Putra Mahkota Arab Saudi
Berita Politik Indonesia

Berusaha Perbaiki Citra, Mohammed bin Salman Akan Kunjungi Indonesia

Berita Internasional >> Berusaha Perbaiki Citra, Mohammed bin Salman Akan Kunjungi Indonesia

Putra Mahkota Arab Saudi akan melakukan perjalanan singkat ke Indonesia pada tanggal 14 Februari, dalam upaya untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini. Kunjungan Mohammed bin Salman yang tidak diberitahukan sebelumnya ini dikabarkan berkaitan dengan perubahan pandangan Saudi terhadap Indonesia, yang sebelumnya dianggap sebagai negara miskin yang hanya mengandal pemasukan dari tenaga kerjanya di luar negeri. MBS dikabarkan juga sedang berusaha memperbaiki citranya yang rusak.

Oleh: John McBeth (Asia Times)

Baca Juga: Terduga Pembunuh Jamal Khashoggi Ditunjuk Jadi Duta Besar Arab Saudi

Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman—yang dikecam di banyak bagian dunia karena dugaan perannya dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi—dijadwalkan tiba di Jakarta pada Kamis (14/2) dalam kunjungan singkat yang juga akan berfungsi untuk mengembalikan citranya yang rusak, selain untuk urusan bisnis dan diplomasi.

Asia Times secara eksklusif mengetahui bahwa pangeran berusia 33 tahun itu—yang secara luas dikenal sebagai MBS—meminta kunjungan itu pada bulan Desember sebagai bagian dari tur beberapa negara Islam di Asia, di mana satu sumber pemerintah senior menggambarkannya sebagai upaya untuk ”mengembalikan citranya atau re-branding, ” tetapi mungkin dengan pemanis bisnis juga.

Perjalanan tanpa pemberitahuan itu terjadi dua tahun setelah ayahnya, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saudi, melakukan kunjungan pertama ke Indonesia oleh seorang raja Saudi dalam 47 tahun, di mana dana yang dikeluarkan untuk menggunakan kamar hotel lebih besar daripada yang dihabiskan Arab Saudi untuk investasi langsung di Indonesia selama tahun 2017.

Sumber-sumber di komunitas Muslim setempat mengatakan bahwa Riyadh telah memiliki perubahan sikap terhadap Indonesia sejak konferensi Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Bali pada Oktober lalu, yang memperlihatkan potensi ekonomi Indonesia dan menunjukkan bahwa Indonesia lebih dari sekadar tanah yang penuh TKI yang  yang dapat diekspor.

“Pertemuan IMF benar-benar membuka mata bagi banyak pengusaha Saudi,” klaim seorang tokoh Muslim Indonesia yang memiliki ikatan kuat dengan kerajaan Saudi. “Mereka mengira kami adalah negara miskin yang hanya menghasilkan pekerja rumah tangga. Mereka terkejut kami membuat kereta, kapal, dan pesawat.”

Baca Juga: Investasi Saudi di Pakistan Picu Ketegangan dengan China

Raja Saudi Salman (kiri) mengendarai kereta golf bersama Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Merdeka di Jakarta, 2 Maret 2017. (Foto: Reuters/Dita Alangkara/Pool)

Awal tahun ini, Indonesia adalah negara tamu di Festival Janadriyah tahunan—sebuah pameran seni dan budaya bergengsi di Riyadh yang telah membantu posisinya di dunia Arab.

Sumber-sumber itu menolak spekulasi bahwa kunjungan tersebut dijadwalkan untuk memberi Presiden Joko Widodo dorongan menjelang Pemilihan Presiden pada bulan April mendatang, mengingat upaya Jokowi yang berkesinambungan selama setahun terakhir untuk meningkatkan posisinya di kalangan Islam konservatif.

Dalam langkah terakhirnya yang keliru, Jokowi dipaksa untuk menarik kembali amnesti yang ia pertimbangkan untuk pemimpin teroris Abu Bakar Baasyir, yang sekarang menjalani hukuman penjara 15 tahun karena mendanai kamp pelatihan militan, setelah Baasyir menolak bersumpah setia kepada negara.

“Untuk Jokowi, keuntungan elektoral yang dia dapatkan tidak akan banyak,” kata tokoh Muslim itu merujuk pada kunjungan pangeran Saudi. “Muslim moderat aman di kubunya (Jokowi) dan kaum Islamis tidak suka MBS. Dia dianggap terlalu liberal. Pengaruh buruk.”

