Intelijen Amerika
Amerika

Laporan Bos Intelijen AS tentang Ancaman Global Bikin Trump ‘Ngamuk’

Berita Internasional >> Laporan Bos Intelijen AS tentang Ancaman Global Bikin Trump ‘Ngamuk’

Donald Trump mengecak para pemimpin intelijennya sendiri sehubungan laporan tahunan mereka tentang ancaman global. Fakta yang disampaikan para bos intelijen ini bertentangan dengan apa yang ingin Trump dengar, terutama soal Iran dan Korea Utara. Menanggapi fakta-fakta intelijen yang tidak ia sukai itu Trump mengatakan, “Mungkin Intelijen harus kembali ke sekolah!”

Oleh: Shane Harris dan John Wagner (The Washington Post)

Presiden Trump mengecam para pemimpin intelijen paling senior pemerintah pada Rabu (30/1)—serangan terbarunya terhadap mata-mata dan analis yang bekerja untuknya, yang kadang-kadang menyampaikan fakta yang tidak ingin dia dengar.

Yang memicu kemarahan presiden itu adalah sidang kongres tahunan tentang ancaman keamanan global, sebuah acara rutin di mana kepala badan intelijen bersaksi bahwa Iran—walau masih menjadi ancaman global—mematuhi perjanjian internasional untuk menangguhkan pengembangan senjata nuklirnya. Trump mengejek penilaian itu dan para pemimpin intelijennya sendiri.

“Orang-orang Intelijen tampaknya sangat pasif dan naif ketika menyangkut bahaya Iran. Mereka salah!” tulis Trump di Twitter. “…Mereka (Iran) sedang menguji Roket (minggu lalu) dan banyak lagi, dan hampir mencapainya. Saat ini ekonomi sedang ambruk, yang merupakan satu-satunya yang menahan mereka. Hati-hati dengan Iran.”

Trump menambahkan: “Mungkin Intelijen harus kembali ke sekolah!”

Itu bukan pertama kalinya Trump mempertanyakan keakuratan laporan intelijen Amerika. Selama kampanye dan pada masa transisi, ketika dia ingin merusak temuan intelijen bahwa Rusia telah membantu memilihnya, Trump mengingatkan para pengikutnya di Twitter bahwa komunitas intelijen salah menyimpulkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Baca Juga: Pemerintahan Donald Trump Mulai Produksi Senjata Nuklir Baru

Semua temuan terkait Iran yang diberikan para pejabat kepada Kongres telah disampaikan kepada presiden di berbagai kesempatan, kata para pejabat Amerika Serikat (AS) yang mengetahui masalah ini, dan berbicara anonim untuk membahas arahan intelijen presiden.

Sidang Komite Intelijen Senat pada Selasa (29/1) membuat ketidaksepakatan Trump terlihat oleh publik, dan mengobarkan rasa jijiknya sejak lama terhadap kesepakatan nuklir Iran yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama dan lima negara lain, bersama dengan Uni Eropa.

“Dia tidak suka kesepakatan itu karena Obama membuatnya,” kata seorang pejabat AS. Serangan Trump tidak banyak berkaitan dengan kesimpulan badan intelijen, dan lebih untuk merusak kepercayaan publik pada lembaga itu sendiri sebagai penyedia informasi yang netral, kata pejabat itu.

Dalam kritiknya, Trump tampaknya mengabaikan banyak poin yang disepakati olehnya dan badan-badan intelijen.

Dalam kesaksian tertulis atas nama semua badan intelijen, Direktur Intelijen Nasional Daniel Coats menggambarkan Iran secara aktif merencanakan serangan teroris di Eropa, meningkatkan kampanye siber yang agresif terhadap Amerika Serikat, dan mengembangkan rudal balistik yang “terus menjadi ancaman bagi negara-negara di seluruh penjuru Timur Tengah.”

Namun sejak menjabat, Trump telah terpaku pada program senjata nuklir Iran yang ditangguhkan. Para pejabat pemerintah telah menekan analis intelijen Amerika tentang mengapa mereka percaya bahwa Iran mematuhi perjanjian nuklir dan mempertanyakan apakah ada informasi tambahan yang akan menunjukkan bahwa Teheran melanggar ketentuannya, menurut pejabat saat ini dan mantan pejabat yang memiliki pengetahuan tentang percakapan antara para pejabat pemerintah dan intelijen.

Di bawah Mike Pompeo—Direktur CIA pertama Trump—badan tersebut meningkatkan fokusnya pada Iran dan pengawasan program nuklirnya. Penilaian bahwa Iran tidak membangun senjata nuklir tidak berubah.

CIA menolak berkomentar, dan juru bicara Coats tidak menanggapi permintaan komentar.

Para pendukung Trump melihat dalam presentasi intelijen upaya untuk melemahkan kebijakan luar negeri Trump.

Fred Fleitz—yang bertugas sebentar di staf Dewan Keamanan Nasional Trump—muncul dalam program televisi cendekiawan sayap kanan Lou Dobbs, untuk mengatakan bahwa presiden harus memecat Coats karena menyiarkan kesimpulan intelijen di depan umum.

Fleitz mengatakan bahwa komunitas intelijen “pada dasarnya telah berevolusi menjadi monster yang selalu menebak-nebak presiden sepanjang waktu.” Di masa depan, ia menambahkan, presiden harus melarang para pejabat bersaksi di depan umum.

