Tahun Baru China
Asia

Tahun Babi: Tahun Baru China Jadi Masalah bagi Muslim Asia Tenggara?

Berita Internasional >> Tahun Babi: Tahun Baru China Jadi Masalah bagi Muslim Asia Tenggara?

Menyambut Tahun Baru China, timbul pertanyaan, akankah ada masalah bagi umat Muslim Asia Tenggara? Tahun Baru China kali ini adalah Tahun Babi, hewan yang dianggap haram dalam agama Islam. Berikut bagaimana perayaan dan tanggapan penduduk beragama Islam dan etnis China di negara-negara mayoritas Muslim Asia Tenggara.

Baca Juga: Perang Dagang AS-China Segera Berakhir, Perang Teknologi Baru Dimulai

Oleh: BBC

Masyarakat di seluruh dunia bersiap-siap untuk merayakan Tahun Baru China, yang kali ini memasuki Tahun Babi. Perayaan Tahun Baru China biasanya menonjolkan binatang yang dirayakan dan digambarkan di mana-mana: dalam dekorasi, mainan, hadiah, dan iklan.

Tetapi babi, hewan terakhir dalam urutan kalender zodiak China, dianggap haram oleh umat Islam sehingga tidak boleh dikonsumsi karena membuat dosa. Jadi, apakah Tahun Baru Babi menimbulkan masalah bagi orang yang merayakan tahun baru China di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Asia Tenggara?

Seperti kebanyakan keluarga China-Malaysia, tahun baru Imlek adalah perkara serius bagi keluarga Chow, yang tinggal di kota Batu Pahat yang sepi di Johor, Malaysia. Tahun China kali ini sangat penting karena Chow Yoon Kee, istrinya Stella, dan putri mereka semuanya lahir di Tahun Babi.

“Kami akan menampilkan banyak ornamen babi yang beruntung di rumah dan tentu saja, harus mengunjungi kerabat, teman, pekerja, dan tetangga kami, tidak peduli ras atau agama. Perayaan adalah untuk semua orang,” kata Chow, seorang floor manager di sebuah pabrik biskuit lokal. Dia tidak khawatir tentang perayaannya menyinggung sesama penghuni karena dia percaya tidak ada tanda-tanda kontroversi tahun baru kali ini.

“Ada banyak keributan tahun lalu,” kenangnya, ketika Tahun Baru China 2018 adalah Tahun Anjing,yang juga dipandang sebagai binatang yang haram oleh sebagian Muslim.

Pemerintah Malaysia pada tahun 2018 bertindak berhati-hati untuk tidak memasang dekorasi anjing secara berlebihan. (Foto: AFP)

Malaysia adalah negara multikultural, tetapi agama resminya adalah Islam, dan ada banyak laporan tentang perilaku intoleransi terhadap kegiatan dan tindakan yang dianggap menghina umat Islam. Begitu banyak toko dan pedagang yang menghindari menggunakan gambar anjing karena takut menyinggung komunitas Muslim.

Namun Chow merasa pihak berwenang setempat telah mengabaikan perasaan masyarakat China, yang sebenarnya merayakan liburan.

Baca Juga: Tahun 2019, Ekonomi Asia Terombang-ambing akibat Melemahnya China

“Malaysia adalah negara yang terdiri dari banyak ras, bukan hanya Muslim Melayu. Kita memiliki komunitas China dan India juga, serta agama-agama lain seperti Kristen, Hindu, Taoisme, dan Buddha sehingga kita harus menghormati kepercayaan dan perayaan satu sama lain.”

Namun dia menambahkan bahwa “semangat sensor” tampaknya tidak berlanjut di Tahun Babi.

Dekorasi babi raksasa memenuhi Chinatown Singapura menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. (Foto: AFP)

Setiap hewan dalam zodiak China diyakini memiliki sifat dan kualitas uniknya sendiri. Mereka yang lahir di Tahun Babi dikatakan cerdas, penyayang, dan loyal. Pentingkah jika hewan zodiak seseorang ternyata tidak diterima masyarakat luas?

Baca Juga: Senjata Baru China: Fiksi Ilmiah atau Siap Tempur?

“Sama sekali tidak ada alasan untuk khawatir,” kata konsultan Feng Shui yang berbasis di Kuala Lumpur, Joey Yap. Dia mengatakan kepada BBC bahwa tampaknya tidak ada sensitivitas mengenai perayaan Tahun Baru Imlek di Malaysia tahun ini, dibandingkan dengan tahun lalu.

Dekorasi merah terlihat berlimpah di Pecinan Jakarta. (Foto: Getty Images)

“Babi tidak akan menjadi masalah,” katanya, menambahkan bahwa apakah Anda menampilkan benda atau tidak “tidak mempengaruhi keberuntungan pribadi seseorang.” “Warna, lambing, mereka semua tidak penting. Faktanya, keberuntungan seseorang semua bermuara pada tindakan seseorang, jadi tunjukkanlah sikap positif,” katanya.

Baca Juga: Sekilas tentang Tatanan Dunia Baru China Masa Depan

‘Babi pertama yang boleh dimakan oleh umat Islam’

Meskipun Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Tahun Baru China adalah hari libur nasional di Indonesia. Perayaan Imlek di area publik diterima secara luas. Lentera, parade penuh warna, dan pertunjukan sering terlihat di banyak kota. Merry Olivia di Jakarta mengatakan bahwa teman-teman Muslimnya menyambut gambar babi dengan baik.

