Brexit
Eropa

Tanpa Brexit, Inggris Kehilangan Pemerintah dan Jalan Keluar

Berita Internasional >> Tanpa Brexit, Inggris Kehilangan Pemerintah dan Jalan Keluar

Inggris terjebak dalam kerumitan Brexit buatannya sendiri, dan tidak ada jalan keluar. Kawan-kawan Inggris di manapun tercengang. Bagaimana bisa negara yang relatif stabil dan sebagian besar diperintah secara baik benar-benar kehilangan kekuatan politiknya?

Oleh: Glen O’Hara (Foreign Policy)

Baca Juga: Kesepakatan Brexit-nya Tak Disetujui Parlemen, Theresa May Terancam Lengser

Inggris terjebak dalam lubang yang dalam dan masih terus menggali. Kekacauan pekan lalu adalah puncak dari serangkaian kesalahan yang panjang. Keputusan hari ini oleh Pengadilan Perserikatan Uni Eropa, bahwa Inggris dapat secara sederhana dan sepihak membalikkan keputusannya untuk meninggalkan UE, hanya menambah krisis dengan membuka rute yang jelas untuk tetap berada di UE, bahkan setelah semua yang terjadi.

Kemudian pemerintah kembali terhuyung-huyung, mengadakan pemungutan suara atas kesepakatan yang diusulkan pada saat terakhir, setelah menyadari bahwa Brexit ditakdirkan gagal.

Kawan-kawan Inggris di manapun tercengang. Bagaimana bisa negara yang relatif stabil dan sebagian besar diperintah secara baik benar-benar kehilangan kekuatan politiknya?

Inti dari setiap jawaban adalah benturan mandat. Referendum Brexit 2016 menginstruksikan pemerintah untuk mengekstraksi Inggris dari Uni Eropa. Sejauh ini, hal itu sangat sederhana. Tetapi ini adalah pertama kalinya sebuah pemungutan suara menginstruksikan House of Commons untuk bertindak melawan keyakinan yang dipegang teguh anggotanya.

Dua referendum Inggris sebelumnya, di mana negara memutuskan untuk tinggal di Masyarakat Ekonomi Eropa tahun 1975 dan menolak sistem pemungutan suara pilihan alternatif untuk Parlemen pada tahun 2011, menghasilkan keputusan bahwa sebagian besar anggota parlemen setuju.

Potensi konflik kedaulatan, pertanyaan mengenai rakyat versus Parlemen, dikesampingkan pada tahun 2016. Kini hal ini telah memicu amarah setiap orang.

Pada saat yang sama, partai-partai politik yang biasanya membuat para anggota Parlemen sejalan, kini telah benar-benar terbagi atas hal apa yang harus terjadi selanjutnya, sementara para pemilih maupun politisi tidak terlalu terkesan oleh kepemimpinan. Partai Konservatif dan Partai Buruh sama-sama terbagi lebih banyak di antara mereka sendiri, dibandingkan dengan lawan-lawan mereka yang biasanya, pemerintah dan badan legislatif yang darinya ditarik berbeda secara fundamental, dan ada cukup banyak varian dari kesepakatan yang mungkin untuk mengacaukan setiap kubu, pendukung atau penentang Brexit.

Saat ini, kesepakatan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang diusulkan dengan UE sangat tidak menyenangkan bagi siapapun. Kesepakatan ini bergantung pada transisi dua hingga empat tahun di mana Inggris akan mengikuti sebagian besar aturan UE, sehingga memungkinkan waktu untuk penyusunan kesepakatan perdagangan secara seksama dan mendalam. Namun terdapat dua prasyarat yang sangat besar yang bersembunyi dalam kesepakatan: perbatasan backstop dan masa depan.

Halangan pertama bagi banyak anggota parlemen adalah persyaratan bahwa perbatasan darat Inggris dengan Republik Irlandia harus tetap terbuka sepenuhnya berdasarkan ketentuan Perjanjian Jumat Agung atau Perjanjian Belfast yang mengakhiri kesulitan selama puluhan tahun di Irlandia Utara. Berdasarkan perjanjian itu, kedua belah pihak berjanji untuk tidak pernah membangun infrastruktur pabean sama sekali di sana.

Hal itu menyebabkan semua pihak menyetujui “backstop” pada akhir tahun 2017, pengaturan yang berarti jika tidak ada kesepakatan perdagangan sama sekali pada akhir tahun 2020 atau 2022 secara hukum berarti Irlandia Utara akan terus berlanjut dengan beberapa elemen peraturan pasar tunggal Uni Eropa, dan Inggris secara keseluruhan terus mematuhi serikat pabean Uni Eropa yang mengatur perdagangan fisik.