Para pemimpin selalu bertemu dengan anggota parlemen secara pribadi untuk sesi rahasia, setelah presentasi publik mereka yang tidak rahasia.

Kesimpulan para pejabat intelijen tentang bidang-bidang penting lainnya juga bertentangan dengan keputusan presiden. Mereka mengatakan, misalnya, bahwa ISIS mengalami degradasi tetapi tidak dikalahkan—seperti yang diklaim Trump. Dan mereka ragu bahwa Korea Utara akan pernah menyerahkan semua senjata nuklirnya—penilaian yang serius menjelang pertemuan puncak yang direncanakan bulan depan antara Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Tetapi tidak pernah mereka membuat kebijakan atau mengatakan bahwa presiden salah untuk mengambil keputusan yang telah diambilnya dalam menghadapi musuh-musuh AS.

Dalam tweet-nya, Trump mempertanyakan argumen komunitas intelijen bahwa Korea Utara tidak mungkin meninggalkan program senjata nuklirnya, yang menurut rezim Korea Utara merupakan kunci untuk kelangsungan hidupnya.

“Hubungan Korea Utara adalah yang terbaik yang pernah ada dengan AS,” tweet Trump. “Tidak ada uji coba, mendapatkan kembali jasad, sandera dikembalikan. Peluang yang layak untuk Denuklirisasi… ”

Tetapi para pembantu Trump—khususnya Penasihat Keamanan Nasional John Bolton—memiliki pandangan skeptis terhadap rezim Kim, dan memperingatkan Trump agar tidak membuat konsesi dan mendukung kampanye tekanan maksimum yang bertujuan membengkokkan rezim Korut untuk memenuhi tuntutan AS, menurut pejabat dan diplomat yang akrab dengan diskusi itu.

Trump juga telah melakukan diskusi ekstensif dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, yang telah memuji upaya diplomatik Trump dengan Korea Utara, dan bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Trump “harus memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.”

Bagi Moon, Amerika Serikat dan Korea Utara menghadapi kemungkinan kesempatan terakhir untuk membongkar program nuklir Pyongyang secara diplomatis, dan gagasan bahwa rezim Korut akan menanggapi sanksi dan ancaman daripada bujukan konkret lainnya, tidak realistis dan berbahaya.

Walau Trump telah mendengar skeptisisme dan keraguan dari para pejabat intelijennya, Bolton, dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe—di mana Trump telah bertemu dengannya lebih dari pemimpin dunia lainnya—namun Moon telah membantu memperkuat pandangan Trump bahwa negosiasi itu layak untuk diupayakan.

Tweet Trump yang bermusuhan pada Rabu (30/1) memicu teguran dari Demokrat.

“Merupakan penghargaan bagi badan intelijen kami bahwa mereka terus memberikan analisis yang ketat dan realistis dari ancaman yang kita hadapi,” kata Adam B. Schiff (D-California), Ketua Komite Intelijen Dewan, dalam sebuah pernyataan. “Sangat berbahaya bahwa Gedung Putih tidak mendengarkan.”

Senator Mark R. Warner (D-Va.), Wakil Ketua Komite Intelijen Senat, juga ikut bersuara.

“Presiden memiliki kebiasaan berbahaya merusak komunitas intelijen agar sesuai dengan realitas alternatifnya,” kata Warner dalam sebuah tweet. “Orang-orang mempertaruhkan nyawa mereka untuk informasi intelijen yang hanya ia sangkal di Twitter.”

Pemimpin Minoritas Senat Charles E. Schumer (D-N.Y.) menulis kepada Coats pada Rabu (30/1), dan mendesaknya untuk bertemu dengan presiden “untuk mendidiknya tentang fakta dan intelijen” yang digunakan untuk menghasilkan penilaian masyarakat. Schumer menyebut kritik Trump “sangat tidak pantas” dan mengatakan bahwa itu akan “merusak kepercayaan publik” dalam upaya pemerintah untuk melindungi keamanan nasional.

Pada akhirnya, beberapa ahli mengatakan, terserah presiden untuk memperjelas pandangannya sendiri dan tidak membiarkan komunitas intelijen berbicara untuknya.

Baca Juga: Trump Peringatkan Eropa agar Tidak Mencoba Hindari Sanksi AS terhadap Iran

“Komunitas intelijen hanya dapat menilai informasi yang mereka dapat kumpulkan dan menggambarkan penilaian itu. Para pemimpin politik harus menilai niat ini,” kata James Carafano, pakar keamanan nasional di Heritage Foundation yang konservatif.

“Dalam pemerintahan reguler, perbedaan ini tidak disorot di depan umum,” kata Carafano. “Trump adalah negarawan yang tidak konvensional, jadi dia mengabaikan konvensi ini. Presiden dapat memilih untuk menjadi negarawan yang tidak konvensional, tetapi arah kebijakan AS harus jelas untuk teman dan musuh. Adalah tanggung jawabnya untuk memastikan hal itu terjadi.”

John Hudson berkontribusi pada laporan ini.

Keterangan foto utama: Presiden Trump, ditunjukkan pada Jumat (25/1) di Gedung Putih, telah lama membantah analisis oleh komunitas intelijen AS. (Foto: The Washington Post/Jabin Botsford)

Laporan Bos Intelijen AS tentang Ancaman Global Bikin Trump ‘Ngamuk’

BERLANGGANAN

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top