Perang Yaman: Pentagon Hentikan Pengisian Bahan Bakar Pesawat Koalisi Saudi
Timur Tengah

Perang Yaman: Pentagon Hentikan Pengisian Bahan Bakar Pesawat Koalisi Saudi

Menteri Pertahanan Jim Mattis menyapa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Pentagon pada 16 Maret 2017. Keputusan Mattis untuk menghentikan pengisian bahan bakar untuk pesawat perang Saudi dipandang sebagai langkah untuk menghukum kerajaan karena keterlibatannya dalam perang sipil Yaman. (Foto: AFP/Getty Images/Nicholas Kamm)
Berita Internasional >> Perang Yaman: Pentagon Hentikan Pengisian Bahan Bakar Pesawat Koalisi Saudi

Pentagon mengumumkan akan menghentikan pengisian bahan bakar pesawat tempur milik koalisi Saudi, dalam perang Yaman yang menghancurkan. Langkah itu dipuji oleh para kritikus, namun mereka juga menyerukan untuk menghentikan dukungan lainnya dan mengakhiri keterlibatan AS dalam perang Yaman. Para kritikus di Kongres juga telah menyerukan Gedung Putih untuk mencegah penandatanganan kesepakatan senilai $110 miliar untuk menjual senjata kepada Arab Saudi.

Oleh: Wesley Morgan (Politico)

Pada Jumat (9/11), keputusan untuk menghentikan pengisian bahan bakar pesawat tempur Arab Saudi dan sekutunya yang mengebom para pemberontak di Yaman, dipuji oleh Demokrat dan pendukung lama lainnya, yang membatasi dukungan Pentagon untuk apa yang mereka anggap sebagai penggunaan kekuatan Amerika Serikat (AS) yang melanggar hukum yang telah berkontribusi terhadap bencana kemanusiaan.

Tetapi mereka juga meminta Presiden Donald Trump dan anggota Kongres untuk mengambil langkah-langkah tambahan—termasuk memangkas senjata dan mengakhiri pembagian informasi penargetan—untuk lebih jauh melepaskan militer AS dari keterlibatan dalam perang sipil Yaman.

Jumat (9/11) malam, Menteri Pertahanan Jim Mattis membenarkan keputusan itu dalam sebuah pernyataan yang mengatakan, “kami mendukung keputusan oleh Kerajaan Arab Saudi—setelah berkonsultasi dengan Pemerintah AS—untuk menggunakan kemampuan militer Koalisi sendiri untuk melakukan pengisian bahan bakar dalam penerbangan untuk mendukung operasinya di Yaman.”

Langkah itu—yang pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post—dipuji sebagai langkah positif oleh mereka yang telah mendesak pemerintahan Trump untuk mengurangi keterlibatan Saudi dan sekutu-sekutunya dalam konflik tersebut, termasuk Uni Emirat Arab.

“Dengan akhirnya mengakhiri misi pengisian bahan bakar untuk pesawat pengebom Saudi, pemerintahan Trump mengakui operasi gabungan kami di Yaman telah menjadi bencana,” kata Senator Chris Murphy, seorang Demokrat dari Connecticut dan anggota Komite Hubungan Luar Negeri.

Juga menyebut langkah itu “kemenangan besar”, Perwakilan Ro Khanna (D-CA)—seorang pendukung vokal yang mengecam dukungan militer AS terhadap koalisi yang dipimpin Saudi—mengatakan bahwa Kongres juga harus mengeluarkan resolusi yang akan “memastikan bahwa semua keterlibatan AS dihentikan.”

Pemerintah Saudi mengeluarkan pernyataan sendiri yang bersikeras bahwa pihaknya telah meminta penghentian operasi pengisian bahan bakar saat ini, karena telah mengembangkan kemampuan untuk memasok jet tempurnya sendiri.

“Kerajaan Arab Saudi, dan negara-negara anggota Koalisi untuk Mendukung legitimasi di Yaman, terus mengejar peningkatan profesionalisme militer dan swasembada,” kata pernyataan itu. “Baru-baru ini Kerajaan dan Koalisi telah meningkatkan kemampuannya untuk secara independen melakukan pengisian bahan bakar pesawat di Yaman. Sebagai akibatnya, dalam konsultasi dengan Amerika Serikat, Koalisi telah meminta penghentian dukungan pengisian bahan bakar udara untuk operasinya di Yaman.”

Baca Juga: Perang Yaman: Pemimpin Pemberontak Houthi Bersumpah ‘Tidak Menyerah’

Senjata dari Trump untuk Semua Orang: Peran Industri Senjata Amerika dalam Perang Paling Berdarah

Tentara Yaman melakukan manuver yang didukung oleh koalisi militer yang dipimpin Saudi di provinsi timur Marib, Yaman, 4 Januari 2018. (Foto: EPA/Soliman Alnowab)

Sejak tahun 2015, tanker udara Angkatan Udara AS telah menyediakan fasilitas pengisian bahan bakar udara ke beberapa pesawat tempur koalisi pimpinan Saudi, yang menyerang pemberontak Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran.