Pemilik toko roti Valeria Rita mengatakan kue-kue istimewanya adalah dagangan populer selama hari libur Imlek di kalangan pelanggan Muslim. (Foto: Dapur Mama Loe)

“Saya tumbuh dengan banyak Muslim Indonesia sehingga saya tahu babi tidak akan membuat mereka merasa tidak nyaman,” katanya, seraya menambahkan bahwa babi tampak lebih “meriah” daripada hewan zodiak lainnya. “Jika Anda membandingkan babi dengan ular, babi lebih menggemaskan sehingga orang lebih suka membeli dekorasi yang dihiasi dengan gambar babi. Tidak banyak orang di Jakarta yang suka ular.”

Pemilik toko roti Valeria Rita menghadirkan suguhan istimewa pada Tahun Baru Imlek: kue berbentuk babi dengan isian selai nanas manis. Dia mengatakan responnya sangat bagus. “Jeruk atau jeruk keprok adalah simbol populer untuk Tahun Baru China. Tahun ini, kami memutuskan untuk membuat suguhan berbentuk babi dan kuota untuk pemesanan di muka telah habis dalam dua minggu.”

Baca Juga: Perang Dagang dengan China: Tak Mudah untuk Dimenangkan

Banyak pelanggannya juga berasal dari umat Muslim. “Mereka membeli kue saya untuk kolega dan teman China yang merayakan liburan. Beberapa juga memesan sendiri karena mereka suka gambar babi,” katanya, berbagi lelucon yang dibuat oleh sahabatnya, juga seorang Muslim. “Jualan saya adalah babi pertama yang boleh dimakan oleh umat Islam.”

‘Saya tidak ingin menyinggung’

Tapi Tahun Baru China kali ini adalah situasi yang berbeda untuk Rangga Sastrajaya, 24 tahun, dari kota Bogor. Dia membeli banyak mainan dan dekorasi babi, tetapi berhati-hati dalam menampilkannya secara terbuka karena dia merasa banyak orang Indonesia masih tidak menerima keragaman budaya.

“Saya bisa mengenakan kemeja bergambar babi atau memajang dekorasi bertema babi di rumah, tetapi saya akan cukup berhati-hati dalam memamerkannya di depan umum karena saya tidak ingin menyinggung siapa pun,” demikian Rangga mengaku.

Akankah semangat Tahun Baru China memicu kemarahan secara luas di kalangan Muslim konservatif? (Foto: AFP)

Tetapi ada orang-orang yang mengecam perayaan Imlek. Forum Muslim Bogor (FMB), sebuah organisasi Islam konservatif di Jawa Barat, mengeluarkan surat yang menuntut pembatalan perayaan. Mereka mengatakan bahwa acara itu “tidak pantas” bagi umat Islam karena dapat “merusak iman Islam.” Tindakan mereka diikuti oleh kelompok lain seperti Pemuda Pancasila (PP) dan Persatuan Forum Komunikasi Pemuda Melayu (PFKPM), yang sebelumnya mengutuk perayaan tahun baru oleh komunitas China.

Tahun 2017, Gubernur Jakarta keturunan China-Kristen Basuki Tjahaja Purnama dipenjara karena kasus penistaan terhadap agama Islam. (Foto: Getty Images)

Analis Thung Ju-Lan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menganggap sentimen semacam itu sebagai “dampak naratif intoleran dan politis,” jenis yang sama yang mengguncang Jakarta dua tahun lalu. Protes besar-besaran terjadi terhadap mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, seorang keturunan China-Kristen yang dinyatakan bersalah atas kasus penistaan agama, dalam sebuah persidangan yang dianggap sebagai ujian toleransi beragama di Indonesia.

“Ini adalah dampak dari pemilihan gubernur di Jakarta, dalam kasus Ahok. Sentimen yang sama telah menyebar,” kata Ju-Lan kepada BBC. “Masalah intoleransi terus berlanjut karena kita memiliki pemahaman sempit tentang apa yang sebenarnya terjadi. Semakin kita tidak mengerti, semakin kita menjadi tidak toleran.”

Mengenai perayaan Tahun Baru China, banyak umat Muslim di Indonesia merasa hal itu “lebih bersifat religius daripada kultural.”

Namun demikian, seorang politisi telah berbicara membela komunitas China. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mendorong agar kepercayaan orang-orang dari berbagai budaya, agama, dan tradisi dapat dihormati. “Terlepas dari apa yang orang pahami tentang perayaan seperti itu, saya mengundang semua orang untuk menghormati tradisi,” katanya.

Laporan oleh Heather Chen dari BBC News di Singapura dan Christine Franciska and Ayomi Amindoni dari BBC Indonesia di Jakarta.

Keterangan foto utama: Guru-guru Muslim menghadiri acara kaligrafi China di Kuala Lumpur, Malaysia untuk memeriahkan Tahun Babi. (Foto: Reuters)

Tahun Babi: Tahun Baru China Jadi Masalah bagi Muslim Asia Tenggara?

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top