup ujaran kritis terhadap Partai Komunis.

Berbicara dalam bahasa Mandarin melalui juru bahasa, Ren mengatakan bahwa dia merindukan putrinya—kepala keuangan Huawei, Meng Wanzhou—tetapi optimis bahwa keadilan akan menang. Meng ditangkap tanggal 1 Desember 2018 di Vancouver atas permintaan pihak berwenang AS, yang menuduh Meng berbohong tentang bisnis perusahaan dengan Iran. Meng telah membantah tuduhan itu.

Pendiri Huawei yang berusia 74 tahun dan tertutup tersebut—yang merupakan mantan insinyur militer—juga memuji Presiden AS Donald Trump sebagai “presiden yang hebat,” merujuk pada pemotongan pajak pemerintah untuk meningkatkan bisnis.

Huawei telah menemukan dirinya berada di tengah pertengkaran perdagangan yang semakin dalam antara AS dan China, yang telah mempertajam fokus Amerika pada peningkatan teknologi China. AS telah mengenakan tarif pada sebagian impor China, sebagai upaya mengendalikan praktik perdagangan China dan mengurangi defisit perdagangan AS. Pemerintah China telah membalas dengan memberlakukan tarifnya sendiri.

Meng Wanzhou, CFO Huawei. (Foto: Reuters/Alexander Bibik)

Trump telah terbuka terhadap berbagai upaya dalam sengketa perdagangan yang lebih luas. Tahun 2018, Trump meminta Departemen Perdagangan AS untuk membatalkan larangan  ekspor Amerika ke pesaing utama perusahaan China Huawei, ZTE Corp, di tengah adanya diskusi perdagangan, dengan mengatakan bahwa tindakan itu merugikan ekonomi China.

Trump juga mengatakan kepada Reuters bahwa ia akan mempertimbangkan untuk campur tangan dalam kasus Meng, jika hal itu berarti mengamankan kesepakatan perdagangan yang lebih kuat, meskipun para ajudannya memperingatkan dia bahwa pilihannya terbatas, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Perang dagang antara AS dan China akan membahayakan dunia, kata Ren. “Dalam masyarakat informasi, saling ketergantungan satu sama lain sangatlah signifikan,” katanya. “Saling ketergantungan itu adalah apa yang mendorong kemajuan manusia menjadi lebih cepat.”

Penampilan Ren di depan umum ini terjadi hanya beberapa hari setelah penangkapan seorang karyawan Huawei di Polandia yang dituduh memata-matai negara atas nama China. Huawei telah memecat karyawan itu, Wang Weijing, dan mengatakan bahwa tindakannya di bawah tuduhan tersebut tidak ada hubungannya dengan perusahaan.

Peristiwa tersebut telah mengguncang China, menghambat upaya menuju upaya pencairan perang dagang China-AS, dan memberikan pukulan langsung terhadap salah satu perusahaan global paling sukses di negara itu. Berbagai peristiwa itu juga telah melukai hubungan China-Kanada, di mana China mengecam penahanan Meng.

Hari Senin (14/1), pengadilan China memerintahkan hukuman mati terhadap seorang warga negara Kanada yang dihukum karena penyelundupan narkoba—suatu tindakan yang kemungkinan akan semakin memperburuk hubungan itu.

Dengan 180 ribu karyawan, Huawei adalah pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia, bersaing dengan Ericsson AB dari Swedia dan Nokia Corp. dari Finlandia dalam penjualan peralatan seperti router, switch, dan base stations. Perusahaan China itu juga menyalip Apple Inc. menjadi vendor ponsel pintar global nomor dua di dunia, di belakang Samsung Electronics Co., hingga kuartal ketiga tahun 2018.

Selain membantah klaim bahwa Huawei adalah ancaman keamanan nasional, Ren juga membantah keraguan mengenai struktur kepemilikan perusahaan swasta tersebut, yang oleh para kritikus digambarkan tidak jelas. Huawei mengatakan bahwa perusahaan itu dimiliki sepenuhnya oleh Ren dan para karyawan Huawei lainnya. Ren menegaskan bahwa perusahaan itu tidak dikuasai kepemilikan dari luar.

“Tidak ada lembaga eksternal yang memiliki saham kami 1 sen pun,” kata Ren, seraya menambahkan bahwa jumlah pemegang saham karyawan Huawei hampir sebanyak 97 ribu orang.

Huawei telah secara efektif tertutup dari pasar telekomunikasi Amerika Serikat, sejak sebuah laporan Kongres tahun 2012 menimbulkan kekhawatiran bahwa perlengkapannya dapat digunakan oleh China untuk memata-matai warga Amerika. Huawei telah berulang kali menepis kekhawatiran semacam itu.

Kepala mata-mata dari Australia untuk Inggris telah mengisyaratkan kekhawatiran bahwa China dapat menggunakan Huawei untuk spionase, meskipun tidak ada bukti bahwa pintu belakang atau peretasan yang terkait dengan perusahaan tersebut telah diproduksi. AS telah mendesak para sekutu untuk menghindari peralatan Huawei sebelum peluncuran yang diharapkan dari jaringan 5G generasi berikutnya, yang akan memungkinkan kecepatan koneksi yang lebih cepat dan memicu ledakan penggunaan perangkat yang terhubung, mulai dari kendaraan otonom hingga peralatan medis yang dikendalikan dari jarak jauh.

