Putin Sombongkan Rudal Hipersonik, Militer Rusia Lenturkan Ototnya
Eropa

Putin Sombongkan Rudal Hipersonik, Militer Rusia Lenturkan Ototnya

Presiden Rusia Vladimir Putin menyaksikan peluncuran rudal hipersonik Avangard di National Control Center melalui konferensi video. (Foto: Sputnik/AFP/Mikhael Klimentyev)
Berita Internasional >> Putin Sombongkan Rudal Hipersonik, Militer Rusia Lenturkan Ototnya

Pada tahun 2018, Moskow memenangkan Suriah, serta menaikkan taruhan di Laut Hitam dan Timur Jauh, tetapi kesenjangan pertahanan udara dan kesalahan spionase mengungkapkan rasa malu yang diderita militer Rusia. Kali ini, militer Rusia mulai melenturkan ototnya, dan Putin siap menyombongkan rudal hipersoniknya.

Oleh: Andrew Salmon (Asia Times)

Presiden Rusia Vladimir Putin memuji potensi rudal hipersonik yang baru pada Rabu (26/12), setelah uji coba yang berhasil, hanya beberapa hari setelah Israel—sekali lagi—menentang Moskow dan menembus sistem pertahanan udara Damaskus yang dipasok oleh Rusia.

Dengan hubungan Moskow-Washington yang sangat beku, Rusia—meskipun ada perbedaan besar dalam kekayaan nasional antara dirinya dan Amerika Serikat (AS)—telah berinvestasi secara besar-besaran dalam senjata teknologi tinggi.

Secara lebih luas, Putin telah menjadikan peningkatan kemampuan, moral, profil publik, dan perangkat keras militer Rusia, sebagai prioritas utama.

Tahun 2018 telah menyaksikan sejumlah kesuksesan besar bagi Moskow di Mediterania, Laut Hitam, Suriah, dan Timur Jauh. Tetapi tahun ini juga telah melihat kerentanan sistem Rusia terekspos, sementara reputasi unit spionase yang paling dibanggakan Rusia, menahan malu setelah mengalami operasi yang memalukan.

Baca Juga: Rusia Kritik Israel karena ‘Pelanggaran Berat’ dalam Serangan Suriah

‘Hadiah Tahun Baru’

Pada Rabu (26/12), rudal Avangard—salah satu dari serangkaian senjata nuklir baru yang dirancang untuk melawan sistem pertahanan rudal AS—diuji coba.

Senjata itu dilaporkan memiliki jangkauan antarbenua dan dapat terbang dengan kecepatan hipersonik—20 kali kecepatan suara—yang memungkinkannya untuk melampaui pertahanan rudal yang ada.

Senjata itu diluncurkan dari pangkalan rudal Dombarovskiy di Ural selatan, dan—menurut sumber-sumber Rusia—rudal itu mencapai sasaran pada jarak di Kamchatka, Siberia, 3.700 mil jauhnya.

“Avangard tidak dapat dicegat oleh pertahanan rudal yang ada dan prospektif dari musuh-musuh potensial,” kata Putin, yang menyaksikan uji coba dari ruang kontrol, setelah uji coba tersebut.

Dia mengatakan bahwa senjata baru itu akan ditambahkan ke dalam Pasukan Rudal Strategis Rusia pada tahun 2019. Melihat bahwa tidak ada negara lain yang memiliki senjata hipersonik, Putin menggambarkan Avangard sebagai “hadiah Tahun Baru yang sangat baik bagi negara ini.”

Krisis Maritim Baru Rusia-Ukraina adalah Tantangan Besar bagi Eropa

Seorang tentara Ukraina berpatroli di kapal yang tertambat di Mariupol, Ukraina, di Laut Azov pada 27 November. (Foto: AFP/Getty Images/Sega Volskii)

Laut Hitam dan Laut Mediterania

Pada bulan November 2019, otot militer Moskow berhasil direnggangkan, ketika kapal-kapal Rusia menembaki dan menangkap tiga kapal Ukraina dan awak mereka di Selat Kerch, yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Azov.