Itu berasal dari pengakuan Pangeran MBS bahwa Wahabisme Arab Saudi—sebuah doktrin Islam ultra-konservatif dan gerakan keagamaan yang didirikan pada tahun 1700-an—yang tumbuh di dalam negeri, telah bertanggung jawab atas pertumbuhan radikalisme dan terorisme di seluruh dunia.

Seorang wanita Aceh dicambuk karena bermesaraan dengan seorang pria yang bukan suaminya, yang bertentangan dengan hukum Syariah, di kota Jantho, Provinsi Aceh, 10 Maret 2017. (Foto: AFP/Chaideer Mahyuddin)

“Itulah sebabnya dia berbicara tentang mengadaptasi jalan tengah,” kata Azyumardi Aztra, Direktur sekolah pascasarjana di Universitas Islam Nasional yang berbasis di Jakarta. “Tapi dia tidak menjelaskan apa jalan tengah itu.”

“Visi 2030” milik MBS berencana untuk menghentikan Arab Saudi dari ketergantungan tradisionalnya pada pendapatan minyak dan mengubah kerajaan itu menjadi negara modern, di mana bisnis swasta tumbuh subur dan perempuan diizinkan untuk mengendarai mobil dan menikmati kebebasan pribadi lainnya.

Namun, sejauh ini, reformasi ekonominya hanya membawa kepedihan. Kembalinya lebih dari satu juta pekerja migran dari Arab Saudi ke negara-negara tetangga di Asia Selatan telah menyebabkan jatuhnya pengeluaran konsumen domestik, sementara lebih sedikit kontrak konstruksi dan berkurangnya subsidi bahan bakar telah memberikan pukulan lebih lanjut bagi perekonomian.

Selama delapan hari kunjungan Raja Salman di Indonesia—yang sebagian besar dihabiskan di Bali—penandatanganan kesepakatan senilai US$1 miliar untuk mendanai apa yang secara samar-samar digambarkan sebagai “berbagai proyek pembangunan”, masih jauh dari investasi senilai $25 miliar yang diharapkan oleh para pejabat Indonesia untuk diselesaikan selama perjalanan tersebut.

Baca Juga: Laporan Arab Saudi Berbeda dengan Temuan CIA atas Pembunuhan Khashoggi

Raja Arab Saudi Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman di Riyadh, 8 November 2017. (Foto: Reuters/Saudi Press Agency)

Salah satunya adalah ekspansi kilang minyak Cilacap senilai $6 miliar di pantai selatan Jawa, yang telah menjadi subjek nota kesepahaman antara perusahaan minyak milik negara Saudi Aramco dan Pertamina pada Mei 2016.

Dua tahun kemudian, kedua perusahaan tersebut belum membangun usaha patungan formal untuk memperluas kapasitas kilang dari 340 ribu menjadi 370 ribu barel per hari. “Ini khas Arab Saudi atau negara Arab mana pun,” kata akademis Azyumardi. “Mereka suka membuat janji, tetapi tampaknya mereka tidak pernah menepatinya.”

Secara umum, para komentator Muslim percaya bahwa akan butuh waktu bagi Saudi untuk mengubah apa yang disebut “sikap rasis” mereka terhadap masyarakat Indonesia dan pemerintah Jakarta, yang sering diabaikan ketika Riyadh mengeksekusi—termasuk dengan memenggal kepala—para pembantu rumah tangga Indonesia yang dituduh membunuh warga Saudi mereka, yang merupakan majikan yang sering melakukan kekerasan.

Tetapi walau mereka merasa bahwa masyarakat Indonesia mempraktikkan Islam yang sesat—yang diilhami dalam banyak hal oleh pendidikan budaya masyarakat Indonesia—namun terdapat sedikit argumen di Arab Saudi saat ini tentang kesalehan Muslim Indonesia, yang memberikan jumlah jemaah Haji terbesar yang berbondong-bondong ke Mekah setiap tahunnya.

Keterangan foto utama: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Royal Court di Riyadh pada 14 Januari 2019. (Foto: AFP/Andrew Caballero-Reynolds/Pool)

Berusaha Perbaiki Citra, Mohammed bin Salman Akan Kunjungi Indonesia

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top