Janji-janji yang dapat dilaksanakan secara hukum ini akan mencegah setiap perbatasan baru di Irlandia, tetapi merupakan penghalang bagi kebijakan Inggris di masa depan.

Terlebih lagi, negosiasi tersulit berada di masa depan, tetapi dalam kesepakatan May, negosiasi itu telah dikoreksi menjadi sebuah Deklarasi Politik setebal 26 halaman yang mencampur aspirasi besar dengan prosa yang hampir sengaja dibuat tidak jelas. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa Parlemen Inggris diminta untuk memberikan suara pada kesepakatan yang sebenarnya dapat mengarah ke berbagai kemungkinan titik akhir bagi industri jasa Inggris, dan pada isu-isu yang lebih spesifik seperti standar pertanian, hak kekayaan intelektual, keamanan, dan penegakan hukum.

Menjual kesepakatan ini ke Parlemen Inggris yang rapuh dan sangat kritis telah terbukti hampir tidak mungkin dilakukan. Pemerintah Inggris tidak bisa begitu saja menandatangani perjanjian dan mengharapkan diterima begitu saja jika pada akhirnya kontroversial atau memerlukan sejumlah besar peraturan domestik. Meninggalkan Uni Eropa akan melibatkan keduanya.

Awal tahun 2018, anggota parlemen mempertimbangkan RUU Penarikan resmi bersikeras bahwa mereka akan diberi “suara yang berarti” pada akhir proses. Sejak itu, mereka telah menegaskan hak mereka untuk mengubah pernyataan pemerintah kepada Parlemen tentang apa yang mereka usulkan jika mereka kehilangan suara itu.

Hal ini mungkin masih bisa dikelola jika pemerintah memiliki mayoritas yang cukup besar di House of Commons. Sayangnya untuk May, kampanye pemilu 2017 yang gagal membuatnya kehilangan beberapa kursi dari mayoritas, dan dia harus beralih ke Partai Unionis Demokratik Irlandia Utara untuk melaluinya. Komitmen mereka terhadap persatuan antara Irlandia Utara dan Inggris berarti bahwa mereka tidak akan pernah menerima dukungan yang memperlakukan Irlandia Utara secara berbeda dari Inggris.

Republik Irlandia tidak memiliki kontrol perbatasan dengan negara-negara UE lainnya. Perbatasan backstop menghalangi Irlandia Utara dan Republik Irlandia. Partai Unionis Demokratik akan memblokir apapun antara Irlandia Utara dan backbenchers Inggris yang mendukung rencana Brexit May, sementara merasa marah bahwa Inggris secara keseluruhan mungkin terjebak di pabean Uni Eropa.

May bisa saja menjangkau ke anggota parlemen Partai Buruh, yang terbagi atas masa depan Brexit. Tetapi di sinilah ketidakjelasan deklarasi menjadi kelemahan kritis. Ada lebih dari cukup anggota parlemen dari Partai Buruh yang mewakili konstituensi pendukung Brexit, yang bersimpati dengan usaha May untuk berkompromi dengan Brexit, atau yang hanya ingin semuanya selesai dan diselesaikan untuk menyelamatkan perdana menteri dari pihaknya sendiri. Tetapi sebagian besar merasa bahwa ini bukan Brexit yang cukup lunak untuk mereka.

Begitu Inggris telah meninggalkan Uni Eropa, mereka akan memiliki lebih sedikit pengaruh atas proses tersebut, jadi janji apapun yang dibuat saat ini mungkin tidak berarti apa-apa. Mempertaruhkan karir mereka untuk beberapa ucapan hangat tampak seperti prospek yang mengkhawatirkan.

House of Commons mungkin hanya bersatu di sekitar Brexit yang relatif lunak, tentu saja lebih lembut dari kesepakatan May, dan mungkin melibatkan keanggotaan jangka panjang dari pasar tunggal untuk barang dan jasa. Titik akhir ini, yang saat ini dikenal sebagai “Norwegia Plus,” mungkin masih menjadi tujuan akhir Inggris.