Kiev—yang menikmati dukungan verbal dan diplomatik dari Uni Eropa dan AS, tetapi tidak memiliki aliansi militer dengan negara-negara demokrasi Barat—terbukti tidak mampu merespons.

Penyanderaan kapal hanyalah yang terbaru dari serangkaian langkah Rusia untuk mendominasi Laut Hitam dan mendorong maju ke Laut Mediterania.

Setelah menganeksasi Krimea—pangkalan angkatan laut yang memiliki makna sejarah dan strategis luar biasa bagi Rusia—dari Ukraina pada tahun 2014, Moskow membangun jembatan sepanjang 19 kilometer di atas Selat Kerch. Jembatan jalan tersebut—yang menghubungkan Krimea dengan Rusia—dibuka pada Mei 2018. Operasi kereta api diperkirakan akan dimulai pada tahun 2019.

Meskipun Ukraina memiliki garis pantai yang panjang di Laut Hitam dan Laut Azov, namun peristiwa bulan lalu menunjukkan dengan jelas, bahwa kedua wilayah air tersebut sekarang secara efektif menjadi danau Rusia. Meski demikian, tindakan Kremlin dapat menjadi bumerang, dengan bertambahnya dukungan untuk kandidat anti-Rusia dalam pemilu Ukraina pada bulan Maret mendatang.

Sementara itu, berkat hubungan yang baik dengan Ankara, Moskow telah menghubungkan Bosphorus—hambatan strategis klasik yang menghubungkan Laut Hitam dan Mediterania—dan menjadikan Rusia pemain baru di Mediterania Timur, di mana Rusia sekarang beroperasi dari pangkalan-pangkalan Suriah.

Angkatan Laut Rusia mengebor di perairan ini pada bulan September, dengan sekitar 25 kapal dan 30 pesawat; latihan serupa telah diadakan pada tahun 2013.

Di Suriah, strategi jangka panjang Putin tampaknya telah memberinya kendali atas ruang pertempuran, menyusul keputusan mengejutkan Presiden AS Donald Trump untuk menarik pasukan AS—penarikan yang kemungkinan akan mempengaruhi kehadiran Inggris dan Prancis di kawasan itu.

Kremlin juga menunjukkan kehebatan dan niatnya dengan Vostok 2018—latihan militer besar-besaran di Timur Jauh Rusia. Ini adalah latihan militer terbesar yang diadakan oleh negara mana pun sejak akhir Perang Dingin, yang melibatkan 300 ribu personel dan 36 ribu kendaraan, ditambah kontingen kecil dari China dan Mongolia.

Namun tahun ini belum sepenuhnya sukses untuk perangkat keras Rusia, atau militer Rusia.

Kemalangan di Suriah

Pada bulan September, sebuah pesawat pengintai Rusia ditembak jatuh oleh sekutu Suriah-nya, selama serangan angkatan udara Israel di Suriah. Semua 15 anggota awak pesawat tewas.

Hubungan dengan Israel menegang, ketika Moskow yang marah menuduh Tel Aviv menggunakan pesawat Rusia untuk melindungi pesawat yang melakukan serangan itu. Tak lama setelah itu, Kremlin mengatakan akan menawarkan kepada Damaskus rudal surface-to-air (SAM) S-300 mutakhir, serta kemampuan peperangan elektronik terkait.

Saat ini, dari pangkalan Rusia di Khmeimim di Suriah, jangkauan rudal SAM S-400 “Triumf” mencakup sebagian besar Suriah, Lebanon, dan bahkan Israel utara.

Semua sistem pertahanan udara ini dikerahkan sepenuhnya pada awal Desember, menurut Institute for Study of War yang berbasis di Washington. Dan The Jerusalem Post mencatat bahwa sistem rudal baru tersebut akan “sangat membatasi kemampuan Israel untuk melancarkan serangan terhadap pasukan Iran di negara itu.”

Namun Israel—yang memiliki salah satu pasukan udara paling tangguh di dunia—membuktikan semua gertakan pada Selasa (25/12), ketika Israel melepaskan serangan udara terhadap apa yang diyakini sebagai target Iran di dekat Damaskus.