Beberapa serangan itu dilaporkan menyebabkan kematian warga sipil, termasuk pengeboman bus yang dipublikasikan secara besar-besaran selama musim panas.

“Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, terus mengebom infrastruktur sipil dan melakukan serangan sembarangan, membunuh dan melukai warga sipil,” kata Amnesty International dalam laporannya baru-baru ini.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia juga telah melaporkan bahwa ribuan warga sipil tewas dalam konflik tersebut, dan jutaan orang mengungsi. Konflik Yaman juga telah memicu penyebaran kolera dan penyakit lainnya karena penghancuran infrastruktur yang kondisinya memang sudah sangat buruk.

Pentagon sebelumnya menegaskan bahwa dengan menyediakan pengisian fasilitas bahan bakar dan memberikan dukungan intelijen, mereka membantu memastikan serangan lebih tepat dan kematian warga sipil dijaga seminimal mungkin.

Mattis mengatakan pada bulan Agustus bahwa dukungan militer AS “tidak tanpa syarat”, tetapi juga bersikeras bahwa militer Saudi mengambil tindakan pencegahan yang tepat dan mengikuti prosedur baru setelah menjalani pelatihan dari Amerika.

“Pelatihan yang kami berikan kepada mereka, kami tahu telah terbayar,” kata Mattis kepada para wartawan. “Kami memiliki pilot di udara yang mengenali bahaya dari misi tertentu dan menolak untuk turun bahkan ketika mereka memiliki otoritas. Kami telah melihat prosedur staf yang menetapkan area tanpa serangan, di sekitar area di mana ada rumah sakit atau sekolah.”

Pekan lalu, Mattis juga menyerukan gencatan senjata yang memberikan efek signifikan bulan ini, dan mengatakan bahwa “Saudi dan Emirat siap (melakukan gencatan senjata)”, dan menyalahkan Houthi atas kegagalan negosiasi di masa lalu.

Beberapa ahli mengatakan pada Jumat (9/11), bahwa pemerintahan Trump juga mencoba untuk menghentikan meningkatnya kecaman atas hubungan baik AS dengan monarki Saudi, dan mengatakan harapan bahwa mayoritas Demokrat baru di DPR pada bulan Januari dapat menahan AS.

Hubungan AS-Saudi yang lebih luas juga mendapat lebih banyak kecaman sejak dugaan pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, bulan lalu di dalam Konsulat Riyadh di Istanbul, Turki.

Para kritikus di Kongres telah menyerukan Gedung Putih untuk mencegah penandatanganan kesepakatan senilai $110 miliar untuk menjual senjata kepada Arab Saudi.

“Itu dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk melampaui tindakan kongres terhadap penjualan persenjataan Saudi dan dukungan operasional lainnya,” kata Michael Knight, seorang rekan di Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat, yang telah berkonsultasi dengan koalisi yang dipimpin Saudi dalam kampanyenya di Yaman melawan kelompok pemberontak Houthi dan militan yang berafiliasi dengan Al Qaeda.

“Sudah jelas pemerintah memutuskan untuk mengakhiri pengisian bahan bakar karena melihat pesan yang sangat jelas, dan ingin menyelamatkan muka sebelum Kongres dapat memilih untuk memangkas dukungan AS bagi koalisi,” tambah Kate Kiszer, direktur kelompok advokasi kebijakan luar negeri yang progresif, Win Without War.

Baca Juga: Ketika Kelaparan Membayangi Yaman, Koalisi Saudi Gandakan Serangan

Perang Yaman

Tentara Yaman yang setia kepada pemerintah Yaman yang didukung Saudi ikut serta dalam upacara kelulusan di Taez, Yaman, pada 27 Oktober. (Foto: AFP/Getty Images/Ahman al-Basha)

Dampak praktis dari langkah baru ini kemungkinan akan terbatas. Amerika Serikat hanya menyediakan sekitar 10 persen dari dukungan pengisian bahan bakar untuk pasukan udara, menurut Knight.

Namun demikian, hal itu masih bisa mengurangi korban sipil.

“Penghapusan dukungan itu tidak akan mengakhiri perang,” jelasnya, “tetapi itu mungkin membuat lebih sulit bagi Arab Saudi untuk menempatkan pesawat di atas ibu kota Yaman.”

Itu adalah bagian dari negara itu, katanya, di mana Saudi telah melakukan beberapa serangan yang paling dipertanyakan, termasuk terhadap pemberontak yang sedang bergerak.

Keputusan itu dilihat oleh banyak kritikus terkait peran AS hingga saat ini, sebagai titik balik yang signifikan.

“Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat telah menjual senjata ke Arab Saudi dan menawarkan bantuan penargetan dan pengisian bahan bakar, ketika bom buatan Amerika dikirim untuk membunuh ribuan orang tak berdosa, termasuk anak-anak,” kata Murphy dalam pernyataannya. “AS telah meradikalisasi seluruh generasi karena ada jejak Amerika pada setiap warga sipil yang terbunuh di sana.”

Masih ada lebih banyak yang harus dilakukan (Amerika), dia bersikeras. “Mengapa kita masih membantu Saudi dengan penargetan?” tanyanya. “Mengapa kita masih menjual bom kepada mereka dengan harga diskon?”

Kevin Martin—Presiden Peace Action, sebuah kelompok anti-perang—juga memuji pemerintahan Trump karena mengambil tindakan, tetapi menyatakan harapan bahwa itu akan sepenuhnya membebaskan Amerika Serikat dari konflik jika penyelesaian damai tidak dapat dicapai.

“Ini adalah langkah penting, tetapi ini bukan akhir dari perjuangan untuk mengakhiri dukungan AS dalam perang dan mengakhiri perang itu sendiri,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Seperti yang lain, dia meminta Kongres untuk memainkan peran yang lebih aktif.

“Kongres harus mengesahkan resolusi kekuatan perang Yaman untuk mengikat pemerintah pada perubahan kebijakan ini, untuk mengakhiri bentuk lain dari dukungan AS untuk perang, dan untuk merebut kembali otoritas konstitusionalnya tentang masalah perang,” kata Martin. “Perang ini ilegal sejak awal, dan sudah waktunya bagi Kongres untuk berdiri dan mengatakannya.”

Defense Priorities—sebuah wadah pemikir yang didanai oleh Charles Koch Foundation yang beraliran konservatif, yang mendukung kebijakan luar negeri yang kurang intervensionis—juga mengecam Presiden Barack Obama karena mendukung koalisi yang dipimpin Saudi di Yaman sejak awal.

“Dukungan militer AS untuk konflik ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah dimulai oleh Presiden Obama,” kata Benjamin Friedman, seorang akademisi senior di Defense Priorities. Misi tersebut “adalah bencana kemanusiaan yang tidak melakukan apa pun untuk mendorong keamanan AS—atau justru merusaknya.”

Dia juga mengatakan, penghentian pengisian bahan bakar Amerika terhadap pesawat tempur Saudi seharusnya hanya menjadi permulaan.

“Amerika Serikat harus mengakhiri bentuk lain dari dukungan intelijen dan logistik yang diberikan kepada Saudi, termasuk penjualan senjata yang membantu kampanye pengeboman mereka,” kata Friedman.

Mattis—dalam pernyataannya pada Jumat (9/11)—menegaskan kembali perlunya mencari solusi diplomatik atas konflik tersebut.

“Kami semua fokus untuk mendukung penyelesaian konflik,” katanya. “AS dan Koalisi berencana untuk berkolaborasi dalam membentuk pasukan Yaman yang sah untuk membela rakyat Yaman, mengamankan perbatasan negara mereka, dan berkontribusi untuk melawan upaya Al Qaeda dan ISIS di Yaman dan kawasan itu.”

“AS juga akan terus bekerja dengan Koalisi dan Yaman untuk meminimalkan korban sipil dan memperluas upaya kemanusiaan yang mendesak di seluruh negeri,” Mattis menambahkan, dan menyerukan kepada semua pihak untuk “mendukung upaya PBB yang sedang berlangsung pada tahap baru ini di Yaman.”

Pemerintah Saudi bersikeras pada Jumat (9/11), bahwa pihaknya mengejar hasil yang sama, melalui upaya baru untuk menerapkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2216 (UNSCR 2216), yang diadopsi pada tahun 2015. Upaya untuk mengakhiri konflik secara damai sejauh ini gagal menghasilkan sesuatu.

“Komando Koalisi mengungkapkan harapannya,” kata pernyataan Saudi, “bahwa negosiasi yang disponsori PBB yang akan datang di negara ketiga, akan mengarah ke penyelesaian yang dinegosiasikan sesuai dengan UNSCR 2216, dan mengakhiri agresi oleh milisi Houthi yang didukung Iran terhadap orang-orang Yaman dan negara-negara di kawasan ini.”

Keterangan foto utama: Menteri Pertahanan Jim Mattis menyapa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Pentagon pada 16 Maret 2017. Keputusan Mattis untuk menghentikan pengisian bahan bakar untuk pesawat perang Saudi dipandang sebagai langkah untuk menghukum kerajaan karena keterlibatannya dalam perang sipil Yaman. (Foto: AFP/Getty Images/Nicholas Kamm)

Perang Yaman: Pentagon Hentikan Pengisian Bahan Bakar Pesawat Koalisi Saudi

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top