Tetapi perdebatan semakin terpolarisasi, dengan taruhan yang tinggi memaksa pendukung maupun penentang Brexit kian menjauh dari jalan tengah, di mana mereka mungkin menemukan setidaknya beberapa bentuk kesepakatan. Pendukung Brexit sibuk menghancurkan apa yang tersisa dari Perjanjian Penarikan May. Baru-baru ini, penentang Brecit mulai menunjukkan bahwa mereka tidak akan puas dengan Norwegia Plus tetapi hanya akan menerima referendum kedua dengan pilihan tetap bertahan di Uni Eropa berada pada surat suara.

Tidak ada harapan untuk resolusi keluar yang bersih sekarang. Jika May akhirnya mendorong kesepakatannya, Inggris menghadapi setidaknya dua atau mungkin empat tahun perdebatan rumit lebih lanjut yang dapat menaklukkan pemerintah kapan saja. Pemungutan suara juga sepertinya pilihan yang tidak menarik.

Orang-orang Inggris telah menjadi lebih garang dan lebih lemah dalam semangat politik mereka selama beberapa tahun terakhir. Sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa hasilnya akan tidak meyakinkan dan mengembalikan House of Commons yang terlihat tidak nyaman mirip dengan yang duduk dengan sangat gelisah di Westminster sekarang.

Apa manfaatnya? Partai Buruh hanya menawarkan versi yang sangat berbeda dari kesepakatan May, bercampur dengan serangkaian fantasi yang benar-benar tidak dapat diraih seperti serikat pabean dengan Uni Eropa di mana Inggris akan memiliki suara dalam transaksi perdagangan eksternal atau kesepakatan tentang Irlandia Utara tanpa backstop. Partai ini tentu saja terhindar dari kenyamanan karena kehabisan tenaga karena harus benar-benar bekerja untuk tujuan-tujuan yang tidak mungkin tercapai tersebut.

Lupakan soal Parlemen. Bagaimana dengan rakyat? Anggaplah para pendukung Euro di Inggris akan mendapatkan hak untuk melangsungkan, dan kemudian memenangkan, referendum lain. Sebagian kecil penduduk negara itu, mungkin hampir setengah, akan sangat marah karena kemenangan mereka diambil dari mereka oleh (seperti yang terlihat) aliansi politisi profesional dan penentang Brexit di metropolitan.

Hal itu pun mengandaikan bahwa validitas suara lain bahkan akan diterima. Para pendukung Brexit mungkin memutuskan untuk memboikot pemungutan suara lainnya, menimbulkan keraguan terhadap legitimasi seluruh proses.

Krisis Brexit telah mengubah Inggris menjadi negara yang terpecah-belah. Referendum itu sendiri berubah menjadi golongan tua melawan muda, kota besar melawan kota kecil, serta Inggris dan Wales Wales (yang memilih untuk meninggalkan Uni Eropa) melawan Irlandia Utara dan Skotlandia (yang memilih bertahan dengan UE). Yang terburuk dari semua itu ialah bahwa perpecahan tidak muncul sepanjang garis “normal” sayap Kiri dan Kanan atau Partai Buruh dan Konservatif: Negara ini lebih cendelung terfragmentasi daripada terpecah-belah.

Dengan mosaik yang membingungkan dan penuh amarah ini, tidak ada hasil sama sekali masih bias dikesampingkan, selain meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan, kesepakatan May, Norwegia Plus, referendum kedua, atau bahkan pada akhirnya tetap bersama UE. Untuk saat ini, paling tidak, tidak ada seorang pun yang memegang kemudi, para kru sedang memberontak, dan kapal negara tengah terbakar.

Baca Juga: Donald Trump: Brexit Akan Hentikan Hubungan Dagang AS-Inggris

Glen O’Hara adalah seorang profesor sejarah modern dan kontemporer di Oxford Brookes University. O’Hara adalah penulis berbagai buku dan artikel tentang pemerintahan dan politik Inggris modern, termasuk Governing Post-War Britain: The Paradoxes of Progress, 1951-1973, dan The Politics of Water in Post-War Britain. O’Hara adalah komentator reguler dalam hal politik kontemporer di media dan telah menulis untuk Financial Times, the Guardian, dan the Independent.

Keterangan foto utama: Demonstran Pro-Brexit melakukan aksi dengan membawa plakat di luar Gedung Parlemen, Westminster, London, Inggris, tanggal 10 Desember 2018. (Foto: Getty Images/Jack Taylor)

Tanpa Brexit, Inggris Kehilangan Pemerintah dan Jalan Keluar

BERLANGGANAN

Click to comment

Beri Tanggapan!

To Top