Media Suriah mengklaim bahwa jaringan pertahanan udara mereka menembak jatuh banyak rudal surface-to-air yang ditembakkan, sementara Moskow menuduh Israel membahayakan maskapai penerbangan sipil.

Namun, baik Moskow maupun Damaskus tidak mengklaim bahwa pesawat Israel telah jatuh, sementara media Suriah mengakui bahwa pangkalan militer telah diserang.

Sumber-sumber Rusia mengatakan bahwa Suriah belum sepenuhnya mengaktifkan jaring pertahanan udara untuk menghindari membahayakan pesawat—pernyataan yang tampaknya mengungkapkan celah dalam sistem tersebut.

Mata-Mata Rusia

Warga negara Rusia yang menggunakan nama Alexander Petrov dan Ruslan Boshirov telah ditetapkan sebagai tersangka dalam serangan terhadap Skripal. (Foto: Laporan Kepolisian Metropolitan Inggris/Reuters)

Mata-mata yang ceroboh teridentifikasi dan tertangkap

Juga pada tahun 2018, unit intelijen militer Kremlin yang pernah ditakuti, GRU—sebuah unit yang diyakini memainkan peran sentral dalam pencaplokan Rusia yang sangat sukses dan tidak berdarah di Krimea pada tahun 2014—menahan malu akibat operasi yang gagal di Eropa Barat.

Setelah berbulan-bulan penyangkalan oleh Moskow yang vokal, penuh amarah, dan seringkali ditertawakan atas tanggung jawab dalam serangan agen saraf yang gagal terhadap agen ganda Sergei Skripal di Salisbury, Inggris, pada bulan Maret, dua warga negara Rusia diidentifikasi oleh polisi Inggris sebagai tersangka, pada bulan September.

Setelah itu, Moskow menghadirkan keduanya sebagai orang yang tidak bersalah dalam sebuah wawancara televisi, namun kemudian identitas mereka sebagai petugas GRU terungkap oleh situs investigasi Bellingcat.

Pengungkapan itu kemudian dikonfirmasi oleh wartawan di Rusia, yang mengunjungi desa asal kedua pria itu.

Kemudian, pada bulan Oktober, empat agen GRU ditangkap oleh polisi Belanda di sebuah mobil di dekat Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Den Haag. Mobil mereka penuh dengan peralatan peretas, tetapi ketika berbicara soal membersihkan peralatan mereka, para agen itu sangat tidak profesional.

Salah satu pria yang ditangkap memiliki ponsel yang telah diaktifkan di Markas GRU di Moskow, dan tanda terima taksi dari Markas GRU ke Bandara Moskow ditemukan oleh otoritas Belanda.

Operasi ini menyusul kudeta yang gagal di Montenegro pada tahun 2016, di mana GRU diduga terlibat.

Kesalahan oleh GRU tersebut—yang diyakini sebagai agen mata-mata Rusia terbesar dan terkuat—menyebabkan kerugian nasional, mengingat pengusiran para diplomat Rusia dari berbagai negara. Mereka juga mempermalukan media-media Rusia, yang telah mendukung pemerintah mereka dan meremehkan klaim Inggris atas keterlibatan GRU dalam kasus Skripal.

Nasib yang dialami kepala-kepala badan tersebut baru-baru ini menunjukkan bahwa mengepalai GRU adalah pekerjaan yang membuat stres.

Pada 21 November 2018, media Rusia RT melaporkan bahwa kepala GRU Igor Korobov (62 tahun) telah meninggal dunia setelah menderita “penyakit jangka panjang dan serius,” setelah mengepalai agensi tersebut hanya dua tahun. Ia mencatat bahwa pendahulunya Igor Sergun (58 tahun) juga meninggal, dilaporkan karena serangan jantung, setelah memimpin agensi tersebut selama lima tahun.

Baca Juga: Putin Hadapi Akhir Masa Jabatan, Rusia Pertimbangkan Ubah Konstitusi

Keterangan foto utama: Presiden Rusia Vladimir Putin menyaksikan peluncuran rudal hipersonik Avangard di National Control Center melalui konferensi video. (Foto: Sputnik/AFP/Mikhael Klimentyev)

Putin Sombongkan Rudal Hipersonik, Militer Rusia Lenturkan Ototnya

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top