Australia dan Selandia Baru—sekutu utama AS—telah melarang Huawei melakukan peningkatan jaringan 5G mereka. Jepang mengecualikan perusahaan China dari pembelian pemerintah, sementara AS dan Kanada mengatakan bahwa mereka sedang meninjau rantai pasokan telekomunikasi mereka.

Meskipun ada hambatan, namun Huawei mengatakan pada bulan Desember 2018 bahwa pihaknya memperkirakan akan melaporkan kenaikan pendapatan tahun 2018 sebesar 21 persen menjadi US$108,5 miliar. Ren mengatakan bahwa perusahaan itu telah menandatangani 30 kontrak komersial 5G dan mengirim 25 ribu stasiun pangkalan 5G keluar dari China.

“Kami bukan perusahaan publik. Kami tidak terlalu peduli dengan neraca keseimbangan yang menawan,” kata Ren, yang bergantian antara membaca dari naskah yang sudah disiapkan dan dengan santai mengutarakan sejarah dan visi perusahaan. “Selama kami bisa terus menafkahi karyawan kami, saya percaya akan ada masa depan untuk Huawei.”

Ren Zhengfei berbicara dengan para wartawan di bawah lampu kandelar hijau dan emas di ruang rapat yang mewah di kampus Shenzhen, Huawei. (Foto: Bloomberg News/Qilai Shen)

Ren memegang kuat kekuasaan atas perusahaan tersebut, tetapi menghindari sorotan. Ren jarang melakukan wawancara dan mendelegasikan penampilan publik kepada para wakilnya. Salah satu pidato publik terakhirnya adalah pada tahun 2015 di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana ia membahas masa pengabdian militernya dan asal-usul Huawei, serta membantah tuduhan menjadi mata-mata.

Pada Selasa (15/1), Ren kembali membahas subjek pengalaman militernya, menjelaskan bahwa sebagai seorang insinyur ia pernah membantu mendirikan pabrik tekstil sintetis di kota Liaoyang, China timur laut. Ren meninggalkan militer pada tahun 1983, empat tahun sebelum mendirikan Huawei. Dia juga membahas masalah lain di latar belakangnya: kehadirannya di Kongres Nasional Partai Komunis China tahun 1982. Dia mengatakan bahwa dia diundang sebagai penghargaan atas perangkat yang dipublikasikan secara luas yang dia temukan saat bertugas di militer.

“Hari ini, saya masih mencintai negara saya,” kata Ren. “Saya mendukung Partai Komunis China, tetapi saya tidak akan pernah melakukan apa pun untuk menyakiti bangsa lain.”

Kebangkitan Ren

Pendiri Huawei Ren Zhengfei bangkit dari seorang insinyur militer hingga menjadi pemimpin salah satu juara teknologi China.

25 Oktober 1944: Ren lahir di sebuah desa di Provinsi Guizhou, China.

1963: Ren menuntut ilmu di Institut Teknik Sipil dan Arsitektur Chongqing.

1974: Ren bergabung dengan korps teknik Tentara Pembebasan Rakyat China. Dia dikirim ke Liaoyang dekat perbatasan Korea Utara untuk membantu membangun pabrik serat sintetis.

1982: Ren menghadiri Kongres Nasional ke-12 Partai Komunis China sebagai penghargaan atas kontribusinya di ketentaraan.

1983: Ren pensiun dari militer setelah korps teknik dibubarkan, kemudian bergabung dengan perusahaan minyak milik negara Shenzhen.

1987: Ren mendirikan Huawei di Shenzhen dengan 21 ribu yuan (sekitar US$5.600 pada saat itu).

2001: Huawei mendirikan anak perusahaan di Amerika Serikat, Futurewei di Plano, Texas.

2011: Huawei mengungkapkan bahwa putri Ren, Meng Wanzhou, telah ditunjuk sebagai CFO dan menjadi anggota dewan direksi.

2012: Permanent Select Committee on Intelligence DPR AS merilis laporan yang mengatakan bahwa Huawei adalah ancaman keamanan nasional, dan merekomendasikan perusahaan-perusahaan AS untuk tidak menggunakan peralatannya.

2015: Ren menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, dan membantah tuduhan bahwa Huawei adalah ancaman keamanan nasional.

Januari 2018: AT&T mundur dari kesepakatan untuk menjual ponsel pintar Huawei di AS. Kampanye Amerika melawan Huawei terus meningkat.

1 Desember 2018: Meng ditangkap di Kanada dengan tuduhan AS bahwa ia berbohong kepada bank tentang transaksi bisnis Huawei di Iran.

Keterangan foto utama: Pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei di Shenzhen, China, pada Selasa, 15 Januari 2019. (Foto: The Wall Street Journal/Theodore Kaye)

Pendiri Huawei Bantah Tuduhan Jadi Mata-Mata untuk China

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top